Kisah seorang Anak yang di tinggal pergi Ayahnya untuk selama-lamanya, membuat Ia kecewa pada Ibunya, dan berubah sikap dari anak yang penurut dan perhatian jadi anak yang cuek dan melawan Ibunya bahkan tega mengusirnya di masa tua.
Akan kah sang Anak bisa kembali menjadi penyayang? dan bagaimana nasib Ibunya setelah di usir oleh putranya? lalu apa sebenarnya yang terjadi kenapa si Anak bisa berubah sikapnya? penasaran kita langsung saja ke TKP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI AYAH ...
Sampainya ayah di rumah, Nadia dan Kasih pun segera masuk ke dalam dan hendak mandi karena mau berangkat kesekolah sore.
"Assalamualaikum," salam ayah dan Anak-anak dari luar.
"Waalaikumsalam," jawab ibu.
"Ibu ...!" uncap Nadia dan Kasih berlari memeluk ibunya.
"Eeh ... Anak-anak Ibu sudah pulang, gimana maennya seneng?" tanya ibu.
"Seneng dong Bu, besok Nadia boleh maen lagi gak ke rumah Nenek?" tanya Nadia berharap.
"Sayang untuk beberapa hari ini jangan dulu maen ke tempat Nenek ya, Kasihan Ibu habis antar Nadia sekolah kan pasti sangat lelah, jadi biarin Ibu istirahat dulu di rumah" kata ayah memberi alasan.
Kejadian hari ini sudah membuat ibu shok dan ayah tidak ingin ibu terluka lebih dalam lagi, jadi ayah mencoba membujuk kedua anaknya dengan alasan yang masuk akal, untung saja Nadia mengerti maksud ayah tanpa banyak bertanya.
"Baik Yah, Nadia ga akan maen kerumah nenek kalo Ibu sedang lelah!" janji Nadia.
"Bu, maafin Nadia ya udah minta Ibu anter Nadia ke tempat nenek tadi, padahal Ibu sudah sangat lelah lain kali Nadia ga akan gitu lagi!" uncap Nadia menyesal.
"Iya Bu, Kasih juga minta maaf." Kasih ikut menyesal.
"Loh kok, pada minta maaf sama Ibu! anak Ibu gak salah kok, yaudah sekarang pada mandi terus makan, lalu kita berangkat sekolah," kata ibu mencium kedua anaknya.
Nadia dan Kasih langsung berlari ke kamar mandi, karena Nadia sudah besar ia bisa mandi sendiri begitu pun dengan Kasih walau kadang ibu masih sering memandikannya takut engga bersih.
"Bu, kalo Ibu kurang sehat libur aja dulu sekolahnya," kata ayah masih khawatir dengan ibu.
"Ga apa-apa Yah, Ibu baik-baik saja kok, lagian kasihan Kasih baru juga masuk masa udah mau libur," ujar ibu.
"Tapi Ayah, khawatir sama Ibu takut kenapa-napa! muka Ibu pucet banget loh" kata ayah lagi.
"Ayah ga usah khawatir Ibu baik-baik saja kok, Ayah percaya sama Ibu ya!" uncap ibu penuh dengan keyakinan.
Ayah hanya tersenyum tanda setuju, walau sedikit tidak yakin tapi ayah hanya bisa berdoa semoga yang di khawatirkan tidak terjadi soalnya wajah ibu sangat pucat.
Tiga puluh menit kemudian setelah mandi Nadia dan Kasih makan siang dan bersiap untuk berangkat sekolah, sedang ayah sudah bersiap untuk berangkat jualan.
****
Sampainya ibu di sekolah Nadia langsung bergabung bersama teman-temannya sedang ibu menemani Kasih di kelas, sambil menunggu Ustad datang ibu melatih bacaan Kasih dan melatih menulis lagi.
Kasih nampak bersemangat sore ini membuat ibu mampu melupakan sedikit masalahnya yang baru saja Ia alami.
Jam dua sore Ustad masuk kelas setelah membaca doa sebelum belajar Ustad langsung mengulang pelajaran kemarin sebelum lanjut pelajaran berikutnya, takut kalo muridnya ada yang lupa, setelah mengetahui semua masih inget pelajaran kemarin Ustad melanjutkan pelajaran menulis (Ba).
"Nah, anak-anak sekarang belajar menulis huruf BA ya, tulis di buku tulis lima baris tulis yang rapih!" pesan bu Ustad.
"Baik, Bu Ustad ...!" jawab anak-anak serentak.
Semua mengerjakan dengan tenang dan tertib tanpa ribut sambil menunggu Ustad memanggil satu-persatu muridnya untuk mengaji di depan.
Kasih menulis masih di bantu ibu, pertama ibu memberikan tanda titik-titik lalu Kasih menebalkannya kembali.
