Kehidupan yang pahit di saat remaja, sungguh membuat Keyra sering menangis. Hidup dengan ibu yang sendirian. Karena menolong seorang teman yang dirundung, Keyra menjadi target selanjutnya.
Pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang berandalan geng motor, membuat Keyra semakin kewalahan. Ia tidak tahu, dia dengan lelaki itu menjadi semakin dekat. Ternyata, Aprilio sama sakitnya seperti Keyra.
Keyra mau membantu masalah Aprilio, dengan syarat lelaki itu harus sedia melindungi Keyra, selalu.
Bagaimana kisah keduanya melewati kehidupan remaja mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Belajar
...SELAMAT MEMBACA!...
Keyra baru saja pulang sekolah. Karena rumah sudah dibereskan oleh Aprilio, Keyra jadi bisa langsung belajar. Gadis itu segera mandi karena hari sudah sore.
Aprilio tidak membersihkan rumah sendirian, melainkan dengan bantuan para temannya yang tadi berkunjung dan sempat membuat rusuh. Jadi, Aprilio meminta mereka bertanggung jawab.
Setelah membersihkan diri, Keyra duduk lesehan di ruang tengah dengan buku-buku di atas meja. Dia tidak memperdulikan Aprilio yang sejak tadi menatapnya. Lelaki itu memainkan game di ponselnya.
"Pulang sekolah, langsung belajar?" celetuk Aprilio.
Keyra melirik sinis. "Kenapa? Ada masalah?" ketusnya.
"Gak, kok. Lanjutin!" Aprilio tentu saja tidak minat membuat gadis itu marah, akan menyulitkannya nanti.
Keyra fokus dengan buku-bukunya, merangkum materi yang menurutnya akan keluar di ujian nanti. Dia juga menyalin di buku tulis, agar lebih efisien memahaminya.
Aprilio berdiri dari duduknya, berjalan menuju dapur. Dia mengambil segelas air dan dia bawa kembali. Aprilio terfokuskan dengan Keyra terlihat begitu tak acuh akan sekitarnya. "Lo tiap hari dapet PR, Key?" tanya Aprilio.
"Bukan PR," jawab Keyra, tanpa berpaling dari buku-buku itu.
Aprilio mendekati Keyra, berdiri di sampingnya dan menunduk sedikit untuk mengintip pekerjaan gadis itu. "Terus, ngapain lo belajar?" celetuk Aprilio.
Keyra menghela napas berat, kemudian menatap Aprilio yang menundukkan tubuhnya. "Gak perlu nunggu dapet PR buat belajar," ucap Keyra.
"Gue dulu gak belajar kalau gak dapet PR dan mendekati ujian," kata Aprilio, berjalan kembali ke tempat duduknya.
Keyra kembali menatap buku-buku tebalnya. "Itu lo, bukan gue."
Aprilio memutar malas bola matanya. Melihat Keyra belajar saja membuat kepalanya sudah pusing dan pegal.
Keyra tidak hanya mengandalkan buku dari sekolah untuknya belajar, tetapi meminjam buku di perpustakaan, kemudian ia cari materi yang berkaitan. Terkadang, buku dari sekolah tidak lengkap, membuatnya kesulitan saat ujian. Seperti, materi yang keluar di ujian, tidak sesuai dengan materi di buku dari sekolah.
"Ah! Lose streak!" gerutu Aprilio, meletakkan dengan keras handphonenya di atas meja. Dia meremas rambutnya dengan kesal. Niat ingin meningkatkan level gamenya, tetapi ia malah mendapatkan kekalahan berturut. "Tim Bego! Nyampah terus!"
Aprilio menyandarkan kepalanya di meja, sungguh kekesalan dia atas rata-rata. Matanya sampai panas karena menatap layar handphone, tetapi malah kekalahan yang ia dapatkan. "Rank gue turun," rintihnya.
Meski Aprilio berteriak kencang seperti itu, Keyra hanya melirik tanpa memperdulikannya. "Keyra," panggil Aprilio, seraya mengangkat kepalanya. "Main catur, ayo!"
Keyra menggeleng. "Gue lagi belajar," kata Keyra.
Aprilio menghela napas gusar. Lalu, dia beranjak dari sana, menuju kamar. Aprilio kembali dengan membawa papan catur, kemudian dia duduk di samping Keyra. "Ayo, main ini!" ajaknya. "Main ini ngasah otak juga, Key."
"Gak mau. Gak bisa," jawab Keyra, tanpa menatap ke arah Aprilio.
Lelaki itu berdecak kesal, bibirnya mengerucut. Sekarang, wajahnya terlihat lebih asam daripada biasanya. Dia sudah kecewa karena Keyra menolaknya untuk bermain bersama. Jadi, Aprilio mengembalikannya ke kamar.
"Main game, aja, jangan gangguin gue!" seru Keyra, yang bisa di dengar Aprilio dari dalam kamar.
Lelaki itu duduk di ranjang, dengan memasang wajah datar. Dia juga tidak tahu, mengapa dirinya sekesal itu kepada Keyra. "Padahal gue cuma pengen ngajak main," gumamnya. "Biar dia, gak belajar terus. Kan, pasti capek."
Aprilio menopang dagu dengan tangan. Bibirnya jadi terlihat tebal. Dia sebenarnya adalah anak manja dan nakal sejak kecil, karena orang tuanya yang selalu bertengkar membuat Aprilio berubah kepribadian. Aprilio tak lagi menunjukkan sifat kekanakannya. Namun, hari ini, hal itu muncul.
"Vin!" panggil Keyra. "Kevin!" Namun, tak terdengar sahutan dari dalam kamar.
