NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Pagi itu, mentari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Arvin, memantulkan cahaya pada botol infus yang kini sudah kosong.

Kondisi fisik Arvin menunjukkan kemajuan signifikan, rona merah mulai kembali di wajahnya, meski tubuhnya masih terasa kaku. Namun, pemandangan di samping tempat tidurnya membuat matanya yang tajam terpaku lebih lama dari biasanya.

Zoya tertidur dalam posisi duduk di kursi kayu, kepalanya tersandar di sisi ranjang dengan beralaskan lengannya yang kecil. Di samping tangannya, sebuah buku tebal berjudul 'Analisis Ekonometrika' terbuka lebar, penuh dengan coretan catatan kaki. Di bawah kursi, beberapa tumpukan jurnal kuliah berserakan.

Arvin memperhatikan wajah yang tertutup cadar itu. Meski ia tak bisa melihat raut wajah Zoya sepenuhnya, ia bisa melihat betapa kelopak mata wanita itu tampak sembap.

Zoya telah melakukan hal yang mustahil, ia tetap menghadiri kuliah pagi secara daring, mengerjakan tugas-tugas sulit, dan di saat yang sama, tidak pernah terlambat satu menit pun untuk mengganti kompres atau menyuapkan obat pada Arvin.

"Bodoh," bisik Arvin pelan, namun suaranya tidak mengandung kebencian seperti biasanya. "Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri seperti ini?"

Gerakan kecil Arvin saat mencoba memperbaiki posisi bantalnya membuat Zoya tersentak bangun. Wanita itu langsung menegakkan punggung, menyesuaikan letak cadarnya dengan panik.

"Tuan? Anda butuh sesuatu? Maaf, aku tertidur," suara Zoya parau, khas orang yang baru bangun dan sangat kelelahan. Ia segera meraih termometer di atas nakas. "Aku cek suhunya dulu."

Arvin menepis tangan Zoya, namun tidak sekasar biasanya. "Tidak usah. Aku sudah merasa jauh lebih baik."

Zoya menghela napas lega, matanya berbinar meski tampak lelah. "Alhamdulillah. Kalau begitu, aku akan siapkan bubur hangat dan obat pagimu. Setelah itu, aku harus segera berangkat ke kampus untuk ujian tengah semester."

Mendengar kata kampus, raut wajah Arvin langsung berubah mendung. Gengsinya yang setinggi langit kembali mengambil alih kendali. "Kau mau ke kampus dengan mata seperti panda begitu? Kau ingin membuat orang-orang di sana mengira aku menyiksamu sebagai istri?"

Zoya tertegun sambil memegang buku kuliahnya. "Tuan, ujian ini sangat penting. Aku sudah belajar semalaman di sampingmu agar tidak tertinggal."

"Belajar semalaman?" Arvin melirik tumpukan buku di lantai dengan sinis. "Pantas saja wajahmu terlihat mengerikan. Masuk ke kamarmu dan tidurlah. Aku akan menyuruh asistenku untuk mengurus surat izin sakitmu ke pihak universitas."

"Tidak bisa, Tuan. Ini ujian praktikum, tidak bisa digantikan dengan surat izin," bantah Zoya lembut namun tegas. Ia mulai membereskan buku-bukunya. "Aku hanya perlu mencuci muka, lalu aku akan segera sehat kembali."

Kemarahan Arvin mulai tersulut, namun bukan kemarahan karena benci, melainkan rasa frustrasi melihat keras kepala Zoya yang sangat mirip dengan dirinya.

Ia juga merasa tidak nyaman, ada bagian dari dirinya yang egois yang ingin Zoya tetap di sini, di jangkauan pandangannya, menjaganya dengan aroma menenangkan itu. Tapi ia terlalu angkuh untuk mengatakan. 'Aku khawatir padamu' atau 'Tolong jangan pergi dulu.'

Tiga puluh menit kemudian, Zoya kembali dengan nampan berisi bubur ayam jahe yang aromanya sangat menggugah selera. Ia meletakkannya di atas meja kecil di tempat tidur Arvin.

"Makanlah selagi hangat, Tuan. Setelah ini aku berangkat. Supir Tuan sudah menunggu di bawah?" tanya Zoya.

