"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
PARIS POINT OF VIEW:
Aku mencoba membuka pintu rumah dengan tangan yang masih bergetar. Hingga dhika mengambil alih kunci rumah dan membukakan pintu nya untukku.
Kami berdua masuk dan menyalakan lampu supaya lebih terang sedikit. Aku tetap memegang lengan dhika seakan akan ada rasa takut yang menghantuiku. Aku benci hari ini, aku benar benar benci hari ini.
“Masuklah, aku akan tidur di ruang tamu,” kata dhika sesampai nya di depan kamarku.
“Kamarku terlalu luas, tidak bisakah kamu menemaniku di kamar saja?” tanyaku ragu.
“Baiklah,” kata dhika seraya menghembuskan napas nya kasar.
Aku mencari bajuku di lemari dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang rasa nya sangat gerah. Setelah cukup lama di dalam kamar mandi, aku keluar sudah menggunakan baju tidurku.
Tapi dimana Dhika saat ini? Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar tapi nihil tidak ada keberadaan dhika. Apa dia meninggalkanku di rumah sebesar ini? Aku mulai merasa takut hingga wajahku memucat.
CEKLEK…
Dhika masuk ke dalam kamar membawakanku segelas susu dan makanan di piring. Dia berjalan mendekati meja dan meletakkan makanan itu di sana.
“Setelah ini makanlah,” kata nya mulai memegang daguku tapi ku singkirkan tangan nya.
“Mau apa?” tanyaku waspada.
“Ujung bibirmu terluka, biarkan aku mengobati nya,” kata dhika seraya membuka kotak P3K.
Dengan hati hati dia mengoleskan obat di ujung bibirku menggunakan kapas. Aku sedikit meringis merasakan perih.
“Apa yang dilakukan nya padamu?” Tanya dhika datar tapi ku lihat kehangatan dalam mata nya.
“Seperti apa yang kamu lihat, kamu melihat nya ,” kataku seraya mengusap airmataku yang mulai jatuh lagi.
“Mana lagi yang sakit?”
“Tidak ada,”
“Tidak ada bagaimana? Lihatlah ini,” kata nya mengambil lenganku.
“Dia membenturkan tubuhku ke dinding,”
“Sudah ku bilang, jangan berurusan dengan masalah sahabatmu terlalu jauh,” kata dhika menghembuskan napas berat.
“Aku baik baik saja, bagaimana keadaan jaksa Erika? Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan nya?”
“Tentu saja aku khawatir, tapi sudah ada orangtuanya,” sahut dhika seraya mengambil piring berisi makanan untukku.
“Makanlah,” kata dhika datar.
“Aku tidak berselera,”
“Makanlah sedikit,”
Malam ini dhika menyuapiku hingga makanan di piring habis, dia juga memastikan supaya aku menghabiskan susu buatan nya.
“Jangan tidur di luar,” kataku menahan lengan nya.
“Aku hanya ingin ke kamar mandi,” sahut nya cepat sehingga aku melepaskan peganganku di lengannya perlahan.
“Tidurlah di sini, kasurku luas. Lagi pula ada guling di sini, aku tidak akan melewati batas,” kataku ragu.
“Hem, aku ke kamar mandi dulu,” sahut dhika seraya berjalan pelan menuju kamar mandi.
Kali ini kami tidur dalam satu ranjang dengan guling sebagai pembatas. Hingga dini hari kami masih belum bisa memejamkan mata, kami berbicara hal-hal tak penting hingga waktu menunjukkan pukul 2 pagi.
"Bagaimana dengan nasib Steven selanjutnya?" tanyaku masih memperhatikan langit langit kamar.
"Ku pastikan dia masuk penjara, ada banyak bukti. Biarkan jaksa Viky yang mengurus nya. Aku tidak ingin Erika terlibat,"
"Sepertinya kamu khawatir sekali pada jaksa Erika," sahutku.
"Ya, bagaimanapun dia perempuan. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya,"
"Tapi kamu sendiri sering membuatnya gagal dalam persidangan,"
"Aku hanya memberi saksi sesuai dengan hasil autopsy, tidak ada rekayasa di dalam nya. Erika pasti mengerti itu," sahut dhika.
"Dia berjanji datang dalam pernikahan kita, apa kamu mengundang nya?"
"Hem,"
"Jaksa Erika cantik sekali, bagaimana menurutmu?"
"Tentu saja cantik! Tidurlah, aku sudah mengantuk, ini sudah hampir pagi,” kata dhika mulai menguap.
Kami tertidur dengan sangat nyenyak karena merasa kelelahan.
DHIKA POINT OF VIEW:
“Sayang!” sebuah suara mengganggu tidurku saat ini hingga membuatku sedikit membuka mataku karena sinar matahari yang mulai masuk melewati selambu.
