Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Percaya Saja Padaku!
Langkah Aksa tergesa-gesa mengayuh sepedanya penuh kepanikan dan kegelisahan dengan selaju mungkin, meskipun nafasnya sudah lelah dan terengah-engah. Namun ia tetap berjuang mengayuh sepeda tuanya itu hingga sampai di rumah sakit. Ia mendapat kabar setelah menerima pemberitahuan tentang biaya rumah sakit yang sudah menunggak, dan pihak rumah sakit memberi kabar selanjutnya, bahwa Santi ibunya Aksa menyetujui untuk melepaskan semua alat medis di seluruh tubuh suaminya dan menghentikan pengobatannya karena merasa sudah tidak ada harapan dan tidak sanggup lagi dengan semua biaya pengobatannya.
Setelah tiba di rumah sakit dan memarkirkan sepedanya dengan sembarangan. Aksa berlari masuk menuju bangsal ayahnya di rawat dan koma. Saking paniknya Aksa tidak sengaja menabrak orang lain di lorong rumah sakit hingga terjatuh. Ia langsung berdiri sambil meminta maaf kepada orang tersebut. Lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju bangsal. Tepat, saat Aksa masuk ke ruangan dokter hendak akan melepaskan oksigen ayahnya, tatkala Santi hanya bisa menangis di sampingnya tidak berdaya.
"Tidak! Jangan lakukan! " teriak Aksa saat sampai di ambang pintu ruangan dengan nafas yang terengah-engah dan tidak beraturan. Ia berjalan menghampiri ibunya yang tengah menangis.
"Aksa? "
"Ibu? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Ibu ingin melepas Ayah? Kenapa?" tanya Aksa bertubi-tubi sambil menatap Ibunya sedikit kesal.
"Maafkan, Ibu. Ibu sudah tidak sanggup. " Santi menangis terisak merasa sangat malu untuk menghadapi putranya itu.
"Kenapa Ibu tidak berdiskusi dulu dengan ku? Kenapa Ibu memutuskannya sendirian? Ibu tidak memikirkan aku saat mengambil keputusan itu? " Aksa terdengar geram dan marah, suara tercekat karena ditahan supaya tidak membentak.
"Tidak seperti itu... "
"Ibu ingin menyerah begitu saja sama Ayah? Sejauh ini, kita sudah bertahan dengan baik. Apa Ibu sungguh ingin melepaskan Ayah pergi begitu saja? " suara Aksa terdengar berat, air matanya mengalir begitu saja. "Jangan lakukan itu, Ibu. Mari kita menunggu sebentar lagi, " pinta Aksa sambil meraih kedua tangan Santi.
"Ibu tidak ingin menyerah. Tapi, keadaan kita sangat sulit. Ayahmu sudah terlalu lama tidak ada perubahan. Kondisinya sama sekali tidak membaik. Terlebih lagi biaya pengobatannya sama mahal. Ibu ingin menunggu, tapi Ibu juga merasa bersalah dan sedih karena kamu harus menanggung banyak tanggung jawab dan beban yang berat. Ibu tidak ingin kamu terus menderita, Ibu hanya.... " Santi belum selesai berbicara namun Aksa menyela ucapannya begitu saja dengan marah.
"Aku sudah bilang, Ibu tidak perlu khawatir soal biaya. Aku akan bekerja keras untuk Ayah. Aku akan membayar semua pengobatan Ayah. Karena itu, kumohon Ibu jangan seperti ini. Tolong tunggu Ayah sebentar lagi. Aku percaya Ayah akan segera bangun dan kembali. Ibu tidak percaya padaku? Aku akan bekerja lebih keras lagi, kalau perlu aku akan berhenti sekolah dan mencari pekerjaan yang lebih baik." Nada suara Aksa sedikit meninggi karena marah.
"Apa? Berhenti sekolah? Apa kamu sudah gila? Kalau bagaimana dengan masa depan kamu? Sebab itu, Ibu setuju dan merelakan ayahmu karena Ibu tidak ingin melihatmu hancur. Ibu ingin keadaan kita lebih baik dari sekarang, " sahut Santi lagi terlihat marah.
"Karena itu, Ibu harus menunggu Ayah. Aku bisa mengambil sekolah paket setelah Ayah bangun dan keadaan kita membaik. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kumohon, Ibu kumohon! Aku tidak bisa melepaskan Ayah seperti ini. Aku, sudah cukup lelah sampai saat ini. Tapi, aku tidak ingin semua lelahku itu berakhir sia-sia. " Tangis Aksa pecah di depan Santi. Aksa yang selalu terlihat tegar dan kuat kini terlihat begitu lemah dan tidak berdaya membuat hati Santi menjadi luluh dan iba.
Santi memeluk Aksa dengan tangan yang gemetar. Ia mengelus punggung putranya itu dengan lembut dan sesekali menepuknya. "Ibu minta maaf. Ibu salah. Ibu sungguh menyesal, maafkan Ibu, " ucap Santi lirih dengan suara bergetar.
Setelah beberapa saat Aksa melepaskan pelukan Santi sambil mengusap air matanya dengan tangannya sendiri. Ia menatap Ibunya dengan sedih namun tegas.
"Ibu, tolong batalkan persetujuannya, " pinta Aksa dengan lirih dan memelas memohon.
Santi menatap kedua mata Aksa dengan hati yang luluh sekaligus sedih. "Baiklah. Ibu akan membatalkannya, " jawab Santi.
Aksa tersenyum kecil merasa lega. "Terima kasih Ibu, " sahut Aksa dengan nafas ringan.
Dokter pun akhirnya membatalkan pelepasan alat medis di tubuh Ayah Aksa. Dokter dengan suster pun berpamitan pergi dari ruangan. Dengan nafas lega Aksa menghampiri Ayahnya yang masih dalam keadaan sama seperti sebelumnya. Aksa duduk di samping Ayahnya sambil meraih tangannya. Aksa menatap wajahnya dengan penuh harapan bahwa Ayahnya akan segera bangun dari komanya.
"Ayah? Ayah akan bangun kan? Aku dan Ibu akan menunggumu. Karena itu, cepatlah bangun dan kembali kepada kami, " ujar Aksa.
Santi hanya bisa menangisi semua yang terjadi. Di satu sisi ia memang ingin mempertahankan suaminya yang sudah dua tahun terbaring koma dengan harapan ia akan segera sadar. Namun, di sisi lain ia tidak tega melihat putranya yang berjuang menanggung beban besar ini dan bekerja keras membanting tulang, serta harus mengorbankan segalanya. Disaat semua anak seusianya hanya fokus belajar dan bermain, tetapi Aksa harus bekerja demi biaya rumah sakit Ayahnya.
Aksa menoleh kepada Ibunya yang masih berdiri ditempatnya. "Ibu? Aku akan membayar biaya pengobatan Ayah bulan ini setengahnya dulu. Setelah gajihan nanti aku akan membayar sisanya. Ibu tidak perlu khawatir, percaya saja sama aku, " tukas Aksa.
Santi mengangguk kecil dan tersenyum ringan. Lantas, Aksa bergegas pergi untuk membayar setengah biaya pengobatan Ayahnya ke admin rumah sakit. Meninggalkan Santi dengan Ayahnya berdua di ruangan. Saat Aksa sampai di pintu, ia mendapati Lala tengah berdiri memperhatikannya dari luar.
"Lala? Bagaimana loh bisa kesini? " tanya Aksa.
"Gue tahu Feri, malam itu saat kita makan bersama. Dia sedikit bercerita tentang loh, " jawab Lala jujur.
"Begitu rupanya." Aksa tidak terlalu peduli dan melengos pergi untuk membayar ke admin rumah sakit. Lala mengikutinya dari belakang dan enggan masuk ke ruangan Ayahnya karena malu oleh Santi, jadi ia hanya mengikuti langkah Aksa dari belakang.
Setelah Aksa membayar, ia mengajak Lala duduk di bangku tunggu untuk sekedar basa-basi.
"Loh sengaja bolos hanya untuk kemari? " tanya Aksa kemudian setelah beberapa saat hening diantara mereka.
"Nggak juga, gue izin karena gue merasa gak enak badan dan meminta pulang lebih awal. Tapi, gue khawatir saat tahu loh bergegas ke rumah sakit dengan sangat panik, karena itu gue pikir mau nyusul loh kesini. Maafin gue kalau gue lancang, " jawab Lala berbohong terbata-bata dengan alasannya.
"Tidak papah. Terima kasih sudah mampir untuk melihat. Kalau loh sakit, sebaiknya loh segera pulang dan beristirahat. Jangan sampai sakit loh menjadi parah, " ujar Aksa lagi sambil berdiri untuk pergi.
"Aksa? " Panggil Lala ikut berdiri sambil menatapnya. Aksa menoleh dan menunggu apa yang ingin Lala katakan padanya.
"Jangan menyerah. Gue yakin Ayah loh pasti akan segera bangun dan beliau akan baik-baik saja. Loh harus tetap yakin dan semangat, " ucap Lala mencoba menghibur Aksa dan menyemangatinya.