Arvin menatap bubur itu, lalu menatap Zoya yang sudah siap dengan tas ranselnya. "Aku tidak mau makan kalau kau pergi."

Zoya mengerjapkan mata, bingung. "Tuan, kau sudah dewasa. Kau harus makan agar antibiotiknya bekerja."

"Kau menguliahi aku?" Arvin mendengus. "Dengar, Zoya. Kau terlihat sangat pucat. Jika kau pingsan di jalan, itu akan merusak reputasiku. Orang-orang akan bilang CEO Dewangga Group tidak bisa menafkahi istrinya sampai istrinya kurang gizi."

"Aku hanya kurang tidur, Tuan, bukan kurang gizi," jawab Zoya, hampir ingin tertawa namun ia tahan.

Arvin tiba-tiba meraih mangkuk bubur itu dan meletakkannya kembali ke nampan dengan kasar. "Pergi tidur, Zoya Alana! Itu perintah!"

"Tapi Tuan, ujian aku..."

"Persetan dengan ujianmu!" suara Arvin meninggi, membuat Zoya tersentak. Arvin memalingkan wajah, menyembunyikan rasa cemas yang membuatnya tampak konyol. "Maksudku... aku tidak mau rugi. Ya, benar. Aku tidak mau rugi!"

Zoya mengerutkan kening. "Rugi apa maksudmu?"

Arvin berdehem keras, mencari-cari alasan di balik gengsinya yang mulai retak. "Kalau kau memaksakan diri ke kampus, lalu kau jatuh sakit atau tertular penyakit lain, siapa yang akan memasakkan bubur enak ini untukku besok? Siapa yang akan mengurus infusku? Perawat bayaran tidak ada yang bisa memasak sepertimu. Mereka hanya melakukan tugas secara mekanis."

Arvin menunjuk ke arah pintu kamar dengan telunjuknya yang masih sedikit gemetar. "Jadi, masuk ke kamarmu sekarang. Tidur sampai sore. Aku tidak mau perawatku ambruk hanya karena obsesi bodoh pada nilai kuliah. Aku hanya memikirkan kenyamananku sendiri, mengerti?"

Zoya terdiam selama beberapa detik. Ia menatap Arvin yang sedang sibuk membetulkan letak selimutnya dengan wajah yang diusahakan sedingin mungkin, meski telinga pria itu tampak sedikit memerah.

Zoya tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia tahu betul cara bicara Arvin. Pria ini tidak pernah diajarkan cara mengasihi, jadi ia menggunakan bahasa untung rugi dan perintah untuk menutupi perhatiannya.

"Baiklah, Tuan Arvin," ucap Zoya lembut. "Aku akan tidur di kamar sebelah. Aku akan ikut ujian susulan minggu depan. Kau benar, kesehatanku adalah aset untuk merawatmu."

Arvin mendengus puas. "Bagus kalau kau sadar posisi."

Zoya berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berbalik. "Terima kasih, Tuan... karena sudah tidak ingin rugi atas kesehatanku."

"Jangan banyak bicara! Cepat tidur!" seru Arvin ketus.

Begitu pintu tertutup, Arvin mengembuskan napas panjang yang ia tahan sejak tadi. Ia meraih mangkuk bubur itu dan mulai memakannya dengan lahap. Rasa jahe yang hangat menjalar di kerongkongannya, namun rasa hangat di dadanya jauh lebih terasa.

"Wanita aneh," gumamnya pelan.

Arvin melirik buku ekonometrika Zoya yang tertinggal di atas nakas. Ia mengambil buku itu, membukanya, dan melihat sebuah foto kecil yang terselip di halaman tengah.

Foto Zoya bersama kedua orang tuanya saat kelulusan SMA. Zoya di foto itu belum memakai cadar, hanya jilbab sederhana, menampakkan senyum yang begitu tulus dan murni.

Arvin mengusap foto itu dengan jempolnya. Ada sesuatu yang bergetar di hatinya, sebuah perasaan protektif yang selama ini hanya ia tujukan pada bisnisnya. Kini, perasaan itu mulai bergeser pada wanita yang sedang tertidur di kamar sebelah.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Zoya. Bahkan diriku sendiri pun... akan kucoba untuk tidak melakukannya lagi," bisiknya pada keheningan kamar.

