NovelToon NovelToon
Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa Modern
Popularitas:419.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Daffo Azhar

Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.

Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.

Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Seno menyesap kopinya yang tinggal sedikit. Dari sejam yang lalu ia duduk di depan laptop memandang badan email yang masih kosong. Ia bingung mau menulis apa sedangkan dalam hati dan kepalanya banyak yang ingin ia ungkapkan ke Nisa. Ya ... Seno akan mengirim email ke Nisa.

Akhirnya Seno cuma menulis, 'Nis, lo baik-baik aja, kan? Oh iya, lo dapet salam dari Castlefield taman paling bagus di Manchester menurut gue. Kapan-kapan lo ke sini dong, nanti gue ajak lo jalan keliling Inggris sampe gempor.'

Seno menghela napas panjang, selama ini ia tidak pernah jauh sekali pun dengan Nisa, lalu sekarang mereka berjauhan rasanya sangat aneh dan__tersiksa karena rindu. Tapi apakah perempuan itu juga merasakan hal yang sama?

Seno bangkit berjalan ke balkon apartemen. Dari tempatnya berdiri terlihat jelas bagaimana ramainya di bawah sana, apartemen yang Seno tinggali terletak di pusat kota dan cukup dekat dari kampusnya.

Arsitektur bangunan bertema Modern, Kontemporer, Georgia, Romawi, dan Gothic ada di kota ini. Sekarang Manchester adalah kota metropolitan bonafit, mengerti bagaimana mengabadikan bangunan kuno dan modern. Juga mengerti bagaimana melestarikan suasana harmonis agar Manchester tidak lupa akan masa lampaunya.

Dari sekian banyaknya bangunan yang bagus, perpustakaan John Rylands lah tempat yang paling disukai Seno. Siapa pun yang melihat bangunan berwarna coklat tua itu, pasti tidak menyangka kalau itu adalah sebuah perpustakaan, karena dari penampakannya bangunan bergaya neo-gothic yang sudah ada dari zaman ratu Victoria itu seperti kastil atau sepintas mirip dengan Katedral mewah. Di sana Seno bisa menghabiskan waktu senggang dengan membaca apapun yang ia mau. Karena sejak tahun 1972 perpustakaan John Rylands sudah menjadi bagian dari Universiti of Manchester.

Di sini lumayan banyak orang Indonesia yang kebanyakan berstatus mahasiswa. Sebulan di Manchester, Seno sudah memiliki beberapa teman orang Indonesia dari mahasiswa sampai Travel Bloger. Selain itu Seno juga mempunyai sepupu bernama Niken yang sudah lama menetap di UK.

Hawa dingin menyesap masuk lewat sweeter rajut yang Seno kenakan. Musim gugur sudah berlalu sekarang musim dingin telah tiba. Seno berharap bisa menyesuaikan diri, walaupun biasanya suhu dingin di sini tidak terlalu ekstrem seperti di kota lain.

Musim dingin identik dengan Natal, di Manchester ini sungguh terasa. Di pusat-pusat perbelanjaan mulai ramai menjual pernak-pernik natal. Dan tidak ketinggalan pula para tetangga Seno sudah heboh dari sekarang mempersiapkan natal padahal masih sebulan lagi.

Ada satu tetangga Seno yang baiknya tidak ketulungan. Mr. Armand dan Mrs. Armand. Mereka pasangan suami istri berusia enam puluh tahunan yang baru saja kehilangan anak laki-lakinya. Katanya, anak lelakinya itu seumuran dengan Seno, dia meninggal karena kecelakaan. Entah kenapa ketika melihat Seno mereka selalu teringat pada putranya.

"You remind us of our son," katanya.

Sudah tiga kali Seno diundang makan malam ke apartemen mereka, dan saat natal nanti keluarga itu juga sudah menyiapkan satu kursi untuk Seno. Walaupun Seno sudah bilang dia tidak merayakan natal seperti mereka.

Hari-harinya di Manchester tidak begitu buruk karena ada keluarga itu, tapi Seno akan sangat bahagia kalau wanita yang ia cintai ada di sampingnya dan menemaninya kapan pun.

Entahlah, karena itu sangat sulit dan__mustahil.

