Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan
"Klien kita maunya kamu yang menjelaskan presentasi kemarin," jawab Putra
"Hm ... gitu ya."
Setelah sedikit berbincang, Putra menutup teleponnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah numpuk. Sungguh membosankan hari ini, pekerjaannya yang tidak begitu banyak membuat Rifal ingin sekali keluar dari kantornya. Deringan teleponnya kembali berbunyi, tertera nama Dina di layar ponselnya. Tidak ada niat sama sekali untuk mengangkat telepon dari mantan pacarnya itu.
Rifal membuka galeri dan melihat foto-foto kemarin. Karena kebosanannya, Rifal berniat akan mengajak Intan jalan-jalan hari ini juga. Jika ada pekerjaan yang mendadak, laki-laki itu menyuruh asistennya yang mengerjakan semua pekerjaannya, siapa lagi kalau bukan Bagas.
Rifal berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada. Setelah itu ia melaju dengan kecepatan normal. Setelah sampai di rumah Intan, laki-laki itu membenturkan kayu satu dengan kayu yang lainnya. Wanita paruh baya membukakan pintu.
"Eh, Nak Rifal. Ayo masuk," ucap Nie setelah laki-laki itu menyalami tangannya.
Rifal berjalan mengikuti langkah kaki calon mertuanya. Setelah sampai di ruang tamu, ia dipersilahkan duduk oleh Nie. Wanita paruh baya itu pamit ke dapur membuatkan minum untuknya. Padahal ia sudah menolak berkali-kali.
Intan yang merasa haus ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Dilihat sang Mama sedang menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi. Sebuah ide terlintas dipikirannya.
"Intan, tolong kamu antarkan kopi ini ke depan." Nie memberikan penampan yang berisi toples cemilan dan segelas kopi.
"Ada siapa di depan, Ma?" tanya Intan.
"Sudah, kamu kesana aja." Nie berjalan meninggalkan dapur.
Kebetulan di atas lemari pendingin ada kacamata kesangannya. Intan memakai kacamatanya, kemudian membawa cemilan dan kopi itu ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya Intan melihat laki-laki yang sedang berbincang bersama kakaknya.
Gadis itu mencoba memberanikan diri. Mengatur nafasnya, lalu berjalan menghampiri mereka. Setelah sampai di depan kakak dan calon suaminya, Intan hendak meninggalkan mereka tangannya justru dipegang oleh Kori. Intan berbalik, ia hanya mendelikan matanya.
"Dek, mau kemana? Ada calon suamimu loh. Kok malah ingin pergi. Kamu duduk yah, biar kakak yang bawa penampan ini ke dapur." Kori mengambil penampan yang ada di tangannya, kemudian menyuruh Intan duduk.
"Kak ...." Kori sudah berjalan ke arah dapur.
Intan benar-benar gugup, berkali-kali ia menaikan kacamatanya yang tidak merosot. Sementara Rifal sedang menikmati kopi yang Intan bawa. "Mau jalan-jalan?" Rifal bertanya sambil meletakan gelas kopi di meja kembali.
Intan menggeleng, karena ia memang gugup jika bertemu banyak orang. Lela yang habis belanja keperluan dapur melihat mereka saling diam. Ririn yang berada di gendongan Lela kini ingin digendong oleh auntynya. Lela sudah melarangnya, tapi tangisan Ririn semakin kencang. Intan berdiri dan mengambil Ririn dari gendongan ibunya.
"Sudah, jangan nangis lagi yah." Senyuman Intan membuat balita itu tersenyum kembali. Ririn melepaskan kacamata Intan kemudian melemparnya ke sembarang arah. Sehingga kacamata itu pecah.
Balita itu malah tertawa melihat Intan tanpa kacamata dan melihat kacamata yang dilemparnya pecah. Intan duduk di kursi berhadapan dengan Rifal. Aura keibuan keluar dari diri Intan. Wanita itu melupakan kalau Rifal masih ada di rumahnya.
"Kacamata yang kemarin aku belikan, kamu gak pake kacamata pemberianku?" tanya Rifal menatap Intan.
"Maaf, tapi aku masih ada stok kacamata tiga lagi," jawab Intan.
"Yasudah, kita jalan yuk. Sekalian bawa ponakanmu." Rifal menggandeng tangan Intan. Tetapi gadis itu langsung berhenti, karena Intan masih menggunakan kaos oblong dan tidak membawa gendongan.
Rifal malah mangambil Ririn dari gendongan gadis itu. Intan berbalik, baru saja satu langkah, tangannya sudah dipegang erat-erat. "Mau kemana?" tanya Rifal yang sedang menggendong Ririn.
"Ganti baju dan ambil kacamata," jawab Intan gugup.
"Sudah tidak usah. Pasti kelamaan, biasanya perempuan begitu." Rifal kembali menggandeng dan menarik tangan Intan.
"Stop, Ka. Aku mau pamit sama mama dulu." Intan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rifal.
"Ya sudah, ayo." Mereka berjalan menuju dapur. Di dapur hanya ada Lela yang sedang membereskan belanjaan dapur yang ia beli tadi.
Lela mendekat dan hendak mengambil Ririn dari gendongan Rifal. Tapi balita itu justru menangis, seakan-akan ia tidak ingin lepas dari Rifal. Meskipun usianya baru tujuh bulan, balita itu super aktif. Berbagai cara agar Ririn kembali kegendongan Lela. Justru balita itu semakin menangis.
"Tidak usah dipaska, Mbak. Biarkan Ririn ikut kami," ucap Rifal sambil mengelus-elus kepala Ririn agar balita itu tidak menangis.
"Bukankah kalian mau jalan-jalan?" tanya Lela yang tidak enak karena anaknya tidak ingin lepas dari Rifal.
"Iya, kalau begitu kita pamit dulu yah, Mbak," ucap Rifal, kemudian menggandeng tangan Intan kembali.
"Tunggu, ini bawalah. Susu untuk Ririn agar dia tidak kehausan." Intan menerimanya. Kemudian mereka meninggalkan rumah bernuansa Jawa itu.
Kini Ririn tertidur dipangkuan Intan. Mereka jalan-jalan ke taman. Pemandangannya indah, tempatnya ramai membuat Intan tidak ingin keluar dari mobil yang mereka naiki. Rifal menatap Intan dengan bingung. Laki-laki itu menduga kalau Intan kecapean membawa Ririn yang tertidur, kemudian mengambil Ririn dari pangkuan wanitanya.
Setelah sampai di taman, Rifal memarkirkan mobilnya dengan dibantu oleh tukang parkir. Mobil sudah terparkir rapi, Rifal mengeluarkan uang dari dompetnya lalu memberikan kepada tukang parkir itu.
"Ayo keluar, apa kamu ingin di dalam mobil terus?" tanya Rifal yang berdiri menunggu Intan keluar.
Intan menggeleng, "Tidak mau, tamannya terlalu ramai. Aku malu."
"Kenapa malu? Kan ada aku yang ganteng." Rifal menaik turunkan kedua alisnya. "Ayo." Rifal mengulurkan tangannya. Intan menerima uluran tangan Rifal turun dari mobil.
"Kalau malu, kamu berdiri di belakang aku aja. Biar semua orang tahu bahwa kamu memiliki calon suami yang ganteng." Rifal berjalan sambil menggendong Ririn dan menggandeng Intan.
Kini mereka sedang duduk di salah satu bangku taman, semakin siang taman semakin sepi. Balita itu menangis karena merasa lapar. Mereka lupa membawa biskuit bayi, sehingga memutuskan untuk mampir di warung bubur ayam.
Jika di restoran Intan tidak akan mau, banyak sekali makanan yang tidak disukai oleh Intan. Dengan telaten Intan menyuapi Ririn dengan bubur khusus bayi, sampai ia lupa makan buburnya sendiri. Rifal yang melihatnya langsung menyodorkan sendok berisi bubur dari mangkuk Intan, bertujuan menyuapi calon istrinya.
Yang dilakukan Intan hanya menggelengkan kepala, ia jarang sekali berbicara. Yang berinteraksi hanyalah tubuhnya. Hal itu membuat Rifal semakin gemas untuk melatih kepercayaan diri pada Intan. Dua keluarga baik dari pihak Intan maupun Rifal belum ada yang membicarakan kapan mereka akan dinikahkan.
Bersambung ....
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor