NovelToon NovelToon
EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri
Popularitas:650.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nurani Setiaasih

"Menurut Virginia Satir, seorang terapis keluarga, dia mengatakan seseorang butuh 4 pelukan perhari untuk bertahan hidup, 8 pelukan untuk kesehatan dan 12 pelukan untuk pertumbuhan dan kebahagiaan." Katanya.

"Tapi aku butuh lebih dari 12 pelukan perhari hanya untuk bertahan hidup." Aku bergurau.

"Aku tahu itu. Aku akan memberikan tubuhku padamu. Kau bebas memelukku kapan saja, sebanyak apapun. Aku hanya milikmu." Bisiknya seduktif.




***


Natasha Icha Danendra tidak bertemu dengan pria baru untuk mereka saling jatuh cinta, dia hanya bertemu Bayu Christ Jeremy. Pria yang sudah ia kenal, pria yang dengan berani untuk kembali padanya.

Di tengah masalahnya dengan sang Ibu, Bayu datang untuk melengkapi bab cinta yang tulus dan lebih dalam dari sebelumnya. Meskipun Icha tahu, memeluk pria itu bagaikan memegang bunga mawar yang berduri. Icha sadar dia selalu menjadi target untuk musuh-musuh Bayu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurani Setiaasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

...

 

“Bu jangan mengatakan itu! Kakak sudah sangat baik padaku selama ini, dia yang mengganti semua uang investasi itu. Kakak yang membiayaiku sekolah.”

“Dia memang harus melakukan itu! Kau harus tahu bagaimana hancurnya ibu ketika ayahmu meninggalkan kita! Itu semua belum cukup untuknya bertanggung jawab atas penderitaan ibu dan kamu.”

“Bu!! Hentikan!! Ibu menyakiti kakak!”

Kenapa berhenti bu? Kenapa tidak di lanjutkan saja agar hati ibu lebih baik? Ibu benar, semuanya belum cukup untuk menghukumku. Aku tampak baik-baik saja sekarang sampai aku bisa bekerja dengan jabatan yang bagus untuk usia mudaku, aku juga melanjutkan sekolah pascasarjana.

Semuanya terlalu baik-baik saja untukku, benar ‘kan bu?

“Sudahlah, lebih baik ibu pergi saja. Ibu sudah cukup berhadapan dengan kakakmu hari ini.”

“Bu! Haishh…” Daniel tampak mengacak rambutnya bingung, kemudian dia menatapku.

“Kak, tolong pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku ingin menyusul ibu. Sampai jumpa kak.”

Sepeninggalan Daniel, aku masih menatap kursi kosong yang tadi di tempati ibu. Lalu yang aku rasakan selanjutnya adalah kekosongan dan perasaan ingin menghilng dari keadaan ini. Aku tidak tahu berapa skala yang aku gunakan untuk mengukur bagaimana sakitnya hatiku.

Otakku berputar mengingat kembali kenangan itu, saat ayah dan ibu bertengkar, saat ayah meninggalkan kami dan saat ibu mulai berubah membenciku.

Benar apa yang di katakan Rey, aku memang bodoh. Aku bodoh karena tidak tahu bagaimana sekarang aku harus menata hatiku. Aku kembali hancur setelah berusaha berdiri tegak.

Tanganku yang bergetar terangkat menyentuh leherku. Terasa sakit di sana dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku kembali jatuh ke dalam sumur paling gelap dalam diriku.

Aku memang tidak lagi menangis seperti tadi, sekarang aku hanya bisa berharap, nomor yang akan aku hubungi ini bisa membantuku mengeluarkan suaraku lagi.

***

“Astaga Icha!! Aku tidak berharap kamu mengunjungiku lagi di sini.”

Aku tersenyum kecil saat sosok wanita dewasa menyambutku di depan pintu ketika aku baru keluar dari taksi.

Wanita yang memakai jas dokternya ini langsung memelukku sangat erat. Seperti biasa, harum vanili yang menguar dari tubuhnya sangat akrab di hidungku.

