Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Empat bulan berlalu sejak Arka pertama kali berdiri di lahan kosong itu. Empat bulan yang terasa seperti empat tahun.
Sekarang, awal Juni 2026, Jakarta tidak lagi seperti yang orang kenal.
Suhu siang hari turun hingga dua belas derajat. Di malam hari, termometer menyentuh angka empat. Tidak ada yang membayangkan ini terjadi di kota yang dulu panasnya menyengat. Orang-orang mulai mengenakan jaket tebal ke mana-mana. Warung kopi yang biasanya buka dua puluh empat jam sekarang tutup lebih awal karena tidak ada pembeli. Sekolah-sekolah mulai meliburkan siswa karena tidak ada pemanas di ruang kelas.
Dan semua orang mulai bertanya: apa yang terjadi?
Arka berdiri di atap hotel yang hampir selesai. Hotel tiga lantai dengan fasad sederhana itu tidak mencolok. Dari luar, tampak seperti hotel keluarga biasa. Tapi di bawahnya, delapan belas meter ke dalam tanah, bunker telah selesai dibangun dua minggu lalu.
Dinding baja setebal empat meter. Pintu hidrolik yang beratnya setengah ton. Sistem ventilasi dengan filter HEPA yang mampu menyaring udara dari salju dan debu. Sumur bor yang mencapai air tanah. Panel surya di atap yang masih berfungsi meskipun sinar matahari mulai berkurang. Genset dengan stok solar seribu liter.
Dan terowongan. Terowongan sepanjang seratus meter yang menghubungkan bunker ke stasiun MRT Sudirman, digali malam hari oleh dua pekerja yang dibayar mahal. Terowongan itu kini tersembunyi di balik dinding palsu, siap menjadi jalan keluar jika diperlukan.
Di belakang Arka, Pratama berdiri dengan tangan di saku jaket tebalnya. Wajahnya tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Tetap tenang, tetap waspada.
“Semua sudah siap, Mas,” kata Pratama. “Barang-barang sudah dipindahkan semalam. Tim tinggal menunggu instruksi.”
Arka mengangguk. “Hari ini.”
“Hari ini?”
“Malam ini. Sebelum suhu turun di bawah nol.”
Pratama tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengangguk, lalu berjalan turun untuk menyiapkan tim.
Arka masih berdiri di atap. Dari ketinggian, dia melihat Jakarta yang mulai berubah. Jalanan tidak lagi macat seperti dulu. Orang-orang lebih banyak tinggal di rumah. Toko-toko mulai tutup. Di kejauhan, terlihat kepulan asap dari pembakaran sampah—mungkin orang-orang yang mulai panik, berusaha menghangatkan diri dengan cara apa pun.
Ponsel di saku bergetar. Berita terbaru.
“Pemerintah mengumumkan status darurat nasional. Semua aktivitas di luar rumah dihentikan sementara.”
“Gelombang pengungsi dari Eropa dan Amerika Utara membanjiri Asia Tenggara. Singapura menutup perbatasan.”
“Ilmuwan memperingatkan bahwa puncak musim dingin akan mencapai Indonesia dalam hitungan hari.”
Arka membaca semua itu dengan tenang. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak awal.
Malam itu, Jakarta berbeda.
Suhu turun menjadi dua derajat. Angin bertiup kencang, membawa bau asap dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tidak pernah dirasakan orang Jakarta sebelumnya.
Arka berdiri di depan hotel. Di sampingnya, Umar, Dewi, Wawan, Rina, dan Pratama. Mereka semua membawa tas besar berisi pakaian dan barang pribadi. Tidak banyak. Hanya yang penting.
“Ini dia,” kata Arka pelan.
Mereka masuk ke dalam hotel. Melewati lobi kecil dengan meja resepsionis kosong. Melewati dapur yang tidak pernah digunakan. Hingga sampai di pintu besi di ruang belakang.
Pintu itu berat. Arka membutuhkan dua tangan untuk membukanya. Di balik pintu, tangga beton menurun ke bawah. Lampu LED menyala redup, cukup untuk melihat.
