NovelToon NovelToon
SUKI

SUKI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Romansa-Teen school / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:216.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Salim

Di tahun kedua sekolahnya, Suki mencoba untuk mencari kisah cintanya seperti orang-orang kebanyakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Salim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Bad Day

"Cinta itu suara hati yang selaras dengan akal pikiran. Jika tidak, itu bukan cinta. Bukan cinta jika hati bertentangan dengan akal. Atau sebaliknya"

•••

Mulai hari itu Zidan jadi sering mengunjungi kelas Suki.

Entah itu untuk meminta makanan, melihat catatan ataupun memainkan ABCD lima dasar bersama Felik. Suki jengah dan merasa terganggu, namun Zidan sama sekali tak memperdulikan perasaan Suki. Cowok itu cuek dan masih memperlakukan Suki sebagaimana biasanya.

Sepertinya masa SD Suki akan terulang lagi sekarang. Bedanya kini Suki tak lari dan takut, namun ia bersikap jutek dan dingin.

Senin berganti Selasa. Selasa Zidan menjadi agak jail pada Suki, ia menengkas kaki Suki ketika ia hendak pulang. Rabunya Zidan mengikuti Suki sampai rumah dan memaksa Suki untuk membantunya. Suki bertanya mengapa Zidan tak minta bantuan orang lain, tapi Zidan menjawab ia tetap ingin Suki. Dari sini Suki yakin Zidan punya niat jahat mengerjainya, karena itu Suki menolak. Kemudian Kamis, Zidan agak kalem saat Suki akhirnya mengiyakan permintaannya untuk membantu membuat kerajinan karena tak tahan terganggu oleh Zidan.

Kamis berlalu, mendatangkan Jum'at, di mana ketika istirahat pertama, Zidan kembali mengunjungi kelas Suki setelah cekcok kecil dengan Udi-yang selalu terjadi ketika Zidan masuk dan berakhir Udi keluar kelas dengan emosi.

"Bosen, aduh," kata Zidan sambil menompang dagu di meja Suki, menatap wajah datar Suki yang tengah fokus menulis rangkuman. Zidan mengernyit, ikut melihat apa yang Suki tulis. "Lagi ngapain, Cil?"

"Nulis."

"Nulis apa?"

"Rangkuman."

"Rangkuman apa?"

"IPA."

"Bab berapa?"

"Lima."

"Masih lama nggak?"

Suki membuang napas kesal. Dengan wajah masam, ia menghentikan pekerjaannya dan menatap Zidan yang keberadaannya seperti sudah biasa di kelas ini hanya dalam empat hari. Suki kini yakin Zidan punya bakat cepat akrab pada siapapun.

"Tolong omongin apa yang lo mau. Kalau udah selesai, lo boleh main keluar sama yang lain. Jangan sama gue karena gue nggak niat main."

"Gue juga nggak ngomong, 'hayu main yuk', buat ngajakkin lo main," jawab Zidan tertawa renyah. "Kok lo sewot ya."

Suki memutar bola mata. "Gue ke toilet dulu."

"E E E jangan!" seru Zidan menahan Suki dengan tangannya. "Dengerin dulu napa. Gue mau ngomong penting!"

"Iya, apa?"

"Nih," kata Zidan sambil menyerahkan kantung hitam ke tas meja Suki. "Hari Senin kan gue bilang minta bantuan lo buat bikinin kerajinan gue ya dan kemarin hari Kamis lo setuju, jadi gue kasih ini sekarang. Besok gue ikut bantu lo."

"Oke." Suki menerima kantung hitam itu, memasukkannya ke dalam tas kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terjeda. "Selesai kan. Sekarang lo boleh kembali ke kelas."

Zidan mengerjap tak percaya. Ia tersenyum miris. "Lo berubah ya, Cil."

Suki tak menjawab.

"Gue nggak pernah menduga gue bisa kayak gini sama lo." Zidan mulai bercerita, yang membuat Suki diam-diam penasaran dan mendengarkan. "Dulu lo langsung kabur tiap ada gue, mau itu lari atau ngumpet. Lalu, sekarang? Lo jadi jutek banget ke gue, meski itu lebih baik daripada lo kabur."

