NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Hari pertama kuliah dimulai. Pagi itu, Ferrari merah berhenti di gerbang kampus. Thalia keluar dengan gaya elegan, kacamata hitam, dan tas branded di lengannya. Semua mata langsung tertuju padanya.

Bisik-bisik mulai terdengar.

"Itu... Thalia? Si culun?"

"Gila, dia berubah total!"

"Ternyata cantik banget, jangan-jangan selama ini dia pura-pura jelek!"

"Ini sih cocok banget jadi pacarku"

"Ake meleleh kawan"

Dari kejauhan, Nadine yang baru turun dari mobilnya menatap tajam. Biasanya semua perhatian milik dia, tapi sekarang... spotlight sepenuhnya ada di Thalia. Rasa iri dan benci dalam dirinya kian semakin besar.

Di sisi lain kampus, Aurora dan gengnya sudah melihat Thalia berjalan santai melewati lapangan basket. Tempat itu ramai mahasiswa, beberapa duduk di bangku, beberapa bermain.

Aurora tersenyum miring. "Akhirnya si culun ini muncul. Yuk, kita sambut," ucapnya pada Celina dan Alara.

Mereka menghadang Thalia di tengah lapangan.

"Wah, Nona Thalia... lama tak jumpa," ujar Aurora sinis. "Sejak kapan kau belajar menyamar jadi orang kaya yang sok cantik? Sewa mobil ini berapa per jam?"

Beberapa mahasiswa berhenti, menonton dari jauh. Thalia melepas kacamatanya, menatap Aurora datar. "Dan sejak kapan kau punya hak mengatur hidupku?"

Celina ikut menyindir. "Kalau mau sok mewah, minimal jangan beli tas KW, sayang."

Thalia tertawa kecil. "Lucu sekali. Kalian berusaha keras mencari bahan untuk menjatuhkanku, tapi yang terlihat putus asa justru kalian."

Aurora kesal. "Apa kau bilang?!" Ia melangkah maju, tapi Thalia menahan dengan satu gerakan cepat-tamparan ringan namun terdengar jelas di tengah lapangan.

Plak!

Kerumunan langsung riuh.

"Gila! Aurora Dia tampar!"

"Aurora nggak pernah dipermalukan kayak gini!"

Thalia mendekat, berbisik di telinga Aurora.

"Ingat, aku bukan Thalia yang dulu. Sentuh aku sekali lagi, kau akan lebih malu dari ini."

Aurora membeku, wajahnya merah karena malu dan marah. Celina dan Alara menatap bingung, tak berani bergerak.

Dari sisi lain lapangan, Leon dan tiga temannya -Henry, Harsha, Alvaro menonton kejadian itu.

"Siapa dia? Cantik banget," kata Henry.

"Itu Thalia? Serius?" Harsha melongo.

Leon hanya menatap, teringat momen saat Thalia jatuh di pelukannya tempo hari.

Thalia lalu melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Aurora dan gengnya yang terpaku di tempat. Bisik-bisik mahasiswa terus mengikuti langkahnya.

Aurora mengepalkan tangan. "Baiklah, Thalia... kau akan menyesal."

Di kejauhan, Nadine berdiri sambil tersenyum tipis. Pura-pura tidak peduli, tapi dalam hati ia sudah menunggu kesempatan berikutnya untuk menjatuhkan Thalia.

**

Hari pertama kuliah di semester baru terasa berbeda. Begitu Thalia membuka pintu kelas, semua kepala langsung menoleh. Ruangan yang tadinya ramai mendadak hening beberapa detik.

Para mahasiswa lelaki menatapnya tanpa berkedip. Ada yang pandangannya penuh kekaguman, ada juga yang memandang dengan tatapan lapar. Sementara para mahasiswi-setengahnya berbisik-bisik sambil melirik, setengahnya lagi hanya bisa memandang dengan tatapan iri.

"Dia... Thalia, kan?" bisik salah satu mahasiswi di barisan belakang.

"Bukan cuma cantik, tapi auranya beda banget sekarang."

"Aku pikir dia cuma anak angkat keluarga Anderson. Dari mana dia bisa bergaya seperti itu?"

Thalia berjalan santai menuju kursinya di deretan tengah. Hari ini ia memakai blouse satin berwarna putih tulang, celana panjang high-waist hitam, dan heels tipis. Penampilannya rapi, elegan, tanpa berlebihan. Tasnya? Limited edition dari brand ternama, yang bahkan sebagian besar mahasiswa di sini hanya berani memandang di etalase.

Thalia duduk tanpa menanggapi bisikan atau lirikan yang mengikutinya sejak pintu kelas. Ia hanya mengeluarkan tablet dan buku catatan.

Kuliah tetaplah kuliah, pikirnya.

Selama dosen menjelaskan materi, bisik-bisik gosip tetap mengalir di pojok-pojok kelas. Nama Thalia menjadi topik paling panas hari itu.

"Katanya dia cuma anak angkat yang tidak diakui."

"Tapi lihat mobilnya tadi di parkiran, Ferrari! Kalau cuma anak angkat, mana mungkin punya?"

"Jangan-jangan... dia sebenarnya anak keluarga kaya lain yang identitasnya disembunyikan?"

"Apa mungkin selama ini dia anak keluarga kaya yang sedang mencoba hidup miskin"

Thalia bisa mendengar sebagian percakapan itu, tapi ia tidak peduli. Ia sudah terbiasa menjadi bahan omongan. Bedanya, sekarang omongan itu bukan lagi mengejek penampilan culunnya, tapi bertanya-tanya tentang kemewahannya.

Jam kuliah berlalu. Begitu dosen menutup kelas, Thalia berkemas. Beberapa mahasiswa laki-laki mencoba memulai percakapan, tapi ia hanya tersenyum sopan dan pergi.

Begitu sampai di parkiran kampus, ia langsung menuju Ferrari merahnya. Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat menghentikan langkah, pura-pura sibuk main ponsel sambil mengamati.

Saat Thalia masuk ke mobil dan menekan tombol start, ponselnya berdering. Nama Rina muncul di layar.

Thalia mengangkatnya sambil tersenyum kecil. "Ada apa, Rina?"

Suara Rina terdengar bersemangat. "Nyonya! Saya baru saja dapat kabar dari Gotta Labels. Minggu depan, nyonya akan tampil di acara Who's The Best Singer!"

Thalia mengerjap. "WTBS?"

"Iya! Acara itu acara musik populer di seluruh negeri. Semua genre penyanyi bisa ikut, tapi persaingannya ketat. Yang lolos tampil di panggung utama biasanya hanya penyanyi dengan teknik suara dan panggung yang luar biasa."

Thalia menyalakan AC mobil, lalu bersandar di kursi. "Aku tahu. Belakangan aku sering menonton siaran ulang tahun lalu. Pemenangnya dapat lagu kemenangan dan mini album dari komposer top. Kesempatan ini langka."

"Bukan cuma itu," lanjut Rina, suaranya semakin heboh, "acara itu ditonton jutaan orang. Sekali tampil, langsung viral kalau penampilanmu bagus. Dan juri-jurinya? Mereka legenda di dunia musik."

Thalia mengangguk sendiri. Ia masih ingat di kehidupan sebelumnya, ia sering menolak undangan menjadi juri acara yang serupa WTBS karena jadwalnya padat dengan konser dan syuting. Sekarang... ia justru membutuhkan acara ini untuk comeback, dan tentunya sebagai peserta.

"Siapkan semuanya, Rina," kata Thalia mantap. "Mulai dari wardrobe, pemilihan lagu, sampai latihan vokal. Aku mau penampilanku nanti... tak terlupakan."

"Baik, Nyonya!" jawab Rina semangat. "Oh ya, pihak Gotta Labels sudah menyiapkan ruang latihan nyonya mulai besok. Mereka sangat serius."

Thalia tersenyum tipis. "Bagus. Kita akan buat semua orang sadar... bahwa aku bukan hanya sekadar wajah cantik."

Panggilan berakhir. Thalia mematikan ponselnya sejenak, memandang ke luar jendela. Di kejauhan, beberapa mahasiswa masih melirik mobilnya dengan rasa penasaran. Ia tahu gosip tentang dirinya akan terus berputar di kampus, tapi ia tidak peduli. Itu bukan urusannya.

Yang terpenting sekarang adalah

mempersiapkan penampilan di WTBS. Satu minggu bukan waktu yang lama, tapi cukup untuknya-karena ia pernah melalui panggung yang jauh lebih besar dari ini.

Thalia menarik napas dalam, lalu menyalakan mesin dan meninggalkan parkiran. Di kaca spion, ia sempat melihat beberapa mahasiswa mengangkat ponsel, mungkin memotret atau merekam. Biarlah. Semakin banyak yang penasaran, semakin besar efek penampilannya nanti.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!