Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu, suasana di panti jompo sudah kembali sibuk dan hangat. Aletta dan Gery kembali berjalan beriringan menyusuri lorong, masih melanjutkan pencarian pasien untuk Aletta karena hari sebelumnya belum mendapatkan pasien asuhan yang pas.
"Tenang aja, Al. Gue janji hari ini pasti carikan yang cocok buat loh. Kan kemarin gue udah jelajahi hampir seluruh ruangan, jadi gue tahu siapa saja penghuninya," kata Gery dengan nada percaya diri sambil berjalan di samping Aletta.
"Makasih banyak ya, Gery. Gue jadi nggak bingung lagi kalau ada loh yang nemenin dan bantuin. Gue takutnya salah pilih atau malah bikin kakek-neneknya nggak nyaman," jawab Aletta dengan wajah berseri senang dibantu oleh temannya itu.
Mereka pun sampai di depan salah satu kamar yang pintunya terbuka lebar. Gery berhenti sejenak dan menunjuk ke dalam.
"Nih, coba kita masuk dulu. Di sini ada Pak Bima, dia pasien gue. Beliau kena serangan stroke, jadi nggak bisa jalan dan harus selalu duduk di kursi roda. Tapi orangnya asik banget, suka bercanda dan ceritanya seru lho," jelas Gery.
Mereka masuk dengan sopan, "Selamat pagi, Pak Bima," sapa mereka serempak.
Pak Bima yang sedang duduk di kursi rodanya langsung tersenyum lebar melihat kedatangan mereka. "Selamat pagi, anak-anak. Wah, Gery bawa teman cantik ya hari ini? Siapa namanya, Nak?"
"Ini Aletta, Pak. Teman sekelompok saya. Kebetulan dia lagi cari pasien asuhan, terus saya ajak ke sini dulu. Oh iya Pak, teman sekamar Bapak itu siapa ya? Kemarin saya lihat beliau orangnya ramah banget dan kelihatannya sehat walafiat," tanya Gery.
"Itu Ibu Nining, Nak. Beliau memang masih sehat, badannya kuat, pikirannya juga jernih. Cuma karena anak-anaknya sibuk bekerja, beliau milih tinggal di sini biar ada teman ngobrol. Orangnya periang, suka masak, dan suka bantu-bantu di dapur kalau ada waktu. Kalau Aletta mau merawat orang yang masih sehat tapi asyik ngobrol, Ibu Nining pas banget," jawab Pak Bima panjang lebar.
Mendengar itu, mata Aletta langsung berbinar. "Wah, kedengaran cocok banget deh. Boleh nggak ya saya temui beliau sekarang, Pak?"
"Boleh dong, ayo kita ke ruang tamu kecil di ujung sana. Biasanya beliau lagi minum kopi sambil baca koran," kata Pak Bima.
Mereka pun berpamitan dan menemui Ibu Nining. Benar saja, Ibu Nining sangat ramah, sopan, dan suaranya lembut. Obrolan mereka terasa begitu akrab, seolah sudah saling kenal lama.
Akhirnya, Aletta memutuskan untuk memilih Ibu Nining sebagai pasien asuhannya, sementara Gery tetap merawat Pak Bima yang harus selalu menggunakan kursi roda.
Siang harinya, saat jam istirahat makan siang tiba. Di teras belakang panti yang teduh, Aletta menunggu Gery dengan membawa dua bungkus nasi lengkap dengan lauknya. Begitu melihat Gery keluar dari ruangan Pak Bima, Aletta melambaikan tangan.
"Gery! Sini dong, gue udah siapkan makan siang buat kita berdua. Yuk makan bareng!" ajak Aletta ramah.
Gery terkejut tapi wajahnya langsung berseri senang. Ia segera duduk di samping Aletta. "Tumben, kok tiba-tiba baik banget sih loh, Al? Ada apa nih?" tanyanya bercanda.
Aletta tertawa kecil lalu menyerahkan satu bungkus makanan ke tangan Gery. "Ini sebagai ucapan terima kasih buat loh ya. Makasih banget udah bantuin gue nyari pasien dari kemarin, sampai akhirnya ketemu Ibu Nining yang asyik banget itu. Kalau nggak ada loh, gue pasti masih bingung dan keliling terus sampai sore. Jadi, anggap ini balas budi gue ya."
Gery tersenyum lebar dan mengangguk senang. "Wah, makasih banyak ya! Padahal itu tugas kita saling bantu kan? Tapi enak juga nih dihargai begini. Asyik banget bisa makan bareng loh," katanya sambil mulai membuka bungkus nasinya.
Mereka makan sambil mengobrol santai, membahas tingkah Pak Bima yang lucu dan kebaikan hati Ibu Nining. Suasana terasa sangat hangat dan akrab di antara mereka berdua.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, mereka berdua pergi ke ruang belajar yang disediakan di panti jompo untuk mengerjakan laporan dan tugas harian mereka.
Ruangan itu cukup luas, ada beberapa meja dan kursi, serta rak buku yang penuh. Tak lama kemudian, beberapa teman sekelas mereka juga datang dan ikut mengerjakan tugas di sana.
Suasana jadi agak riuh dan ramai. Sesekali terdengar suara tawa dan bisik-bisik. Tiba-tiba, Oca yang duduk di meja seberang sengaja berbicara dengan suara agak keras agar terdengar oleh yang lain.
"Wih, lihat deh tuh! Sejak tadi Gery nggak lepas dari sisi Aletta. Duduknya deket banget, matanya terus-terusan ngeliatin Aletta. Jangan-jangan nih ya... Gery lagi mendekati Aletta nih!" goda Oca diikuti tawa teman-teman yang lain.
"Betul tuh! Kalau dilihat-lihat, mereka cocok banget lho. Sama-sama baik, sama-sama pinter. Wah, ada yang jomblo bakal patah hati nih kayaknya," sambung Widi sambil mengedipkan mata.
Wajah Gery langsung memerah padam menahan malu, tapi bibirnya tersenyum-senyum aneh. Sementara itu, Aletta yang mendengarnya langsung menoleh cepat ke arah teman-temannya dengan wajah serius namun tetap sopan.
"Aduh, kalian ini ada-ada aja! Jangan asal ngomong deh ya," bantah Aletta lembut tapi tegas. "Gery itu baik sama gue cuma karena kita teman, dia baik sama semua orang kok. Lagian kalian lupa ya? Gue kan udah punya pacar, namanya Jonathan. Kami emang baru saja pacaran dan saling sayang. Jadi jangan ada yang ngarang-ngarang cerita lagi ya, nanti salah paham oke." Ucap Aletta mengedipkan matanya dan kembali duduk dengan tenang
Mendengar itu, Gery yang tadinya tersenyum langsung menundukkan kepalanya sejenak, terlihat sedikit kecewa namun ia segera bangkit kembali dan ikut tertawa. "Iya bener kata Aletta. Kalian nih suka bikin cerita sendiri. Gue sama Aletta cuma teman aja kok, nggak lebih. Udah yuk lanjut kerjain tugasnya, nggak selesai nih kalau digodain terus," kata Gery berusaha menutupi perasaannya.
Aletta tersenyum lega karena teman-temannya akhirnya diam dan kembali fokus pada tugas masing-masing. Dalam hatinya, ia merasa lega sudah mengingatkan mereka, walaupun hatinya masih bimbingan dengan Jonathan tetap dia harus belajar menerimanya dan tidak ingin ada kesalahpahaman.
Menjelang sore, saat Aletta sedang menyiram bunga di halaman depan kosannya, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda berdiri di dekat gerbang sambil memegang kantong plastik berisi makanan. Itu Dilan.
Jantung Aletta seakan berhenti berdetak sesaat. Ia meletakkan selang air dan berjalan menghampiri Dilan dengan perasaan campur aduk.
"Dilan? Kok loh ada di sini? Bukannya loh lagi tugas di puskesmas ya?" tanya Aletta heran sekaligus kaget.