“Aku sangat kaget ketika kamu mengirimkan pesan padaku. Lebih baik kita berbicara di dalam.” Dokter Cilia menarikku untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dia membawaku ke kantin lalu dia sudah berdiri di depan stan minuman.

“Sudah lebih dari enam tahun kita tidak bertemu. Kau baik-baik saja kan? Sudah makan siang?”

Aku menggeleng.

“Kau ingin makan apa? Oh apa menu kesukaanmu masih seperti dulu?”

Aku mengangguk dan tersenyum kecil menjawab pertanyaannya. Dokter Cilia tampak bersemangat ketika dia memesankan makanan untuk kami berdua. Wanita ini tidak berubah, dia selalu ceria.

Setelah berpesan untuk mengantarkan makanan dan minuman yang dokter Cilia pesan ke ruangannya pada penjual, wanita ini kembali menarik tanganku menuju ruangannya.

Suasana rumah sakit ini masih sama seperti dulu. Yang berubah hanya warna catnya tampak baru. Senang rasanya aku bisa memikirkan hal lain.

“Waahh kau semakin cantik ya Cha. Aku ingat dulu kau jarang sekali dandan. Bahkan pakai lipstik pun tidak pernah.

Sekarang berubah jadi lebih feminim.” Dokter Cilia tersenyum menggodaku saat aku sudah duduk di sofa ruangannya.

Aku hanya tersenyum, tidak bermaksud untuk tidak sopan padanya hanya saja keadaanku yang memaksaku.

Aku sudah mencobanya, selama perjalanan di dalam taksi dari café menuju rumah sakit ini, keadaanku sama seperti tujuh tahun lalu. Apa aku terlalu jahat karena menghubunginya ketika keadaanku seperti ini?

“Kapan kamu kembali dari luar kota? Seharusnya kamu menghubungiku supaya kita bisa bertemu di luar.”

Aku ragu, tapi akhirnya aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tasku bersama bolpoin dan akan menuliskan

sesuatu padanya namun tiba-tiba dua benda itu di rebut paksa olehnya.

Aku mendongak menatapnya yang juga sedang menatapku kaget. “Apa yang akan kamu tulis, Cha? Jangan bercanda!!” Ekspresi senangnya untuk menyambutku tadi hilang seketika.

Aku menggerakkan kedua tanganku untuk mengatakan sesuatu padanya dengan bahasa isyarat yang aku bias dan pernah aku pelajari.

“Kabarku baik. Saat ini aku—“

Dokter Cilia menahan tanganku sehingga menghentikan pergerakkannya. Dia menatapku khawatir.

“Apa? Kenapa dengan suaramu? Apa yang terjadi? Apa ini lelucon untuk bertemu denganku?!” Aku menggeleng, tersenyum pahit padanya.

Seperti dugaanku, dokter Cilia langsung memelukku sangat erat kemudian aku mendengar suaranya yang bergetar menahan tangis. “Ya ampun! Bagaimana bisa? Bagaimana ini Cha? Bagaimana--? Kenapa kau harus mengalaminya!”

Selanjutnya Dokter Cilia sudah menangis sesegukan dipelukanku, dadaku terasa hangat menyadari ada seseorang yang begitu peduli dan menyayangiku seperti dokter Cilia. Wanita ini sudah banyak membantuku.

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan matanya yang basah. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang kau rasakan?”

Sejak tadi dadaku sangat sakit. Aku tidak berharap banyak, sekarang aku tidak tahu harus berjuang untuk siapa lagi. Jika dulu aku ingin sembuh karena ingin membahagiakan ibu dan Daniel, tapi aku merasa ibu tidak ingin melihatku lagi. Kebencian itu masih sangat nyata di sorot matanya. Apapun yang aku lakukan selalu salah di mata ibu.

Belum sempat aku menjawab, getaran ponsel di tasku mengalihkan perhatianku. Aku segera merogohnya dan mendapati Daniel menghubungiku.

Dengan ragu aku menjawab telponnya dan menempelkan benda pipih itu ke depan telingaku.