Satu per satu mereka turun. Arka yang terakhir. Sebelum menutup pintu, dia menoleh ke belakang sekali lagi.
Lobi hotel kosong. Lampu-lampu di langit-langit masih menyala, tapi terasa redup. Di luar, angin meraung, menerpa kaca jendela dengan suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.
Selamat tinggal, pikir Arka.
Dia menutup pintu. Menggeser baut pengaman. Lalu menuruni tangga.
Di bawah, dunia yang berbeda menunggu.
Bunker itu luas. Dinding baja yang dingin, lantai beton yang halus, udara yang terasa lebih hangat karena sistem ventilasi mulai bekerja. Ruang utama berukuran sekitar sepuluh kali lima belas meter. Di satu sisi, rak-rak besi berisi stok makanan dan air. Di sisi lain, ruang tidur kecil dengan ranjang susun. Di sudut, ruang genset dengan panel surya sebagai sumber listrik utama.
Rina sudah menuju ke ruang tanam. Di ruangan kecil dengan lampu grow yang menyala terang, rak-rak hidroponik berbaris rapi. Bibit sayuran baru saja ditanam minggu lalu. Dalam beberapa minggu, mereka akan mulai panen.
Umar memeriksa genset. Suara mesin menyala pelan, stabil. “Semua aman,” katanya.
Dewi menyiapkan ruang medis. Meja periksa, lemari obat, perban, alat suntik. Semua tertata rapi.
Wawan memeriksa panel surya di layar monitor. “Energi dari panel surya enam puluh persen. Masih cukup untuk kebutuhan dasar. Genset cadangan siap jika diperlukan.”
Pratama berdiri di dekat pintu masuk, memeriksa kamera pengawas yang terhubung ke monitor kecil. Di layar, terlihat lobi hotel yang kosong. Jalan di depan hotel yang sepi.
Arka berjalan ke ruang kontrol. Sebuah meja dengan laptop, monitor, dan radio komunikasi. Dia duduk, membuka laptop, membuka aplikasi berita.
Semua berita sama. Kepanikan. Kekacauan. Dunia yang mulai membeku.
“Suhu di Jakarta turun hingga minus satu derajat. Hujan salju pertama dalam sejarah tercatat di kawasan Kemang.”
“Pemerintah mengumumkan jam malam pukul delapan malam. Warga dilarang keluar rumah.”
“Antrean panjang di SPBU dan supermarket. Banyak tempat kehabisan stok.”
Arka menutup laptop. Dia berjalan ke pintu bunker, menempelkan telinga ke dinding baja.
Dia tidak mendengar apa-apa. Hanya angin. Angin yang meraung di atas sana.
“Mas,” suara Pratama dari belakang. “Kita sudah aman di sini?”
Arka menoleh. “Aman.”
“Untuk berapa lama?”
“Untuk setahun. Mungkin lebih.”
Pratama mengangguk. Tidak ada rasa takut di matanya. Hanya kesiapan.
Arka berjalan ke ruang utama. Timnya sedang duduk di meja panjang, menunggu. Wajah mereka beragam. Umar terlihat gelisah, jari-jarinya mengetuk meja. Dewi tenang, memegang ponsel yang sudah tidak ada sinyal. Wawan membaca buku panduan panel surya. Rina memeriksa catatan tanamnya.
Pratama berdiri di belakang, tangan di saku.
Arka berdiri di hadapan mereka. Dia tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang. Tapi ini saatnya.
“Saya tidak akan banyak bicara,” kata Arka. “Kalian semua di sini karena saya membutuhkan kalian. Dan saya yakin kalian juga butuh tempat ini. Dunia di atas sana sedang berubah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang saya tahu: di sini, kita aman. Kita punya makanan, air, listrik, obat-obatan. Cukup untuk setahun. Mungkin lebih.”
Dia menatap satu per satu.
“Tugas kalian sekarang sederhana. Bertahan. Bekerja. Jangan buang-buang sumber daya. Dan yang paling penting: jangan keluar.”
Umar mengangkat tangan. “Mas, keluarga saya... mereka masih di atas. Saya tidak bisa—”
“Keluarga kita semua masih di atas,” potong Arka. “Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka sekarang. Yang bisa kita lakukan adalah bertahan hidup. Kalau kita mati, tidak ada yang akan menolong siapa pun.”
Umar menunduk. Tidak menjawab.
Arka tidak menambahkan apa-apa. Dia sudah mengatakan yang perlu dikatakan.
Malam itu, Arka tidak bisa tidur.
Dia berbaring di ranjang susun, mendengar suara mesin ventilasi yang berputar pelan. Di atas sana, Jakarta sedang membeku. Orang-orang yang dulu sibuk dengan urusan masing-masing, sekarang berlarian mencari kehangatan. Supermarket dijarah. SPBU tutup. Rumah sakit kewalahan.
Dan Sari. Andre. Semua orang yang dulu mengkhianatinya. Mereka mungkin sedang berlarian di atas sana, mencari tempat berlindung, mencari makanan, mencari kehangatan.
Arka menutup mata.
Biarkan mereka. Itu bukan urusanku lagi.
Tapi dia tidak bisa tidur. Akhirnya dia bangun, berjalan ke ruang kontrol. Di monitor, kamera pengawas masih menampilkan lobi hotel yang kosong. Jalan di depan hotel yang gelap. Dan di sudut layar, sesuatu yang tidak dia lihat sebelumnya.
Putih. Putih yang bergerak perlahan, menutupi aspal, menutupi trotoar, menutupi mobil-mobil yang terparkir.
Salju.
Arka menatap layar itu lama. Di kehidupan pertama, dia tidak sempat melihat salju pertama. Dia sudah terlalu sibuk bertahan. Sekarang dia bisa melihatnya. Cantik. Tapi mematikan.
Ponsel di meja bergetar. Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Ark, tolong aku. Aku tidak punya tempat tinggal. Andre pergi. Semua orang pergi. Aku kedinginan. Tolong...”
Arka membaca pesan itu. Dia tahu siapa pengirimnya. Sari.
Dulu, pesan ini akan membuatnya panik. Dulu, dia akan berlari keluar, mencari Sari, membawanya ke tempat aman. Tapi Sari sudah memilih. Sari sudah menunjukkan siapa dirinya.
Arka meletakkan ponsel di meja. Dia tidak membalas.
Di monitor, salju terus turun. Menutupi semuanya. Jakarta yang dulu ramai, kini sunyi. Mati.
Arka berjalan ke pintu bunker. Dia menempelkan telapak tangan ke dinding baja. Dingin. Tapi tidak sedingin yang di luar.
“Mas, tidak tidur?”
Suara Pratama dari belakang. Pria itu berdiri dengan segelas kopi hangat.
“Tidak bisa,” jawab Arka.
Pratama mendekat, berdiri di samping Arka. Mereka berdua diam, mendengar suara mesin ventilasi dan angin di atas sana.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Mas?” tanya Pratama.
Arka menatap pintu baja yang menutup rapat. Di balik pintu itu, dunia sedang mati. Tapi di sini, di dalam bunker yang dia bangun dengan tangannya sendiri, mereka masih hidup.
“Kita tunggu,” kata Arka.
“Tunggu apa?”
“Sampai aman. Sampai yang terburuk lewat. Lalu kita keluar. Dan kita bangun sesuatu yang baru.”
Pratama mengangguk. “Kedengarannya seperti rencana.”
Arka tersenyum kecil. Senyum pertama yang muncul setelah sekian lama. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum lega. Senyum orang yang selamat.
Dia menoleh ke monitor sekali lagi. Salju terus turun. Jakarta mulai terkubur.
Tapi dia tidak takut. Dia sudah mempersiapkan ini sejak lama. Dan dia siap.
“Selamat datang di dunia baru,” bisik Arka.
Di luar, angin meraung. Di dalam, mesin ventilasi berputar pelan. Dan di tengah semua itu, Arka duduk di kursi ruang kontrol, menatap layar, menunggu.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