Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah ....
Fadli tentu cukup kesal, karena sudah hampir empat jam duduk menunggu yang pertama muncul justru Irfan dan Lilis yang dari Siantar, sedang Dhanil siempunya pacar yang katanya sudah di Medan justru belum juga muncul muncul. Fadli sampai sampai terlalu sering membuang nafas mencoba mengurangai rasa resah yang masih tersisa.
Berjarak leibih dari satu jam baru Dhanil muncul, Dhanil justru masuk kamar dan bertahan disana. Fadli menghembus tinjunya sebagai kesan kesal, melihat ini Irfan dan Lilis cekikikan. Terutama Lilis. Gadis manis ini memang gambang merasa lucu dan mudah sekali menunjukkan rasa ceria, gaya Fadli yang begitu saja sudah cukup membuat Lilis cekikikan.
“Kenapa Lis ?”.
Lilis menutupi bibir dengan tangannya. “Bang Fadli lucu”.
Fadli mengecilkan matanya. “Apa yang lucu Lis”.
“Nggak ada”. Jawab Lilis pelan, tapi ia ketawa lagi.
Fadli terpaksa ikut ketawa kecil dan memilih memperhatikan Lilis yang masih tampak menahan tawa. Tapi yang tampak seperti itu memang hanya Lilis seorang, Fadli dan Irfan masih lebih banyak dikuasai oleh rasa tegang yang semakin lama semakin memanggang.
Mencoba lebih tenang Irfan memanggil Dhanil, hanya berjarak detik Dhanil keluar bersama Yani. Ada gurat bahagia tapi bercampur resah dari wajah keduanya. Irfan meminta keduanya duduk dan mulai bermusyawarah. Irfan dalam hal ini memang cukup baik. Irfan tampak yang paling tenang, karena tak mendapat jawaban yang memuaskan Irfan akhirnya mengambil sendiri beberapa keputusan.
Dhanil, Yani, Fadli dan Lilis tak banyak komentar dan memandang apa yang dikatakan Irfan memang yang paling tepat. Untuk sementara Yani tinggal dulu dengan Lilis, walau khawatir ikut dilibatkan tapi Lilis menerima putusan Irfan itu karena itu memang yang paling masuk akal. Tidak mungkin Yani tinggal di rumah ini atau menginap di penginapan atau semacamnya. Tinggal sementara bersama Lilis termasuk yang paling aman. Lilis bisa menjadi teman Yani kemana pergi atau juga membantu kepentingan kepentingan Yani untuk menghadapi hal hal yang harus dihadapi kedepannya.
“Jadi Yani dengan Lilis dulu. Jangan banyak keluar. Kalau pun harus kaeluar itu karena urusan yang luar biasa penting”.
“Jadi Bang”. Yani serius menjawab nasehat Irfan.
Tak menunggu hingga waktu Dzuhur tiba. Lilis dan Yani sudah beranjak pergi, Dhanil dan Irfan juga pergi setengah jam setelah itu, Dhanil dan Irfan menuju rumah Pak Ustdaz membangun rencana rencana berikutnya. Apa yang harus disiapkan dan kapan waktu yang tepat untuk dilaksanakan. Berangkatnya Dhanil dan Irfan kembali membuat Fadli tinggal sendirian. Teringat dari pagi belum mandi Fadli berdiri, ambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.
OO oo OO
Akhirnya hari yang ditunggu Dhanil dan Yani tiba juga, masih cukup pagi saat Dhanil sudah tampak siap menghadapi hari ini. Ada Fadli dan Irfan yang terus menemani Dhanil selama rencana besar ini diwacanakan. Tapi Dhanil tetap tak bisa tenang, bahkan Dhanil terlalu sering melihat jam yang melingkar ditangannya, juga jam yang melekat di dinding.
Dada Dhanil berdegup saat ada suara sepeda motor yang berhenti didepan rumah Pak Ustadz. Fadli dan Irfan langsung bergerak kepintu melihat siapa yang datang, dada Dhanil makin kencang degubnya saat Fadli dan Irfansyah sama menggeleng menjawab anggukan Dhanil, menandakan bahwa keduanya tidak mengenal siapa yang datang.
Seorang pria dengan badan kekar melangkah masuk. Dada Dhanil agak reda sedikit pada saat pria itu menerima jabat tangan Fadli dan Irfansyah dengan hangat dan penuh senyuman.
“Mana Dhanil ?”.
Kali ini dada Dhanil kembali bergetar. “Saya Pak”.
Pria kekar itu menerima jabat tangan Dhanil. “Saya Aidil, Paman Yani, adik ayah Yani”.
