NovelToon NovelToon
Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Cerai Dulu, Aku Mau Pulang Warisi Triliunan

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:487.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**

Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.

Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*

Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.

Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.

Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:

*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*

Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—

**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

# Bab 16

## Gertakan Pertama

"Sekarang," ulang Arunika.

Tari tidak bertanya lagi. Ia hanya menutup map di tangannya, lalu memberi isyarat kepada staf legal yang berdiri di dekat pintu. Dalam waktu kurang dari lima menit, ruang rapat kecil di lantai dua puluh tiga berubah dari ruangan kosong dengan aroma kopi dingin menjadi meja pertempuran yang rapi.

Di atas meja, ada tiga tumpuk dokumen.

Kontrak pengadaan.

Laporan penerimaan barang.

Rekap pembayaran enam bulan terakhir.

Arunika duduk di kursi utama tanpa melepas blazer. Bekas luka di punggung tangan kanannya terlihat samar saat ia membuka halaman pertama. Ia tidak menutupinya. Semesta bukan rumah besar Notonegoro. Di sini, tidak ada orang yang berhak menyuruhnya menyembunyikan luka.

"Pak Hendra sudah di lobi," kata Tari.

"Minta dia naik."

"Dengan Surya?"

Arunika mengangkat mata. "Tidak. Surya cukup menunggu di ruangnya. Kalau dia ikut bicara, dia akan sibuk membela diri sebelum kita selesai menghitung."

Tari mengangguk. "Baik, Bu."

Beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Hendra Salim masuk dengan langkah orang yang terbiasa disambut lebih dulu. Usianya lewat lima puluh, perutnya sedikit maju, jas abu-abunya mahal, dan senyumnya terlalu lebar untuk seseorang yang dipanggil tanpa agenda resmi.

"Bu Arunika," katanya, menangkupkan tangan sebentar di depan dada. "Saya dengar Semesta punya direktur baru. Masih muda sekali."

Arunika membalas dengan anggukan pendek. "Silakan duduk, Pak Hendra."

Ia duduk, tetapi tidak segera menyentuh kursi dengan tenang. Matanya menyapu dokumen di atas meja, lalu berpindah ke wajah Tari, ke staf legal, dan kembali ke Arunika.

"Kalau soal kontrak, biasanya saya bicara dengan Pak Surya. Kami sudah bekerja sama lama."

"Itu sebabnya saya ingin bicara langsung."

Senyum Hendra menipis. "Kerja sama lama justru harus dijaga, Bu. Dalam bisnis, hubungan itu tidak bisa dibaca hanya dari angka."

"Benar." Arunika membuka map pertama. "Karena itu saya membaca angka, tanggal, tanda tangan, rekening, dan alamat gudang."

Ruangan menjadi sedikit lebih hening.

Hendra tertawa kecil. "Wah, lengkap sekali. Tapi saya khawatir Bu Arunika belum terlalu mengenal ritme Jakarta. Di sini, banyak hal berjalan karena kepercayaan."

"Kepercayaan yang menghasilkan selisih harga dua puluh tujuh persen di atas pasar?"

Tawa itu berhenti.

Arunika menggeser satu lembar ke tengah meja. Di sana ada daftar harga pengadaan perangkat kantor dari PT Cakra Mandiri, perusahaan milik Hendra. Di sebelahnya, Tari meletakkan pembanding dari tiga pemasok lain dengan spesifikasi sama.

"Ini bukan kenaikan musiman," ujar Arunika. "Bukan biaya distribusi. Bukan pajak. Selisihnya muncul konsisten selama enam bulan, lalu dibagi ke dua pos biaya yang berbeda supaya terlihat wajar."

Hendra menatap kertas itu. "Pengadaan tidak sesederhana tabel, Bu. Ada garansi, ada kecepatan pengiriman, ada risiko."

"Garansi yang tidak pernah diklaim karena barangnya tidak pernah tiba lengkap?"

Arunika membuka map kedua.

Kali ini bukan angka. Foto gudang. Berita acara penerimaan. Tanda tangan staf operasional. Catatan selisih jumlah unit. Pada tiga tanggal berbeda, Semesta membayar penuh untuk barang yang hanya masuk sebagian. Pada dua tanggal lain, nomor seri barang yang tercatat sama dengan pengiriman bulan sebelumnya.

Satu barang, dua tagihan.

Satu gudang, tiga tanda tangan.

Hendra menarik napas pelan. "Itu kesalahan administrasi."

"Enam kali?"

"Tim saya besar."

"Tim saya juga." Arunika menatapnya tanpa menaikkan suara. "Bedanya, mulai hari ini tim saya tidak dibayar untuk pura-pura buta."

Di sisi meja, staf legal menundukkan kepala sedikit, seolah menyembunyikan reaksi. Tari tetap berdiri lurus, tetapi ujung jarinya sudah menyiapkan halaman berikutnya.

Hendra menyandarkan punggung. Senyumnya kembali, kali ini lebih dingin.

"Saya paham. Direktur baru biasanya perlu membuat gebrakan. Tapi jangan sampai gebrakan itu membuat Semesta kehilangan orang-orang yang selama ini membantu."

"Membantu siapa?"

Pertanyaan itu pendek, tetapi memukul lebih keras daripada kalimat panjang.

Hendra diam.

Arunika mengambil halaman terakhir dari map ketiga. "Ini rekening penerima pembayaran jasa percepatan. Namanya bukan PT Cakra Mandiri. Bukan pula subkontraktor yang terdaftar di sistem kami."

Ia memutar kertas itu menghadap Hendra.

"Lentera Nusa Konsultan."

Wajah Hendra berubah sangat sedikit. Hanya di sudut mata. Tapi cukup.

"Perusahaan konsultan kecil," katanya. "Banyak vendor memakai pihak ketiga."

"Alamatnya sama dengan rumah adik ipar Anda di Kelapa Gading."

Kali ini Hendra tidak menjawab.

Arunika melanjutkan, "Direkturnya keponakan Anda. Rekeningnya menerima pembayaran dari Cakra Mandiri dua hari setelah Semesta mencairkan invoice. Jumlahnya tidak selalu besar, tapi polanya bersih. Terlalu bersih untuk disebut kebetulan."

Hendra mengusap jari di tepi meja. Cincin di tangan kanannya membentur kayu dengan suara kecil. Tok. Tok. Tok.

"Bu Arunika," katanya akhirnya, lebih pelan. "Masalah seperti ini bisa diselesaikan baik-baik."

"Saya juga datang dengan cara baik-baik."

"Kalau semua dibuka, banyak orang ikut terbawa."

"Saya tahu."

"Termasuk orang dalam Semesta."

"Saya tahu."

"Termasuk orang yang mungkin lebih senior dari Bu Arunika."

Arunika tersenyum tipis. "Kalau senioritas dipakai untuk mencuri, maka senioritas hanya membuat bukti lebih panjang."

Hendra menatapnya. Untuk pertama kali sejak masuk, ia tidak lagi terlihat seperti orang yang datang untuk menenangkan anak baru. Ia melihat perempuan muda di seberangnya dengan cara berbeda, seperti seseorang yang tiba-tiba menyadari bahwa pintu yang ia anggap terbuka ternyata terkunci dari dalam.

"Apa yang Bu Arunika mau?"

"Tiga hal."

Tari meletakkan satu dokumen baru di depan Hendra.

"Pertama, Cakra Mandiri mengembalikan selisih pembayaran dalam tujuh hari kerja. Angkanya sudah kami hitung. Jika tim Anda merasa ada koreksi, silakan ajukan dengan bukti pengiriman asli, bukan salinan tanda tangan yang sama."

Hendra tidak menyentuh dokumen itu.

"Kedua, kontrak pengadaan Semesta dengan Cakra Mandiri dihentikan hari ini. Semua pengadaan berjalan melalui tender ulang."

"Itu tidak mungkin." Suara Hendra naik setengah tingkat. "Kontrak masih berjalan satu tahun."

"Addendum perpanjangan tidak disahkan dewan. Hanya ditandatangani Surya atas nama operasional, tanpa persetujuan legal pusat. Klausul pembatalan ada di halaman sembilan."

Tari membuka halaman sembilan dengan sangat tenang.

"Ketiga," lanjut Arunika, "Pak Hendra menandatangani pernyataan bahwa seluruh data pengadaan selama dua tahun terakhir boleh diaudit oleh pihak independen yang ditunjuk Semesta."

Hendra tertawa sekali, hambar. "Kalau saya menolak?"

"Pembayaran yang tertahan tetap beku. Laporan masuk ke dewan pusat. Setelah itu, legal kami mengurus jalur pidana dan perdata. Saya yakin Bapak lebih paham daripada saya tentang bagaimana reputasi pemasok bisa rusak sebelum putusan keluar."

"Bu Arunika mengancam saya?"

"Tidak." Arunika menutup map. "Saya memberi pilihan yang masih sopan."

Hendra memandang staf legal, lalu Tari. Dua orang itu tidak memberi ruang. Semua kursi di ruangan itu seperti sudah dipaku pada keputusan yang sama.

"Semesta tidak akan bisa bergerak cepat tanpa jaringan saya."

"Semesta sudah bergerak terlalu lama dengan jaringan Bapak. Hasilnya, biaya membengkak, gudang kekurangan barang, dan orang dalam merasa punya tuan selain perusahaan."

"Anda terlalu percaya diri."

"Saya percaya pada dokumen."

"Dokumen bisa dibalik."

"Silakan coba."

Dua kata itu jatuh begitu datar hingga Hendra justru kehilangan tempat untuk marah. Arunika tidak membentak, tidak menggebrak meja, tidak memakai nama keluarga. Ia hanya duduk di sana dengan mata bersih dan bukti yang terlalu rapi.

Itu lebih memalukan.

Karena Hendra tidak bisa menuduhnya emosional.

Ia mengambil pulpen dari saku jas. Sebelum menandatangani, ia mendongak sekali lagi.

"Saya tidak tahu siapa yang mengajari Bu Arunika bermain seperti ini."

"Orang-orang yang pernah meremehkan saya."

Pulpen itu berhenti sesaat.

Arunika tidak menambahkan apa pun.

Akhirnya Hendra menandatangani halaman pertama, kedua, dan ketiga. Tanda tangannya tebal di awal, lalu semakin tipis di akhir. Setelah selesai, ia mendorong dokumen itu kembali seolah kertasnya panas.

"Saya harap Semesta siap dengan akibatnya."

"Kami sedang memulainya."

Hendra berdiri. Senyumnya hilang sepenuhnya. Ia merapikan jas, memberi anggukan kaku, lalu keluar dari ruang rapat tanpa menunggu diantar.

Pintu tertutup.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Staf legal mengembuskan napas. "Bu, itu cepat sekali."

"Terlalu lama justru memberi orang waktu menukar bukti," jawab Arunika.

Tari mengumpulkan dokumen yang sudah ditandatangani. "Saya akan kirim salinan ke legal pusat dan ke audit internal."

"Kirim juga pemberitahuan tender ulang. Jangan gunakan kontak yang diberikan Surya. Ambil daftar pemasok dari sistem pusat."

"Baik, Bu."

Arunika berdiri. Dari kaca ruang rapat, Jakarta tampak berkilau di bawah matahari sore. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, seolah semua orang di kota ini punya sesuatu yang ingin disembunyikan di balik kaca.

Ia pernah hidup di tengah orang-orang seperti itu.

Orang-orang yang menyebut nama baik ketika ingin menutup luka orang lain.

Orang-orang yang menganggap perempuan diam berarti perempuan kalah.

Telepon Tari bergetar. Ia melihat layar, lalu alisnya bergerak sedikit.

"Bu Arunika."

"Apa?"

"Tim audit baru mengirim satu lampiran lama. Dari arsip kontrak dua tahun lalu."

Tari meletakkan ponsel di atas meja. Di layar, tampak foto halaman jaminan proyek. Nama Cakra Mandiri ada di bagian tengah. Tanda tangan Hendra ada di bawah.

Namun bukan itu yang membuat ruangan kembali hening.

Di pojok kanan bawah, ada cap perusahaan lain sebagai penjamin pendamping.

Notonegoro Corp.

Arunika menatap nama itu lama.

Luka di punggung tangannya terasa seperti mengingatkan dirinya sendiri.

"Simpan lampiran itu," katanya.

Tari mengangguk pelan. "Untuk audit?"

"Untuk nanti."

Di luar ruang rapat, lift berdenting. Seseorang pergi dengan langkah tergesa, membawa amarah yang belum selesai.

Arunika mengambil ponselnya dan menatap pantulan wajahnya di layar gelap.

Ternyata Jakarta memang tidak membiarkan masa lalu pergi terlalu jauh.

Baiklah.

Kalau Notonegoro masih meninggalkan jejak di lantai Semesta, ia akan membersihkannya dari akar.

1
Jetva
Hmmm....kenapa semua jd bisu Thooor...😔😔...
Jetva
Keluarga Notonegoro ga pux empedu...👹..benar" iblis...
Jetva
Notonegoro benar" ga tau malu...
Jetva
KELUARGA NOTONEGORO SAKIT JIWA...SDH CERAI BERARTI TINGGAL TANGGUNGJAWAB NAFKAH ..BUKAN MENGATUR KEHIDUPAN ANAK YG BAHKAN BARU BERUPA JANIN🤣🤣🤣SUNGGUH LUCU KELUARGA INI🤣🤣🤣APA KABAR RENATA YG LAGI BUNTING...🤔🤔🤔
Ervin Bata
jangan terlalu berputar-putar 🙏
Nany Susilowati
emang di ballroom kelihatan panggungnya../Shame/
Fauziah
terlambat menyesalkan
awesome moment
yaaccchhhh...hamidun dwh
awesome moment
notonegoro yg songong
awesome moment
udh jelas skrg. notonegoro tua tau prawira punya anak perempuan. tp g tau bhw tu nika. damar married sm nika yg diqra anak ART prawira. g pake nama blakang c. krn nikah kabur, nikah pake wali hakim. bintinya ttp prawira tp kn prawira buanyak. nama nika g bawa p pun. lari dri rumah. jd lengkip keoonan notonegoro
Noneng Gula: ohh gitu tohh
total 1 replies
awesome moment
rada g konsisten sm judulnya. anggap j bhw damar mengira nika adalah anak pembokat kelg prawira. jd dia hnya nunggu di luar rumah, nika g pake nama belakangnya, nikah tanpa restu tanpa nama kelg jd notonegoro anggap sbg asal usul g jelas. tp...jwaban bram jd g masuk akal. notonegoro tau asal nika tp msh merendahkan nika. jd makin mlencemg dri judul dunk
awesome moment
damar lupa ato brusaha lupa bhw nika anak konglomerat. tp...bisa jd krn nika milih damar jd damar ngerasa nika udh dibuang.
awesome moment
balik ke jakarta lg😄😄😄
awesome moment
😄😄😄laki2 sll syuka perempuan yg lemah dan lembut pdhl...manipulatif
awesome moment
mulai nyesel g n
awesome moment
nika pelampiasan nepsong damar g n,
awesome moment
perempuan mmg kdg jd oon krn cinta
mommy
terlalu dibuat dramatisir
Han Han
vany kalis hukum😂😂😂
Han Han
sibuk proses hukum tapi tiada yg dihukum😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!