NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di negeri beruang putih

Suhu di bandara pribadi pinggiran Moskow menyentuh angka minus lima belas derajat. Udara dingin yang tajam seolah menusuk paru-paru saat pintu pesawat kargo itu terbuka. Clara Marine menggigil hebat meskipun sudah mengenakan jaket tebal berlapis bulu yang diberikan Nikolai.

Namun, rasa dingin itu bukan satu-satunya hal yang membuatnya tegang. Sejak mereka meninggalkan Jakarta, sikap Nikolai Brine berubah menjadi jauh lebih posesif. Pria itu tidak pernah membiarkan Clara berada lebih dari satu meter darinya. Tangannya selalu berada di pinggang atau memegang pergelangan tangan Clara, seolah melepaskannya sedetik saja akan membuat wanita itu hilang ditelan salju Rusia.

"Tetap di belakangku," perintah Nikolai pendek. Suaranya terdengar lebih berat di tengah deru angin musim dingin.

Tiga mobil SUV hitam antipeluru sudah menunggu di landasan pacu. Sekelompok pria bertubuh raksasa dengan mantel wol panjang berdiri siaga. Mereka adalah orang-orang dari faksi Brine di Rusia—sisa-sisa kesetiaan yang masih dimiliki Nikolai di tanah kelahirannya.

Pertemuan di Persembunyian

Mereka dibawa ke sebuah dacha—rumah peristirahatan tradisional Rusia—yang terletak jauh di dalam hutan pinus yang tertutup salju. Rumah itu lebih mirip benteng kayu dengan penjagaan ketat. Di dalamnya, perapian besar menyala, memberikan kehangatan yang kontras dengan dunia luar.

Seorang pria tua dengan bekas luka bakar di wajahnya menyambut mereka. Ia adalah Boris, paman Nikolai sekaligus mentor lamanya di dunia bawah tanah Rusia.

"Kau kembali dengan membawa masalah besar, Nikolai," gerutu Boris dalam bahasa Rusia, sebelum beralih ke bahasa Inggris sambil menatap Clara. "Dan kau membawa seorang Marine ke dalam rumahku? Kau tahu Silas Marine sedang menawarkan hadiah jutaan dolar bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang kalian?"

Nikolai menarik Clara lebih dekat, merangkul bahunya dengan protektif. "Dia bukan lagi seorang Marine yang berpihak pada Silas, Boris. Dia adalah wanitaku. Dan siapa pun yang berani menyentuh atau memikirkannya sebagai nilai tebusan, akan berhadapan langsung denganku."

Boris tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kau selalu terobsesi pada hal yang berbahaya, keponakanku."

Obsesi yang Menyesakkan

Malam itu, di dalam kamar yang luas namun terasa sempit karena ketegangan, Nikolai sibuk memeriksa persediaan senjata. Clara duduk di tepi tempat tidur, mencoba menghangatkan tangannya.

"Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti tahanan, Nikolai?" tanya Clara. "Kau bahkan tidak mengizinkanku bicara dengan Boris tadi."

Nikolai berhenti membersihkan pistolnya. Ia berjalan mendekat dan berlutut di depan Clara, memegang kedua tangannya dengan kuat. "Rusia tidak seperti Jakarta, Clara. Di sini, pengkhianatan adalah mata uang. Boris mungkin pamanku, tapi anak buahnya? Mereka bisa menjualmu jika aku lengah sedetik saja."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau yang mengajariku," protes Clara.

"Tidak cukup baik untuk menghadapi mereka," potong Nikolai. Ia menyentuh pipi Clara yang kemerahan karena dingin. "Kau tidak mengerti. Silas ingin kau mati, tapi orang-orang di sini... mereka bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk sebelum membunuhmu. Kau adalah milikku, Clara. Dan aku tidak akan membiarkan satu pun mata kotor di negeri ini memandangmu terlalu lama."

Sifat protektif Nikolai mulai terasa seperti penjara baru. Namun, di balik sikap posesifnya yang berlebihan, Clara bisa melihat ketakutan yang nyata di mata pria itu—ketakutan akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih memiliki jiwa.

Di Moskow

Keesokan paginya, Boris memanggil Nikolai ke ruang kerja bawah tanah. Clara, yang diperintahkan untuk tetap di kamar dengan dua penjaga di depan pintu, berhasil menyelinap keluar melalui balkon yang terhubung ke koridor belakang. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.

Dari balik celah pintu kayu yang tebal, Clara mendengar suara asing. Suara yang sangat ia kenal.

"Aku sudah bilang, Nikolai tidak akan pernah menyerahkannya padamu," suara itu adalah suara Julian Tide.

Clara terkesiap. Bagaimana mungkin tunangannya—pria yang seharusnya berada di Belanda—bisa ada di pedalaman Rusia?

"Nikolai sudah lemah karena obsesinya pada wanita itu," suara Julian terdengar dingin, jauh berbeda dari sosok sopan yang selama ini ia tampilkan. "Silas tidak ingin dia mati sekarang. Silas ingin Nikolai menderita terlebih dahulu dengan melihat wanita kesayangannya ini berlutut di kaki keluarga Marine."

"Lalu apa rencanamu, Julian?" tanya Boris.

"Kita biarkan Nikolai menyerang Amsterdam. Biarkan dia membawa wanita itu. Di sana, kita akan menjebak mereka berdua. Silas akan mendapatkan warisannya, dan kau, Boris, akan mendapatkan kembali kendali atas jalur distribusi Dubai yang sekarang dipegang Nikolai."

Clara membeku. Pengkhianatan itu ada di mana-mana. Paman Nikolai sendiri dan tunangannya sedang bekerja sama untuk menghancurkan Nikolai.

Tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulut Clara dari belakang. Clara meronta, namun tenaga pria itu terlalu kuat.

"Sudah kubilang, tetap di kamar," bisik Nikolai di telinganya.

Nikolai menarik Clara kembali ke dalam bayangan koridor. Wajahnya gelap karena amarah, tapi bukan kepada Clara. Nikolai rupanya sudah tahu bahwa Julian ada di sana. Ia sengaja membiarkan Clara mendengar pembicaraan itu agar Clara menyadari satu hal: di dunia ini, hanya Nikolai yang benar-benar berdiri di pihaknya—meski dengan cara yang mencekik.

"Sekarang kau tahu," ucap Nikolai setelah melepaskan bekapannya di dalam kamar. "Julian bukan tunangan yang malang. Dia adalah anjing pelacak Silas. Dan sekarang, kita akan memainkan permainan mereka."

Nikolai mengambil pisau belatinya dan memberikannya pada Clara. "Simpan ini di balik bajumu. Karena mulai besok, kita tidak hanya berperang melawan Silas, tapi melawan seluruh dunia yang ingin memisahkan kita."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!