Keyra curiga karena lelaki itu tak kunjung keluar kamar. Keyra berpikir, Aprilio marah padanya. "Lio!" panggil Keyra, sekali lagi.
Aprilio keluar dengan hentakan kaki yang cukup keras, membuat rumah bergetar. Keyra langsung menoleh, mendapati Aprilio berdiri di belakangnya. Keyra mendongak.
Wajahnya sangat masam sekarang, apa-apaan terlihat seperti anak kecil. "Don't call me Lio! Call Lio only for my friends. Not you, Key!"
"You can call me Aprilio, or Kevin."
"But, I prefer you to call me Kevin, Keyra!"
Keyra terkejut mendengarnya, sarkas dan penuh penekanan. Apalagi, wajah Aprilio ketika mengatakannya terlihat lucu. Keyra hanya diam mendengarnya.
Aprilio langsung menegakkan tubuhnya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti biasa. Dia berdeham, mengembalikan suasana. "Gue laper. Masakin!" ujarnya.
"Sekarang?" Aprilio menganggukkan cepat.
"Masak telur, ya? Soalnya stok makanan udah habis, tinggal telur," ucap Keyra, sambil membereskan buku-bukunya.
"Terserah," jawab Aprilio.
Keyra berdiri dari sana, menghadap tubuh Aprilio. "Tunggu sebentar, ya! Gue masakin telur dadar biasa," ucap Keyra.
"Bukan spesial?" Keyra menggelengkan kepala, kemudian melenggang melewati Aprilio.
Keyra langsung membuatnya, tanpa penolakan. Mungkin, ia merasa bersalah karena menolak ajakan Aprilio bermain catur. Lelaki itu terlihat sumpek setelah ia menolaknya.
Aprilio menunggu dengan sabar di ruang tengah, sambil melihat Keyra yang memasak di dapur. Hanya ada dinding pendek sebagai pembatas, membuat dapur terlihat dari ruang tengah. Seperti anak kecil menanti makanannya.
Suara kicau burung terdengar memasuki hutan, menandakan hari segera malam. Terkadang, suasana menjadi horor secara seketika ketika malam tiba. Udara juga sejuk, membuat bulu kuduk merinding.
Keyra selesai membuat telur dadar yang diberi bawang. Lalu, ia meletakkan piring berisi nasi disertai telur tersebut. Aprilio berbinar melihat menu simpel itu. "Lo gak makan juga?" tanya Aprilio.
Keyra menggeleng-gelengkan kepala. "Gue nanti aja, belum laper," jawab Keyra.
Aprilio melahap makanan itu, sementara Keyra membereskan alat masak yang digunakannya tadi. Keyra terbiasa, setelah menggunakan sesuatu, ia akan langsung membersihkan dan mengembalikan ke tempat semula.
Gadis itu lagi-lagi membuka bukunya. Dia berhenti hanya untuk memasak. Melihat Keyra belajar kembali, membuat Aprilio sangat gusar. Lalu, Keyra menyadari helaan napas berat keluar dari mulut Aprilio, membuat Keyra menatapnya cepat.
Aprilio yang sadar sedang ditatap, sesegera mungkin menghindari pertengkaran. "Lanjutin, aja! Lanjutin!" ujar Aprilio.
Keyra tak menggubrisnya, ia melanjutkan aktivitasnya yang tidak pernah membuatnya bosan. Keyra cinta belajar.
Keyra tidak pernah mengeluh dan menolak saat diperintahkan untuk belajar. Mungkin, ia hanya akan mengatakan lelah, tetapi ia akan segera melanjutkannya dengan semangat yang membara. Rekor tertinggi Keyra tidak belajar adalah selama ... satu hari.
Sudah lima jam, Keyra tidak berpindah dari tempatnya. Dia masih menyalin materi itu dengan serius. Bahkan, ketika Aprilio berteriak di luar karena lelah hanya karena melihat Keyra, gadis itu tidak peduli.
Aprilio menghembuskan napas panjang di luar rumah. Lalu, ia kembali masuk dan membanting pintu membuat Keyra mengangkat wajahnya. Napas Aprilio menggebu-gebu, menatap tajam Keyra. "GUE CAPEK, KEY! GUE CAPEK!"
"GUE CAPEK LIHAT LO BELAJAR."
"GUE UDAH PUSING LIHAT LO TIGA JAM DI SITU, CUMA BOLAK-BALIK BUKU."
"GUE YANG CUMA LIHAT AJA UDAH CAPEK, LO APA KABAR? MASIH HIDUP, KAN?"
"ITU LO, KAN? BUKAN ARWAH, KAN?"
"STOP, KEY! SEWAJARNYA AJA BISA GAK, SIH!"
"JANGAN AMBISIUS BANGET!"
"GUE LIHAT LO AJA UDAH ... MELEDAK KEPALA GUE!"
Napas Aprilio memburu setelah mengatakannya. Dadanya menjadi sesak.
"Gue cuma belajar buat ujian, Kevin," ujar Keyra.
"CAPEK GUE LIHAT LO!"
"TERSERAH!"
"BELAJAR TERUS AJA LO, SAMPAI LO GAK SADAR KALAU ISI BUMI HILANG!"
"Apa? Isi bumi hilang?" Keyra langsung celingukan melihat sekitanya, yang masih sama seperti biasa.
"YA GAK MUNGKIN, LAH!" ketus Aprilio. "GUE PUSING, KEYRA!" Tubuh Aprilio meluruh.
...Capek belajar❌...
...Capek lihat ceweknya belajar gak berhenti⭕...
...Saya pun capek🥲👍...