"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun yang indah
Pagi berikutnya, Kayna terbangun dengan harapan bahwa fajar akan membawa kebebasan sejenak untuknya.
Ia mengira Mara akan pergi ke kantor untuk memimpin gurita bisnisnya seperti biasa. Namun, begitu Kayna membuka mata, sosok jangkung itu sudah berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja kasual premium berwarna biru dongker yang memeluk pas tubuh atletisnya. Tidak ada setelan jas formal hitam yang biasa ia kenakan.
Kayna merapatkan selimut ke dadanya. "Kau... tidak pergi ke kantor hari ini, Mara?"
Mara berbalik. Senyuman menawan yang tampak begitu tulus terukir di wajah tampannya. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya, mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Kayna dengan ibu jarinya yang hangat.
"Kantor bisa menunggu, sayang. Tapi pernikahan kita tidak," bisik Mara, suaranya berat dan sarat akan kepemilikan yang mutlak. "Hari ini aku mengosongkan seluruh jadwalku. Aku ingin menemanimu ke butik mamamu. Gaun pengantinmu sudah siap untuk fitting pertama."
Fitting baju pernikahan. Janji suci itu kurang dari dua minggu lagi, dan Kayna merasakan keraguan itu semakin besar. Namun, di balik rasa keraguannya, ada secercah harapan. Di butik mamanya, Liliana, ia mungkin bisa menemukan celah untuk meminta bantuan, atau setidaknya menghirup udara luar tanpa bayang-bayang pelayan suruhan Mara.
"Bersiaplah, aku tunggu di bawah."
...----------------...
Butik LiLYRa siang itu tampak anggun dengan jajaran manekin yang mengenakan koleksi ad mamasana terbaru. Begitu pintu kaca berdenting terbuka, Liliana langsung menyambut mereka dengan wajah berbinar-binar.
"Kayna, sayang! Mara!" Liliana memeluk Kayna erat, lalu beralih menyapa Mara dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. "Mara, terima kasih ya, Nak. mama tahu kamu sangat sibuk, tapi kamu selalu meluangkan waktu demi Kayna."
"Apapun untuk Kayna, mama. Dia adalah prioritasku yang paling utama," jawab Mara halus, sembari melingkarkan tangan protektifnya di pinggang ramping Kayna, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada sisinya.
Saat fitting dimulai, salah satu desainer pria senior di butik itu mendekat untuk membantu menyesuaikan bagian belakang gaun pengantin putih berbahan satin yang melekat indah di tubuh Kayna. Gaun itu memiliki potongan backless yang mengekspos punggung mulus Kayna dengan begitu elegan.
Namun, baru saja jemari desainer itu hendak menyentuh pengait di bagian pinggang Kayna, sebuah aura dingin yang mencekam mendadak memenuhi ruangan.
"Berhenti," suara Mara terdengar rendah, namun ketajamannya sanggup membuat desainer pria itu mematung di tempat.
Mara melangkah maju, memotong jarak, dan langsung menepis pelan tangan desainer tersebut. Sepasang mata gelap Mara menatap pria itu dengan pandangan mengintimidasi yang sangat berbahaya. "Aku yang akan merapikannya. Kau, menjauhlah dua langkah dari calon istriku."
Suasana di dalam ruangan seketika membeku. Desainer itu menelan ludah dengan gugup, wajahnya memucat, dan ia segera mundur dengan tubuh gemetar. Kayna terbelalak, merasa sangat tidak enak dengan sikap diktator Mara yang keterlaluan di depan para staf mamanya.
"Mara! Apa-apaan kamu? Dia hanya sedang bekerja!" protes Kayna setengah berbisik, matanya menatap Mara dengan kilatan amarah.
Bukannya merasa bersalah, Mara justru maju mendekat, mengabaikan protes Kayna. Tangannya yang besar dan hangat mengambil alih pengait gaun, menyentuh kulit punggung Kayna.
Mara menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Kayna, berbisik dengan nada posesif yang gila. "Aku tidak suka ada pria lain yang menatap punggungmu sedekat itu, Kayna. Kulit ini, tubuh ini... hanya aku yang boleh menyentuh dan melihatnya. Mengerti?"
Kayna menoleh ke arah mamanya, berharap Liliana akan membela atau setidaknya menyadari ada yang salah dengan hubungan mereka. Namun, apa yang ia lihat justru membuat hatinya mencelos.
Liliana berdiri di sudut ruangan sambil menangkupkan kedua tangan di dada, matanya berbinar-binar penuh haru.
"Ya ampun, Kayna... kamu benar-benar beruntung," ujar Liliana dengan nada suara yang sangat kagum. "mama belum pernah melihat pria semuda, setampan, dan sekaya Mara yang bisa begitu cemburu dan protektif pada pasangannya. Lihat bagaimana dia menjagamu, sayang. Dia sangat mencintaimu sampai-sampai tidak rela ada mata lain yang memandangmu. Itu sangat romantis!"
Romantis? Kayna berteriak histeris di dalam hatinya.
"mama benar," ucap Mara, senyuman malaikatnya kembali terpasang sempurna di wajahnya yang tampan seolah-olah aura iblisnya beberapa detik lalu hanyalah ilusi. Ia mengecup pelipis Kayna di depan Liliana. "Aku memang tidak bisa berbagi Kayna dengan siapa pun. Aku terlalu mencintainya, mama."
Setelah proses fitting yang melelahkan secara mental bagi Kayna selesai, Mara mengajaknya untuk mampir makan siang di sebuah restoran fine dining mewah yang sengaja dikosongkan seluruhnya oleh Mara agar tidak ada pengunjung lain yang mengganggu mereka.
Suasana restoran yang sepi justru membuat Kayna semakin merasa terisolasi. Di atas meja bundar yang dipenuhi hidangan kelas atas, Kayna hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.
Mara yang menyadari kegelisahan tunangannya, memotong sepotong daging steak dengan gerakan yang sangat elegan, lalu mengarahkannya ke depan bibir Kayna. "Makanlah, sayang. Kau harus mengisi tenagamu."
Kayna menatap potongan daging itu, lalu menatap manik mata gelap Mara. Rasa penasaran dan keputusasaan yang tertahan sejak semalam akhirnya membuat Kayna nekat untuk membuka suara kembali.
"Mara... sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini?" tanya Kayna, suaranya lirih namun menuntut jawaban pasti. "Sampai kapan aku harus hidup tanpa ponsel, tanpa internet, dan tanpa kebebasan untuk pergi ke butikku sendiri? Apakah pernikahan yang kau inginkan adalah menjadikanku boneka pajangan di mansionmu?"
Mara meletakkan garpu dan pisaunya perlahan. Denting logam yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Kayna dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat pekat, seolah sedang menelanjangi seluruh isi pikiran wanita di hadapannya.
Keheningan yang mencekam kembali merayap, membekukan atmosfer di antara mereka berdua. Senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibir Mara, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat bulu kuduk Kayna berdiri.
Mara memajukan tubuhnya ke depan meja, menatap tepat ke dalam netra Kayna dengan tatapan obsesif yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Kau ingin tahu jawabannya, Kayna?" bisik Mara, suaranya terdengar begitu lembut, namun setiap kata yang keluar memiliki tekanan yang mengerikan. "Itu semua karena aku mencintaimu, sayang. Kamu sedang lupa ingatan, jadi kamu merasa ini semua aneh. Tapi sesungguhnya kita memang seperti ini."
"Benarkah?"
"Tentu! sekarang kita lanjutkan makannya. Setelah itu kita bisa pulang. Kamu masih perlu banyak beristirahat, sayang."
Kayna hanya bisa menuruti setiap ucapan Mara. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ini semua terlihat tidak benar.
...●Bersambung●...