Suki berhenti menulis, mendongak menatap Zidan. "Lo udah tau kenapa gue kayak gini. Harusnya lo intropeksi diri."

"Justru lo yang kayak gini bikin gue tertarik," balas Zidan. "Lo yang sekarang bikin gue ingin mengenal lo lebih dekat. Waktu kecil kita dekat, tapi tak saling mengenal. Sekarang gue ingin."

"Kenapa?"

Zidan mengangkat bahu. "Jarang gue punya temen kayak lo. Yang kayak kucing."

Wajah Suki berubah datar. Kali ini benar-benar akan mengabaikan Zidan dan fokus menulis rangkuman.

"Besok jadi ya," kata Zidan, dengan senyum yang seperti betah memandang wajah datar Suki yang sedetik kemudian berubah bingung.

"Jadi apa?" Suki tak tahan untuk tak bertanya.

Zidan tersenyum.

"Jadian sama gue."

Suki terdiam lama.

"Canda elah," kata Zidan menyentil kening Suki yang membuat Suki langsung sadar.

Suki meringis sambil mengumpat.

"Besok gue ke rumah lo," kata Zidan memperjelas.

Lagi, Zidan tersenyum, kali ini lebih lebar. Lalu cowok itu bangkit berdiri dan pamit keluar kelas Suki yang sudah tak heran akan kedatangan Zidan. Selepas Zidan menghilang di pintu, Suki menyentuh dadanya.

Kenapa jantungnya jadi berdebar?

*

Hari ini hari jum'at. Hari di mana eskul diadakan. Wajib bagi kelas sepuluh, tapi tidak untuk kelas sebelas dan duabelas. Suki bukan aktifis eskul, maka dari itu ia berniat langsung pulang. Fira dan Selena mengikuti eskul cheers, sementara Zenna dan Yanti sama-sama mengikuti basket yang artinya mereka tak menyertai Suki.

Suki terbiasa pulang sendiri. Namun ada kalanya Suki butuh teman agar bisa terhindar dari sebuah situasi.

Seperti sekarang ini.

Ketika Suki melewati lapangan, ia melihat dengan rombongan Zidan berjalan berlawan dengannya sedang tertawa dan bercanda. Ada lima orang cowok yang tidak Suki kenal, Felik dan seorang cewek bermuka kesal yang terlihat menggerutu.

Suki harap Zidan tak melihat Suki dan berpapasan begitu saja. Tapi rupanya Zidan mengenali Suki dan menyapa mengangkat tangan ceria.

"Tambah satu personel, yak!" seru Zidan pada rombongannnya sambil menahan pergelangan Suki yang hendak melewatinya. Membuat Suki melotot terkejut.

"Apaan gue mau pulang," protes Suki pelan, hanya supaya terdengar oleh Zidan karena ia tak mengenal yang lainnya sama sekali.

"Udeh, ikut ayok," kata Felik yang mendengar protes Suki. "Ya kan, men temen?"

"Ha? Siapa?" tanya cowok berambut cepak yang terlihat humoris, memerhatikan Suki yang menahan malu. "Imut anjer kayak anak SD."

Zidan berdecak. "Bukan anak SD, anjer Rio, dia anak sini. Kelas IPA 2. Temen gue."

Cowok yang disebut Rio itu hanya membulatkan mulutnya mengerti. Baru hendak ia bersuara kembali, si cewek yang sedari tadi diam jadi mengandeng lengan Suki semangat hingga pegangannya dengan Zidan terlepas.

"Bagus! Ayok ikut! Nama lo siapa?" tanya cewek itu ramah. Rambutnya pendek sebahu, matanya bulat dan hitam. Lucu.

Suki mengerjap canggung. "Suki."

"Oke, Suki. Gue Raya, cewek yang sialnya harus terjebak sama tujuh kampret ini buat ngerjain tugas Bahasa Indonesia melaporkan hasil observasi Pohon Mangga di taman. Lo mau ikut nemenin?"

"Ha? Apa? Nggak, gue mau pulang."

Raya langsung cemberut. Seketika bikin Suki terpedaya. "Ikut aja yuk, temenin gue."