***

Jam setengah enam pagi Nisa sudah siap-siap berangkat ke kantor, karena sebelum ke kantor ia mau mampir dulu ke rumah sakit menemui Viko. Sebelum berangkat, gadis itu menyiapkan sarapan untuk Angga, anak manja itu tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk masak mie instan. Tidak lupa Nisa menulis pesan di secarik kertas.

'Ga, teteh berangkat kerja dulu, sarapan udah teteh siapin di dapur. Hati-hati kalau mau pergi, telepon kalau ada apa-apa. Kode pintu apartemen masih yang dulu.'

Nisa meletakan pesan itu di pinggir ponsel Angga biar bisa langsung dibaca.

Nisa berangkat dengan taksi yang sudah dipesannya dari subuh.

"Rumah sakit Cipto ya, Pak," ujar Nisa pada supir taksi setelah dia duduk di jok belakang.

"Baik, Mbak."

Pagi ini kota Jakarta masih sangat lengang, dari itu Nisa sampai di rumah sakit lebih cepat. Nisa membayar argo lalu langsung masuk ke dalam. Sebelumnya Nisa sempat dicegat oleh salah satu satpam karena sekarang bukan jam besuk. Tapi Nisa bilang bahwa ia keluarga pasien untuk giliran berjaga. Akhirnya ia dibolehkan masuk.

Saat Nisa masuk ke ruangan, Viko tidak ada di tempat tidur. Lalu terdengar ada suara gemericik air di kamar mandi. Nisa berseru dari balik pintu. "Viko ... kamu di dalam?"

"Iya ... kamu sudah datang, Sayang? Sebentar, aku sedang buang air kecil. Mamaku tadi ke bawah mau beli sarapan katanya."

"Oh ...."

Selang beberapa menit Viko keluar dari toilet. Ia tersenyum cerah melihat Nisa sudah duduk di sofa menunggunya. Nisa bangkit lalu memapah Viko kembali ke tempat tidur dan menaruh botol infus ke tiang besi.

"Aku tidak perlu dipapah, Nis. Aku sudah mendingan, kok. Aku harap dokter Vanesh membolehkan aku pulang hari ini."

"Menurutku kamu harus lebih banyak beristirahat di sini, Ko. Sampai kamu beneran sembuh. Aku khawatir banget sama kamu." Viko menatap Nisa dengan takzim seraya  meremas jemari Nisa lembut.

"Terima kasih, ya ...."

"Untuk apa?" Dahi Nisa berkerut.

"Untuk tetap di sisiku," ucap Viko. Nisa mengerjap. "Untuk selalu mencintaiku apa adanya," sambungnya. Nisa menelan ludah getir. Bola mata Viko jernih berbinar karena rasa bahagia walau lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.

Apakah Nisa sangat jahat karena sudah berbohong tentang perasaannya? Viko mengira Nisa mencintainya, padahal setiap helaan napasnya, rasa cinta dan sayangnya tertuju pada orang lain.

Viko merebahkan tubuhnya di kasur pasien, lantas ia bicara lagi, "Setelah aku keluar dari sini, aku ingin kita lebih serius lagi, Nis." Nisa terenyak menatap Viko yang terus tersenyum bahagia. "M__maksud kamu?" Nisa berucap sedikit gemetar. "Aku ingin kita menikah. Semalam aku berpikir, setelah keluar dari sini aku berencana melamar kamu secara resmi, Nis. Kamu mau kan, nikah sama aku?"

Demi apapun saat Nisa mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Viko, rasanya ia seperti tersambar petir di pagi buta. Ia ingin berlari sejauh mungkin namun kakinya menancap kokoh pada lantai yang ia pijak. Tidak bisa bergerak sedikit pun.

Nisa menatap lagi bola mata Viko yang berbinar bahagia. Hati Nisa menceos, bagaimana bisa ia menyakiti Viko dengan keadaan yang seperti ini? Nisa tidak mampu menyakiti Viko dengan berkata tidak.

Saat itu yang bisa Nisa lakukan hanya berusaha meluncurkan senyum dan mengangguk samar, walau hatinya sekarang mungkin sudah tidak berbentuk.

"I love you ...," sahut Viko.

"Ko, maaf aku harus ke toilet." Hanya itu yang mampu Nisa ucapkan. Lalu secepat mungkin ia menghindar dari Viko. Dari tatapannya yang membuat Nisa merasa bersalah.

Di balik pintu toilet, Nisa menahan tangisnya sekuat tenaga. Ia memukul pelan dadanya berharap sesaknya sedikit berkurang.

Triiit ....

Ponsel Nisa berbunyi. Nisa merogoh tas yang ia letakan di pinggir wastafel mengambil ponsel. Satu email masuk. Nisa membuka email itu. Ternyata dari Seno.

'Nis, lo baik-baik aja, kan? Oh iya, lo dapet salam dari Castlefield taman paling bagus di Manchester menurut gue. Kapan-kapan lo ke sini dong, nanti gue ajak lo jalan keliling Inggris sampe gempor.'

Nisa mendekap erat ponselnya di dada. Ia tidak kuat lagi, akhirnya sungai kecil meluruh dari matanya.

***

Nisa tidak tahu takdir akan membawanya kemana. Namun apapun itu, ia akan menerimanya walaupun ia harus berkorban. Sebelas tahun adalah waktu yang sangat lama, ia dan Viko telah menderita, begitu juga Gita. Setidaknya dari tiga orang itu harus ada salah satu yang bahagia. Dan menurut Nisa satu orang itu adalah Viko.

Ia tidak masalah jika ia tidak bahagia, karena sebelas tahun itu sudah sangat cukup mengajarkannya. Nisa punya badan yang sehat, pekerjaan bagus, materi melimpah, dan sangat dicintai oleh satu pria, yaitu Viko. Apa lagi yang kurang? Bukankah Tuhan sudah memberi segalanya? Kenapa ia tidak bersyukur?

Mengorbankan cinta untuk kebahagiaan orang lain bukankah itu perbuatan yang baik? Apalagi orang itu dalam keadaan sakit. Sakit yang sangat parah.

Sudah seminggu Viko meninggalkan rumah sakit, dan rencana untuk melamar Nisa secara resmi juga rupanya tidak main-main. Viko mulai mempersiapkannya, dari cincin sampai barang-barang lainnya. Keluarga Viko yang di Sukabumi sudah diberi kabar soal rencana ini. Sekarang giliran keluarga Nisa. Sebenarnya Nisa agak ragu untuk memberi tahu tentang rencana ini, karena Viko mempunyai track rekor yang buruk di mata orang tua Nisa karena tragedi sebelas tahun yang lalu. Keluarga Nisa tahu bahwa Nisa tertabrak mobil karena dikejar oleh Viko, mereka juga tahu tentang cinta segitiga mereka.

Nisa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di ruang kerjanya. Jemarinya mengurut keningnya pelan. Sungguh ini sudah membuatnya pening dan tidak bisa tidur beberapa hari ini.

Lena melihat bosnya dari luar ruangan. Ia merasa khawatir karena akhir-akhir ini Nisa seperti sedang sakit. Wajahnya pucat dan terlihat sedikit kurus. Semangat kerjanya juga menurun. Lena tidak bisa menemukan Nisa yang seperti biasanya.

Perlahan Lena mendekati ruangan Nisa. Dengan ragu ia menghampiri Nisa lalu bertanya, "Mbak, apa Mbak sakit?" Nisa menoleh pelan sambil membuka matanya.

"Eh, kamu Len. Enggak, aku enggak sakit, cuma kurang tidur aja."

"Oh gitu, aku khawatir soalnya Mbak keliatan pucat. Apa mau aku suruh Mang Yanto buatkan teh manis anget? Biar seger badannya."

"Ya udah deh, makasih ya, Len."

"Iya sama-sama, Mbak."

Lena keluar dari ruangan Nisa menuju dapur mencari Office Boy bernama Yanto.

Nisa terdiam. Ia terpikir sesuatu. Biasanya yang memberi perhatian seperti ini adalah Seno. Sekarang cowok itu tidak ada, sungguh Nisa sangat kehilangan.

