Amelia wanita cantik, baik, ceria dan penuh perhatian. Dia sangat menghargai Cinta, namun hatinya berkali-kali patah karena para mantan yang memberi harapan palsu.
Di sekolah Menengah Atas dia terjebak berbagai masalah saat bertemu dengan RIKI, lelaki Kasar dan Angkuh. Terkenal akan kenakalannya yang membuat Amel tak habis pikir dan berujung emosi. Akankah Amel bisa menghadapi lelaki itu?, Apa yang akan terjadi pada keduanya di saat-saat mereka tanpa sadar selalu bersama?.
yuk intip kisah mereka, Riki & Amel.
😍😍😘😘😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia desianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelinci
(҂⌣̀_⌣́)♡´・ᴗ・'♡♥(✿ฺ´∀'✿ฺ)ノ(^_-)
.
.
.
Semua tugas sekolah sudah selesai aku kerjakan, akhirnya bisa duduk santai sembari minum es di tengah teriknya matahari di siang ini.
Suara mobil terdengar berhenti di depan kosan, aku mulai mengintip siapa yang datang. Ternyata paman mengunjungi aku.
"Mel, habis buat tugas ya?" tanya paman yang kini duduk di kursi.
"Iya, ada apa paman kesini?"
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Baik, kok."
"Paman dengar, di sekolah kamu masuk ke daftar buku hitam udah dua kali ya?"
"Hmm... Iya paman."
"Siapa yang nganggu kamu?, paman tau kalo keponakan paman ini nggak pernah berkelahi kalau bukan ada yang memulai."
"Terima kasih udah percaya, please jangan kasih tau mama dan papa ya paman?"
"Iya, paman ngajar kelas tiga, bukan berarti tidak memperhatikan kamu, kalau ada apa-apa kamu boleh panggil paman segera mungkin oke!"
"Iya paman."
Akhirnya paman pun pergi setelah memberi beberapa nasihat padaku. Paman ku orang yang baik dan peduli, dia belum beristri walau umurnya sekarang sudah tiga puluh enam tahun. Dia menjadi guru paling tampan di sekolah, semua guru perempuan sangat mengaguminya. Sayangnya belum ada yang pas di hati paman. Semoga paman menemukan jodohnya sesegera mungkin.
.....
.
.
.
Bungkus cemilan sudah menumpuk di pinggir kasur, Drakor yang ku tonton sudah sampai end. Saatnya membersihkan bekas cemilan dan bergegas mandi. Setelah mandi aku melihat chat dari Viona, dia mengajakku ke bioskop malam ini. Katanya ada film baru yang bagus, aku pun menyetujuinya. Bergegas aku berganti pakaian dan pergi menuju tempat tujuan.
Dengan pakaian cantik yang baru mama belikan untukku waktu liburan tadi, membuat aku seperti artis K-Pop yang stylist banget. Beberapa hari ini aku belajar cara make-up ala ciwi-ciwi korea, awalnya aku malu karena banyak lelaki yang terus memandang ke arahku tanpa henti. Tapi, kata para pengikut ku di Isntagr*m, aku terlihat sangat cantik dan make-up yang selama ini aku pelajari itu akhirnya sukses dan tak sia-sia.
Aku duduk di bangku ruang tunggu bioskop, menunggu kedatangan Viona. Ada segerombolan pria yang menghampiri ku.
"Hai, boleh minta kontak kamu?" tanya pria berparas bule itu.
"Boleh, mana hp kamu?"
Aku pun mengetik nomorku untuknya, dengan senyuman manis dia terus memandang malu pada ku.
"Aku juga boleh menyimpannya kan?" tanya seorang temannya.
"Tentu, kalian boleh menyimpannya."
"Kamu dari korea ya?"
"Enggak, aku asli indonesia kok."
"Cantik, kamu cantik banget."
"Haha, makasih."
Kami mengobrol sembari sesekali bercanda membuat aku tak bosan menunggu kedatangan Viona. Dan akhirnya terdengar suara Viona dari jauh memanggil ku.