Suki berpikir lama. Raya ini tipe yang mudah mengambil empati orang, tapi juga ceria dan lembawa suasana. Jelas jika Suki ikut, ia akan lelah menghadapi cerewetnya cewek ini.

Jadi ia menggeleng halus. "Maaf-"

"Udah paksa aja, ayok!" seru Zidan tiba-tiba, menarik lengan Suki yang secara otomatis bikin Raya ikut lari juga. Suki tak bisa melepas karena pegangan Zidan kuat sekali.

Suki pasrah dan sepertinya ini adalah hari yang melenceng dari kebiasaan Suki.

*

Selama sepuluh menit duduk di bangku taman, Suki disuruh menghapal nama-nama orang yang ada di sini oleh Zidan. Agar akrab katanya. Anehnya, Suki menurut saja dan alhasil ia hapal.

Rio adalah yang paling ceria dan mudah tertawa, sementara Fakih adalah yang paling pendiam serta berkaca mata. Ravi adalah yang paling keren dengan gaya, Keenan jelas yang paling putih dan terakhir Nawal yang wajahnya cina tulen. Teman-teman Zidan menyenangkan berbeda dari bayangan Suki.

"Oke deh, kita mulai aja ya. Nih, gue pembukaannya. Nawal paragraf satu..." Raya menjelaskan panjang tentang pembagian tugas. ".....Suki nanti bantuin video ya."

Alis Suki naik tak mengerti.

"Lo pikir lo diundang ke sini buat ngopi? Ya bantu lah! Ntar ada imbalannya kok!" jelas Zidan. "Nggak terima penolakan oke?"

Suki tersenyum paksa. Entah mengapa jadi semudah itu mengiyakan.

Sesi pengambilan video berjalan kurang lancar karena banyak yang lupa teks dan banyak tertawa. Apalagi Zidan yang sepertinya tak bisa berwajah ekspresif ketika menjelaskan manfaat mangga. Wajahnya datar, dan itu mengundang tawa apalagi Rio dan Felik. Jadi video itu gagal tiap mereka tertawa.

Ditambah kesalahan Rio yang selalu mengucapkan manggis, bukannya mangga. Karena Rio lebih suka manggis. Kemudian Fakih yang suara terlalu kecil, lalu ketika ia memperkeras suaranya dengan berteriak, semua orang tertawa dan jelas itu bikin video berisi suara tawa.

Bukan manusia kalau tidak berbuat salah, Raya yang paling Suki percaya saja salah berkali-kali saat membuka. Cewek itu selalu lupa menyebut nama Felik dan Fakih, kadang nama mereka berubah jadi Filek dan Fahik, entah apa alasannya.

Paling parah itu Nawal. Cowok itu keturunan Cina, jadi logatnya kadang bikin ngakak. Bahkan Nawal bercanda dengan bicara pakai bahasa Cina. Raya saja sampai menjambak rambutnya gemas.

Dari sana, Suki pegal memvideo mereka, meski kadang bergantian. Tapi kebanyakan Suki yang memvideo karena katanya hasilnya jadi bagus.

Yah, yang paling termaafkan sih Ravi karena cowok itu mengimprovisasi teks namun intinya masih ada. Mungkin kesalahan kecil yang ia lakukan hanya terlalu memerhatikan jambulnya sampai lima detik sekali harus memperbaikkinya.

Gaya sih gaya, tapi jangan over.

Tugas selesai hampir dua jam. Suki banyak tertawa dan menikmati suasana bertemu orang baru.

"Eh, eh, ada mangga tuh!" kata Raya menunjuk ke atas pohon. "Dan, ambil, Dan!" katanya menyuruh Zidan yang langsung acung jembol menyanggupi.

Selanjutnya, Zidan menaikki pohon mangga yang tadi menjadi latar belakang video. Cowok itu telaten memanjat, membuat Suki teringat waktu SD saat Zidan memanjat pohon belimbing buat Selena. Sampai di atas, Zidan duduk beristirahat.

"Dan yang sana tuh!" seru Rio semangat. "Petik yang banyak!"

"Banyak apanya bege, ada dua juga!" balas Zidan sensi karena capek. Ia mengelap keringatnya dan memetik dua mangga yang ada, setelahnya ia menunduk ke bawah pada orang-orang. "Awas mau gue lempar nih!"

