NovelToon NovelToon
Bukan kupu-kupu malam

Bukan kupu-kupu malam

Status: tamat
Genre:Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:561.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.

"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."

Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.

Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.

FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejanggalan

Dengan langkah gontai tak bersemangat, Billy memasuki ruangan kerjanya. Dia terduduk lesu di kursi kerja dengan tangan ia lipatkan di atas meja dan wajah menunduk di sela tangan tersebut. Hatinya gelisah, perasaannya tak menentu, pikirannya semrawut memikirkan apa yang telah terjadi kepadanya tadi malam. Dia bingung dan juga tidak tahu harus mencari wanita itu dimana. Bahkan, ia tidak sampai mampir ke apartemen maupun rumah karena sudah terlambat masuk kantor.

Billy mengubah posisinya menjadi duduk tegak menyenderkan punggungnya ke kursi dengan mata terpejam dan tangan melipat di dada.

[ Pah, maafkan Billy tidak bisa menjaga kehormatan Billy. Aku telah berdosa meniduri wanita. Aku telah merenggut kehormatan seorang gadis yang tidak tahu siapa gadis itu. Maafkan Billy, Pah. Billy tidak bisa menjalani nasehat Papa untuk tidak melakukan hubungan badan di luar pernikahan. Billy salah, Pah. Bantu Billy untuk mencari tahu wanita itu, Billy ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku padanya dengan menikahinya, Pah. ]

Di tengah pikirannya yang kacau, seseorang mengetuk pintu.

Tok.. tok... Tok..

"Permisi, pak." Ucap seorang wanita, sekertaris Nathan.

"Masuk!" ujar Billy seraya membenarkan posisi duduknya menjadi tegak sambil menatap pergerakan wanita yang sedang berjalan ke arahnya.

Wanita itu menyerahkan beberapa dokumen perusahan. "Pak, hari ini ada meeting dengan Tuan Dirgantara Atmadja."

Billy mengerutkan sebelah alisnya dan seketika ia terbelalak mengingat sesuatu "Meeting?! Oh, ****..! Aku melupakan itu." Panik sudah dirinya, dia sampai melupakan hal penting itu.

Sekertaris itu menatap heran. Karena tidak biasanya Billy melupakan sesuatu. "Ada apa, Pak?"

Billy mendongak. "Saya lupa menyiapkan materi untuk hari ini," ujarnya memijat pelipis. Akibat masalah pribadi, dirinya melupakan masalah kerjaan.

[ Kalau bos besar tahu bisa berabe urusannya. ]

"Apa?! Kok bisa lupa sih, pak? Ini tidak biasanya kau lalai dalam bekerja." Omel sekertaris itu menggeleng tak percaya. Karena biasanya, Billy selalu menyiapkan segalanya sendiri dan yang lain hanya menunggu perintah atasannya.

"Itu dia, saya juga tidak mengerti mengapa ini terjadi. Tiga hari ini saya sibuk mengurusi pekerjaan di tempat lain. Sayapun sedang dalam ada masalah pribadi."

"Ishh.. seharusnya Anda bisa profesional dalam bekerja, Pak."

"Iya, saya tahu itu. Berapa lama lagi meeting akan di laksanakan?" tanya Billy sambil membuka laptopnya bersiap menulis pembahasan materi kerja.

"Sekitar setengah jam lagi, Pak."

"Apa?! Setengah jam lagi?" pekiknya menoleh. [ Astaga, Bill! Kau sampai lupa semuanya. Huufff...]

Billy menghelakan nafas secara kasar. Lalu, dia menarik nafas dalam-dalam dari hidung kemudian, ia keluarkan lewat mulut.

[ Ayo, Bill. Kau harus lupakan sejenak masalah pribadimu. Jangan sampai kerjaan terbengkalai karena kecerobohanmu. ] batin Billy mulai menggerakkan jari-jari tangannya di atas keyboard untuk menyusun materi yang akan di jelaskan.

"Kau siapkan yang lainnya, nanti kita berangkat setengah jam lagi. Bilang padanya untuk menunggu kita!" titah Billy fokus pada layar di depan.

"Baik, Pak."

************

Aiden tengah menatap sebuah rumah yang akan ia tinggali sekarang, rumah kontrakan. Dia tidak mau menerima tawaran William untuk tinggal bareng. Aiden menolak karena tidak ingin terus berhutang budi pada William. Dia juga tidak ingin menjadi buah bibir orang-orang karena yang ia tahu kalau mereka tidak memiliki hubungan persaudaraan.

"Apa kamu yakin akan tinggal disini? Papa sudah menawarkan untuk tinggal bareng Papa dan kenapa kamu memilih tinggal di sini?" tanya William menatap Aiden dari samping.

"Aku yakin, Pah. Aku tidak ingin merepotkan kanmu terus. Aku juga tidak mau membuat orang berpikiran macam-macam tentang kita. Maaf," tolak Aiden secara halus mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

William tersenyum mengusap rambut Aiden. "Tidak apa-apa, Papa mengerti. Tapi, jangan pernah menolak ketika Papa mengulurkan bantuan untukmu. Anggap saja Papa adalah orangtuamu yang akan selalu ada di belakang anaknya."

[ Kenapa Om William begitu baik padaku? Aku semakin tidak enak hati padanya. ]

"Kenapa Om baik padaku padahal kita tidak memiliki darah yang sama?" tanya Aiden memberanikan diri ingin mengetahui atas kebaikannya selama ini. Dia dan William di pertemukan saat dirinya dalam keadaan lumpuh akibat kecelakaan empat tahun yang lalu. Yang dimana dirinya hampir terjatuh dari kursi rodanya akibat dorongan seseorang di atas pudunan.

[ Kau adalah anak dari adikku, Linda. Apapun akan Om lakukan untuk menjagamu, melindungimu. Seandainya kau tahu itu tapi, ini bukan saatnya memberitahukan siapa Om untukmu karena ada hal yang harus ku pastikan terlebih dulu tentang keluargamu. ]

"Om sudah berjanji untuk menjagamu di hadapan Papamu. Jadi, jangan pernah merasa sendiri. Anggap saja Papa adalah Papa keduamu dan kakak dari kedua orangtuamu."

Aiden terharu seperti merasakan kembali kasih sayang ayahnya yang hilang. Tak di pungkiri, kehadiran William mampu memberikan kenyamanan layaknya seorang Ayah yang melindungi anaknya.

Aiden menganguk. "Makasih Engkau sudah begitu baik padaku."

"Seorang Ayah pasti akan melakukan apapun demi anaknya. Hmmm kalau begitu, Papa pergi dulu. Kamu baik-baik di sini dan ingat, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku?" ujar William mengingatkan sekalian berpamitan.

"Baik, Pah."

********

Rumah sakit

"Ada apa Anda meminta saya datang ke sini, dok?" tanya William merasa heran dan juga penasaran. Saat di perjalanan, dia mendapatkan telpon dari rumah sakit, lebih tepatnya dari dokter yang menangani Linda.

"Begini, Pak. Ada hal yang mengganggu pikiran saya mengenai kematian Linda."

William mengerutkan keningnya. "Maksudnya bagaimana?"

"Menurut pemeriksaan beserta perkembangan Nyonya Linda, beliau mengalami kemajuan pesat dalam masa pemulihan. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja beliau meninggal secara mendadak dan ini membuat saya terheran-heran," jelas Dokter mendapat kejanggalan atas kematian Linda.

William mulai tertarik. Dia menyimpan kedua tangannya di atas meja menegakkan duduknya menatap serius dokter di depannya.

