Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demian drop.
Apartemen Demian kosong. Sarah yang kebetulan mengetahui nomor akses unit pria itu terpaksa harus membukanya tanpa izin karena bel yang ia tekan tidak membuahkan hasil sejak sepuluh menit yang lalu. Sarah sudah mencari pria itu ke seluruh ruangan dan sudut apartemen, nihil.
Dia lagi-lagi mencoba menghubungi ponsel Demian yang sebenarnya aktif, tapi tetap membuatnya menghela napas panjang karena tidak ada jawaban.
Kemana sih dia? Entah kenapa Sarah menjadi khawatir. Padahal bisa saja dia berpikir kalau pria itu sedang bepergian entah kemana setelah pesawatnya landing dan tidak memegang handphone-nya. Tapi firasat Sarah justru mengatakan ada yang tidak beres dengan pria itu.
Saat Sarah akan keluar dari apartemen tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering. Demian memanggil. Seketika rasa lega menyelimuti hati dan perasaan gadis itu.
"Bapak dimana??!!" senggaknya keras sesaat setelah dia menekan tombol hijau di screen.
"Ini Amber, Sar ..." terdengar suara pelan dari seberang sana.
Amber? Perasaan Sarah kembali layu. Apakah Demian sedang bersama Amber sekarang?
"Oh, Mba Amber. Maaf mengganggu, Mba. Saya hanya nyariin Pak Demian, soalnya beliau nggak ngabarin soal flight sore ini," jelas Sarah cepat, agar Amber tidak salah paham dengan puluhan missedcall-nya itu.
"Sar, Demian masih di sini. Surabaya. Kau bisa ke sini? Dia butuh kamu," suara Amber masih pelan seperti semula, namun berhasil membuat jantung Sarah seperti mau copot.
"Ke ... kenapa Mba? Ada masalah?" tanyanya dengan suara terbata. Sepertinya firasatnya yang tadi benar adanya.
"Dia di Rumah Sakit tempat aku dinas. Sakitnya kambuh lagi. Aku nggak bisa kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, jadi nggak mungkin bisa temani dia dan antar ke Jakarta."
Lidah Sarah mendadak kelu. Seluruh tubuhnya membeku mendengar kalimat Amber barusan. Dia speechless.
"Sar?" Amber menegur, seakan tahu gadis itu terpaku.
"I ... iya, Mba. S ... saya bingung. Jadi saya harus ke sana ya Mba?" entah kenapa suara Sarah sudah bergetar, juga tangan dan kakinya.
"Iya Sar. Secepatnya. Dari tadi dia ngigau manggil nama kamu terus ..."
"Baik Mba. Saya cari flight dulu. Thank's udah ngabarin, Mba ..."
"Iya, sama-sama. Oh ya, Sar ..."
"Iya Mba?"
"Aku dan Demian sebenarnya sudah putus. Dia hanya memintaku untuk tetap berpura-pura jadi kekasihnya selama ada kamu."
"Ha????"
"Iya, nanti aku cerita di sini. Segera ke sini ya, aku tunggu."
Amber mematikan sambungan telepon, lalu Sarah langsung ambruk ke sandaran sofa yang ada di belakangnya. Apa yang dikatakan Amber barusan? Sakit Demian kambuh? Memangnya dia sakit apa? Kenapa selama ini pria itu terlihat sehat-sehat saja di luar? Dan pria itu mengigau namanya? Kenapa? Kenapa bukan nama Amber? Ah tadi Amber bilang mereka sudah putus. Lagi lagi, kenapa? Kenapa Demian harus berpura-pura masih berhubungan dengan Amber di depannya? Supaya apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di pikiran Sarah, membuatnya hampir saja lupa untuk segera mencari tiket penerbangan.
"Ah, tiket!" dia menepuk jidatnya sendiri dan langsung membuka lagi layar handphone-nya. Secepat kilat membuka aplikasi penjualan tiket pesawat dan memesan satu tiket penerbangan menuju Surabaya yang flight-nya tinggal empat puluh lima menit lagi dari sekarang.
*****
Rasanya baru kemarin dia terburu-buru terbang menuju Jakarta demi Grasian. Malam ini pun dia harus tergesa-gesa lagi menuju bandara untuk menemui Demian. Dia bahkan tidak sempat berganti pakaian kantornya. Bahkan sepatu heels-nya masih ia kenakan dan sedikit mengganggu langkahnya saat mengejar waktu check in di bandara.
Jam sembilan malam, pesawatnya landing. Sarah langsung memesan taxi bandara dan menyebutkan nama Rumah Sakit tempat Amber bekerja. Kota Surabaya yang cukup macet di malam hari membuat Sarah kesulitan untuk mengatur kesabarannya. Rasa khawatir terhadap Demian kini di atas segalanya.
Amber menelepon Sarah lagi, kali ini sudah memakai nomornya sendiri. Dia bertanya perihal keberangkatan Sarah dan alangkah terkejutnya dia saat Sarah memberitahu jika dia sudah dekat ke Rumah Sakit.
"Kau lebih cepat dari yang ku duga, Sar ..." katanya senang.
Setibanya di Rumah Sakit, Sarah langsung menuju lift dan menekan angka tujuh, tempat kamar VVIP Demian berada. Amber sudah memberitahunya tadi, bersama dengan nomor kamar pria itu.
Semakin dekat ke lantai tujuh, semakin kencang dentuman jantung gadis itu. Jika tadi dia sudah merangkai kata-kata saat bertemu Demian nanti, sekarang semuanya menguap seperti asap. Kekhawatiran kalau Demian masih marah padanya muncul lagi. Dia jadi takut kedatangannya justru akan sia-sia.
