"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Bayang-Bayang di Timur Jakarta
Pesawat yang membawa Hana kembali dari Surabaya mendarat di Soekarno-Hatta saat senja mulai melarutkan warna oranye menjadi kelabu pekat. Jakarta menyambutnya dengan gerimis tipis, menciptakan kilauan basah di atas aspal bandara. Raka menggandeng tangannya erat, sementara Maya sudah menunggu di pintu kedatangan dengan mobil yang mesinnya masih menderu.
Ada agenda yang mengganjal di hati Hana sebelum ia benar-benar memfokuskan pikirannya pada ekspansi Makassar bulan depan. Sebuah janji moral yang harus ia tunaikan: meninjau ruko di kawasan Jakarta Timur, bangunan yang diserahkan Aris sebagai bentuk penebusan dosa terakhirnya.
"Kita langsung ke sana, Na?" tanya Maya saat mereka membelah kemacetan tol dalam kota.
Hana mengangguk pelan. "Aku ingin melihatnya malam ini, May. Tanpa sorotan kamera, tanpa protokol kementerian. Aku ingin merasakannya sebagai Hana, bukan sebagai ketua koperasi."
Raka yang duduk di sampingnya mengusap jemari Hana. "Apapun yang kamu rasakan nanti di sana, ingatlah bahwa tempat itu bukan lagi milik Aris. Tempat itu sudah menjadi tanah suci untuk anak-anak yang butuh harapan."
Kawasan Jakarta Timur itu padat. Ruko yang dimaksud terletak di sebuah persimpangan jalan yang sibuk, dikelilingi oleh lapak-lapak pedagang kaki lima dan deretan rumah petak yang berhimpitan. Saat mobil Maya berhenti, Hana menatap bangunan berlantai tiga itu. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, dan debu kota menempel tebal di kaca-kaca jendela yang kusam.
Namun, struktur bangunannya kokoh. Sebuah papan seng sementara menutupi bagian depannya, bertuliskan: PROYEK RENOVASI YAYASAN RUANG TEMU.
Hana turun dari mobil, menghirup aroma sate ayam dari pedagang sebelah dan bau asap kendaraan. Ia mengeluarkan kunci perak yang diberikan pengacara Aris melalui Maya. Saat kunci itu memutar di lubangnya, ada bunyi klik yang menggema di kesunyian trotoar.
Pintu harmonika terbuka dengan derit besi yang panjang. Hana melangkah masuk.
Di dalam, ruangan itu kosong dan gelap. Hanya ada cahaya dari lampu jalan yang menyelinap masuk melalui ventilasi. Hana menyalakan senter ponselnya. Lantainya tertutup debu, namun ia bisa membayangkan di sinilah nantinya rak-rak buku akan berjajar. Di pojok sana, mungkin akan menjadi area mendongeng dengan karpet warna-warni. Dan di lantai dua, kelas-kelas untuk ibu-ibu yang ingin belajar membaca dan berhitung.
"Ini tempat yang tepat, May," bisik Hana. "Di tengah keramaian seperti ini, anak-anak butuh tempat untuk bermimpi."
Hana menaiki tangga menuju lantai tiga. Di sana, terdapat sebuah ruangan kecil dengan jendela yang menghadap langsung ke arah bulan yang menggantung rendah di langit Jakarta. Di sudut ruangan itu, ia menemukan sebuah kotak kardus kecil yang tertinggal.
Ia membukanya. Isinya adalah beberapa album foto lama milik keluarga Gunawan yang tampaknya sengaja ditinggalkan Aris untuknya. Hana mengambil salah satu album. Di sana ada foto Mama Sarah saat masih muda, menggendong Aris kecil yang tertawa lebar. Ada pula foto Aris saat wisuda, tampak begitu bangga dan penuh ambisi.
Dan di halaman paling belakang, terselip sebuah surat pendek dengan tulisan tangan Aris yang sudah tidak serapi dulu.
"Hana, jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah menginjakkan kaki di gedung ini. Aku tahu ini tidak sebanding dengan sepuluh tahun air matamu. Tapi ibuku selalu bilang, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang punya hati seluas samudra. Aku baru menyadarinya saat aku sudah tenggelam di dalamnya. Tolong, jadikan tempat ini sesuatu yang tidak pernah bisa aku berikan padamu: sebuah ketulusan."
Hana melipat surat itu kembali. Ia tidak menangis. Rasa sakitnya sudah lama berubah menjadi beton yang kuat di dalam dadanya. Ia memberikan album itu pada Maya.
"Simpan ini di arsip yayasan, May. Kita akan pajang satu foto Mama Sarah di lobi nanti. Bukan sebagai pemilik, tapi sebagai pengingat bahwa setiap orang tua ingin anaknya menjadi orang baik, meskipun jalannya seringkali tersesat."
Keesokan harinya, Hana tidak berlama-lama terjebak dalam nostalgia. Ia memanggil tim arsitek dan kontraktor ke ruko tersebut. Ia ingin renovasi ini selesai dalam waktu dua bulan.
"Gunakan material yang cerah," instruksi Hana sambil menunjuk ke arah dinding yang kusam. "Aku ingin 'Pondok Literasi Mama Sarah' ini menjadi bangunan paling terang di jalan ini. Pasang panel surya di atap agar kita tidak membebani biaya listrik koperasi, dan pastikan ada area bermain yang aman di lantai dasar."
Sambil memantau pengerjaan ruko, Hana juga mulai menyiapkan keberangkatannya ke Makassar. Berbeda dengan Surabaya yang lebih terbuka, Makassar memiliki tatanan sosial yang kental dengan adat dan pengaruh tokoh masyarakat. Ia sudah menerima laporan bahwa ada beberapa pihak yang mulai mempertanyakan "agenda" di balik masuknya koperasi wanita dari Jakarta.
"Mereka pikir kita membawa paham radikal tentang feminisme yang akan merusak tatanan rumah tangga mereka, Na," lapor Laras melalui panggilan video. "Ada satu tokoh masyarakat setempat, namanya Daeng Malik, yang cukup vokal menolak pembangunan cabang kita di dekat pemukiman nelayan."
Hana mendengarkan dengan tenang sambil mencatat di buku agendanya. "Mereka belum kenal kita, Laras. Mereka hanya takut pada perubahan. Kirimkan profil lengkap kegiatan kita di Surabaya. Tunjukkan foto Dewi yang sekarang sudah bersatu dengan anaknya. Katakan pada mereka, kita datang bukan untuk memisahkan istri dari suami, tapi untuk memastikan tidak ada istri yang merasa sendirian saat badai datang."
Satu minggu kemudian, sebelum berangkat ke Makassar, Hana menyempatkan diri pulang ke "Pondok Harapan" di atas bukit bersama Raka. Ia butuh "mengisi ulang" jiwanya sebelum terjun ke medan pertempuran baru.
Malam itu, mereka duduk di balkon sambil menikmati teh jahe hangat. Angin pegunungan terasa begitu murni, membasuh sisa-sisa debu Jakarta dari pori-pori kulit Hana.
"Kamu terlihat lebih tenang menghadapi ruko Jakarta Timur itu daripada yang aku duga," ujar Raka sambil merangkul bahu Hana.
"Karena aku sudah melepaskannya, Ka. Menerima ruko itu bukan berarti aku kembali ke masa lalu. Itu justru caraku untuk menunjukkan pada masa lalu bahwa aku sudah menang. Aku tidak lagi membiarkan kebencian menentukan keputusanku," jawab Hana.
Raka menatap Hana dengan penuh kagum. "Aku selalu belajar sesuatu yang baru darimu setiap hari, Na. Oh ya, aku sudah menyiapkan beberapa desain rak buku untuk Pondok Literasi itu. Aku ingin membuatnya dari kayu pinus yang ringan tapi kuat, agar anak-anak tidak merasa terintimidasi oleh furnitur yang terlalu kaku."
Hana mencium pipi Raka. "Terima kasih, Sayang. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan bahkan sebelum aku mengucapkannya."