Aku sedang dimana?
Ya Tuhan, ini sudah jam 8 pagi?
Aku di kamar Paris?
Aku mulai duduk dan mengucek mataku yang masih terasa mengantuk. Rasa nya masih ingin tidur lagi, apalagi melihat Paris yang masih terlelap dengan pulasnya.
CEKLEK!
“Paris,” kata seseorang yang masuk dengan tiba tiba, tante Vallery terbelalak melihat ke arahku yang mencoba untuk bangun dari tempat tidur lagi.
“Dhi… Dhika… Kalian?” tante vallery membulatkan mata nya sempurna.
“Tante, ini salah paham!” kataku cepat.
“Ada apa sih, val?” om rizal ikut nyelonong masuk ke kamar Paris.
“Om, saya bisa jelaskan,” kataku agak keras membuat Paris terbangun dengan tatapan bingung karena kedua orangtua nya sudah ada di sini.
“Jadi kalian menggunakan kesempatan ini untuk tidur bersama? Lalu kenapa kalian selalu menolak untuk menikah?” kata tante vallery ngomel.
“Mama, biar Paris yang jelaskan,” kata Paris seraya menggaruk kepala nya.
“Mamamu tadi malam menelponku karena Paris tidak bisa di hubungi dan kamu juga tidak bisa dihubungi, maka dari itu aku dengan segera kembali pulang. Dan kalian menggunakan kesempatan ini untuk tidur bersama, mumpung rumah ini kosong? Iya?” tante vallery melotot ke arah Paris.
“Nggak gitu, Ma,” kata paris membela diri.
“Lalu bagaimana? Dan kamu dhika, jika tidak mau menikahi anak tante, maka jangan mempermainkan nya begini!”
“Mama jangan marah sama dhika, Paris yang meminta nya tidur di sini,” sahut Paris.
“Kamu??? Jadi kamu yang meminta nya tidur di sini? Percepat pernikahan kalian!” kata tante vallery marah marah.
“Val, dengarkan penjelasan mereka dulu,” kata om rizal memegang bahu istri nya.
“Penjelasan apa lagi? Mereka sudah sering tidur bersama, tapi tidak mau menikah,” kata tante vallery memijat kepala nya.
“Aku mendidikmu bukan untuk menggoda laki laki,” kata tante vallery mau meraih rambut paris tapi ku halangi.
“Tante, jangan!” seruku.
“Apa ini karma perilakuku dulu?” kata tante vallery mulai menangis masih ingin meraih putri nya karena kesal.
“Tante hentikan, kami akan menikah. Jangan sakiti paris, aku akan menikahi nya,” kataku yang membuat tante vallery terdiam dan mengusap air mata nya.
“Kami bahkan sudah memesan baju untuk acara akad, mana mungkin dhika akan melarikan diri,” kataku meyakinkan nya.
“Aku hanya takut kamu akan mempermainkan putriku, dia putriku satu satu nya,” kata tante vallery masih dengan airmata nya.
“Dhika tidak mungkin membatalkan pernikahan ini,” kataku lembut.
“Kenapa kamu tidak menerima panggilan dari tante zea tadi malam?” Tanya om Rizal pada putrinya.
“Ponsel Paris tertinggal,” sahut paris ketakutan.
“Tertinggal?”
“Tas Paris tertinggal di mobil dhika, om,” sahutku.
“Lalu ponselmu?” Tanya om Rizal menatapku.
“Tertinggal juga di mobil,”
“Kalian ini—“ om rizal memilih untuk menggantung kalimat nya seraya mengusap rambut nya kasar.
“Lihatlah, kamu mencium bibir Paris hingga terluka begini?” kata tante vallery memperhatikan sudut bibir Paris.
“Itu—“
“Tidak bisakah kalian menunggu hingga selesai akad nikah?” omel tante vallery.
“Dhika tidak mencium Paris,” kata paris mengelak.
“Lalu siapa? Semut???” tante vallery semakin marah marah.
“Sudah, val. Tinggalkan mereka dulu,” kata om Rizal.
“Tinggalkan? Ini tentang anak kita, bagaimana jika dia hamil duluan? Kamu ini,” kata tante vallery melotot kearah suami nya.
“Mandilah dulu, pakai bajuku nanti,” kata om rizal menatapku.
“Makasih, om,” sahutku.
“Awas ya kalau kamu tidak menikahi, paris!” ancam tante vallery menatap dalam mataku yang membuatku susah menelan ludah.
“Ikutlah sarapan sebelum pergi nanti,” kata om rizal padaku, dia menggiring istri nya untuk keluar kamar.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