Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Bara memeluk Rosline
Belum sempat Rosline benar-benar menenangkan dirinya, Bara tiba-tiba melangkah cepat ke arahnya.
“Tu...”
Satu tangan Bara langsung menarik pinggang Rosline mendadak hingga tubuh gadis itu terhuyung ke depan. Rosline membelalak kaget, dan detik berikutnya. Tubuhnya jatuh tepat ke dalam pelukan Bara.
“Ah...!”
Rosline refleks mencengkeram kemeja hitam pria itu kuat-kuat karena hampir kehilangan keseimbangan. Dadanya langsung berdetak kacau saat aroma parfum maskulin Bara memenuhi indra penciumannya. Sedangkan Bara menahan tubuh Rosline erat dengan satu tangan di pinggangnya.
Beberapa detik kemudian sebuah vas bunga besar jatuh pecah tepat di belakang tempat Rosline berdiri tadi.
Pranggg!
Suara pecahan kaca menggema di koridor mansion yang sunyi.
Rosline langsung tersentak kaget dan refleks makin mencengkeram kemeja Bara. Napasnya tercekat melihat pecahan vas berserakan di lantai.
“Ti-tidak…”
Kalau Bara tidak menariknya tadi… mungkin vas itu sudah jatuh tepat mengenai tubuhnya.
Bara menatap ke arah langit-langit sebentar lalu mendecak pelan. “Ck...”
Rosline masih membeku di pelukannya dengan wajah pucat. Beberapa detik suasana terasa benar-benar hening. Rosline baru sadar sekarang kalau jarak mereka terlalu dekat.
Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Bara yang stabil dan tenang. Sedangkan dirinya sendiri rasanya sudah hampir mau copot.
Ta-tatapannya perlahan terangkat. Dan ternyata Bara sedang menatap lurus ke wajahnya. Tatapan pria itu masih sama tajamnya. Tapi entah kenapa… kali ini tidak sedingin biasanya.
“Kau memang selalu ceroboh tengah malam begini?” tanyanya rendah.
Rosline langsung gugup luar biasa. “Sa-saya tidak sengaja…”
Bara menghela napas kecil sebelum akhirnya perlahan melepaskan pinggang Rosline. Namun saat tubuh Rosline mundur pelan. Kakinya justru hampir menginjak pecahan kaca.
Bara langsung menarik tangannya lagi cepat. “Jangan bergerak.”
Rosline langsung diam kaku.
Bara menunduk melihat pecahan kaca di sekitar kaki Rosline, lalu berkata datar. “Kalau kakimu terluka, siapa yang akan mengurus Opa. Menyusahkan saja!”
Rosline berkedip pelan menatap Bara.
Pria itu lalu berjalan melewati pecahan kaca tanpa peduli sebelum mengambil segelas air dari meja kecil dekat ruang kerja.
“Kemarilah.”
Rosline menurut pelan seperti anak kecil ketakutan.
Bara menyerahkan gelas itu padanya. “Minum.”
Rosline menerimanya gugup. “Terima kasih…”
Tangannya masih sedikit gemetar saat meminum air itu. Sedangkan Bara berdiri di depannya sambil melipat tangan dada. Tatapannya kembali sulit dibaca.
“Aku tidak suka orang berkeliaran tengah malam di mansion ini.”
Rosline langsung menunduk cepat. “Maaf Tuan…”
“Tapi…” Bara berhenti sebentar. “Kalau hanya haus, kau bisa mengetuk pintu dapur. Bibi Rena biasanya belum tidur.”
Rosline sedikit terkejut mendengar nada suara Bara yang kali ini tidak terlalu dingin.
Pria itu lalu melirik ke arah pecahan vas di lantai. “Besok Daniel akan memeriksa semua CCTV.”
Rosline langsung tegang lagi. “CCTV?”
“Vas itu tidak mungkin jatuh sendiri.”
Jantung Rosline kembali menegang. Mansion ini benar-benar terasa menyeramkan sekarang.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh. “Kau takut?” tanya Bara tiba-tiba.
Rosline terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil jujur.
Melihat itu, Bara justru menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Lalu perlahan pria itu berkata rendah, “Kalau begitu…” tatapannya menyipit tipis. “Jangan berjalan sendirian malam-malam di mansion ini lagi.”
Rosline masih berdiri diam sambil memegang gelas airnya erat. Kata-kata Bara tadi justru membuat bulu kuduknya semakin meremang.
Rosline langsung menelan ludah pelan. “Memangnya ada apa di mansion ini, Tuan?”
Tatapan Bara langsung terangkat padanya. Beberapa detik pria itu hanya diam menatap Rosline tanpa jawaban. Sampai akhirnya…
“Kau terlalu banyak bertanya.”
Rosline langsung menunduk cepat. “Maaf…”
Bara mendecak kecil lalu berjalan mendekati pecahan vas di lantai. Sepatunya menggeser serpihan kaca kecil dengan suara halus.
“Tidurlah.” ucapnya datar. “Besok kau harus bangun pagi.”
Rosline sebenarnya masih penasaran. Terutama soal percakapan Bara tadi di ruang kerja. Tentang wilayah, membunuh orang dan sekarang vas yang tiba-tiba jatuh.
Semua terasa aneh dan menakutkan. Namun melihat wajah Bara sekarang, Rosline tahu ia tidak akan mendapat jawaban apa pun.
“Baik Tuan…”
Rosline mulai melangkah pelan menjauh. Tapi baru beberapa langkah…
“Rosline.”
Gadis itu langsung berhenti lalu menoleh gugup. “Ya?”
Bara berdiri dekat pintu ruang kerjanya sambil menatapnya tajam.
“Kalau nanti kau mendengar sesuatu lagi…” suaranya rendah. “Jangan berhenti untuk mencari tahu.”
Rosline makin bingung. “Maksud Tuan?”
“Rumah ini tidak sesederhana yang kau pikir.”
Entah kenapa ucapan itu membuat jantung Rosline kembali berdebar tidak nyaman. Namun Bara sudah membuka pintu ruang kerjanya lagi seperti tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
“Tuan Bara…” panggil Rosline pelan tanpa sadar.
Bara berhenti sebentar.
Rosline menggigit bibir kecil gugup sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, “Tadi… vas itu benar-benar jatuh sendiri?”
Beberapa detik Bara tidak menjawab. Tatapannya perlahan bergeser ke arah ujung koridor yang gelap. Lalu pria itu berkata singkat tanpa emosi,
“Itu sebabnya aku meminta Daniel untuk memeriksa CCTV.”
Setelah itu Bara masuk kembali ke ruang kerjanya.
BRAK
Pintu tertutup pelan.
Kini koridor kembali sunyi menyisakan Rosline sendirian. Gadis itu memeluk dirinya sendiri pelan. Mansion Alexander yang awalnya hanya terasa mewah dan dingin… sekarang mulai terasa jauh lebih menyeramkan.
Rosline buru-buru berjalan kembali menuju kamarnya sambil sesekali menoleh ke belakang karena takut.
Dan sesampainya di dalam kamar…
BRAK
Rosline langsung mengunci pintu cepat-cepat lalu bersandar di belakangnya sambil memegang dada sendiri.
“Astaga…” bisiknya pelan.
Bayangan tadi kembali terlintas di kepalanya. Bara menarik tubuhnya. Pelukan pria itu. Tatapan matanya yang dekat sekali.
Pipi Rosline langsung memanas sendiri. “Kenapa aku malah memikirkan itu sih…” gerutunya malu sambil menepuk pipinya pelan.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah lagi mengingat hal lain.
“Tapi…” Rosline menggenggam selimutnya erat. “Apa sebenarnya pekerjaan keluarga Alexander?”
Baru juga sehari tinggal di mansion itu, Rosline merasa dirinya sudah ke dalam dunia yang seharusnya tidak ia ketahui.
Dan tanpa Rosline sadari, dari balik layar monitor CCTV di ruang kerja, Bara masih memperhatikan rekaman koridor tempat vas itu jatuh tadi dengan tatapan dingin.
Pria itu memperlambat video beberapa kali. Tatapannya perlahan menyipit. Karena beberapa detik sebelum vas itu jatuh…
Bayangan seseorang terlihat bergerak cepat di ujung koridor mansion. Bara masih duduk diam di depan layar monitor ruang kerjanya. Cahaya biru dari CCTV memantul di wajah tajam pria itu, membuat suasana ruangan terasa semakin dingin.
Tatapannya terus memperhatikan rekaman koridor lantai dua.
KLIK
Video diputar ulang sekali lagi. Dan kali ini… terlihat jelas. Beberapa detik sebelum vas bunga jatuh, ada bayangan hitam bergerak cepat melewati ujung koridor. Sangat cepat. Hampir seperti sengaja menghindari kamera.
Tatapan Bara langsung menyipit dingin. “Daniel.”
“Ya, Tuan?” jawab Daniel yang sudah masuk setelah Rosline keluar.
Bara memutar layar monitor sedikit ke arahnya. “Lihat ini.”