Aku pun melambaikan tangan padanya, tak ku sangka dia membawa Darren serta Riki juga.
Aku pun menghampiri mereka, dengan langkah yang diiringi senyum manis ku membuat kedua pria di belakang Viona tercengang.
"Kita mau nonton apa?" tanya ku pada Vio.
"Biar aku yang pilih." jawab Vio sembari tersenyum mencurigakan.
Tiket sudah di beli, popcron ukuran besar dan minuman bersoda dengan ukuran besar sudah di tangan. Saatnya membawa masuk ke dalam ruang bioskop. Kami mendapat barisan kursi di paling atas. Aku duduk bersebelahan dengan Darren dan si berandal, sedangkan Viona di samping Riki.
Akhirnya lampu bioskop dimatikan dan film pun dimulai. Ternyata film yang dipilih Viona adalah film Horror. Aku sudah tak takut lagi dengan film horror, karena sedari kecil aku sering menonton nya bersama mama. Ia sangat suka film horror, jadi aku tak akan bisa di kejutkan lagi.
Film berlangsung mencengkam, hantu bersuara bel itu berdenting-denting hingga menusuk telinga. Para kawanan hantu keluar saat malam berhujan dan mengganggu penghuni rumah.
Aku melihat Viona yang sudah ketakutan dan beberapa kali menutup mata sembari menggenggam erat pergelangan tangan si berandal. Darren terlihat menikmati filmnya tanpa ada rasa takut. Yang membuatku takut kini bukanlah hantu di dalam film, melainkan Riki yang terus menggenggam erat tanganku.
"Lepas!" bentak ku dengan suara pelan.
"Aaaaaa!!!!!" teriak Riki histeris sampai popcornnya berhamburan mengenai orang yang di depannya.
Tak habis pikir aku dengannya, si berandal yang suka berkelahi ini ternyata sangat takut dengan hantu. Bukannya memeluk pacarnya sendiri, dia malah memelukku dengan gemetar.
"Sudah, nggak usah nonton kalau takut." ucapku sembari menepuk punggungnya.
"Yank, sini peluk aku aja." pinta Viona yang kini di abaikan oleh Riki.
Hantu di film terus bermunculan, hingga membuat si berandal tak berhenti memelukku. Seakan aku ini adalah tempat pelampiasan ketakutannya. Darren hanya tertawa dalam diam melihat tingkah konyol kawannya itu. Sekarang Viona berganti duduk di sebelah Darren dan memeluk erat sepupunya itu.
.....
.
.
.
Di luar bioskop, akhirnya filmnya telah usai. Saatnya mereka menanggung malu. Si berandal itu tak mau memandangku, sedangkan Viona tak mau mendekati si berandal.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Darren.
"Nggak apa." jawab Viona yang kini berwajah masam.
"Vio, Maaf ya. Aku nggak maksud buat deketin Riki, dia sendiri yang ketakutan kayak bayi." jelas ku.
"Bukan salah kamu kok mel, emang dia nggak peka aja."
"Ya udah, kita makan yuk." ajak Darren.
"Aku mau pulang duluan." kata Viona sembari keluar ruangan.
Aku pun menyusul Viona.
"Kamu kenapa Vio?" tanyaku.
"Amel, aku lagi nggak enak badan, kamu nggak usah enggak enak, karena aku bukan marah sama kamu kok, aku pulang dulu ya, bye."
Dia pun pergi, aku berjalan hendak pulang juga. Tapi, kaki ku terhenti saat melihat tempat bermain yang di penuhi lampu bergemerlap disana.
Aku membeli beberapa koin dan mengelilingi tempat itu. Sudah lama aku tidak bermain di tempat seperti ini semenjak SMP lalu. Kini aku bermain permainan dance, aku suka sekali menari di atas permainan itu. Langkahku dan gerakan ku yang seirama membuat lekuk tubuhku terlihat indah apalagi di tambah senyum bahagia ku.
Lagi-lagi si berandal entah datang dari mana, seakan dia sudah memasang GPS padaku. Ia ikut menari di samping ku. Tariannya sangat handal sampai kami memenangkan banyak kill dance. Beberapa menit kemudian, banyak orang mengerumuni kami dan memberikan sorak.
Aku sangat menikmati tarian itu bersamanya, dia pun sangat menikmati juga. Sampai ada beberapa orang yang merekam kami dan memberikan tepuk tangan meriah.
Musik berhenti, tarian pun usai.
Keluar banyak kertas dari samping, aku pun memungut kertas itu dan menyimpannya di tas. Aku meninggalkannya dan mencoba bermain permainan lain. Tapi, ia tetap mengiringi aku tanpa henti.
"Kamu kenapa ngikutin aku?"
"Siapa yang ngikutin kamu?, nggak liat aku lagi main?"
Terlihat dia yang sedang bermain pukul kodok.
"Ya, nikmati permainan mu, jangan ikuti aku."
Aku pun pergi hendak main lempar basket, ada yang masuk dan ada yang tak masuk. Tiba-tiba si berandal berada di samping ku melempar bola basket itu dan terus saja masuk.
Tak mau kalah, aku juga berusaha terus melempar bola sampai waktu permainannya habis. Hanya sedikit yang ku dapatkan, kertas yang berharga itu aku simpan lagi. Sedangkan kertasnya terus mengalir tanpa henti membuat ku frustasi.
Berbagai macam permainan sudah aku coba dan kertas sudah lumayan banyak, percobaan terakhir aku mainkan di capit boneka. Beberapa kali ku coba, tidak berhasil dan membuatku merasa jengkel. Ku lihat si berandal yang juga ikut mencapit makanan dan terus mendapatkannya.
"Dasar berandal, bikin iri aja." batinku merasa kesal.
Akhirnya aku ke kasir dan menukar kertas yang ku dapatkan tadi, 305 kertas bisa ditukar dengan topi. Lumayanlah, permainan itu tak sia-sia akhirnya dapat topi warna hitam bergambar kelinci putih berdasi.
"Bukankah ini logo Playboy?" batinku heran.
Aku pun keluar dari sana dan hendak pulang. Lagi-lagi si berandal berada di belakangku dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Kamu ngikutin lagi?"
"Aku antar pulang." katanya.
Sesampainya diluar, aku menarik kuat jaket si berandal.
"Aku udah di jemput Go-car."
Dia terlihat bingung dan kesal melihat mobil yang sudah berada di depan menungguku.
Melihat ekspresi kesal dan paniknya itu, aku memakaikannya topi yang ku dapatkan tadi.
"Hadiah dariku, di pakai ya!" ujar ku sembari berlari menuju ke arah mobil yang ku pesan tadi.
Tak lama kemudian aku sampai di kosan, hari sudah pukul 21:00 malam. Membuat aku mengantuk dan ingin segera tidur. Saat hendak memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu. Aku pun membuka nya dengan langkah malas lagi. Saat ku buka tidak ada siapa pun di depan membuat aku sedikit merinding. Saat hendak menutup pintu, aku melihat tas berwarna putih di bawah dan mengambilnya masuk. Segera aku mengunci pintu dan membuka isi tas itu perlahan.
Ternyata isinya adalah sebuah boneka kelinci berdasi pita dan berwarna putih. Lagi-lagi kelinci, kenapa semua yang aku dapat harus kelinci lambang Playboy sih?.
Ku dapati surat di bawah boneka itu dan ku baca isi surat itu.
"Ini hadiah dariku, terima kasih untuk topinya. Jaga baik-baik kelinci itu. ingat!"
^^^Dari ; Riki😡. ^^^
"Apaan ini?" gumam ku merasa heran dengan setiap kata dari dalam surat.
Aku menyimpan surat itu di lemari dan kini aku memeluk erat boneka itu sembari memejamkan mata. Sungguh boneka yang lembut dan hangat.
.....
💖🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰
semangat ya Up ceritanya
semangat up karya nya ya 🔥