"Iyah.Terima kasih, " balas Aksa lalu melengos pergi meninggalkan Lala sendiri yang tengah menatap kepergiaannya itu dengan hati yang sedih dan kasihan.
Lala pun pergi berniat untuk pulang sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa membantu Aksa untuk biaya rumah sakit Ayahnya. Lala sangat ingin membantu tetapi apalah daya ia juga hanya seseorang yang hidup dengan kesederhanaan.
Sementara itu, di sisi lain Devina dengan Adit masih luntang lantung tidak jelas menaiki taksi tanpa arah dan tujuan. Mereka tidak tahu harus pergi kemana saat ini. Sampai sopir taksi tersebut mulai merasa lelah karena tidak tahu arah tujuan.
"Maaf, sebenarnya kita mau pergi kemana? Sudah setengah jam kita berkendara, " ucap sopir taksi itu.
"Benar. Sebenarnya loh itu mau kemana sih? Dari tadi gak jelas arah tujuannya, " gerutu Adit juga ikut berkomentar.
"Sebenarnya, gue juga gak tahu. Gue gak tahu alamat rumah sakit yang Aksa tuju, " jawab Devina dengan kepala tertunduk dan sedih.
Adit hanya bisa menghela nafas kecil melihat kekonyolan Devina itu. "Sudahlah. Pak tolong berhenti saja di depan! " pinta Adit kemudian.
Lantas, sopir taksi menghentikan mobilnya sesuai dengan permintaan Adit. Merasa tidak enak Adit membayar ongkos taksi dengan uang lebih.
"Makasih yah, Pak. Maaf sudah merepotkan, " tukas Adit lalu keluar dari mobil bersama Devina.
Devina mendesah pelan sambil menekuk wajahnya. Ia kesal karena tidak tahu dimana Aksa. Melihat Devina yang terlihat layu Adit menarik tangan Devina menuju Alfamart terdekat.
"Duduklah dulu."
Devina pun duduk di kursi yang telah disiapkan diluar Alfamart. Sementara Adit masuk ke dalam untuk membeli es krim. Setelah mengambil dua es krim dan membayar Adit kembali menghampiri Devina dan menyodorkan salah satu es krim rasa strawberry kepada Devina.
"Ini! "
Devina menatap es krim yang disodorkan Adit dengan es krim yang dipegang oleh tangan satunya itu. Ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa? " tanya Adit saat melihat reaksinya tersebut.
"Gue gak suka rasa strawberry, gue mau yang vanilla! " jawab Devina menawar.
Mau tidak mau Adit pun mengalah dan memberikan es krim yang rasa vanilla kepada Devina. Lantas, ia duduk di sebelah Devina untuk menikmati es krim tersebut bersama.
"Padahal gue lebih suka yang vanilla, " celetuk Adit bergumam.
"Salah loh gak nanya dulu sama gue kalau gue suka rasa apa? " balas Devina dengan tegas sambil terus menikmati es krimnya.
"Gue pikir, semua cewek suka sama rasa ini. Kebanyakan cewek kan begitu, " sahut Adit lagi.
"Nggak juga, " balas Devina singkat padat dan jelas.
Sesaat lamanya, mereka pun terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing, menikmati es krim yang dingin di cuaca yang cukup panas ini sambil melihat pemandangan jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang dan ada beberapa pejalan kaki juga.
"Katanya loh deket sama Aksa, tapi loh bisa gak tentang rumah sakit mana yang Aksa tuju. Dan kenapa dia pergi kesana? " ujar Adit kembali bertanya memecah kesunyian yang terjadi sejenak diantara mereka.
"Iyah, kan? Gue emang gak pernah merasa dekat sama Aksa. Memang akhir-akhir ini gue yang nempel terus sama dia. Gue emang tidak tahu apapun tentang dia, " jawab Devina dengan sedih dan kecewa.
Adit menoleh menatap Devina dengan cukup lama. "Sudah gue duga. Jadi, sekarang loh mau gimana? Kembali ke sekolah? " tanya Adit lagi.
"Tidak mau. Kembali ke sekolah juga udah terlambat. Hei? Loh bisa bersepeda? " jawab Devina lalu bertanya.
"Sepeda? Gue bisa. Kenapa?"
Devina tersenyum lebar. "Ajarin gue naik sepeda."
Kening Adit berkerut mendengar permintaan Devina. Padahal awalnya sikap Devina acuh tak acuh padanya. Dan juga selalu jutek setiap kali bicara. Namun, setelah bersama sebentar, ia bersikap santai kepada Adit. Padahal mereka baru kenal beberapa jam yang lalu.