Setelah selesai menulis lima baris Kasih lalu maju untuk mengaji, bacaan Kasih lagi halaman dua kemarin Kasih lancar ngajinya jadi di pindah.
Kasih ngaji dengan pintar dan lancar, setelah mengaji Kasih istirahat di luar kelas sambil menunggu bel masuk Kasih bermain ayunan dulu di halaman sekolah.
Tiga puluh menit kemudian bel masuk berbunyi dan sekolah pun selesai Kasih, Nadia dan ibu pulang bersama dengan jalan kaki.
*****
Sampainya di rumah ibu kaget melihat motor Ayah terpakir di depan rumah, ibu segera masuk kedalam melihat apa yang terjadi.
"Assalamualaikum!" salam ibu.
"Waalaikumsalam!" Jawab ayah.
"Loh Yah, kok sudah di rumah ada apa? Ayah baik-baik saja kan?" tanya ibu cemas.
"Alhamdulilah Ayah baik kok Bu, mang kenapa kalo Ayah pulang cepet, Bu?" ayah balik bertanya.
"Ya engga seperti biasanya aja, takutnya ada apa-apa! tapi syukur deh kalo baik-baik saja," Ibu merasa lega.
"Yeah, Ayah sudah pulang," teriak kedua anaknya saat masuk rumah.
Nadia dan Kasih berebut memeluk ayahnya. setelah saling peluk Nadia dan Kasih berganti baju dulu ibu membantu ayah menurunkan gerobak dari motor, ternyata bakso ayah sudah habis terjual makanya ayah pulang cepat katanya ada yang borong baksonya tadi.
Ayah pun segera mandi membersihan badan karena berkeringet, sedang ibu membuat kopi buat ayah dan menunggunya di depan Tivi bersama kedua anaknya.
*****
Setelah selesai mandi ayah berkumpul bersama keluarga di depan tivi, berbincang sambil menyaksikan acara tivi favorit Nadia yaitu Film Naruto.
"Ibu sudah ga apa-apa kan? dengan kejadian tadi pagi?" tanya ayah memastikan kembali kalo Istrinya baik-baik saja.
"Ibu baik kok, sudah lah lupain semuanya Yah, Ibu sudah ingin tenang tidak mau mengingat lagi sakit Yah, hati Ibu," ujar ibu lembut.
"Baik Bu, maafin Ayah bukan maksud Ayah buat membuat luka hati Ibu lagi!" sesal ayah. "Tapi Ibu engga usah khawatir Ayah janji, kalo Ini terakhir kalinya Ibu menanggis karena keluarga Ayah, Ayah akan berusaha mencari uang buat bayar utang ke Sari," janji ayah pada Ibu.
"Amin ... semoga kita bisa ya, membuktikan kesemua orang kalo kita sanggup menyekolahan Anak-anak tanpa merepotkan mereka, jadi mereka ga bisa seenaknya lagi menghina Ibu ya, Yah" kata ibu berharap.
"Amin ... Bu, kita percaya aja kalo rejeki anak tuh ada aja, kita berusaha bersama buktikan kalo kita bisa, tanpa bantuan mereka juga, maka dari itu Ibu juga harus janji sama Ayah, kalo ada apa-apa harus cerita ga boleh di pendam sendiri ya!" pinta ayah sama ibu.
"Iya Yah, Ibu bukannya ga mau cerita tapi Ibu takut Ayah mengira Ibu mengada-gada" jelas ibu.
"Ga lah, Ayah lebih percaya sama Ibu kok, daripada sama keluarga Ayah sendiri, soalnya Ayah kan sudah tau sifat mereka dari dulu seperti apa," kata ayah memeluk ibu.
Ibu pun tersenyum merasa lega mendengar bahwa suaminya ada di pihaknya mendukung ibu, ibu hidup sebatang kara kedua orangtuanya sudah meninggal sekarang yang ibu punya hanyalah suami dan kedua anaknya.
Hari mulai malam saat mereka asyik menonton tivi bersama tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, mereka pun pergi tidur untuk memulai hari esuk.
BERSAMBUNG ...
*****
Bab ini sudah selesai kita lanjut ke bab berikutnya yach, sebelumnya jangan lupa untuk like 👍 dan komennya yach berikan Vote untuk terus dukung author nya supaya lebih bersemangat lagi nulisnya.
❤Terima kasih sudah baca❤
Jangan lupa tambahkan ke favorit❤
SELAMAT ULANG TAHUN NAJUA
semoga panjang umur sehat selalu. Jadi anak berbakti. kebanggaan orang tua. Amin.
🎊🎊🎊🎁🎁🎁🎈🎈🎈🎉🎉🎉
tetep semangat selalu pokoknya ya, love you kak 😘