Bukan hanya Dhanil, Fadli dan Irfan juga ikut pucat. Fadli dan Irfan langsung merapat kearah Dhanil seakan mengawal, karena belum tahu apa sikap pria kekar ini. Fadli dan Irfansyah hanya berjaga jaga dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
“Jangan takut. Paman datang atas permintaan Kakak Yani, Murni. Paman datang bukan untuk berusaha menggagalkan. Tapi Paman ingin memastikan kalau rencana suci kalian berlangsung dengan baik”.
Dhanil, Fadli dan Irfan bernafas lega, persis seperti yang baru berhasil keluar gua yang sangat pengab. Persis seperti berhasil menyelesaikan etape sulit, bahkan Fadli langsung terduduk. Senyum merekah dibibir ketiganya, Dhanil spontan memeluk Pak Aidil dan pria kekar itu menyambut pelukan Dhanil dengan hangat.
Kini mereka jadi berempat bersambung cerita, tapi Dhanil hanya mampu menjawab iya dan tidak saja, malah kadang hanya tersenyum tipis dan mengangguk anggukkan kepala saja. Begitu banyak cerita ceria yang muncul diantara mereka, tapi tak ada satupun yang mampu membuat Dhanil ceria, matanya tetap lebih sering pada Jam ditangannya dan jam yang ada di dinding rumah Pak Ustadz. Dhanil makin tak enak duduknya karena jam sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB namun Yani yang ditunggu tunggu belum juga muncul muncul.
“Telephon sekali lagi Fan”. Bisik Fadli yang memang tampak cukup resah, dari tadi Fadli tak tampak sedikitpun tenang.
Irfan langsung ambil ponselnya dan menghubungi nomor Yani, masuk tapi tak diangkat. Irfan jadi agak resah, ia berdiri dan menuju luar rumah dan mencoba menghubungi lagi, tapi tak sempat lama Irfan akhirnya membatalkan panggilannya karena di pinggir jalan ada taxi yang berhenti, Yani dan dua orang perempuan lain turun dari dalamnya, salah satunya adalah Lilis, tapi yang satunya lagi memang kurang dikenal Irfan. Irfan agak bernafas lega, langsung menyambut Yani dan menyuruhnya segera masuk.
Irfan menarik tangan Lilis yang langsung mendekat. “Kok lama Lis ?”.
“Lama gimana Bang ?”.
“Iya.. lama. Kami udah sempat resah”.
“Abang ada aja”.
Irfan melepas pegangannya dari tangan Lilis dan bersama sama dengan Yani masuk rumah, sementara teman mereka yang satunya lagi lebih memilih duduk diteras rumah yang memang ada kursinya. Teman Lilis ini mungkin merasa tidak punya kepentingan didalam rumah sehingga merasa tak perlu masuk kedalam, jikapun dia masuk itu akan menambah kepadatan ruangan saja, tanpa masuk itu tak akan memberikan pengaruh apa apa.
Yani agak gugup saat melihat Pamannya Aidil ada didalam rumah, Yani bahkan ragu melanjutkan langkahnya. Yani baru melangkah lagi saat menemukan senyum manis merekah dari bibir pamannya, senyuman itu memberi sinyal kepada Yani kalau kehadiran pamannya tidak membawa badai yang mungkin bisa memporak porandakan rencananya dengan Dhanil.
“Paman Datang”.
“Paman disuruh Kakakmu Murni”.
Yani menjabat dan mencium tangan pamannya. Paman Aidil membalas dengan memeluk dan mencium ubun ubun keponakannya Yani. Perlakuan ini membuat Yani tampak bertambah tenang sehingga senyumnya semakin lebar dan makin yakin dengan keputusan yang ia ambil.
Mendengar mempelai wanita sudah datang, Pak Ustadz yang akan memandu acara pernikahan yang diselenggarakan memang disrumahnya keluar dari kamarnya. Tak banyak yang hadir dalam ruangan yang juga tak seberapa besar itu, hanya ada beberapa teman Dhanil selaian Fadli dan Irfan, kehadiran Paman Aidil menambah nilai berani Dhanil mengambil langkah ini, lebih lebih lagi adik kandung ayah Yani itu siap bertanggung jawab dengan semua kejadian yang bakal berlangsung hari ini.
“Saya nikahkan anak saya Rahmayani binti Rahmadi dengan mahar seperangkat alat Sholat dibayar tunai”.
“Saya terima nikah Rahmayani binti Rahmadi dengan mahar seperangkat alat Sholat dibayar tunai”.
Pak Ustadz yang memandu menatap sekeliling ruangan seakan menghitung. “Bagaimana Sah ?”.
“Sah Sah... “. Ramai yangmenjawab.
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya