NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: LANGKAH PERTAMA MENUJU LANGIT

Perpisahan itu terasa lebih berat daripada beban gunung sekalipun.

Saat fajar menyingsing sepenuhnya, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu yang indah, Lira berdiri di depan gerbang desa. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tas kecil berisi bekal roti kering, sedikit air, dan selimut tipis yang dibungkuskan Bunda Mira dengan telaten.

Di hadapannya, jalan setapak berbatu membelah hutan lebat, memanjang menuju ketidakpastian.

Di belakangnya, desa tempat ia tumbuh besar mulai terbangun. Asap mengepul dari cerobong-cerobong rumah, ayam berkokok bersahutan, namun suasana di gerbang desa ini terasa hening dan mendayu.

Bunda Mira berdiri di hadapannya, menatap anak yang dianggapnya seperti darah daging sendiri itu dengan mata yang sembab namun senyum yang tetap dipaksakan terukir di bibirnya.

“Jaga dirimu baik-baik, Nak,” ucap Bunda Mira dengan suara yang bergetar menahan tangis. Tangan keriputnya yang hangat memegang erat kedua tangan Lira. “Dunia itu luas, dan tidak semua orang di sana sebaik orang-orang di desa kita. Gunakan hatimu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”

Lira mengangguk kuat-kuat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Jika ia menangis sekarang, ia takut ia tidak akan sanggup melangkah pergi.

“Iya, Bunda,” jawab Lira parau. “Lira janji akan hati-hati. Lira janji akan pulang.”

“Pergilah,” isyarat Bunda Mira, mendorong bahu anaknya pelan namun tegas. “Jangan menoleh ke belakang. Langkahkan kakimu tegak ke depan. Kau bukan lagi hanya anak kecil yang perlu dilindungi. Kau adalah harapan.”

Lira menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang segar untuk yang terakhir kalinya sebelum memasuki dunia yang asing. Ia menatap wajah Bunda Mira sekali lagi, mengabadikan setiap garis wajah itu ke dalam ingatannya, lalu dengan gerakan cepat, ia berbalik badan.

Ia mulai berjalan.

Langkah pertamanya ragu-ragu, pelan. Namun setiap meter yang ia lewati, langkahnya menjadi semakin mantap, semakin cepat.

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu jika ia menoleh, ia akan melihat Bunda yang menangis, dan itu akan menghancurkan tekadnya yang baru saja dibangun.

Hutan menyambutnya dengan teduh dan sejuk. Sinar matahari mencoba menerobos celah-celah daun, menciptakan bintik-bintik cahaya yang menari-nari di atas tanah dan jalan setapak. Suara alam yang biasanya menenangkan, kini terdengar berbeda bagi Lira. Setiap desiran angin terdengar seperti bisikan, setiap gemerisik daun terdengar seperti langkah kaki seseorang yang mengikuti.

Namun Lira tidak takut.

Di dalam dadanya, ia bisa merasakan kehadiran kekuatan itu. Hangat, tenang, dan siap sedia. Seolah-olah ada sekumpulan prajurit tak kasat mata yang berbaris mengiringi perjalanannya.

“Oke, Lira,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba memberi semangat. “Ke mana kita harus pergi dulu?”

Pertanyaan itu sulit dijawab. Ia tidak memiliki peta, tidak memiliki kompas, dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Ia hanya memiliki firasat.

Firasat itu mengatakan bahwa ia harus pergi ke tempat yang tinggi. Ke arah pegunungan yang menjulang tinggi menyentuh awan, yang selalu ia lihat dari kejauhan sejak kecil. Ada sesuatu di sana. Ada pintu penghubung antara dunia manusia dan dunia tempat ia berasal.

Saat ia memejamkan mata dan membiarkan instingnya bekerja, ia merasakan sebuah tarikan lembut di ulu hatinya. Sebuah magnet yang menariknya ke arah utara.

“Ke sana,” bisiknya, menunjuk ke arah jalan yang membelok ke lereng bukit.

Perjalanan itu tidak mudah. Medan yang ia lalui semakin terjal dan berbatu. Matahari mulai naik tinggi, membakar kulit dengan panasnya. Lira terus berjalan, melangkah melewati sungai yang deras, memanjat tebing yang licin, dan menepis rasa lelah yang mulai menyerang kakinya.

Namun keajaiban demi keajaiban terus terjadi di sekelilingnya.

Setiap kali ia merasa haus, ia menemukan buah-buahan liar yang ranum dan manis tumbuh tepat di samping jalan. Setiap kali ia merasa lelah dan ingin duduk, ia menemukan batu datar yang bersih dan nyaman seolah sengaja disiapkan untuknya. Bahkan hewan-hewan buas yang biasanya menakutkan, seperti serigala atau babi hutan, hanya menatapnya sekilas dari balik semak belukar, lalu pergi dengan tenang, seolah mereka mengenali tuannya.

Alam seolah tunduk dan melayani putrinya yang telah kembali.