“Halo? Ka Icha? Kau mendengarku?” Aku tidak bisa menjawabnya tapi dari nada suaranya terdengar Daniel tengah panik.

“Ka, Ibu jatuh pingsan saat tadi kami pulang ada reintenir yang datang dan mengacak-acak rumah. Aku lupa mengatakan jika aku meminjam uang pada mereka juga untuk investasi. Ka Icha marahi saja aku. Aku memang adik yang tidak berguna—“

“Siapa yang kamu telpon?”

“Oh ibu? Sudah sadar? Aku menelpon ka Icha, mengabarinya kalau ibu pingsan—“

“Tutup telponnya! Kamu kira kakakmu itu akan berlari ke sini? Jangan buang-buang waktu untuk menelponnya, memikirkannya saja membuat ibu tambah sakit. Ibu tidak tahu apa yang membuatnya bisa terlahir dari rahim ibu!”

“Ibu! Berhenti berkata seperti itu! Perkataan ibu juga menyakitiku!!”

Tidak bisa!

Aku tidak bisa lagi mendengarkannya!

 

Itu terlalu menyakitkan!

 

Aku tidak sanggup lagi!!

 

Aku tidak mau mendengarnya!!

“Icha!! Hei apa yang terjadi?” Dokter Cilia memegang kedua bahuku, menguncangku dan aku baru sadar jika aku telah melempar ponselku hingga membuat layarnya retak.

Hatiku sakit sekali, aku ingin menangis kencang tapi aku hanya bisa menangis dalam diam sembari menatapnya. Napasku sekarang sulit sekali.

Semuanya semakin parah saat aku dengan jelas melihat dokter Cilia berteriak di hadapanku tapi aku tidak bias mendengarnya. Telingaku hanya mendengar suara dengingan kencang.

Duniaku telah hancur sekarang.

Aku ingin pergi dari sini, aku ingin menghilang agar tidak merasakan semua sakit ini. Aku benci pada diriku sendiri!

Setelahnya, semuanya menggelap diiringi suara teriakkan dokter Cilia terdengar di detik-detik terakhir sebelum kesadaranku menghilang.

...

1
Prestilya Ndoen
mendidihhhh
Prestilya Ndoen
sudah lama ngga up torrr
Prestilya Ndoen
berdeba dari novel yang lain
Prestilya Ndoen
kapannn up Thor
amalia gati subagio
haaaa cek segera penyimpanan sertifikat aset warisan, ada duo garang serdarah dgn palu hakim berjubah jaksa keluar dr pintu rumahmu!!! buleh gak sih dicap ibu benalu berhati bengkok mode on modus serakah arogan egois
amalia gati subagio
ibu gila mode on benalu, menciptakan benalu bebal kuadrad penderita cacat mental nih ibu, iri dengki kok dgn anaknya??!!!? hadehhhh 🤓
diana pungki
dagdigdug baca nyaa🥲🤪🤪
Sepriyanti Adelina
kok belum up lagi thorrr...
Sepriyanti Adelina
apa Bayu ngidam pengen pakai baju warna violet🤔🤔🤔
Sepriyanti Adelina
baca novel ini kaya naik rollercoaster 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Siti Fatimah
ada apah dengan violet
Sepriyanti Adelina
tegang lagi thoorr😫😫😫
kayaknya nggak ada aman2nya dehh Icha sama Bayu
Siti Fatimah
aduh gimana ini penuh dengan hal hal yg bikin jantung berdetak dengan cepat
Chintia Sukma Handayani
semoga happy ending ya thor...
Sepriyanti Adelina
semangat upnya thorr...
jangan lama2 yess aku selalu menunggu muuu
Sepriyanti Adelina
tambah tegangg,taambah deg-degaann
Sepriyanti Adelina
buuummmm ada apa lagi thorr...
Siti Fatimah
thor ko ga kerasa baca nya udah habis lagi
Sepriyanti Adelina
ditunggu up selanjutnya
Sepriyanti Adelina
belum ada ttitk terangnya ya thorr...
ceritanya masih muter2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!