Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan di Tengah Malam
Malam kian merayap di perbukitan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, kehangatan yang biasanya menyelimuti The Dendra Foundation setelah makan malam kini tergantikan oleh suasana yang mencekam. Di meja makan tadi, Luna hanya sanggup menelan beberapa suap nasi sebelum wajahnya kembali berubah pucat pasi. Aroma masakan yang biasanya menggugah selera kini seolah menjadi racun bagi indra penciumannya.
Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, rasa mual itu kembali menghantam dengan kekuatan yang lebih besar. Luna tidak sempat lagi menyapa anak-anak yang menunggunya di depan pintu. Ia berlari kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan segera mengunci diri di kamar mandi.
Di luar pintu kamar mandi, Isaac berdiri dengan kepalan tangan yang mengeras. Suara mual Luna yang terdengar begitu menyakitkan seolah mencabik-cabik hatinya. Ia mondar-mandir di depan pintu, jemarinya sesekali menyisir rambutnya dengan kasar—sebuah tanda bahwa sang arsitek yang biasanya tenang kini sedang berada di puncak kecemasannya.
"Luna... buka pintunya, Sayang," panggil Isaac dengan suara yang bergetar karena emosi.
Pintu terbuka perlahan. Luna muncul dengan tubuh yang gemetar hebat, matanya berkaca-kaca karena rasa perih di tenggorokannya. Ia tampak begitu rapuh, seolah embusan angin sedikit saja bisa membuatnya tumbang. Isaac segera menyambar tubuh istrinya, membimbingnya menuju ranjang dengan langkah yang tergesa namun tetap penuh kehati-hatian.
"Kita ke rumah sakit sekarang," tegas Isaac sembari meraih kunci mobil di atas meja nakas. Wajahnya mengeras, tatapannya tajam menunjukkan tekad yang bulat.
"Mas... jangan. Ini sudah hampir tengah malam," bisik Luna sembari memegangi lengan Isaac. Suaranya hampir hilang, hanya berupa hembusan napas yang lemah. "Jalanan di bukit sangat berbahaya kalau malam, apalagi baru saja turun hujan. Perjalanan ke kota butuh dua jam lebih."
"Aku tidak peduli, Luna! Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus!" suara Isaac meninggi, bukan karena marah pada Luna, melainkan karena rasa frustrasi yang luar biasa. Ia merasa tidak berdaya sebagai seorang suami saat melihat wanita yang paling dicintainya menderita. "Kalau kita menunggu sampai pagi, kondisi fisikmu akan semakin menurun. Kau terus memuntahkan apa yang kau makan. Tubuhmu butuh cairan, butuh penanganan medis segera!"
Kegaduhan kecil di kamar utama itu ternyata terdengar hingga ke lantai bawah. Ibu Sari, yang baru saja selesai menidurkan anak-anak terkecil, segera bergegas naik. Ia mendapati Isaac yang sudah dalam posisi hendak menggendong Luna keluar, sementara Luna tampak memohon agar suaminya tetap tenang.
"Isaac, tenanglah dulu!" Ibu Sari masuk dan langsung menengahi. Ia meletakkan tangannya di bahu Isaac, mencoba menyalurkan ketenangan pada pria yang sedang kalut itu. "Lihat istrimu. Dia sedang lemas. Memaksanya melakukan perjalanan dua jam di jalanan berkelok dalam kondisi seperti ini justru bisa memperburuk keadaannya."
"Tapi Bu, dia terus mual! Dia tidak bisa makan apa-apa sejak tadi siang!" bantah Isaac, napasnya memburu.
Ibu Sari menatap Luna dengan penuh kasih, lalu beralih kembali pada Isaac. "Dengarkan saya. Sebagai orang yang sudah melihat banyak hal, kondisi Luna memang mengkhawatirkan bagi orang awam, tapi ini adalah fase yang wajar jika dugaan kita benar. Membawa Luna ke kota malam-malam begini, dengan risiko kabut tebal dan jalan licin, adalah keputusan yang gegabah. Kau tidak ingin membahayakan nyawa kalian berdua di jalanan, bukan?"
Isaac terdiam. Kata-kata Ibu Sari seperti siraman air dingin yang memadamkan api kecemasannya sesaat. Ia menatap Luna yang kini bersandar pada bantal, tampak begitu letih.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Bu?" tanya Isaac dengan nada yang mulai melunak, meskipun sorot matanya masih penuh dengan ketakutan.
"Biarkan saya yang merawatnya malam ini," ujar Ibu Sari dengan lembut. "Saya akan menyiapkan kompres hangat untuk perutnya dan air tajin encer agar ada nutrisi yang bisa diserap tanpa memicu mual. Kau, duduklah di sini. Temani dia, pegangi tangannya. Berikan dia ketenangan, bukan kecemasan. Seorang istri yang sedang lemah membutuhkan sandaran yang kokoh, Isaac, bukan nakhoda yang panik."
Ibu Sari kemudian bergerak dengan cekatan. Ia turun ke dapur dan kembali membawa baskom berisi air hangat serta handuk kecil. Ia juga membawa ramuan tradisional yang biasa digunakan di perbukitan untuk menenangkan perut yang sedang bergejolak. Dengan telaten, Ibu Sari mengompres kening dan perut Luna, sembari membisikkan kata-kata yang menenangkan.
Isaac duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Luna yang dingin. Ia merasa sangat bersyukur atas keberadaan Ibu Sari di panti ini. Tanpa wanita itu, ia mungkin sudah nekat memacu mobilnya menembus kegelapan malam, sebuah keputusan yang bisa saja berakhir fatal.
"Maafkan aku, Mas," bisik Luna pelan, matanya menatap Isaac dengan sayu. "Aku membuatmu takut."
Isaac menggeleng, ia membawa tangan Luna ke bibirnya dan menciumnya lama. "Aku yang minta maaf karena terlalu panik. Aku hanya... aku tidak sanggup melihatmu kesakitan, Luna. Rasanya lebih baik aku saja yang merasakan semua mual itu daripada harus melihatmu seperti ini."
Ibu Sari yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tipis. "Malam ini kalian harus beristirahat. Luna, coba minum ini sedikit demi sedikit. Jangan dipaksa sekaligus."
Sepanjang malam itu, Isaac benar-benar tidak memejamkan mata. Ia mengikuti setiap instruksi Ibu Sari dengan saksama. Ia membantu Luna untuk mengubah posisi tidurnya agar lebih nyaman, memijat lembut tengkuk istrinya saat rasa mual kembali datang di jam dua pagi, dan memastikan Luna tetap mendapatkan kehangatan di tengah udara bukit yang semakin membeku.
Ibu Sari tetap berada di kamar, duduk di kursi sudut sembari sesekali bangkit untuk mengecek kondisi Luna. Kehadirannya menjadi penengah yang krusial bagi pikiran kacau Isaac. Bagi Isaac, setiap jam yang berlalu terasa seperti selamanya. Ia terus memperhatikan jam dinding, menghitung menit demi menit hingga fajar tiba.
"Tidurlah sejenak, Isaac. Kau harus punya tenaga untuk menyetir ke kota besok pagi," saran Ibu Sari saat melihat Isaac mulai kelelahan.
"Saya tidak bisa tidur, Bu. Saya akan tetap terjaga sampai matahari terbit," jawab Isaac tegas.
Di dalam keheningan malam itu, di tengah perjuangan Luna melawan rasa sakit di tubuhnya, sebuah ikatan baru kembali terbentuk. Isaac belajar tentang kesabaran dan pengendalian diri, sementara Luna belajar tentang betapa besarnya dedikasi suaminya. Mereka berdua berpegangan pada harapan yang sama; bahwa fajar esok pagi tidak hanya akan membawa mereka ke rumah sakit, tetapi juga akan membawa kepastian tentang kehidupan baru yang sedang mereka nantikan.
Ibu Sari terus memantau hingga napas Luna mulai teratur dan istrinya itu jatuh terlelap karena kelelahan. Suasana menjadi lebih tenang, menyisakan suara detik jam dan desis angin di luar jendela. Malam yang panjang itu akhirnya mulai mendekati akhirnya, dengan Isaac yang tetap setia di samping ranjang, menjaga Luna layaknya harta yang paling berharga di seluruh dunia, menunggu cahaya pertama matahari yang akan menjadi awal dari perjalanan mereka menuju kota.