"Maksud Anda ada kemungkinan jika seseorang telah melakukan percobaan pembunuhan, begitu?" kata William mulai mengerti arah pembicaraan Dokter. Tentunya ia terkejut atas pemikiran dokter itu. Namun, ia berusaha tenang untuk mencerna setiap kata dan juga memikirkan apa langkah yang harus di ambilnya. Dia juga merasakan keanehan disini karena setahunya, Linda mulai membaik cuman belum mau membuka mata.

"Saya belum tahu pasti dan tidak ingin gegabah dalam menyimpulkan sesuatu. Tapi, alangkah baiknya Anda melakukan otopsi jenazah korban untuk mengetahui hasil yang pasti," saran dokter.

William terdiam membenarkan ucapan dokter itu. [ Apa ini ada sangkut pautnya dengan dia? Tapi, aku harus memastikannya dulu sebelum menyimpulkan segalanya. Sepertinya saran dokter ini ada baiknya aku lakukan. Cuman, Aiden tidak boleh tahu masalah ini sebelum semuanya terbukti. ]

William mengepalkan tangannya tak habis pikir pada dia jika memang ini ulah dia. Entah apa tujuannya, William tidak tahu.

**********

Aiden tengah menyusun pakaian kedalam lemari. Dia akan memulai hidupnya dari sini. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, Aiden pasrah atas takdir tuhan. Di tengah menyusun baju, ia melihat pigura foto orangtuanya. Aiden berkaca-kaca mengusap foto tersebut. Dimana dirinya dan orangtuanya terlihat bahagia tertawa bersama meski dalam keadaan ekonomi pas-pasan.

"Mama, Papa, kenapa kalian meninggalkan aku sendirian disini? Apa yang harus aku lakukan tanpa kalian? Tiada lagi tempatku mengadu, tiada lagi tempatku mengeluh, tiada lagi tempat ku bercerita, tiada lagi pangkuan tempatku bersandar kepala. Aku merindukan kalian, Mama, Papa." Tangis Aiden terasa pilu menyarat hati memeluk pigura itu. Dia meringkuk di atas kasur menangisi kepergian orangtuanya.

Sakit, kehilangan adalah hal yang menyakitkan yang pernah orang rasakan. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan segalanya meski kita tidak tahu berapa lama untuk melupakan kenangan itu. Walau terkadang kita tertawa di dalam keramai orang. Namun, hati kita merasakan kehampaan. Dunia merasa ada yang berbeda ketika orang yang kita kasihi tiada tuk selamanya.

1
Lies Atikah
si mulut pedas dasar munafik
Lies Atikah
si Billy mah setan berbentuk manusia hati nya jahat sombong tak berperasaan ngerendahin dan menghina orang seenak nya semmoga ada balasan nya
Ruk Mini
penuh drama, emang slh oaham kadang fatal akibat y,vringan tpi berkesan sgt menghibur thor, tq d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Ruk Mini
ga jauh" ye thorr
Ruk Mini
telat bank...
Ruk Mini
gasssss
Ruk Mini
kurang ekstrim pembalasan mu bocil, kerjain bp mu
Ruk Mini
hemmm...drama
Ruk Mini
biasa deh slh org
Ruk Mini
apesssss lau nenk
Ruk Mini
golllllll
Ruk Mini
tolol.kau bil
Susi Sundari
cerita ok..suka..
Dyah Oktina
😂😂😂😂😂 wah malah langsung d nikahkan.. maunya bima itu
Dyah Oktina
kadang papa...kadang om...ah author nih ngak konsisten..😔
Dyah Oktina
dari atas cerita manggilanya papa..kok jd om ??????????
Dyah Oktina
Luar biasa
Siti Mujimah
helleh ud terjadi baru menyesal terlambat sudah
Siti Mujimah
aq bingung baca banyak kata aq ibu ayah bla bla..maaf Thor berputar ceritanya jadi puyeng
Siti Mujimah
biasanya walau mabuk masih ingat samar2 yg terjadi kalau di tmpt cerita lain begitu..ni koq enggak y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!