NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protokol Black Sun

Keheningan di dalam The Vault hanya dipecah oleh dengung konstan dari generator termal yang menjaga suhu ruangan tetap stabil di tengah badai salju Siberia yang mengamuk di luar. Ruangan itu luas, dengan dinding beton kasar yang dilapisi baja kedap suara. Di tengahnya, sebuah meja kayu jati tua kontras dengan teknologi canggih di sekelilingnya menjadi tempat Kenzo meletakkan peta hologram global.

Aara berdiri di sudut ruangan, memperhatikan Kenzo dari kejauhan. Ia telah mengganti pakaian taktisnya dengan gaun tidur sutra hitam yang ia temukan di salah satu kamar di bunker ini. Meskipun tempat ini adalah markas militer, Kenzo tampaknya selalu menyiapkan kemewahan untuk "aset" yang ia simpan.

"Kau terlalu serius, Sayang," suara Aara memecah keheningan, bergema lembut. Ia berjalan mendekat, tumit telanjangnya tidak bersuara di atas karpet bulu. "Dunia mungkin sedang mencari kita, tapi di sini, kita punya waktu."

Kenzo tidak menoleh, matanya masih terpaku pada titik-titik merah di hologram yang melambangkan infrastruktur utama *The Hive*. "Mereka tidak akan berhenti, Aara. Leo hanya memberi kita waktu dua belas menit di radar, tapi intelijen FBA akan melacak jalur penerbangan terakhir kita dalam waktu kurang dari enam jam. Mereka akan menyisir pegunungan Ural sampai Siberia."

Aara berhenti tepat di belakang Kenzo, melingkarkan lengannya di pinggang pria itu. Ia menyandarkan pipinya di punggung lebar Kenzo, merasakan detak jantung suaminya yang stabil namun kuat. "Biarkan mereka mencari. Kau bilang tempat ini tidak ada di peta. Kau adalah hantu, Kenzo. Dan hantu tidak bisa diburu."

Kenzo menghela napas panjang, akhirnya mematikan hologram tersebut. Ia berbalik dalam pelukan Aara, menatap wajah istrinya yang tampak bercahaya di bawah lampu redup. Ada ketenangan yang aneh pada Aara, seolah-olah kenyataan bahwa ia membawa subjek eksperimen paling dicari di dunia justru memberinya kekuatan baru.

"Aku sudah meminta tim medis di bawah untuk menyiapkan pemindaian menyeluruh besok pagi," kata Kenzo sambil mengusap helai rambut Aara. "Kita perlu tahu apa sebenarnya yang dilakukan serum Valkyrie itu pada tubuhmu... dan pada dia."

Aara tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung sedikit kesedihan namun lebih banyak ketegasan. "Dia akan baik-baik saja. Aku bisa merasakannya. Dia tidak lemah, Kenzo. Dia adalah kombinasi dari kita berdua. Jika FBA menginginkan monster, mereka baru saja menciptakan orang tua dari monster itu."

Pagi harinya, suasana di The Vault berubah menjadi sangat klinis. Laboratorium medis bunker ini lebih canggih daripada banyak rumah sakit kelas dunia. Dr. Aris, seorang pria paruh baya dengan mata yang tajam dan tangan yang sangat stabil mantan ahli bedah militer yang berhutang nyawa pada Kenzo menunggu mereka.

"Tuan Arkana, Nyonya," Aris membungkuk hormat. "Semua instrumen telah dikalibrasi. Kita akan mulai dengan pemindaian biometrik frekuensi rendah agar tidak mengganggu perkembangan janin."

Aara berbaring di atas meja periksa yang dingin. Kenzo berdiri tepat di sampingnya, menggenggam tangannya erat-erat. Saat layar monitor menyala, diagram DNA yang sebelumnya mereka lihat di bunker Alpen muncul kembali, namun kali ini jauh lebih detail.

"Luar biasa," bisik Aris, jemarinya menari di atas layar sentuh. "Lihat di sini. Ini bukan mutasi acak. Ini adalah pengkodean ulang. Serum Valkyrie bertindak sebagai katalis. Ia tidak mengubah DNA asli Anda, Nyonya, tetapi ia membangun struktur pertahanan pada janin. Sistem kekebalannya... itu tidak masuk akal. Secara teoritis, anak ini tidak akan pernah bisa sakit oleh patogen apa pun yang dikenal manusia."

Kenzo menyempitkan matanya. "Lalu apa masalahnya? Mengapa mereka menyebutnya anomali yang mengerikan?"

Aris terdiam sejenak, ragu untuk melanjutkan. "Karena ia juga mempercepat perkembangan sinapsis saraf. Otak janin ini berkembang tiga kali lebih cepat dari kecepatan normal. Pada usia kehamilan empat bulan, ia mungkin sudah memiliki aktivitas otak yang setara dengan bayi yang baru lahir. Masalahnya adalah energi. Tubuh Nyonya Aara akan dikuras habis untuk mendukung pertumbuhan ini. Janin ini... dia adalah parasit yang sangat haus."

Aara menatap layar, melihat titik cahaya kecil yang berdenyut di dalam rahimnya. "Jadi, dia memakan tenagaku?"

"Bukan hanya tenaga, Nyonya. Dia mengambil segalanya. Jika asupan nutrisi dan stabilisasi serum tidak dijaga, tubuh Anda akan mengalami kegagalan organ sebelum dia lahir," jelas Aris.

Kenzo mengeratkan genggamannya pada tangan Aara hingga buku jarinya memutih. "Lakukan apa pun. Gunakan semua cadangan medis yang ada. Jika kau butuh peralatan baru, aku akan membajak pesawat kargo medis PBB jika perlu."

"Aku tidak butuh pesawat kargo, Kenzo," potong Aara, ia bangkit dari posisi berbaringnya dengan gerakan anggun namun penuh otoritas. "Aku butuh kepala orang yang merancang ini. Aku butuh data asli dari server pusat FBA."

Sore itu, sebuah sinyal terenkripsi masuk ke ruang komunikasi The Vault. Itu bukan dari FBA atau The Hive. Itu adalah saluran pribadi yang sangat spesifik.

"Kenzo, kau punya nyali besar membawa 'kargo' itu ke Siberia," suara seorang wanita, serak dan penuh wibawa, terdengar dari pengeras suara.

"Madam Vora," Kenzo mendengus pelan. "Aku bertanya-tanya kapan kau akan mencium bau darah ini."

Madam Vora adalah broker informasi terbesar di pasar gelap Eurasia. Dia tidak memiliki pasukan, tapi dia memiliki rahasia semua orang.

"Seluruh pasar sedang gempar. The Collector telah mengeluarkan kontrak terbuka. Siapa pun yang bisa membawa Aara hidup-hidup akan mendapatkan sepuluh persen saham dari seluruh operasional The Hive di Asia. Itu cukup untuk membeli sebuah negara kecil, Kenzo."

"Dia bisa mencoba," jawab Kenzo dingin.

"Dia memang akan mencoba. Tapi bukan itu alasanku menghubungimu. Aku punya pesan dari 'pihak ketiga'. Ada faksi di dalam FBA yang tidak setuju dengan cara Direktur Miller menangani Project Valkyrie. Mereka melihatmu bukan sebagai musuh, tapi sebagai sekutu yang tidak sengaja."

Aara, yang berdiri di samping Kenzo, langsung menyambar mikrofon. "Katakan pada 'pihak ketiga' itu, jika mereka ingin bicara, mereka harus mengirimkan protokol dekripsi untuk Level 7 server Valkyrie. Jika tidak, anggap setiap agen FBA yang mendekati Siberia sebagai mayat."

Ada tawa kecil dari ujung sana. "Cherry... kau masih tetap tajam. Baik, akan kusampaikan. Tapi berhati-hatilah. The Collector tidak menggunakan agen biasa lagi. Dia telah mengirim 'The Reapers'. Mereka tidak punya nama, tidak punya catatan medis, dan mereka tidak merasakan sakit."

Sambungan terputus.

Kenzo menoleh ke arah Aara. "The Reapers. Mereka adalah unit eliminasi yang biasanya hanya digunakan untuk mengubur bukti genosida."

Aara hanya tersenyum dingin. Ia berjalan ke arah rak senjata di dinding, mengambil sebuah pistol kustom kaliber .45 dan memeriksanya dengan cekatan. "Bagus. Aku butuh latihan sasaran. Siberia terlalu sunyi, bukan begitu, Suamiku?"

Malam kembali turun, membawa badai yang lebih ganas. Di dalam suite pribadi mereka, Kenzo sedang duduk di depan perapian, membersihkan komponen senapan runduk miliknya. Cahaya api menari-nari di wajahnya yang keras, mempertegas garis rahangnya yang kaku.

Aara keluar dari kamar mandi, uap air hangat masih menyelimuti kulitnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Kenzo yang kebesaran, membiarkan kancing atasnya terbuka. Ia berjalan mendekat dan duduk di pangkuan Kenzo, menyingkirkan bagian-bagian senjata ke meja samping.