Nisa merebahkan kepalanya ke atas meja dengan lengan sebagai alasnya, lalu ia bisa mengeluarkan air matanya dengan leluasa sebelum Yanto datang membawakannya teh manis hangat.

***

"Assalamualaikum Ayah ...," seru Nisa di balik telepon. Rencananya sekarang Nisa akan memberitahu orang tuanya tentang lamaran Viko. Mau tidak mau Nisa harus menyampaikan soal ini pada mereka.

"Walaikumsalam ... Nisa? Tumben telefon ada apa? Kamu tidak sibuk?" Nisa sedikit tersentil mendengar ayahnya mengatakan 'tumben' karena Nisa anak yang sangat jarang menghubungi orang tuanya dengan alasan sibuk.

"Iya nih, aku lagi enggak sibuk hehe ... Yah, Ibu mana?"

"Ada di pabrik. Mau Ayah panggilkan?"

"Iya Yah, tolong panggilkan ya ... soalnya aku mau bicara serius sama kalian."

"Oh, baiklah. Ayah panggil ibumu dulu ya ...."

Dodi__ayah Nisa__pergi mencari istrinya ke pabrik yang terletak di belakang rumah. Keluarga Nisa memang mempunyai bisnis makanan yaitu mochi, oleh-oleh khas Sukabumi, yang dikelola sendiri oleh Rita, ibu Nisa. Sedangkan Dodi mengelola bisnis di bidang pertanian. Ia mempunyai beberapa penggilingan padi, jual beli gabah dan bibit.

Keluarga Nisa berkecukupan, tapi mereka mengajarkan anak-anaknya untuk selalu hidup sederhana. Bahkan saat Nisa kuliah di Singapore, mereka memberi uang saku pas-pasan, dan kontrakan yang kecil.

Sekarang, karena Nisa sudah mempunyai penghasilan sendiri, ia bisa melakukan apapun yang ia suka termasuk membeli beberapa tas mewah. Bukan tanpa alasan, hal itu ia lakukan untuk menunjukan pada musuh bebuyutannya, Nadya, bahwa ialah yang lebih baik dari dia.

Dodi memanggil Rita yang sedang bekerja bersama karyawannya.

"Bu, ini Nisa telefon, katanya ada yang mau dia bicarakan dengan kita."

"Oh, Nisa? Tuh anak udah hampir sebulan baru telefon kita lagi. Tidak tahu kalau orang tua kangen sama anak gadisnya."

Nisa meringis mendengar ibunya bicara seperti itu.

"Halo Nis ...." Sekarang Rita yang mengambil alih ponsel.

"Halo, Bu ... Ibu sehat?"

"Iya sehat. Kamu gimana? Maag kamu enggak suka kambuh lagi, kan?"

"Enggak, Bu."

"Syukurlah. Ngomong-ngomong si Angga enggak bikin kamu repot, kan?"

"Hhh ... Ibu tau sendiri gimana anak itu. Bahkan untuk urusan nyuci baju, dia enggak bisa sendiri. Sekalinya dia lakukan sendiri, malah enggak bener."

"Yang sabar ya, Nis. Adik kamu yang satu itu emang kelewatan manjanya. Oh iya, kata ayah katanya ada yang mau diomongin?"

"Iya Bu, tolong hapenya di loadspiker ya, biar Ayah bisa denger juga."

Rita menekan tombil spiker.

"Sudah."

"Bu ... Yah ... rencananya pacar aku dan keluarganya mau datang ke rumah minggu depan buat ngelamar."

Rita dan Dodi langsung semringah dan terharu mendengar apa yang baru saja putri mereka ucapkan. Akhirnya anak gadis yang sangat mereka sayangi akan menikah juga. Sebelumnya mereka sedikit khawatir kalau Nisa tidak mau menikah karena dia terlalu senang bekerja dan__trauma akan masa lalunya.

"Nisa kamu serius?" tanya Dodi dengan semangat.

"Iya, Yah."

"Alhamdulillah ... ngomong-ngomong siapa calon suami kamu, Nis?" tanya Rita.

Nisa menelan ludah, khawatir kalau orang tuanya tidak menyetujui. "Viko, Bu. Pacar aku waktu SMA dulu," tutur Nisa pelan.