.
"Sar, di sini ..." tahunya Amber sudah berdiri di ambang pintu sebuah kamar saat baru saja dia keluar dari lift. Dia melangkah gontai. Antara ingin masuk atau tidak usah saja.
Sarah mengikuti langkah Amber memasuki kamar eksekutif itu. Dia melihat Demian sedang tertidur dengan pulas. Tangan kirinya terhubung ke infus yang menggantung di sebelahnya. Melihat itu, mata Sarah sudah tidak bisa dikondisikan. Kilatan menyerupai kristal sudah memenuhi pelupuk matanya.
Amber yang menyadari itu tersenyum, "Dia sudah baikan kok, Sar. Dia lagi tidur saja sekarang. Kamu temani saja ya?"
"Sebenarnya Pak Demian kenapa, Mba?" tanyanya akhirnya. Dia tidak berani mendekati kasur Demian.
"Bukan sakit parah, Sar. Asma. Dia sudah punya riwayat itu sejak kecil. Tapi seingatku sudah lama nggak kambuh. Tadi pagi sepertinya dia kelelahan pas peletakan batu pertama di lokasi proyek Uncle Josh. Jadinya kambuh gitu. Terus dia juga sudah lama nggak bawa obatnya."
Sarah tertunduk. Demian memang belum pernah bekerja sendirian. Ada dirinya yang selalu mendampingi. Dan dua hari ini pria itu kelelahan karena mengerjakan semuanya sendirian. Sarah merutuki dirinya. Itu jelas, seratus persen kesalahannya yang pergi begitu saja.
"Kalau dia sudah sadar, tolong panggil aku ya? Ada pasien reguler yang harus kutangani," Amber pun pamit dan meminta Sarah untuk menjaga Demian.
"Iya Mba. Sekali lagi terimakasih sudah mengabari saya, Mba."
"Sudah semestinya. Kamu kan istrinya," Amber mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu.
Sarah masih terpaku di sebelah kasur Demian. Dia memandangi wajah pria yang selama ini dikenalnya sebagai pribadi yang keras dan tangguh. Sarah tidak tega, pun tidak rela. Terbaring lemah tidak berdaya seperti tidak cocok untuk dirinya.
Sarah pun duduk di kursi yang sedari tadi dia anggurin. Semangatnya yang menurun seakan mempengaruhi daya topang kakinya. Dia juga kelelahan karena segala keburu-buruannya tadi.
Sarah mengambil tangan kanan Demian yang terletak di sisi tubuhnya. Cincin pernikahan mereka masih setia melingkar di jari manis pria itu. Dia menggenggamnya, lalu mengelus-elusnya pelan sambil menatap wajah pria itu.
Maafkan saya, Pak. Seharusnya saya tidak lupa kalau Bapak selalu membutuhkan saya.
*****
Sarah terlelap begitu saja di sepanjang malam. Pagi-pagi sekali alarmnya berbunyi dan membangunkannya secara paksa. Matanya yang masih berat pun terbuka secara perlahan. Mengerjap sebentar, lalu mengangkat kepalanya yang kini sudah terletak di bantal yang empuk. Kemudian dia pun menyadari seluruh tubuhnya sudah berpindah ke atas kasur, bukan lagi di kursi yang ia duduki tadi malam.
Dia terduduk dengan cepat menyadari Demian sudah tidak ada di atas kasur. Dia menebar pandang ke seluruh sudut kamar mencari keberadaannya.
"Kau sudah bangun?"
Suara bariton dari arah pintu kamar mandi membuatnya berpaling cepat. Orang yang ia cari sejak tadi muncul dengan tampilan yang sudah rapi dan bersih. Sarah cepat-cepat turun dari kasur dan memperbaiki penampilannya.
"Maafkan saya, Pak. Malah ketiduran. Bagaimana keadaan Pak Demian?" tanyanya sopan. Dia menjaga jarak sekitar tiga meter dari pria itu. Dia sadar diri jika aroma tubuh dan bau mulutnya akan mengganggu Demian.
"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah datang. Sekarang kau harus bersiap, kita langsung pulang. Amber sudah membawa baju ganti jika kau mau berganti pakaian," dengan dagunya Demian menunjuk sofa. Sudah ada paper bag yang diduga isinya baju yang dimaksud Demian.
"Bapak benar-benar sudah pulih? Saya bisa mengatur ulang jadwal meeting-nya, Pak," saran Sarah sopan. Dia memang harus mengutamakan kesehatan bosnya itu.
"Tidak usah. Aku sudah sehat. Aku ingin proyek ini cepat berjalan dan cepat selesai."
Perkataan Demian sudah sangat jelas arah dan tujuannya ke mana. Ditambah pria itu sangat enggan menatap Sarah saat mengucapkannya. Dia sibuk dengan kancing di pergelangan tangannya.
"Saya bantu, Pak ..." Sarah menyadari Demian kesusahan melakukannya. Namun pria itu dengan lembut menolak.
"Kau bersiaplah. Flight kita sebentar lagi."
Demian meninggalkan Sarah setelah gadis itu mengangguk. Suara pintu kamar yang tertutup menyadarkan Sarah dari dirinya yang terpaku dengan sikap abai Demian. Tidak bisa dipungkiri, ada bagian hatinya yang berdenyut sakit sekarang. Tapi entahlah di bagian yang mana.
*****