Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN
Sangat susah memutus tatapan Lingga pada Tania, bahkan beberapa teman di tim keuangan menaruh curiga. Pasalnya selama ini, Tania dan Lingga tak pernah terlibat kedekatan apapun, tapi kali ini tidak. Lingga sudah beberapa kali terciduk menatap Tania lama, namun Tania cuek bebek.
"Kayaknya Pak Lingga naksir kamu deh, Tan. Cuma selama ini diam," tebak Siska dengan sok serius menatap komputer. Nyatanya mengajak rumpi.
Tania hanya berdecak sebal, ia sudah tahu dan terasa kalau sedang diawasi, namun Tania tak mau menggubris. Ia masih sayang uang, khawatir Pak Yovi bertindak, Tania malah dipecat. Dapat uang dari mana, meski transferan Lingga selama ini juga masih utuh.
Tania sangat bisa menyimpan rahasianya, meski dipacari Lingga, ia tak menampilkan kehidupan glamor, tetap sederhana. Mungkin sikap low profile beginilah status kekasih gelap Lingga terjaga.
"Apa sebenarnya, Pak Lingga sudah naksir sama kamu sejak lulus kuliah, kata kamu dulu satu kelas," lanjut Siska mengintrogasi.
"Stop kali, calon tunangan orang loh. Kita cuma berteman, gak dekat juga. Dia punya mata kali, Sis, wajar kalau melihat aku! Mungkin perasaannya baru sadar kalau ternyata anak buahnya cantik juga," Tania terlalu pintar menyembunyikan perasaannya, digempur kecurigaan Siska, malah dibalas dengan banyolan. Mana percaya Siska kalau dulu Tania dan Lingga punya hubungan diam-diam.
"Tunangannya lebih cantik dari kamu kali, Tan!" ledek Siska sebal, kok ada perempuan senarsis Tania.
"Nah tuh tahu, gak mungkin Pak Lingga naksir aku kan, toh tunangannya lebih cantik, lebih kaya dan pastinya setara!" mulut bisa bilang begini, tapi hati siapa yang tahu, nyesek rasanya, karena semakin hari Tania sadar kalau dia sama sekali tak pantas untuk Lingga.
H-3 tunangan, kantor dikejutkan dengan pengunduran diri Lingga di kantor sang kakak, ternyata dia diminta menjadi pimpinan di kantor sang papa. Tentu saja peluang untuk bertemu antara Tania dan Lingga sangat kecil, mungkin orang tua Lingga hanya ingin sang putra fokus pada calon tunangannya itu. Tanpa melibatkan Tania dalam hidup Lingga.
Tania diam saja saat Lingga berpamitan, lelaki itu sampai menitikan air mata, rekan tim keuangan pun ikut menangis, tak disangka manajer yang super duper diam ternyata sangat menyanyangi anak buahnya. Dia hanya menyayangi aku, dan menangis karena berpisah denganku, batin Tania menegaskan.
Bahkan saat bersalaman untuk terakhir kalinya, Tania ragu untuk berjabat tangan, khawatir kalau Lingga menarik tubuhnya untuk dipeluk. Lingga bisa jaga perasaan, please jangan sampai bertingkah, harapan Tania dari lubuk hati yang paling dalam.
Ternyata bayangan buruk Tania tak terjadi, Lingga sangat bisa menjaga hubungan mereka apalagi ada Yovi yang sudah berdiri bersedekap, masuk ke ruangan tim keuangan. Tentu saja, Lingga tak berani, bahkan menatap Tania lama saja tidak.
"Hidup di dunia nyata memang kejam, Dek! Tak semua keinginan kamu bisa terwujud, toh kamu sudah merasakan tubuh Tania, untung banyak bukan," Yovi berniat bercanda, namun Lingga tak terima.
"Tania bukan cewek murahan, Bang. Dia maunya cuma sama aku," ujar Lingga masih membela, tapi kenyataannya memang begitu. Yovi hanya tersenyum muak dengan prinsip sang adik.
"Tapi kamu juga kasih uang kan tiap bulan ke dia?" Lingga mengangguk.
"Ya sama aja tukar kenikmatan, dia butuh uang, kamu butuh kenikmatan darinya," jelas Yovi. Namanya living together pasti ada barter yang setimpal.
"Wajarlah, bersama dia aku menemukan rumah. Wajar kalau aku kasih dia uang, karena hidup tak bisa hanya mengandalkan cinta," ucap Lingga, dan membuat Yovi tertawa.
"Kok kamu lebih dalam begitu urusan hati, kakak kalah dong!" ledek Yovi yang memang setelan cuek, yang penting kerja urusan hati nomor sekian. Sampai sekarang saja dia bersama istri tak pernah romantis, tapi bila sama anak beda.
"Gak usah ngeledek, sok-sok an cuek, tapi istri tiap tahun hamil," balas Lingga.
"Yah, wajar dong. Salah satu love languageku kan punya banyak anak, jadi pendorong biar kakak kerja keras, dan tak terjerumus ke hal-hal gelap. Mau bertingkah? Jelas takut karma, iya kalau karmanya ke Abang, kalau ke anak abang? Duh, ngomong begini saja merinding," ujar Yovi bijak.
"Karma ya Bang?"
"Iya, kalau orang sudah ditahap berpikir, melangkah sejengkal saja pasti yang dipikirkan efeknya. Menyakiti orang lain enggak, berimbas pada kehidupan kita gak. Jangan main trabas saja, seolah hidup hanya sebagai hiburan!" sengaja menyindir sang adik, agar tak mengulangi kesalahan seperti living together bersama Tania. Fokus pada takdir di jalan yang benar, sudah ada calon tunangan dan akan menjadi istri. Tak perlu bertingkah aneh-aneh, makin berat nanti karmanya.
"Abang benar sih, aku dan Tania juga asal aja saat memutuskan tinggal bersama, asal cinta saja. Tanpa berpikir ke depannya. Sekarang, aku menjalani hari sangat berat, tiap bangun tidur memikirkan dia nanti menikah dengan siapa, sedangkan dia sudah tak gadis," ucap Lingga sendu.
"Sudah tak perlu dipikirkan, Tania juga paham resikonya. Gak usah memikirkan hal yang sudah terjadi, sekarang fokus pada tunangan kamu dan Calista saja. Toh, Tania juga tak mengusikkan. Aku yakin hubungan gelap kalian tak pernah terendus siapa pun," ujar Yovi.
Lingga hanya mengangguk saja. Mencoba menjalani hari tanpa kehadiran Tania, sepi dan tangan ingin sekali mengirim pesan. Lingga hanya takut, kalau dia masih terus mengirim pesan pada Tania, perempuan itu akan memblokirnya, nah malah kelimpungan pasti.
Oleh sebab itu, Lingga akan menuruti permintaan Tania saja. Sudah cukup menyakiti hatinya, meninggalkan begitu saja, maka Lingga tak mau mempersulit kehidupan Tania kelak.
Pertunangan Lingga diadakan di sebuah hotel bintang 5, dihadiri hanya kolega kedua keluarga. Sedangkan para karyawan hanya bisa menyaksikan di postingan WO yang menanyangkan live tunangan tersebut.
Tania pun ikut melihat, hatinya serasa diiris belati, sangat tajam dan menyakitkan. Bagaimana cantiknya Calista dipasangkan cincin oleh Lingga adalah impian Tania sejak dulu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Sudah takdirnya kembali ditinggalkan.
"Kamu kuat, Tan!"begitu ia memberi semangat pada dirinya. Menjalani hari tanpa Lingga memang sangat hampa, tapi ia mencoba untul bangkit dan melupakan pria itu, apalagi pernikahan mereka hanya menghitung hari setelah pertunangan. Sudah tidak ada kesempatan bagi Tania untuk menjadi Nyonya Lingga.
Tiap hari, hidup Tania hanya untuk kerja. Ia akan mengambil jatah lembur agar badannya capek dan saat di rumah tinggal tidur, ia menyibukkan diri agar tak terlalu meratapi nasibnya.
Hingga H-2 sebelum Lingga menikah, Tania sengaja tidak lembur. Ia sampai rumah tepat pukul 6 sore, dalam keadaan hujan deras. Ia kaget saat mendapati Lingga duduk di teras rumahnya.
"Kamu ngapain?" tanya Tania heran.
GO go Tania semangat