Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ucapan itu membuat tubuh Pak Rendra bergetar. Menatap pemuda berwajah dingin di hadapannya, Pak Rendra—yang selama bertahun-tahun berada di posisi tinggi—tak pernah menyangka akan dinasihati oleh seorang junior. Amarahnya memuncak hingga kepalanya terasa pening.
“Jika suatu hari kau mampu duduk di posisiku, barulah kau pantas berkata demikian!”
“Sekarang, kau belum memenuhi syarat!”
“Melampaui Anda?” Arga tertawa ringan. “Itu mudah.”
Ia mengangkat satu jari, lalu mengucapkan kata-kata yang mengejutkan,
“Dalam satu bulan, aku bisa melampaui Anda.”
“Hmph! Sombong!” Wajah Pak Rendra menggelap. Ia mendengus dingin.
“Kau kira asetku sekecil itu? Kuberi tahu kau—seluruh asetku sekarang berjumlah tiga puluh triliun!”
“Kau ingin menghasilkan tiga puluh triliun dalam sebulan?”
“Mimpi!”
“Bagaimana jika aku bisa?”
Tatapan Arga menyala penuh keyakinan, membuat Pak Rendra tertegun sejenak.
“Jika kau benar-benar bisa,” Pak Rendra tertawa meremehkan, “bukan hanya Sherly akan menikah denganmu—bahkan seluruh unit bisnis Keluarga Gunawan kuberikan kepadamu. Bagaimana?”
Tiga puluh triliun dalam sebulan? Bahkan orang terkaya di Indonesia pun belum tentu mampu melakukannya! Bagaimana mungkin Arga—yang berasal dari desa dan mencari uang dengan cara yang dianggap Pak Rendra sebagai spekulasi—bisa melakukan hal itu?
“Baik,” kata Arga tegas. “Aku harap Pak Rendra menepati janji.”
Di lantai bawah, pandangan Sherly tak pernah lepas dari ruang kerja di lantai dua.
“Shelina, menurutmu Mas Arga akan dimarahi habis-habisan?” tanya Sherly cemas.
“Tenang saja, Kak. Papa bukan orang kasar, mana mungkin main fisik?”
“Namun pemuda itu pasti akan kena mental. Mungkin nanti dia keluar sambil menangis!” Shelina berkata dengan mata penuh harap.
Namun, ketika pintu ruang kerja terbuka, pemandangan yang muncul sama sekali berbeda dari bayangan Shelina. Arga tampak tenang dan santai. Sebaliknya, wajah Pak Rendra memerah, jelas menahan amarah yang meluap.
Hal itu membuat Shelina kebingungan.
“Mas Arga!” Sherly segera menghampiri dan bertanya cemas, “Papa tidak melakukan apa pun padamu, kan?”
“Tenang saja,” Pak Rendra berkata kesal. “Untung saja dia tidak membuatku jantungan!”
“Papa, kenapa Papa marah padanya?” tanya Shelina terkejut.
“Dia bilang ayahmu ini seperti babi yang berdiri di pusat badai, dan mengatakan bahwa semua pencapaianku tidak ada artinya.”
“Haha, benar-benar gila!”
Suasana hening menyelimuti ruangan. Semua orang menatap Arga dengan pikiran kosong. Pria ini… bukankah dia terlalu berani? Bahkan Pak Rendra pun berani ia rendahkan!
“Sherly, aku ada urusan dan harus pulang lebih dulu,” ujar Arga lembut sambil menggenggam tangan Sherly. “Kita makan malam bersama besok. Nikmati ulang tahunmu.”
“Iya, Mas.” Sherly mengangguk patuh, lalu memiringkan pipinya sambil berkata manja, “Cium dulu sebelum pergi!”
“Pergi sekarang juga!” Pak Rendra hampir meledak. Putri kesayangannya seperti permata terbaik yang dicuri—mana mungkin ia bisa menahannya?
Arga tersenyum, mencium kening Sherly, lalu berbalik pergi. Tepat sebelum melangkah keluar, ia seakan teringat sesuatu. Ia menoleh, tersenyum licik ke arah Pak Rendra, dan berkata,
“Pak Rendra, izinkan aku mengatakan satu hal lagi: Jika hari ini Anda memilih mengabaikanku, maka besok—Anda bahkan tak akan mampu mengejarku.”
“Pergi!”
Namun, Arga sama sekali tidak berniat berhenti. Ia justru melanjutkan dengan nada datar, tetapi sarat akan tekanan:
“Titisan Naga tidak boleh dihina.”
“Kau telah menyinggung Titisan Naga. Dalam waktu satu bulan, seluruh kekayaanmu akan lenyap!”