Dilan tersenyum sopan dan menatap Aletta dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan dulu. "Hai, Al. Kebetulan hari ini aku diizinkan pulang sebentar sama pembimbingku karena ada urusan keluarga di rumah. Pas aku mampir ke rumah, Ibu loh nitip makanan buat loh. Katanya loh pasti lapar dan kangen masakan rumah. Jadi sekalian gue anter deh ke sini."
Dilan menyodorkan kantong plastik itu kepada Aletta. "Ini masakan kesukaan loh, katanya Ibu loh. Jangan lupa dimakan ya biar sehat dan semangat kerjanya."
Aletta menerima makanan itu dengan tangan gemetar dan senyum haru. "Wah, makasih banget ya, Dilan. Terima kasih juga sama ibu yah. Kamu baik banget mau repot-repot bawa ke sini," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Al. Ngapain sungkan sama gue? Gue pamit dulu ya, nanti gue kesorean kalau nggak buru-buru balik lagi ke tempat tugas nih," kata Dilan seolah hendak pergi.
Namun, entah kenapa Aletta merasa berat melepasnya begitu saja setelah sekian lama mereka jarang bicara baik-baik. "Eh, Dilan... Tunggu sebentar dong. Masih ada waktu kan sebentar? Yuk, kita jalan-jalan sebentar di depan sana. Ada warung kecil yang lucu, ayo!" ajak Aletta tiba-tiba dengan antusias.
Dilan tampak ragu sejenak tapi akhirnya mengangguk setuju dengan senyum bahagia. "Boleh deh, ayo."
Mereka berjalan beriringan menuju warung kecil di pinggir jalan tidak jauh dari panti. Di sana ada mesin capit boneka yang cukup besar dan berwarna-warni.
"Wah, ada mesin capit boneka! Gue dari tadi pengen banget coba main ini tapi nggak ada teman yang mau nemenin," seru Aletta ceria. "Dilan, coba deh loh ambilin satu buat gue. Gue pengen banget yang bentuknya kelinci putih itu tuh!" Ucap Aletta menunjuk bonekanya.
Dilan tertawa renang, tawa yang sudah lama tidak terdengar oleh Aletta. "Siap, Nona! Biar gue usahain dapetin yang paling bagus buat loh."
Dilan pun memasukkan koin dan mulai mencoba mengoperasikan mesin itu. Berkali-kali gagal, tapi Dilan tidak menyerah. Dia terus mencoba sambil tertawa-tawa melihat wajah Aletta yang menahan napas berharap. Akhirnya, pada percobaan kelima, capit itu berhasil mencengkeram boneka kelinci putih yang diinginkan Aletta dan menjatuhkannya ke lubang keluar.
"Dapat! Asyik!" teriak Dilan senang, lalu menyerahkan boneka itu ke tangan Aletta.
Aletta memeluk boneka itu erat-erat, matanya berbinar-binar bahagia. "Makasih ya, Dilan! Lucu banget, gue suka sekali. Loh hebat banget bisa dapetinnya."
Momen itu terasa begitu manis dan hangat. Seolah semua rasa sakit, pertengkaran, dan sikap dingin di masa lalu hilang begitu saja. Mereka tertawa, bercanda, dan saling menatap seolah mereka kembali menjadi teman akrab seperti dulu. Rasanya seperti mereka sudah berbaikan lagi, dan beban berat di hati Aletta perlahan terangkat.
Namun, Aletta teringat kembali cerita Tamara malam hari. Dia menarik napas panjang, lalu memberanikan diri bertanya dengan suara pelan dan hati-hati.
"Dilan... boleh gue nanya sesuatu? Soal Tamara..."
Wajah Dilan yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi serius. Ia mengangguk pelan, "Tanya aja, Al. Soal apa?"
"Tamara cerita sama gue... Katanya belakangan ini loh sering banget mendekati dia, baik sama dia, dan sering ngobrol lama sama dia. Tapi Tamara merasa... Loh cuma manfaatin dia atau cuma jadikan dia perantara buat cari tahu soal gue. Apakah bener begitu, Dilan? Atau ada maksud lain?" tanya Aletta dengan tatapan menyelidik namun lembut.
Dilan terdiam sejenak, menendang kerikil di bawah kakinya sebelum akhirnya menatap lurus ke mata Aletta dan berkata jujur.