Air muka Dodi dan Rita langsung berubah sedih.

"K__kamu serius, Viko yang menyebabkan kamu kecelakaan itu?" tanya Rita memastikan bahwa calon menantunya bukan Viko yang itu.

"Iya, Bu."

"Kamu yakin?" Rita mengulang memastikan lagi.

"Iya. Aku yakin, Bu."

Dodi menunduk sedih. Ia teringat bagaimana dulu anak gadisnya yang paling ia sayangi terbaring koma dan hampir tiada. Lalu saat bangun dari koma, Nisa tidak mengenali orang tuanya bahkan dirinya sendiri hingga beberapa minggu karena mengalami amnesia disosiatif.

Dodi mengetahui putrinya seperti itu karena seorang lelaki bernama Viko. Lalu menyusul ia tahu kalau Gita yang sudah Dodi anggap seperti putrinya sendiri ikut andil dalam tragedi itu. Karena cinta segitiga itu, Dodi hampir kehilangan putrinya.

Akhirnya untuk melepaskan Nisa dari Viko dan Gita, Dodi sengaja mengirim Nisa jauh ke Singapore. Berharap Nisa bisa menyembuhkan hatinya yang terluka. Lalu sekarang apa? Nisa malah akan menikah dengan lelaki itu.

"Kalau kamu yakin, Ibu sama Ayah mah setuju saja." Dengan berat Rita berucap. Tanpa Rita sadari setitik air matanya jatuh, tapi dengan cepat Rita menyekanya dengan jilbab yang ia kenakan.

"Terima kasih, Yah ... Bu ... tolong persiapkan semuanya, aku pulang ke Sukabumi hari jumat sore sudah pulang kerja. Assalamualaikum." Nisa menutup telefon dengan tangan gemetar. Ia tahu walaupun orang tuanya berkata seperti itu tapi dalam hatinya mereka sedih. Nisa tahu karena ayahnya tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah tahu lelaki yang akan melamar Nisa adalah Viko.

***

Part 17 on the way ... Keep reading 😘

1
Sherly Nafik
kalau ceritanya makk daffoo jann gak pernah gagal tp paling gk bisa move on dari hapdag
Mion Ming
baru kali ini baca novel seru abis, bikin nyesek sampe aku dikira tetangga lagi brantem ma paksu karena tiba2 keluar rumah dengan mata bengkak gitu😭
Efvi Ulyaniek
jgn"Andi yg kepo dg mengabaikan lwt hp..calon pebinor nih
Efvi Ulyaniek
waduh knp ga jujur sihbaang seeno....bs runyam nih...
Efvi Ulyaniek
Andi ada rasa sama U nis ga peka"
Efvi Ulyaniek
wkwkwkkwkw...apes no..Seno...harus puasa seminggu 😀😀😀
Efvi Ulyaniek
mbok ya ga usah nikah ko Viko..buat anak orang jd janda aja 😀😀maksa lho KD penghalang cinta Nisa sama Seno aja..ujung"nya meninggong
Efvi Ulyaniek
Viko egois sdh tau si Nisa suka Seno msh aja mau dinikahi
Daffo Azhar
hai, apa kabar pembaca Senopati, masih ada kah yang stay?
tyas: ga bisa di buka ya?
total 2 replies
Rena
keren banget
sumpah
lanjutt thorr
Dewi Suherman
tengkyuuu thor
Dewi Suherman
tak ada persahabatan antara ce dan co, pasti ujung2nya ada cemburuuuuuu. pasti jadi cinta
Yetty widya
critanya ngegantung thor.. blm selesai
Daffodil Koltim
bru baca,siap2 marathon,,,,
augst
maaf ini penulisnya msh sehat kan ya?...crtnya bgs2 tp g ad yg slesai dn itu udh lma bgt?
augst
keren
augst
sran asih tor dr bbrpa nvelnya ni kok upny lma knapa sbnrnya bgus crtanya bg pmbca ngsih hdiah vite akan smkn malas klo upnya ad lama bgt
augst
beh
augst
egois g sih viko...
augst
yg parut disalahkan smua ini adalah gita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!