"Kau terlalu banyak berpikir," bisik Aara, jemarinya membelai leher Kenzo, mencari sisa ketegangan di sana.

"Aku memikirkan cara membunuh ribuan orang agar kau bisa tidur dengan tenang," jawab Kenzo jujur, matanya menatap dalam ke mata Aara.

"Kau sudah melakukannya sejak kita di Alpen," Aara mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Tapi malam ini, aku tidak ingin kau menjadi Jenderal. Aku ingin kau menjadi suamiku."

Aara menggerakkan tangan Kenzo untuk menyentuh perutnya yang masih tampak rata bagi orang awam, namun terasa berbeda bagi Kenzo. Ada kehangatan yang tidak biasa di sana, sebuah denyut kehidupan yang seolah-olah mengenali sentuhannya.

"Dia sedang tumbuh, Kenzo. Dan dia butuh ayahnya untuk tetap tenang," gumam Aara. Ia mulai menciumi rahang Kenzo, memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan pria itu.

Kenzo mendesah pelan, menyerah pada godaan istrinya. Ia mengangkat Aara dengan mudah, seolah berat badannya bukan apa-apa, dan membawanya menuju tempat tidur besar di balik tirai.

"Jika dunia ini harus hancur agar kalian tetap aman, maka biarlah ia terbakar," ucap Kenzo rendah, suaranya sarat dengan janji yang mematikan sekaligus penuh kasih sayang.

Pukul 03.00 dini hari.

Alarm sunyi bergetar di pergelangan tangan Kenzo. Ia langsung terjaga, instingnya sebagai predator kembali aktif dalam hitungan detik. Ia menoleh ke samping, Aara juga sudah membuka matanya, tangannya secara refleks meraih pisau di bawah bantal.

"Perimeter luar terdeteksi," bisik Kenzo. Ia meraih tablet pemantau. "Sensor panas menangkap dua belas tanda di sektor utara. Mereka menggunakan baju kamuflase termal."

"The Reapers," desis Aara.

Kenzo segera mengenakan pakaian taktis hitamnya. "Tetap di sini bersama pengawal inti. Aku akan menyambut mereka di gerbang tambang."

"Tidak," Aara berdiri, mengenakan celana taktis dan jaket anti pelurunya dengan cepat. "Mereka datang untukku. Dan aku sudah bosan menjadi penonton."

"Aara, kondisimu—"

"Kondisiku sedang sangat haus darah, Kenzo. Jangan melarangku."

Kenzo menatap istrinya sejenak, melihat api yang sama yang pernah membuatnya jatuh cinta pada agen Cherry bertahun-tahun lalu. Ia mengangguk kecil. "Tetap di belakangku. Jangan ambil risiko yang tidak perlu."

Mereka bergerak melalui lorong-lorong sempit tambang garam yang remang-remang. Para prajurit pribadi Kenzo sudah berada di posisi masing-masing, tersembunyi di balik pilar-pilar garam raksasa.

Di gerbang utama, pintu baja setebal dua puluh sentimeter itu mulai bergetar. Seseorang di luar sana menggunakan alat pemotong plasma berkekuatan tinggi.

BZZZZZT!

Loncatan api muncul di sela-sela pintu. Dalam beberapa menit, sebuah lubang besar terbentuk. Granat asap dilemparkan ke dalam, memenuhi ruangan dengan kabut putih pekat.

"Sekarang," perintah Kenzo melalui earpiece.

Baku tembak pecah seketika. Namun, para penyerang ini berbeda. Mereka bergerak dengan presisi robotik. Bahkan saat tertembak di bahu atau kaki, mereka terus maju tanpa suara, tanpa teriakan kesakitan.

Kenzo melepaskan tembakan beruntun dari senapan serbu miliknya, menjatuhkan dua orang yang mencoba merangsek maju. Sementara itu, Aara bergerak seperti bayangan di sisi gelap lorong. Ia menggunakan kelebihan bunker yang ia hafal setiap sudutnya.

Seorang Reaper muncul di belakang Kenzo dengan pisau tempur panjang. Sebelum Kenzo sempat berbalik, sebuah peluru kaliber .45 menembus dahi Reaper tersebut. Aara berdiri di atas tumpukan karung logistik dengan asap tipis keluar dari moncong pistolnya.

"Satu sama," ucap Aara dengan kedipan mata centil di tengah desingan peluru.

