Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan keluarga Arjuna
Di kediaman Bulan, suasana yang tadinya tegang perlahan mencair. Namun, ganjalan di hati Arjuna tetaplah satu, yaitu Siena.
"Ibu, masalahnya bukan hanya soal usiaku dan Dita," ujar Arjuna pelan, suaranya terdengar khawatir. "Tapi Siena. Anak itu.... dia punya kepribadian yang kuat. Aku takut dia sulit menerima kehadiran orang baru, apalagi Dita."
Bu Kinan tertawa kecil, mengibaskan tangannya santai. "Kau tenang saja, Juna. Masalah Siena biar nanti Ibu yang atasi. Anak kecil itu hanya butuh pendekatan yang tepat. Nanti juga lambat laun dia bisa menerima ibu mudanya itu!"
Dalam hati, Bu Kinan merasa sangat lega. Setelah lima tahun Arjuna menutup diri, meski ia sudah mencoba menjodohkannya dengan berbagai wanita, termasuk Maudy. Namun akhirnya takdir membawa Dita. Bagi Bu Kinan, status sosial tidaklah penting. Jika Tuhan sudah menggariskan kecelakaan itu sebagai jalan pertemuan mereka, maka itu adalah anugerah, bukan musibah.
Arjuna hanya bisa terdiam. Ia teringat kejadian di mall tempo hari. Bagaimana mungkin Siena bisa menerima Dita, jika pertemuan pertama mereka saja sudah diwarnai keributan memperebutkan boneka Pokemon?
Sementara itu, di rumah Dita, suasana tampak heboh. Tante Elsa dan Mimi sibuk luar biasa mendandani Dita.
"Kak Mimi, Tante Elsa.... riasanku jangan dibuat menor! Nanti aku malah kelihatan seperti tante-tante garing!" protes Dita sambil bercermin gelisah.
"Heleh.... kau ini!" sahut Tante Elsa sambil memulas bedak. "Kalau mau bertemu mertua, jangan berpenampilan seperti bocah ingusan, Dit. Berpenampilan lah selayaknya wanita dewasa!"
Mimi mengangguk setuju sambil menata rambut Dita. "Betul apa kata Ibu. Tenang saja, Kakak tidak akan membuatmu menor. Justru Kakak akan mendandani mu agar terlihat cantik, elegan, dan berkelas. Biar suamimu itu tidak berkedip!"
Dita hanya bisa menghela napas panjang, pasrah menjadi "boneka" kedua wanita itu.
Sekitar jam setengah delapan malam, sebuah Sport hitam berhenti di depan rumah. Arjuna turun dengan penampilan berbeda. Sejak Dita mengatainya "Om-om", ia sengaja memilih kaos berkerah dipadu celana jeans. Ia terlihat jauh lebih muda, segar, namun tetap maskulin.
Ting-nong!
Tante Elsa membuka pintu dengan sumringah. "Silakan masuk, Nak Juna! Duduklah, sebentar lagi Dita selesai."
Arjuna mengangguk sopan dan duduk di sofa. Matanya kembali tertuju pada foto masa kecil Dita yang mirip sekali dengan Siena. Ia tersenyum tipis, membayangkan bagaimana jadinya jika dua "anak kecil" itu berada dalam satu rumah.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar. Arjuna menoleh, dan seketika dunianya seolah berhenti berputar. Di hadapannya, Dita berdiri didampingi Mimi. Ia memakai gaun cantik selutut, rambutnya tergerai indah, dengan riasan natural yang menonjolkan kecantikan alaminya.
Arjuna terpaku. Sosok Dita saat ini mengingatkannya pada mendiang istrinya, Dewi, saat mereka masih remaja dulu. Ada getaran yang sudah lama mati kini berdenyut kembali di dada Arjuna.
"Ayo berangkat," ajak Arjuna singkat, berusaha menutupi kegugupannya setelah sempat tidak berkedip beberapa detik.
Di rumah besar keluarga Diningrat, meja makan sudah penuh dengan hidangan spesial. Siena berjalan mondar-mandir dengan wajah bingung. "Oma, kenapa makanannya banyak sekali? Memangnya ada pesta?" tanyanya polos.
Namun, di tempat lain, badai sedang mengintai.