Sore harinya, saat Zoya terbangun dan kembali ke kamar Arvin, ia mendapati suaminya sedang mencoba berdiri dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi.

"Tuan! Jangan dipaksakan!" Zoya berlari kecil menghampiri dan memegang lengan Arvin untuk menyangganya.

Arvin sempat ingin menepis, namun rasa pening yang tiba-tiba menyerang membuatnya terpaksa bersandar pada bahu Zoya. Untuk sesaat, mereka berdiri sangat dekat. Wangi deterjen bunga matahari dari pakaian Zoya menyerbu indra penciuman Arvin.

"Aku bisa sendiri," ucap Arvin, namun tangannya mencengkeram bahu Zoya dengan erat.

"Biarkan aku membantumu sampai pintu, Tuan. Gengsi tidak akan membantumu berjalan kalau kakimu masih lemas," sindir Zoya kecil.

Arvin menatap Zoya dari samping. Di balik cadar itu, ia tahu Zoya sedang tersenyum mengejeknya. "Kau mulai berani menyindirku ya, setelah aku memberimu waktu tidur?"

"Aku hanya bicara fakta, Tuan," jawab Zoya kalem.

Setelah membantu Arvin, Zoya kembali merapikan tempat tidur. Namun langkahnya terhenti saat melihat buku kuliahnya terbuka di atas nakas, tepat pada halaman di mana ia menyimpan foto keluarganya.

Zoya menatap Arvin yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. "Anda melihat fotoku, Tuan?"

Arvin berdehem, kembali memasang wajah datarnya. "Tergeletak begitu saja, jadi tidak sengaja terlihat. Lagipula, siapa yang masih menyimpan foto fisik di zaman digital seperti ini? Ketinggalan zaman."

Zoya mengambil fotonya, menatapnya dengan penuh rindu. "Ini satu-satunya hartaku yang paling berharga, Tuan. Ini yang mengingatkanku untuk tetap kuat, sejauh apa pun aku terasing di rumah ini."

Kalimat 'terasing di rumah ini' memukul Arvin dengan telak. Ia teringat bagaimana ia menyebut pernikahan ini sebagai rahasia yang memalukan.

"Mulai besok," Arvin memutus keheningan dengan suara yang lebih berat. "Kau tidak perlu turun dua blok sebelum kampus. Aku akan menyuruh supir mengantarmu sampai depan lobi."

Zoya terbelalak. "Tapi Tuan, kau bilang citramu..."

"Aku pemilik Dewangga Group. Kalau aku bilang supirku mengantar kerabat jauh, siapa yang berani membantah?" potong Arvin cepat. "Lagipula, aku tidak mau kau kelelahan jalan kaki lagi dan jatuh sakit. Aku sudah bilang kan, aku tidak mau rugi!"

Arvin segera naik ke tempat tidur dan menarik selimut hingga ke dada, membelakangi Zoya agar wanita itu tidak melihat wajahnya yang entah mengapa terasa panas.

Zoya terpaku di tempatnya berdiri. Meski Arvin tetap bicara dengan nada kasar dan penuh perhitungan, Zoya tahu satu hal pasti. Dinding es itu tidak hanya retak, tapi mulai mencair.

Namun, di tengah momen hangat itu, ponsel Arvin di atas meja berdering. Sebuah nama muncul di layar, membuat suasana seketika berubah mencekam.

"NADIA CALLING..."

Zoya melihat nama itu, dan ia melihat bagaimana tubuh Arvin menegang seketika. Masa lalu yang ingin dihancurkan Arvin kini kembali mengetuk pintu, membawa badai yang jauh lebih besar dari sekadar demam tifus.

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
aaaaccchhhhhh 😭😭😭😭😭nyesek q Zo... g tahan u di perlakukan sekeras itu sama Arvin
ρυтяσ kang'typo✨
mau sampe kapan kau bertahan Zoya🥺😤😭🤧ikut kesel dengan tingkah Arvin
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!