"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru di Dunia Nyata
POV Zhira
Wisuda baru saja berlalu, tapi aku tidak punya waktu banyak untuk bersenang-senang. Kertas ijazah yang masih terasa hangat itu harus segera aku gunakan sebagai tiket untuk mencari nafkah. Hidup di kota besar tidak pernah tidur, dan tagihan serta kebutuhan tidak akan menunggu aku siap.
Berbekal nilai Cum Laude dan pengalaman organisasi, aku mulai mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan dan instansi. Prosesnya tidak mudah, ada rasa cemas menunggu panggilan, ada rasa kecewa saat ditolak, tapi aku terbiasa jatuh bangun, jadi aku tidak mudah menyerah.
Hingga pada suatu pagi yang cerah, telepon berdering. Suara di seberang sana memberitahu bahwa aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup ternama sebagai Staff HRD dan juga penulis konten. Gajinya jauh lebih besar daripada yang pernah aku bayangkan sebelumnya.
"Terima kasih, Tuhan... Terima kasih," bisikku sambil menahan tangis haru.
Hari pertama masuk kerja, aku berdiri di depan gedung pencakar langit itu dengan seragam kemeja dan rok yang rapi. Rambutku diikat rapi, sepatu hitam mengkilap, dan tas kerja baru yang kubeli dengan tabungan hasil lomba dulu.
"Selamat pagi, Mbak Zhira!" sapo teman-teman kantor dengan ramah.
"Selamat pagi," jawabku dengan senyum percaya diri.
Dunia kerja ternyata tidak kalah kerasnya dengan dunia kuliah dan restoran. Target harus terpenuhi, lembur adalah hal biasa, dan tekanan dari atasan seringkali membuat kepala pening. Tapi semua itu terasa ringan bagiku. Dibandingkan dengan beban batin yang pernah aku rasakan di rumah, tekanan kerja ini hanyalah angin lalu.
Gaji pertamaku cair. Jumlahnya cukup besar. Jari-jariku bergerak lincah di layar ponsel saat melakukan transfer.
Sebagian besar kukirim ke rumah, seperti biasa. Untuk Ibu Zainal, untuk kebutuhan Rara dan Bimo. Aku tidak pernah lupa meski mereka sering menyakitiku.
Tapi kali ini berbeda. Ada sisa uang yang jumlahnya lumayan besar yang tersisa di rekeningku. Uang itu murni milikku, hasil kerjaku sendiri, tidak ada yang meminta, tidak ada yang mengatur.
"Dinda... aku mau cari kontrakan kecil. Aku mau keluar dari asrama," kataku pada sahabatku itu suatu hari.
Dinda terbelalak tapi langsung tersenyum lebar. "Beneran Ra? Wah mantep! Akhirnya lo punya tempat sendiri!"
Dengan bantuan Bu Lestari, aku menemukan sebuah kamar kontrakan kecil tapi sangat bersih dan nyaman. Lokasinya strategis, dekat dengan kantor.
Hari pindahan tiba. Aku tidak membawa banyak barang, hanya koper dan beberapa kardus berisi buku dan pakaian. Saat kunci diputar dan pintu terbuka, aku berdiri di ambang pintu menatap ruangan kosong itu.
Dindingnya berwarna krem, lantainya keramik bersih, ada jendela kecil yang membiarkan cahaya matahari masuk.
"Ini rumahku... Ini benar-benar rumahku," gumamku tak percaya.
Aku tidak perlu takut lagi kalau lampu menyala sampai malam. Aku tidak perlu takut kalau makan agak telat. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, tidak ada perbandingan. Di sini, aku adalah ratu di kerajaanku sendiri.
Aku duduk di lantai, memeluk lutut, dan menangis lagi. Tapi kali ini air mata bahagia yang meluap-luap. Bertahun-tahun aku merasa seperti penumpang di rumah sendiri, merasa tidak punya tempat untuk pulang dan bersandar. Dan hari ini, Tuhan mengabulkan doaku yang paling rahasia.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Pesan masuk dari Ibu Zainal.
"Uang sudah diterima. Lumayan lah. Minggu depan Bimo mau bayar sekolah, kamu siapkan ya. Jangan boros-boros di sana, ingat adik-adikmu."
Senyum di wajahku sedikit mengendur, tapi tidak lagi sesakit dulu. Aku sudah belajar cara menempatkan perasaan.
Aku membalas singkat: "Siap, Bu. Kabar-kabar ya."
Aku meletakkan ponsel, lalu berdiri dan membuka jendela lebar-lebar. Angin segar berhembus masuk membasahi wajahku.
"Biarlah mereka meminta apa saja, aku akan memberi sebisanya. Tapi hidupku, masa depanku, dan kebahagiaanku mulai hari ini adalah milikku sendiri. Aku tidak akan lagi membiarkan siapa pun membuatku merasa kecil dan tidak berharga," ucapku lantang di ruangan itu.
Perjalanan panjang ini baru saja mengantarku pada gerbang kehidupan yang sebenarnya. Aku sudah siap. Siap untuk bekerja, siap untuk mandiri, dan siap untuk menata hati yang dulu pernah hancur, kini kuperbaiki satu per satu kepingannya dengan tanganku sendiri.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gas Terus! 🔥 Lanjut Bab 17 sekarang ya biar makin seru! Kita mau cerita kehidupan Zhira yang makin sukses dan mandiri! 💪✨📖