Di apartemennya yang mewah, Maudy menerima sebuah amplop dari seorang pria misterius. "Namanya Dita Wijaya, usianya delapan belas tahun, kelas 12 SMA. Ini foto tadi pagi, dia bersama seorang perwira polisi," lapor pria itu.
Maudy menyambar foto itu. Matanya membelalak melihat Arjuna mengantar Dita ke sekolah. Darahnya mendidih. Ia meremas foto itu hingga hancur dalam kepalannya.
"Kurang ajar.... remaja tengik itu berani-beraninya merebut calon suamiku!" desis Maudy dengan rahang menegang. "Awas saja.... akan kuberi dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan!"
*
*
Di dalam kabin mobil yang tertutup, aroma parfum maskulin Arjuna bercampur dengan wangi bunga dari riasan Dita, menciptakan atmosfer yang semakin canggung. Dita berkali-kali mencuri pandang ke arah pria di sampingnya. Ia merasa ada yang aneh, Arjuna tidak memakai seragam kaku atau kemeja tua yang membosankan.
"Kau kenapa? Sedari tadi melirikku terus. Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Arjuna tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Dita spontan tersenyum kecil, hampir terkekeh. "Aku baru sadar kalau Pak Juna ini berpenampilan sedikit berbeda. Tidak kolot seperti Om-om," ceplosnya tanpa beban.
Mendengar itu, Arjuna mendadak salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa usaha "meremajakan diri" hari ini ternyata membuahkan hasil, meski penyampaian Dita tetap saja pedas.
Tak lama, mobil memasuki gerbang megah kediaman Diningrat. Jantung Dita serasa mau copot melihat kemewahan di depannya. Kakinya gelisah, tidak bisa diam.
‘Duh, kok malah ingin pipis sih? Aih... ada-ada saja!’ batinnya merutuk.
Menyadari kegugupan istri kecilnya, Arjuna mematikan mesin. Tiba-tiba, tangannya yang kekar namun terasa hangat menyentuh punggung tangan Dita. Sontak Dita terlonjak, matanya membelalak saat wajah Arjuna perlahan mendekat ke arahnya.
"Tenang saja, Dita. Kau tidak usah gugup. Keluargaku sangat antusias menyambut kedatanganmu," bisik Arjuna rendah.
Jarak mereka kini sangat dekat. Pikiran Dita langsung melesat ke arah negatif. "Kau mau apa dekat-dekat?! Awas ya, jangan modus!" ancam Dita dengan suara bergetar dan wajah yang mulai pucat.
Arjuna justru tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memenuhi kabin mobil. "Aku hanya ingin membantumu melepaskan seat belt, Dita. Kau terlihat kaku sekali sampai tidak bisa menekannya sendiri."
Dita mendengus keras, segera memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
‘Cih, dasar pria mesum menyebalkan! Kau itu banyak modusnya. Bilang saja kau melakukan ini agar kebusukan mu tidak ketahuan. Aku yakin dia pasti sedang bersandiwara di depan keluarganya. Dasar pria buaya darat!’ umpat Dita dalam hati.
Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan bersisian menuju pintu utama. Dita sempat terpana menatap pilar-pilar tinggi dan arsitektur rumah yang bak istana. Namun, kekagumannya terhenti saat pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya anggun, Bu Kinanti, muncul bersama seorang gadis kecil yang tak asing lagi bagi Dita. Siena berlari riang hendak memeluk ayahnya, namun langkahnya mendadak mati kutu. Matanya membesar, menatap Dita dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ingatan Siena berputar pada kejadian di restoran DFC tempo hari. Telunjuk kecilnya langsung mengarah tepat ke wajah Dita.
"Ayah! Kenapa wanita nenek sihir ini Ayah bawa kemari?!" teriak Siena dengan nada tinggi dan tatapan sinis.
Dita tidak mau kalah. Ia melipat tangan di dada dan membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tak kalah tajam. "Heh, bocah ingusan! Jaga bicaramu ya!" balas Dita ketus.
Suasana yang seharusnya hangat untuk menyambut menantu baru, mendadak berubah menjadi medan perang antara ibu sambung remaja dan putri tiri yang keras kepala. Bu Kinanti hanya bisa melongo, sementara Arjuna memijat pangkal hidungnya, menyadari bahwa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.
Bersambung...
ini lagi satu ulet bulu blom kapok jg yah ganggu rumah tangga orang tau rasa lu d usir sama.juna huuh 😤😤
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna