Hidup Luna sudah sempurna. Memiliki kekayaan dan popularitas di usia muda. Punya Casey, Kekasih baik hati yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Dia berpikir akan terus bahagia seperti itu.
But everything’s gonna change along the time. Pekerjaan mulai membebaninya, membatasi ruang gerak Luna. popularitasnya berusaha menghancurkan segala batas privasinya. Dan Casey ternyata terlalu menginginkan yang terbaik hingga tidak sanggup mentolerir perubahan Luna yang baru beranjak dewasa.
Luna merasa dirinya sedang berada di titik bawah hidupnya. Hingga Bagian terburuk dari semua itu mulai tampak, Luna harus bertemu Drey Charleville. Cassanova dengan segala catatan buruknya. Menggunakan pesonanya, Drey berusaha keras menjerat Luna dan menambahkan namanya dalam catatan wanita yang pernah ditaklukannya. Betapapun kerasnya Luna mencoba untuk tidak goyah, Drey selalu punya cara manis untuk menggodanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarashina18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neighbor
Menyadari bahwa aku tidak sedang bermimpi Dan Drey memang Ada di depanku, spontan aku berteriak. Campuran antara kaget Dan ngeri.
"Kenapa kau Ada disini?!"
Tanyaku masih histeris. Kantukku langsung hilang, Dan segera bergerak menjauh dari bibir ranjang sambil menarik selimutku.
Ini masih jam 3 pagi. Tamu macam apa datang sepagi ini, Tanpa permisi Pula.
"Karena aku sangat merindukanmu"
Jawab Drey seperti Tanpa dosa. Dia masih nyengir.
Hatiku sama sekali tidak tersentuh dengan Jawabannya. Setelah mengabaikan pesanku, menghilang begitu saja, sekarang seenaknya saja muncul di hadapanku Dan mengucapkan kata "rindu".
"Keluar!"
Usirku ketus. Aku tidak mau dipermainkan olehnya lagi.
"Kenapa kau begitu marah?"
Bukannya pergi, Drey malah berusaha mendekatiku.
"Keluar atau kupanggil polisi untuk mengusirmu"
Ancamku. Kali ini aku serius. Aku sudah meraih ponselku di nakas Dan bersiap memencet panggilan darurat.
Melihatku tidak main-main, Drey akhirnya mundur. Tetapi kemudian sambil berkacak pinggang, dia mengucapkan sesuatu yang lebih buruk daripada dia masuk kamarku Tanpa ijin sepagi ini.
"Kalau kau menelfon polisi, semua orang Akan tahu jika Kita tinggal bersama"
"Huh? Apa maksudmu?"
*******************************
Aku hanya bisa speechless melihat sebuah pintu yang ada di dapurku. Kupikir pintu itu tersambung ke taman belakang. Nyatanya justru langsung terhubung ke rumah yang terlihat dari balkon kamarku.
Kabar buruknya, pintu itu tidak memiliki kunci, Dan rumah di sebelah itu adalah tempat tinggal Drey. Yang sama artinya, sekarang aku tinggal dengan Drey. Walaupun dari luar, ini terlihat seperti Dua rumah berbeda, di halaman berbeda, dengan pagar berbeda. Nyatanya, Drey bisa keluar masuk kemari dengan mudah.
Hal pertama yang ingin kulakukan adalah menghajar Daniel. Berani sekali dia menipuku seperti ini. Dia bilang rumah sebelah tidak berpenghuni. Dia juga tidak menyebutkan apapun mengenai Drey, tetapi Dua rumah yang terhubung ini adalah milik Drey.
Harusnya Drey Ada di Madrid, lalu kenapa sekarang dia ada di London? Ya, aku juga mempertanyakan itu. Tanpa kuketahui, Drey pindah ke sebuah klub di sini mulai awal tahun ini. Artinya, dia juga Akan mulai tinggal di sini.
"Kau ingin menelfon polisi sekarang atau nanti?"
Tanya Drey setengah mengejek. Dia hanya memperhatikanku dengan senyumannya yang menyebalkan itu.
Tentu saja aku tidak bisa menghubungi polisi sekarang. Berita ini Akan sampai pada reporter, Dan pada akhirnya akulah yang Akan menanggung malu.
Drey benar-benar membuatku bungkam. Rasanya emosi sudah meletup di hatiku. Membuat tekadku semakin bulat untuk menunjukkan padanya bahwa aku bukan gadis yang mudah.
Saat dia sedang lengah, aku langsung berlari ke kamarku. Kali ini kukunci pintuku. Lalu segera mengambil ponsel dan browsing. Aku akan mencari tempat tinggal lain Dan pindah. Tidak Akan menunggu lebih lama lagi terkurung dalam rumah ini bersama Drey.
Drey terus mengetuk pintu. Entah apa yang dikatakannya, aku sudah tidak mau dengar lagi. Dia mengabaikanku saat aku membutuhkannya, muncul tiba-tiba, Dan menjebakku kedua kalinya. Baginya mengikatku secara paksa menjadi pacarnya pasti belum cukup. Aku sudah tidak bisa mengikuti permainannya lebih jauh lagi.
Selain mencari rumah sewa baru, aku juga mengirim pesan berupa sumpah serapah pada Daniel. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan Drey padanya, tetapi Daniel sungguh setia menjadi pion-nya. Ikut andil juga menjebakku disini.
*******************************
Matahari sudah terlihat, tapi aku masih terbaring malas di tempat tidurku. Setelah dibangunkan secara paksa Dan menerima kabar buruk, aku tidak bisa memejamkan Mata lagi. Padahal kantuk Dan lelah sangat berat menggelayutiku.
Aku berniat pindah dari sini apapun yang terjadi. Jika Ada yang sampai tahu rumah kami saling terhubung, entah masalah besar apa lagi yang Akan datang. Ayahku juga pasti langsung membunuhku saat mendengar beritanya.
Namun ternyata tidak semudah itu menemukan rumah untuk disewa. Kebanyakan hanya flat atau rumah yang disewakan untuk jangka waktu maksimal satu minggu. Termasuk juga hotel. Aku tidak Akan punya uang cukup membayarnya sampai 6 bulan ke depan.
Tidak mungkin juga aku menyewa flat. Meski harganya murah, tidak Ada jaminan keamanan yang cukup di Sana. Bisa-bisa juga orang Akan berdatangan ke depan flat-ku setiap Hari.
Satu-satunya harapanku hanya Daniel. Aku sangat berharap Daniel akan kembali pada kesadarannya Setelah menerima pesanku. Dan segera mencarikan tempat tinggal baru.
Aku sebenarnya juga takut untuk pergi keluar sekarang. Bayangan Drey Ada di Sana cukup menyeramkan. Aku tidak tahu apa lagi yang direncanakannya. Hanya saja sekarang aku merasa haus tidak tertahankan. Lagipula setelah mengetuk pintuku beberapa Kali, dia akhirnya menyerah. Drey tidak terdengar lagi suaranya. Akhirnya kuberanikan diri untuk membuka pintu juga.
Aku mengintip takut-takut. Setelah memastikan tidak ada Drey, aku segera bergegas turun ke dapur. Kuedarkan pandangan kemanapun aku melangkah. Rasanya seperti sedang diteror saja.
Drey sudah pergi. Kesimpulanku Setelah memastikan bahwa aku tidak melihatnya lagi. Setidaknya pagi ini aku bisa bernafas lega. Hingga kurasakan sebuah tangan kekar melingkari pinggangku. Membuatku tersedak air yang sedang kuminum.
"Tertangkap kau"
Bisik Drey setengah tertawa. Memberikan efek teror padaku yang juga kaget akibat kemunculannya yang tiba-tiba.
Jantungku berdebar cukup kencang. Tubuhku juga langsung lemas. Jangankan untuk berontak, memegang gelas saja aku tidak mampu. Secara sigap, Drey mengambil gelas dari tanganku Dan menaruhnya.
Drey membalikkan badanku menghadapnya. Membuatku bisa melihat dengan jelas garis wajahnya yang mempesona. Mengingatkanku tentang berapa lama aku tidak menatapnya sedekat ini.
"Apa kau terkejut? Aku hanya bercanda"
Ujar Drey, dengan tawanya yang telah cukup akrab di ingatanku.
Aku masih marah. Ingin sekali berteriak padanya. Tetapi tidak Ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutku. Karena sudah lama sekali aku ingin melihatnya lagi. Hingga Rasa marahku tidak bisa menang melawan keinginanku.
Drey menarikku dalam pelukannya. Mengatakan Hal yang sebenarnya sangat ingin kukatakan padanya.
"Aku merindukanmu"
Pelukan Drey selalu hangat, begitupun kata yang diucapkannya. Karena itu aku semakin merasa terluka dengan sikapnya yang seenaknya.
"Aku Akan pindah dari sini"
Jawabku dingin. Keras sekali aku berusaha menutupi kerapuhanku.
"Kalau begitu aku Akan berusaha lebih keras untuk membuatmu tinggal di sini"
Balas Drey penuh keyakinan. Entah kenapa malah membuatku merasa sedikit senang.
*******************************
Daniel benar-benar menghilang. Dia pasti tahu masalah yang sudah dibuatnya. Sehingga melarikan Diri dariku. Nomornya tidak bisa dihubungi Dan aku juga tidak tahu dimana dia tinggal. Sikapnya itu membuatku semakin ingin melayangkan bogem mentah padanya.
"Apa kau tidak sarapan?"
Tanya Drey sambil menuang sereal yang diambilnya di dapurku.
Aku menatap tidak bersahabat pada pria itu. Dia terus saja berkeliaran di rumahku. Sekarang rumah kami memang terhubung, tetapi tetap saja dia tinggal di rumah sebelah. Tetanggaku. Tidak seharusnya dia menghabiskan waktunya di sini.
"Sarapanlah di rumahmu"
Hardikku dengan sedikit kesal. Namun Drey hanya tertawa. Dan malah melanjutkan acara makannya. Ugh! Dia memang pintar membuatku kesal.
Perutku yang protes minta diisi akhirnya memaksaku mengabaikannya. Aku segera mengambil sarapanku juga Dan bergabung dengannya.
"Apa kau hanya makan itu?"
Tanya Drey heran. Sambil menunjuk setengah mangkuk oat tanpa apapun di depanku. Aku hanya mengangguk. Karena aku sedang dalam Masa diet, memang hanya ini menu sarapanku.
Drey segera meletakkan sendoknya. Lalu Tanpa bicara meraih mangkuk ku. Dan segera menyalakan kompor.
"Apa yang Kau lakukan?"
Tanyaku terkejut. Aku segera mengikutinya. Drey tidak menjawabku, Dan malah menambahkan garam, susu, Dan cinnamon dalam oat ku.
"Jangan tambahkan itu, aku sedang diet"
Aku mencoba menghentikan apapun yang sedang dilakukan Drey. Aku sedang berusaha menurunkan berat badanku Dan Drey Akan merusak menu dietku. Namun Drey berhasil menghalangiku dengan badannya yang besar. Lalu Tanpa dosa menyajikan oat ku yang sudah dia masak ulang. Drey bahkan masih sempat menambahkan madu ke dalamnya.
"Sudah kubilang aku sedang diet!"
Ujarku dengan nada marah. Aku frustasi dengan tindakan seenaknya Drey yang tidak mau mendengarkanku.
"Haruskah kau membiarkan dirimu lapar saat kau sedang kelelahan karena perjalanan jauh? Kau juga baru pindah kemari. Biarkan tubuhmu menyesuaikan diri"
Jawab Drey. Aku juga paham itu. Diet ini juga bukan keinginanku. Tetapi saat ini penting bagiku untuk kehilangan beberapa kilo sebelum Syuting dimulai. Dan aku tidak bisa membuang waktu.
"Aku tidak akan mati hanya karena sedikit menahan lapar"
Debatku.
"Kau juga tidak Akan mati hanya karena makan oat yang dimasak dengan benar. Jadi sekarang duduklah"
Drey mengakhiri perdebatan dengan tatapan seriusnya. Seolah tidak ingin dilawan lagi. Sehingga akhirnya aku duduk juga.
Aku memakan sesendok dengan ragu. Jujur saja, Rasa hangat langsung mengaliri tenggorokanku ketika aku menelannya. Aku dipaksa menjalani diet hingga aku lupa rasa gurih Dan manisnya oat. Tanpa sadar aku memakan sisanya dengan lahap. Seluruh isi mangkuk hingga tandas. Saat kesadaranku kembali, aku melihat ke arah Drey malu. Padahal tadi aku marah padanya.
Hampir Dua minggu ini aku harus menahan lapar sepanjang Hari. Baru Kali ini aku sarapan dengan benar.
"Daripada menahan lapar sepanjang Hari, ada banyak Cara diet lain yang bisa kau coba"
Di luar dugaan, Drey tidak menertawakanku atau menggodaku. Dia justru bicara dengan sangat lembut. Membuatku rasanya ingin menangis. Kalau saja aku punya manajer seperti Drey, aku tidak Akan tersiksa seperti ini.
Tenagaku langsung pulih setelah sarapan. Walaupun aku menerima perhatian dari Drey, tetapi aku tetap ingin pindah dari rumah ini. Sehingga agendaku Hari ini adalah untuk mencari rumah tinggal baru.
Daniel masih tidak bisa dihubungi. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran saat bertemu nanti. Jadi aku terpaksa menggunakan satu-satunya Cara yang kutahu, browsing lewat internet.
Aku tidak terlalu paham standard mencari rumah di London. Apalagi dengan situasi ini sepertinya aku harus membayar deposit sewa dengan uangku sendiri. Aku tidak bisa mencari rumah yang sewanya Mahal. Aku juga sudah mengirim email ke agensiku, berharap mereka Akan membantu.
Harusnya aku sudah bersantai sambil membaca ulang naskah untuk Syuting, tetapi malah sibuk mencari rumah. Semua ini karena Drey.
Notifikasi dari emailku berbunyi. Tergesa aku membukanya karena itu dari agensiku. Hampir saja aku bersorak saat mereka tidak keberatan dengan keputusanku untuk pindah. Bahkan sudah menawarkan opsi tempat tinggal lain. Yang sebelumnya dibatalkan oleh Daniel.
Namun kebahagiaanku langsung pupus saat Ada kata-kata bahwa beberapa rekan kerjaku juga tinggal di kawasan yang sama dengan tempat yang mereka tawarkan. Termasuk Casey. Artinya, aku harus bertemu dengan Casey setiap Hari. Itu lebih tidak mungkin karena aku sangat canggung di sekitarnya.
Mungkin seperti ini rasanya putus asa. Aku menundukkan kepalaku ke dalam kakiku. Kepalaku sudah terasa pening sekali.
"Apa yang sedang Kau lakukan?"
Suara Paling tidak ingin kudengar itu muncul begitu saja Tanpa Rasa dosa. Bagus sekali, aku Akan menjadikannya pelampiasan, jadi aku segera mengangkat kepalaku sambil melotot.
Bukannya memakinya, aku hanya bisa teriak.
"Woooaaahhh....apa yang sedang kau lakukan?!"
Aku langsung histeris sambil menutup mukaku. Pria mesum itu ternyata sedang berdiri di depanku Tanpa mengenakan apapun selain handuk yang melingkar di pinggangnya.
Sudah kubilang aku tidak bisa melihat pria bertelanjang dada Dan dia sekarang malah berdiri di depanku. Tentu saja aku langsung panik.
"Air di tempatku belum dipasang, jadi aku Akan Mandi di sini"
Jawab Drey santai. Padahal bukan itu yang ingin kutanyakan.
"Cepat pergi Sana!"
Aku sudah tidak peduli lagi dia mau Mandi dimana. Yang kumau dia segera pergi dari hadapanku.
Setelah Drey pergi aku hanya bisa jatuh terduduk. Rasanya badanku langsung lemas. Jika Ada kaca, mungkin aku bisa melihat wajahku yang semerah kepiting rebus sekarang. Drey selalu saja memberiku serangan jantung mendadak.
Aku lemah pada pria. Parahnya Drey punya tubuh sempurna untuk dia pamerkan. Sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku. Akhirnya terpikir olehku berapa lama lagi aku harus melihat pemandangan semacam ini jika aku tinggal di rumah ini?
*******************************
Sebagian barangku diantar siang ini. Kebutuhanku selama tinggal di Inggris. Ada beberapa kardus, sebagian besar berisi barang berharga dari apartemen di LA. Sebenarnya aku berharap barang tidak dikirim sekarang. Jika aku pindah dari rumah ini, aku harus bekerja Dua kali untuk memindahkannya.
Dan lagi, Ada mahluk bernama Drey yang berkeliaran di sini. Baru saja kardus-kardus itu kutinggal sebentar, Drey sudah membongkarnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanyaku terkejut. Barangku sudah berceceran di seluruh ruangan.
"Aku sedang membantumu membongkarnya"
Jawab Drey Tanpa rasa bersalah. Tangannya bahkan sudah bergerak ke kardus kedua.
"Tidak, jangan, tidak perlu. Aku sudah bilang Akan pindah dari sini"
Aku melontarkan semua kata yang terpikir di otakku karena panik.
"Kau hanya Akan menjadi semakin repot dengan pindah. Tinggal di sini saja"
Drey tidak mendengarkanku Dan tetap membuka kardusku, mengeluarkan barang di dalamnya. Lalu sambil tertawa mengomentari setiap barang yang ditemuinya. Seolah sedang melakukan lelang.
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Dan hanya bisa merasa jengkel.
"Keluar dari sini!!!"
Teriakku dengan sangat marah.
*******************************
Suhu mulai turun saat hari mulai gelap. Padahal aku ingin keluar, membeli bahan makanan atau kebutuhan lain yang belum kumiliki. Aku tidak sempat keluar tadi siang karena sibuk mencari tempat tinggal baru.
Aku juga cukup lelah harus membereskan kekacauan yang dibuat Drey tadi. Dia mengeluarkan barangku yang baru dikirim dan mengobrak abrik isinya.
Membicarakan Drey, dia tidak lagi datang kemari. Aku benar-benar marah tadi Dan mengusirnya. Hingga sekarang dia tidak lagi datang mengganggu. Itu Hal yang kuinginkan, dia kemari hanya membuatku marah. Namun mendadak rumah ini sepi tanpa kejahilannya.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini adalah yang terbaik. Aku bisa beristirahat tenang Dan menikmati kesendirianku.
Karena Drey terus mengganggu pikiranku, aku memutuskan untuk melakukan kegiatan lain. Sebentar lagi sudah waktu makan malam. Lebih baik aku menyiapkannya.
Menu dietku malam ini adalah putih telur rebus dan salad. Sungguh tidak menggugah selera. Aku muak dengan semua menu diet ini. Dan aku jadi teringat kata-kata Drey tadi pagi. Aku baru saja pindah, harusnya tidak memaksakan diri menahan lapar Dan membiarkan tubuhku beristirahat dulu. Lalu keinginan untuk melupakan diet malam ini langsung muncul.
Drey sepertinya telah meracuniku. Tidak hanya membuat keinginan diet ku hilang, dia juga membuatku mengkhawatirkannya. Apakah dia sudah makan? Pikiran seperti itu menggangguku.
Hingga Tanpa sadar, aku sudah memasak sup untuk Dua orang. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku sedang membuat makanan ini sebagai ucapan perpisahan untuknya sebelum aku pindah. Entah apakah itu benar atau tidak.
Karena Drey mendadak tidak muncul, terpaksa aku yang harus datang ke rumahnya. Untuk pertama kalinya aku membuka pintu itu. Mengintip takut-takut ke dalamnya.
sayang sekali dri awal sdh sangat bagus tpi eksekusi di akhir nya malah ga nyambung klo bagi saya😁😁
di tunggu ya thor right chapter nya🥰🥰