Namun, pemimpin kelompok penyerang itu—seorang pria raksasa dengan topeng balistik besi—berhasil mencapai ruang kendali utama. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebuah detonator.

"Arkana!" teriak pria itu, suaranya terdistorsi oleh modulator. "Berikan subjeknya, atau tempat ini akan menjadi kuburan garam kalian!"

Kenzo keluar dari persembunyiannya, menurunkan senjatanya sebagai tanda tantangan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu meledakkan rumahku?"

Saat si Reaper akan menekan tombol detonator, sebuah kabel baja tipis melilit lehernya dari atas. Aara telah menjatuhkan diri dari pipa ventilasi di langit-langit, menggunakan berat tubuhnya untuk mencekik pria raksasa itu.

Kenzo bergerak cepat, menghujamkan pisau taktisnya tepat ke celah pelindung leher lawan. Darah hitam pekat menyembur, membasahi lantai es.

Pria raksasa itu ambruk. Aara mendarat dengan anggun, sedikit terengah karena aktivitas fisiknya yang berat bagi wanita hamil.

Kenzo segera mendekatinya, memeriksa apakah ada luka. "Kau gila. Kau bisa saja jatuh."

"Tapi aku tidak jatuh," Aara tersenyum penuh kemenangan. Ia mengambil detonator dari tangan mayat tersebut dan menghancurkannya dengan tumit sepatunya. "Mereka meremehkan seorang ibu, Kenzo. Itu adalah kesalahan fatal pertama mereka."

Setelah sisa-sisa kelompok Reaper dibersihkan, Kenzo menemukan sesuatu di saku pemimpin mereka. Sebuah ponsel satelit yang masih aktif dengan satu nomor yang tersimpan: The Collector.

Kenzo menekan tombol panggil.

"Sudah selesai?" suara di ujung sana terdengar tenang, hampir bosan.

"Hampir," jawab Kenzo dingin. "Aku punya dua belas mayat Reaper-mu di sini. Mereka akan menjadi pupuk yang bagus untuk es Siberia."

Hening sejenak di ujung telepon. "Kenzo Arkana. Kau selalu menjadi variabel yang mengganggu. Tapi kau tidak bisa melawan takdir biologis. Anak itu milik masa depan, bukan milik seorang mafia masa lalu."

"Anak ini akan menjadi masa depan yang menghancurkanmu," Kenzo mendekatkan ponsel itu ke arah Aara.

Aara mengambil alih bicara. "Collector. Aku tahu kau menonton ini melalui satelit. Lihat baik-baik."

Aara mengarahkan kamera ponsel ke arah logo FBA pada seragam salah satu Reaper yang mati, lalu ia meludahinya. "Aku akan mendatangi setiap laboratoriummu. Aku akan membakar setiap pusat datamu. Dan saat aku akhirnya sampai padamu, aku akan memastikan kau melihat bagaimana 'subjek' ini tumbuh menjadi akhir dari duniamu."

Kenzo mengambil ponsel itu kembali. "Jangan kirim orang lagi, Collector. Datanglah sendiri. Jika kau punya keberanian."

Kenzo menghancurkan ponsel itu dengan tangannya.

Ia berbalik menatap pasukannya yang masih tersisa. "Mulai hari ini, kita tidak lagi bersembunyi. Aktifkan protokol 'Black Sun'. Kita akan mulai menyerang jalur pasokan logistik The Hive di Eropa Timur. Jika mereka ingin perang, kita beri mereka kiamat."

Para prajurit itu bersorak, suara mereka bergemuruh di dalam gua garam.

Aara berjalan ke samping Kenzo, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Ia merasa lelah, sangat lelah, tapi di dalam dirinya, ia merasa lebih hidup dari sebelumnya.

"Jadi, apa rencana kita selanjutnya, Raja Mafia?" tanya Aara lembut.

Kenzo menatap ke arah pintu keluar, di mana matahari pagi Siberia mulai menyinari hamparan salju yang putih bersih, menjanjikan awal yang baru sekaligus darah yang baru.

"Kita akan menjemput Leo di Alpen. Dia punya informasi tentang lokasi Direktur Miller. Setelah itu... kita akan membuat dunia ini bertekuk lutut di depan putra kita."

Di kedalaman Siberia, di bawah perlindungan gunung garam yang abadi, sebuah aliansi yang paling ditakuti di dunia telah lahir kembali. Bukan sebagai agen dan target, melainkan sebagai sebuah keluarga yang akan menulis ulang sejarah dengan tinta darah dan api. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, mereka adalah badainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!