Menjelang sore, ketika langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan—warna yang begitu akrab bagi jiwanya—Lira sampai di sebuah dataran tinggi yang terbuka.

Di sana, angin bertiup sangat kencang, menerbangkan rambut merah mudanya ke sana kemari.

Dan di hadapannya, pemandangan yang menakjubkan terbentang luas.

Di puncak gunung tertinggi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sesuatu yang aneh. Awan-awan di sekitar puncak itu berputar membentuk pusaran raksasa, namun di tengah-tengah pusaran itu, ada sebuah titik yang bersinar terang, memancarkan cahaya keemasan yang sama persis dengan warna matanya.

“Itu…” jantung Lira berdegup kencang. “Itu tujuanku!”

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih dekat, sebuah suara dingin dan akrab tiba-tiba terdengar dari balik sebuah batu besar di sampingnya.

“Perjalanan yang cukup jauh untuk kaki sekecil itu.”

Lira tersentak dan langsung mengambil posisi siap. Ia menoleh tajam.

Di sana, bersandar santai pada dinding batu, berdiri sosok yang tidak asing lagi. Pakaian hitamnya yang menyerap cahaya, wajahnya yang tampan namun dingin.

Nyxarion.

“Kau lagi!” seru Lira, keningnya berkerut marah sekaligus waspada. “Kau mengikutiku?”

Nyxarion tersenyum miring, lalu perlahan melangkah mendekat. Udara di sekitarnya terasa sedikit lebih dingin.

“Aku tidak mengikuti,” jawabnya santai. “Aku hanya… menunggu. Aku tahu kau akan lewat sini. Jalan menuju Gerbang Langit memang melewati punggungan bukit ini.”

“Gerbang Langit?” tanya Lira cepat. “Itu tempat yang ada cahayanya di atas gunung itu?”

“Tepat sekali,” Nyxarion mengangguk. “Itu adalah satu-satunya pintu yang masih terbuka antara dunia fana dan Istana Celestia. Tapi…”

Ia berhenti tepat di hadapan Lira, menatapnya dalam-dalam.

“Jalan ke sana tidak aman. Bukan karena monster atau bahaya alam, tapi karena kau sendiri.”

“Apa maksudmu?” Lira mendongak menatapnya.

“Kekuatan di dalam dirimu sedang bangun, Myrrha… eh, maksudku Lira,” ucap Nyxarion, nadanya sedikit mengejek namun juga serius. “Tubuh manusia yang rapuh itu belum siap menampung energi Dewa Sejati. Semakin dekat kau dengan Gerbang itu, semakin kuat tekanannya. Kau bisa meledak sebelum sempat sampai di sana.”

Lira menelan ludah. Ia merasakan kebenaran kata-kata itu. Dadanya memang terasa semakin sesak dan panas, seolah ada bola api yang semakin membesar di dalamnya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Lira, kali ini tidak menyembunyikan rasa bingungnya. “Aku harus pulang. Aku harus tahu siapa aku.”

Nyxarion terdiam sejenak. Angin sore memainkan jubah hitamnya. Tatapannya yang biasanya penuh kalkulasi kini terlihat berbeda. Ada rasa hormat di sana.

“Aku bisa membantumu,” tawar Nyxarion akhirnya. “Aku bisa mengajarimu cara mengendalikan aliran energi itu agar tidak meledak. Aku bisa menjadi pemandumu melewati jalan-jalan tersembunyi.”

“Kenapa kau mau membantuku?” tuduh Lira curiga. “Dulu kau ingin menguasai kekuatanku, kan?”

Nyxarion tertawa pelan, suara yang kali ini tidak terdengar menakutkan.

“Dulu aku banyak salah, Lira. Aku pikir kekuatan adalah segalanya. Tapi kau mengajariku sesuatu yang baru. Dan lagipula…” ia menatap jauh ke arah puncak gunung yang bersinar itu, “Aku juga punya urusan yang belum selesai di atas sana. Perjalanan kita searah.”

Lira menatap wajah pria misterius itu. Instingnya mengatakan bahwa pria ini berbahaya, penuh rahasia, dan tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

Namun logikanya mengatakan bahwa ia butuh bantuan. Ia sendirian di dunia ini, dan waktu seakan terus berpacu.

“Baiklah,” kata Lira akhirnya, menarik napas dalam-dalam dan mengulurkan tangan kecilnya ke depan. “Kita bisa bekerja sama. Tapi jangan coba-coba mengkhianatiku, atau kau akan menyesal.”

Nyxarion menatap tangan kecil itu, lalu menyambutnya dengan tangannya yang dingin. Sentuhan itu aneh, namun terasa kuat.

“Sepakat,” ucap Nyxarion.

Matahari akhirnya tenggelam, digantikan oleh bulan yang bersinar terang.

Perjalanan mereka berlanjut, kini bukan lagi satu langkah kecil seorang anak desa, melainkan perjalanan dua makhluk yang berbeda dunia, menuju puncak gunung, menuju gerbang langit, dan menuju takdir yang telah lama menanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!