"Ke kanan dikit, Dan!" seru Ravi.

"Agak kiri, Dan, gue tangkep!" seru Felik ikut heboh di sebelah Suki.

"Satu, dua, tiga, tangkep!"

Dan dua mangga itu jatuh. Namun laju jatuhnya tak lurus dengan dua tangan Felik yang menegadah, justru meleset dan hampir mengenai kepala Suki jika sebuah tangan tak menarik badan Suki menjauhi mangga jatuh itu.

Suki terkejut dan refleks menjauhkan diri dari rangkulan orang asing yang menyelamatkannya. Ia melihat wajah asing itu canggung. "Makasih."

"Sama-sama." cowok itu tersenyum dengan mata teduh, namun seketika membuat suasana di sana berubah suram.

Tak ada yang tersenyum ataupun bersuara. Mereka sama-sama memasang wajah datar tanpa emosi, ketika sebenarnya ada emosi besar yang dipaksa ditahan.

Karena semua tau dia adalah musuh bebuyutan Zidan.

Dia Tao Fikaters.

Opik.

Tanpa suara, Zidan turun dari pohon dengan wajah dingin yang ketika Suki melihatnya, ia merinding bukan main. Sejurus kemudian, Zidan telah berada di sebelah Suki yang masih diam berdiri tak mengerti apa-apa.

"Semuanya, pulang duluan sana," kata Zidan tanpa memutus kontak mata dengan Tao yang setenang air danau. "Jangan lupa mangganya bawa, Lik."

"Oke." Felik memungut mangga itu dan menggendong tasnya. Juga menyikut Suki yang bengong supaya melakukan hal yang sama.

Akhirnya Suki sadar dan ikut menggendong tasnya, tak bertanya mengapa Zidan dan yang lainnya jadi seperti itu ketika cowok itu datang. Saat Suki hendak berpapasan dengan Tao, cowok itu tersenyum.

"Lo nggak papa, kan?" tanyanya kharismatik. Jelas keren dan membuat Suki langsung bedebar.

Suki menggeleng cepat, tanpa sadar berhenti melangkah, seperti merasa aman-aman saja berinteraksi dengan Tao. Mata Zidan menyipit tak suka melihatnya.

"Baguslah, untung tadi lo nggak kena mangga runtuh," kata Tao tertawa renyah, hal yang amat jarang ia lakukan, kecuali pada orang tertentu. "Boleh deh kapan-kapan ditraktir buat ucapan terimakasih."

Suki tersenyum, hampir membalas jika saja Zidan tak sigap mendorong punggung cewek itu supaya cepat pulang mengikuti yang lainnya.

"Udah pulang aja, njir, rese banget sih!" seru Zidan marah ketika Suki hendak protes. "Kenapa? Mau gue anterin?"

Suki mendelik, jelas menolak tawaran Zidan.

"Kalo mau sama gue tunggu aja di sini," tukas Tao tiba-tiba.

"Hng..." tiba-tiba Suki bimbang. Pasalnya, ada aura dari Tao yang membuat Suki percaya dan ingin menurutinya.

"Udah, elah, pulang aja sendiri, Ucil. Hush, hush," usir Zidan tak tahan melihat interaksi Suki dan Opik.

"Gue ada motor. Atau kalo nggak mau satu motor, gue ada voucher gojek." Tao tak mau mengalah.

"Sori ya, tapi Ucil ini pemakai setia grab. Ngerti lo? Ucil tuh nggak mau dipaksa, gembel," tukas Zidan makin emosi melihat keras kepalanya Tao.

Suki menatap Zidan penuh selidik. "Darimana lo tau gue pemakai setia grab?"

"Alah, udah, nggak penting nanya gituan. Mending lo pulang sekarang, ya ampun, rese bange sih," jawab Zidan frustasi ingin Suki segera pergi dari pandangan Tao yang selalu terarah padanya.

"Cepet, nggak," gertak Zidan saat Suki masih diam bingung tak kunjung pergi.

Suki menggerutu setelah lama menimbang. "Iya, iya, bawel," katanya kemudian berjalan cepat menjauhi Zidan dan Tao.

Suki tak tau mengapa, tapi sepertinya buruk ia ia melawan kehendak Zidan.

Sejurus kemudian, Zidan ditinggal berdua dengan Tao. Sebenarnya, Zidan sudah muak dan ingin mencium pipi Tao dengan kepalan tangannya sekarang juga, tapi Zidan tentu ingat peringatan pelatih futsal untuk menjaga sikap jika ingin ikut turnamen. Jadi, Zidan berusaha mengatur emosinya untuk menghadapi cowok keriting ini.

"Tolong bilang tujuan lo atau gue pergi," kata Zidan, tiba-tiba merasa geli karena ia teringat Suki yang selalu mengatakan kalimat itu. Ia jadi paham bagaimana rasanya menjadi Suki.

Tao tak menjawab, malah merongoh saku celananya dan memberikan sebatang rokok. Namun Zidan tak menerimanya, membuat Tao mengernyit.

"Kenapa?"

"Gue nggak mau lama-lama." Zidan menukas dingin. "Omongin apa mau lo. Sekarang."

Tao tertawa geli. Ia memasukkan kembali rokoknya dan menatap Zidan meremehkan. "Yang tadi cewek lo?"

"Apa hubungannya sama lo?"

"Gue kayaknya suka sama dia. Lo nggak keberatan?"

Kini giliran Zidan yang tertawa geli. "Jangan bercanda, ***!"

Bugh!

Secepat itu tangan Zidan menuruti kata hatinya, tanpa mempertimbangkan otak dan akal sehatnya.

*

A/N

Hai, kembali lagi dengan Suki si Anak Rumahan yang mulai mencari tahu tentang dunia!!

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu ya, buat yang sebentar lagi UAS, fighting!!

Semoga lancar dan nilainya besar sebesar rasa benci Zidan ke Tao Fikaters ya wkwkwk

Gatau mau bilang apa, yang penting semangat buat menjalani hidup dan doain author yang kurang menyukai sejarah ini dilancarkan besok ulangan sejarahnya

Dah!

1
sa._.efsoup
SUPARMAN SIALAN 😭😭
MY BOY ZIDAN 😭😭
sa._.efsoup
gelo gelo geloooo 😭😭😭 when yh
sa._.efsoup
AWWWW 😭😭😭
Arni 1705
sedih yak MAk😭
Arni 1705
lapangan sekolah ... dulu waktu klas 10pernah dihukum satu klas hormat tiang bendera. wkwwkk Keinget terus ampe sekarang
Arni 1705
suki gampang amat berdebar"...
Arni 1705
Arman dan tao...
bau" dendam nih
Naufal Tan Arsenio
keren ..awal yg bagus..jarang nemu penulis yg apik dan kata2nya bagus
dwitiarina kristiti
Ini maksudnya 'The Truth'?
~YanSin~
Kocak asli..
Curhatnya Zidan ke Felix tuh kocak.
absurd ala2 anak abegeh 🤣🤣
~YanSin~
Rutinitas Suki mirip gw 🤣
Suki Feci
bagus bnget lho ini novel..
tulisan ny ringan rapi dan keren
semoga semakin bnyak yg baca
Winsulistyowati
Suka.Asiik.Critanya..gk Pjng..kurang dr 100 episode..Siip..Thor Sehat n Brkarya Trus y Thor Say..💪💪👍👍🖐️
Winsulistyowati
Cidan...Cidan..kasihan kmu sayang..
Winsulistyowati
Haruse Omong ae Trus Trang Zidan..Biar Suki Tau..meski kurang prcaya
Winsulistyowati
Waduuh..difitnah apa dikompori ni Thor..Moga Suki..Isa Memilih.mana Teman yg Tulus Hati..
Winsulistyowati
Sabar Zidan...Maju Trus Pantang Mundur..💪💪🥰♥️
Winsulistyowati
Zidan Uda Jatuh Cinta Sma Suki..tpi GK.Ngerasa y Thor..Hmm..♥️🥰
Winsulistyowati
Mampir ni Thor..🖐️💪👍
Karmila Mila
ini novelnya udah lama aq baru nemu.

padahal ceritanya seruuuuu,tp sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!