NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Ruangan kecil itu langsung kehilangan suasana santainya. Beberapa menit yang lalu, mereka masih bercanda soal ayam dan tidur. Sekarang, semua orang harus kembali waspada.

Han berdiri pelan dari kursinya, kembali mengintip ke arah jalan.

“Ada berapa orang?”

Damar masih melihat layar ponselnya.

“Belum jelas.” Ia mengetik balasan cepat. “Tapi anak-anak melihat ada mobil luar yang masuk dari jalan utara.”

Arga langsung mendesah frustrasi.

“Kenapa sih, hidup kita ngga pernah normal lebih dari tiga puluh menit?”

“Soalnya lu ngikut Han,” jawab Damar santai.

“Itu masuk akal…,” angguk Arga sambil tetap mengunyah makanannya

Nara memperhatikan perubahan kecil di wajah Han. Ia tidak panic tapi fokusnya langsung berubah total. Tatapannya lebih tajam sekarang dan pikirannya pasti mulai menghitung segala kemungkinan.

“Kita harus pergi?” tanya Nara pelan.

Han belum menjawab. Damar lebih dulu berdiri lalu berjalan mendekati jendela. Ia membuka sedikit tirai dan melihat ke arah jalanan bawah selama beberapa detik.

Jalanan di distrik lama mulai ramai oleh aktivitas pagi:

pedagang yang membuka warung motor lewat orang tua menyapu depan rumah Dari luar, semuanya terlihat sangat normal. Dan justru itu yang berbahaya.

“Belum,” kata Damar akhirnya. “Kalau mereka langsung masuk ke sini bawa banyak orang, satu distrik ini bakal sadar.”

Han bersandar kecil di meja.

“Tapi mereka tetap bakal cari kita.”

“Ya.”

Damar menoleh ke Han.

“Tapi orang pusat jarang turun sendiri.” Nada suaranya lebih serius sekarang. “Kalau mereka sampai masuk distrik…”

“Berarti penting,” sambung Han.

Damar mengangguk sambil tetap mengawasi jalanan. Sementara Nara memeluk lengannya sendiri. Perasaan tidak nyaman itu kembali lagi, seolah-olah waktu tenang mereka hanya pinjaman sesaat.

Arga berdiri sambil membawa kopi kalengnya.

“Oke. Gue ada pertanyaan penting.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kalau nanti ada baku tembak, gue boleh pura-pura mati ngga?”

“Silakan,” jawab Han datar.

“Wah…emang lu teman yang suportif banget.”

Damar terkekeh kecil. Nara melihatnya aneh, bahkan di situasi begini mereka masih bisa bercanda . Mungkin memang itu cara bertahan hidup di dunia mereka.

Han akhirnya mengambil pistolnya lagi dari meja lalu mengokangnya dan membuka kuncinya. Nara memperhatikan tanpa sadar. Gerakannya seperti sudah terbiasa. Sangat tenang, dan entah kenapa, itu justru membuat perasaanya merasa sedikit aman.

Damar menatap Han selama saat.

“Lu masih pakai cara lama?”

“Aku masih hidup kan.”

“Fair.”

Ponsel Damar kembali bergetar. Dengan cepat ia membaca pesan yang baru masuk, ekspresinya sedikit berubah.

“Mereka mulai tanya soal gedung kosong.”

Han langsung mengerti, “…kita sudah terlalu terlihat.”

“Belum tentu.” Sahut Damar sambil memasukkan ponselnya kembali. “…tapi aku ngga suka arahnya ini.”

Arga menelan ludah kecil.

“Nah, kalau ketua geng lokal aja udah mulai ngga suka situasinya, berarti kita memang punya masalah.”

Damar berjalan mendekati pintu lalu berhenti sebentar.

“Gue coba tahan mereka di luar area sini.”

Han mengangkat pandangan.

“Damar.”

“Tenang aja.” Damar menyeringai tipis. “Distrik ini bukan wilayah mereka.”

“Tapi tetap saja, mar!”

Damar menatap Han cukup lama sebelum menghela napas pelan.

“Lu tahu kenapa orang sini masih hormat sama lu?”

Han diam.

“Karena dulu waktu distrik ini dibersihin preman luar…” Damar menyandarkan bahu ke pintu. “…lu satu-satunya orang luar yang membantu.”

Nara sedikit terkejut mendengarnya. Ia melirik Han. Pria itu tidak pernah menceritakan hal-hal seperti ini. Han hanya menjawab pendek,

“Itu sudah lama.”

“Dan orang sini ngga pernah lupa, Han.”

Sunyi sesaat, lalu Damar mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kunci besi tua, bentuknya besar dan kasar, mirip kunci sebuah gudang tua.

Ia melemparkannya dan Han menangkapnya dengan refleks. Tatapannya langsung berubah begitu melihat benda itu.

“Kamu masih simpan ini?”

“Karena gue tahu, suatu hari lu bakal cukup sial buat balik kesini lagi.”

Arga menunjuk kunci itu dengan penasaran.

“Itu apa? Kunci markas rahasia?” tanya Arga.

“Kurang lebih,” jawab Damar.

Han menggenggam kunci itu, tatapannya menerawang  jauh. Seolah benda kecil itu membawa terlalu banyak kenangan. Dan Nara memperhatikannya.

“Kamu tahu tempat itu?” tanyanya.

Han mengangguk kecil. Damar memotong pembicaraan sebelum Han sempat menjawab.

“Kalau keadaan benar-benar jelek…” Ia menatap Han dengan serius, “…kamu tahu harus ke mana.”

Ruangan kembali sunyi. Han masih melihat kunci di tangannya. Lalu akhirnya mengangguk pelan.

“…iya.”

Nara bisa merasakan ada sesuatu berat di balik jawaban itu. Tempat itu jelas bukan sekadar tempat persembunyian biasa. Mungkin bagian dari masa lalu Han yang tidak pernah ia ceritakan.

“Aku turun dulu,” kata Damar sambil membuka pintu ruangan.

“Jangan sok jadi pahlawan,” kata Han.

Damar langsung menyeringai.

“Lucu juga dengar itu dari mulut pembunuh bayaran.”

Han tidak membalasnya lagi. Sebelum turun Damar menoleh sebentar ke arah Nara dan Arga.

“Kalau nanti ada suara ribut-ribut di luar…” katanya santai, “…jangan langsung panik.”

“Itu nasihat yang buruk,” gumam Arga.

“Dan kalau Han bilang lari…” lanjut Damar, “…langsung ikuti.”

Tatapannya kembali ke Han sesaat. Hening sesaat, tidak ada ucapan yang dramatis atau janji. api Nara bisa melihat jelas: kedua pria itu sama-sama sadar situasinya mulai berubah.

Damar akhirnya turun meninggalkan ruangan. Suara langkahnya perlahan menghilang di ujung tangga.

Beberapa detik setelah pintu tertutup, Han masih berdiri diam sambil memegang kunci besi itu dengan erat. Dan saat itu Nara benar benar melihat wajah Han yang terlihat tidak tenang.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!