Pak Rendra terdiam.
Amarahnya begitu memuncak hingga ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya pucat pasi, satu tangannya menekan dada, seolah serangan jantung bisa datang kapan saja. Tentu saja, Pak Rendra sama sekali tidak percaya pada ucapan Arga. Namun sering kali, pembicara mungkin tidak berniat apa-apa, sementara pendengar justru menaruh makna mendalam.
Setelah mendengar kata-kata itu, Kevin tanpa sadar mengerutkan kening.
......................
Keesokan Harinya
Di sebuah kantor pemerintahan kota.
Sikap Pak Rendra telah berubah total dibandingkan hari sebelumnya. Kesombongan dan arogansi lenyap tanpa jejak. Ia kini duduk di sofa dengan sikap rendah hati dan penuh hormat.
Di hadapannya duduk seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun. Rambutnya dipotong cepak, tubuhnya agak berisi, namun aura kewibawaannya begitu kuat. Setiap gerak-geriknya memancarkan karisma seorang atasan sejati. Namanya adalah Ridwan Soemitro.
“Mas Ridwan, mengapa Anda memanggilku dengan begitu tergesa?” tanya Pak Rendra sopan.
“Kabar baik, Rendra,” jawab Ridwan singkat.
Ia mendorong setumpuk dokumen ke hadapan Pak Rendra. ““Pemerintah pusat sudah mengetuk palu. Proyek Sabuk Pantai (Sea Wall) terintegrasi dengan jalur MRT tahap II akan segera dimulai. Jalur ini akan membelah kawasan pesisir untuk menangani banjir rob sekaligus menghidupkan ekonomi. Tugas pembebasan lahan dan pembongkarannya ada di tanganku, dan aku ingin kau yang mengeksekusinya.”.”
Pak Rendra menerima dokumen itu dan membacanya sekilas. Senyum cerah langsung terbit di wajahnya.
“Memang benar, hubungan kawan lama jauh lebih kuat daripada apa pun! Pekerjaan ini aku terima! Setelah semuanya selesai, tentu saja bagian untuk Mas Ridwan tidak akan kurang!”
Ridwan mengibaskan tangan sambil menggeleng. “Tidak perlu. Yang kuperlukan hanya satu hal—selesaikan secepat mungkin. Asalkan proyek ini bisa dimulai dalam satu bulan, promosi jabatanku ke tingkat provinsi sudah pasti aman.”
Hati Pak Rendra bergetar, namun ia segera menjawab tegas, “Tenang saja, Mas Ridwan. Aku profesional dalam urusan seperti ini.”
“Baik. Aku tenang jika kau yang menangani,” kata Ridwan, lalu memperingatkan dengan nada serius. “Ingat, pembebasan lahan tetaplah sensitif. Kalau perlu, beri warga sedikit keuntungan lebih. Jangan sampai ada masalah yang menyeretku. Mengerti?”
“Mengerti!”
Tak lama kemudian, kontrak pun ditandatangani. Pak Rendra kembali ke kantornya dengan perasaan gembira.
“Pak Danu, kemari!”
“Ya, Pak Rendra. Apa perintah Anda?”
“Aku baru saja mengambil proyek pembongkaran dari Pak Ridwan. Target utamanya adalah Kawasan Tambak Lorok. Namun, pengumuman resmi baru akan keluar tiga hari lagi. Dalam dua hari ini, kirim lebih banyak orang untuk membeli rumah-rumah di Tambak Lorok dari warga!”
“Baik, Pak!”
Setelah Pak Danu pergi, Pak Rendra bersandar di kursi direkturnya dengan perasaan puas. Berdasarkan pengalamannya, dalam tiga hari ia setidaknya bisa memborong sepertiga rumah dengan harga lama. Artinya, sepertiga dana kompensasi pembongkaran akan langsung masuk ke kantong pribadinya.
Ditambah bayaran kontrak dari pemerintah, Pak Rendra memperkirakan keuntungan kali ini bisa mencapai sedikitnya lima puluh miliar. Inilah keuntungan besar dari kesenjangan informasi. Alasan orang biasa sulit menjadi kaya adalah karena mereka tidak pernah mendapatkan informasi 'orang dalam' semacam ini.
“Orang seperti Arga tak akan pernah memahami posisiku saat ini,” gumam Pak Rendra sambil tersenyum mengejek. Terutama ucapan Arga kemarin: “Kekayaanmu akan lenyap dalam satu bulan!”
Sungguh lelucon bodoh. Baru hari kedua, bukan saja ia tidak merugi, justru mendapatkan proyek raksasa!