" Gue Jujur sama loh ya, Al... Awalnya memang gue mendekati dia cuma karena gue pengen tahu hubungan loh sama Meldi. Gue sungkan dan takut ngomong langsung sama loh. Apalagi loh tau sendiri kan gue paling gak suka lihat loh sama Meldi, Tapi lama-kelamaan... Gue coba mengubah niatan itu. Gue coba melihat Tamara sebagai dirinya sendiri, bukan cuma sebagai teman loh. Gue mencoba membuka hati gue buat dia. Kalau nanti gue ternyata beneran suka sama dia, ya gue bakal lanjut dan serius sama dia. Tapi kalau ternyata gue nggak bisa suka sama dia... ya udah, gue mundur dan kita tetap berteman kayak biasa. Itu rencananya," jelas Dilan terus terang.
Mendengar penjelasan itu, hati Aletta terasa seperti ditusuk jarum yang sangat halus namun menyakitkan. Rasa sakit hati itu muncul lagi, menyadari bahwa ia memang masih berarti bagi Dilan tapi Dilan sedang berusaha melupakannya dengan cara mendekati orang lain. Namun, Aletta berusaha keras menutupi rasa sakitnya itu dengan senyum paling tulus yang ia mampu.
Dia menepuk bahu Dilan pelan dan berkata dengan suara yang bergetar sedikit namun terdengar tegas dan menyemangati.
"Begitu ya... Gue ngerti banget maksud loh, Dilan. Itu keputusan yang bagus dan dewasa lho. Tamara itu orang baik banget, cantik, dan tulus. Kalau loh kasih kesempatan sama dia, gue yakin loh bakal bahagia. Semangat ya, Dilan! Gue doain semoga loh bisa nemuin kebahagiaan loh sama dia nanti. Kalau memang dia jodoh loh, pasti kalian bakal bersatu kok," kata Aletta menahan sakit hati sekuat tenaga.
Dilan tersenyum lega mendengar dukungan dari Aletta. "Makasih ya, Al. Makasih udah ngerti dan nggak marah. Gue seneng banget kita bisa ngobrol kayak gini lagi. Rasanya tenang banget."
"Sama-sama, Dilan. Kita kan teman baik, pasti saling dukung kok," jawab Aletta.
Setelah Aletta menyemangati Dilan soal perasaannya terhadap Tamara, suasana di antara mereka menjadi hening sejenak. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membuat momen itu terasa tenang namun sedikit berat.
Dilan menatap Aletta lekat-lekat, seolah ada pertanyaan lain yang sudah lama ingin ia lontarkan tapi selalu tertahan. Akhirnya, ia memberanikan diri membuka suara dengan nada bicara yang lembut dan hati-hati.
"Loh sendiri gimana hubungan loh sama Jonathan sekarang?" tanya Dilan perlahan, matanya tak lepas menatap wajah Aletta seolah ingin membaca perasaannya.
Aletta sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menunduk sejenak, memainkan ujung jari tangannya yang memegang erat boneka kelinci, sebelum akhirnya mengangkat wajah dan tersenyum lebar. Senyum yang berusaha ia buat setenang dan setulus mungkin.
"Hubungan gue sama Jonathan? Wah, baik-baik aja kok, Dilan. Lancar jaya dan aman sentosa kayak biasanya," jawab Aletta dengan nada ceria seolah tidak ada masalah apa pun.
Namun, jauh di dalam hatinya, ada rasa perih yang ia sembunyikan rapat-rapat. Sebenarnya, sejak hari mereka diantar dan dijemput di sekolah saat keberangkatannya PKL dulu, Jonathan sama sekali tidak pernah mengirim pesan, menelepon, atau sekadar menanyakan kabarnya.
Sudah beberapa hari berlalu, tapi ponsel Aletta tidak pernah bergetar karena panggilan atau pesan dari pacarnya itu. Awalnya ia merasa sedih, kecewa, dan bertanya-tanya, apakah Meldi sudah melupakannya? Apakah dia tidak rindu?
Tapi Aletta adalah gadis yang selalu berusaha berpikir positif dan mencari alasan yang baik demi menjaga hatinya sendiri dan hubungan mereka. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meskipun harus berbohong di depan Dilan.
"Kamu tahu kan, Dilan? Jo kan tinggal di asrama sekolahnya yang aturannya ketat banget. Katanya di sana itu, semua barang elektronik termasuk ponsel harus disita sama pengurus asrama begitu mereka masuk. Handphone cuma boleh diambil dan dipakai kalau pas hari libur sekolah aja. Jadi mungkin sekarang dia nggak bisa hubungi gue cuma karena alasan itu, bukan karena dia nggak peduli atau lupa sama gue. Dia pasti rindu kok, cuma belum ada kesempatan aja buat ngabarin," jelas Aletta panjang lebar, seolah ia sedang meyakinkan Dilan sekaligus meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terus bersedih.
Dilan menatap Aletta dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia bisa merasakan ada ketulusan sekaligus kepura-puraan dalam ucapan gadis di hadapannya itu. Dia tahu betapa baiknya hati Aletta, selalu mencari alasan pembenaran demi orang lain, bahkan saat orang itu menyakiti hatinya sendiri.
"Loh yakin begitu, Al? Kalau memang aturannya begitu, ya udah deh... Gue senang denger kalau kalian baik-baik saja. Gue cuma khawatir aja soalnya udah lama banget gue nggak lihat kalian bareng atau denger cerita loh soal dia," kata Dilan pelan, nadanya terdengar lega namun ada sedikit nada sedih yang tersembunyi.
Aletta mengangguk mantap sambil tersenyum, "Iya, gue yakin banget kok, Dilan. Tenang aja ya, urusan gue aman. Loh fokus aja sama apa yang tadi loh bilang, ya. Semangat buat Tamara!"
Dilan tersenyum tipis dan mengangguk. "Iya Al! Terima kasih banyak udah mau cerita dan nenangin gue hari ini. Rasanya beban di dada gue jadi hilang semua habis ngobrol sama loh. Gue pamit pulang dulu ya, nanti kesorean kalau telat."
"Hati-hati di jalan ya, Dilan! Sampai ketemu lagi," jawab Aletta melambaikan tangan sampai motor Dilan menghilang di tikungan jalan.
Begitu Dilan benar-benar pergi, senyum di wajah Aletta perlahan menghilang. Ia duduk di bangku kayu pinggir jalan sendirian sambil memeluk boneka kelinci itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga menetes di pipinya.
Ya Tuhan... aku bilang hubunganku baik-baik aja, padahal aku udah nggak denger kabar darinya berhari-hari. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku harus percaya sama dia kan? Aku harus percaya kalau dia baik-baik aja dan cuma nggak bisa hubungi aku karena aturan asramanya. Dia pasti ingat aku, dia pasti sayang aku... Aku harus berpikir positif, aku nggak boleh berburuk sangka, gumamnya dalam hati sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Dia bangkit dari duduknya, menarik napas panjang, dan mencoba tersenyum lagi. Ia tidak ingin kesedihannya terlihat oleh siapa pun. Dengan langkah tegap, ia kembali berjalan ke kosannya, bertekad untuk menyembunyikan rasa sakit itu dan tetap terlihat ceria seperti biasanya.
Setelah mengobrol agak lama, Dilan akhirnya benar-benar pamit untuk kembali ke tempat tugasnya. Aletta melambaikan tangan sampai sosok Dilan menghilang dari pandangan. Begitu Dilan hilang, senyum di wajah Aletta perlahan luntur. Dia memeluk erat boneka kelinci pemberian Dilan, dan air matanya jatuh diam-diam.
Kenapa rasanya sakit banget menyemangati loh buat orang lain? Padahal gue udah punya Meldi... Tapi kenapa Dilan masih bikin hati gue berantakan kayak gini? batinnya menangis dalam hati.
Namun, ia segera mengusap air matanya, tersenyum paksa, dan kembali berjalan menuju panti dengan tekad yang kuat. Ia harus tetap tegar dan menjalani hari-harinya dengan bahagia.
~be co Continued~