NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Deru halus mesin mobil mewah yang membawa mereka pulang akhirnya mereda di pelataran parkir penthouse. Keheningan malam Jakarta yang hanya dihiasi lampu-lampu kota seolah menjadi kontras yang tajam dengan kebisingan jamuan makan malam tadi. Calista, yang sepanjang malam telah memeras seluruh energi dan kecerdasannya untuk menjaga citra sebagai istri sempurna, tampak sangat letih. Bahunya yang tadi tegak kini sedikit merosot, dan matanya yang tajam mulai meredup oleh kantuk yang tak tertahankan.

Begitu memasuki kamar utama, Calista meletakkan tas tangannya dengan gerakan gontai. Denis yang berjalan di belakangnya memerhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Sebelum Calista melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, Denis menahan lengannya pelan, membuat Calista menoleh dengan tatapan sayu.

"Kau melakukannya dengan baik malam ini," ucap Denis, suaranya rendah namun terdengar tulus di tengah sunyinya kamar.

Calista memaksakan sebuah senyum tipis, meski kelopak matanya terasa seberat timah. "Aku hanya menjalankan bagianku dari kontrak ini, Mas. Menjadi pajangan yang tidak memalukan namamu."

Denis menyipitkan mata, ibu jarinya mengusap pergelangan tangan Calista tanpa sadar. "Kau lebih dari sekadar pajangan. Min Ho... dia bukan orang yang mudah terkesan. Tapi kau berhasil membuatnya bungkam dengan argumenmu tadi."

"Dia pria yang berbahaya, bukan?" tanya Calista lirih.

"Dia hanya bayangan dari masa lalu yang mencoba mencari perhatian. Tidurlah, kau sudah bekerja keras hari ini. Biarkan sisanya menjadi urusanku," jawab Denis sambil melepaskan pegangannya, memberikan ruang bagi Calista untuk beristirahat.

Calista hanya mengangguk pelan, terlalu lelah untuk mendebat atau bertanya lebih jauh. Suara gemericik air dari kamar mandi kemudian menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian ruangan itu. Setelah melepaskan seluruh atribut kemewahannya gaun velvet, perhiasan berlian, dan riasan wajah yang tebal ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size. Hanya dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur, menandakan ia telah tenggelam dalam tidur yang lelap.

Denis berdiri di ambang pintu kamar sejenak, menatap sosok istrinya yang terlelap dalam remang cahaya lampu tidur. Ia bisa melihat guratan kelelahan di wajah wanita itu, namun ada juga sisa-sisa keanggunan yang masih tertinggal. Denis memilih untuk tidak mengganggu. Dengan langkah pelan yang hampir tak bersuara, ia menutup pintu kamar dan melangkah menuju ruang kerjanya yang terletak di sayap lain bangunan tersebut.

Ruang kerja itu adalah wilayah kekuasaan mutlaknya. Ruangan yang didominasi oleh kayu mahoni gelap dan rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Denis duduk di kursi kerjanya yang empuk, namun tubuhnya sama sekali tidak tampak rileks.

Wajah Denis berubah menjadi sangat serius, lebih dingin dan tajam daripada saat ia berada di pesta tadi. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit, namun pikirannya tidak sedang berada di sana. Hanya Denis yang tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

Denis memutar kursi kerjanya perlahan, membiarkan bayangan tubuhnya memanjang di lantai marmer. Kehadiran Min Ho malam ini bukan sekadar kebetulan yang menjengkelkan; bagi Denis, itu adalah sebuah peringatan. Ia mengenal karakter rivalnya itu sejak mereka masih mengenakan seragam sekolah. Min Ho tidak pernah tertarik pada sesuatu yang biasa-biasa saja. Jika pria itu menunjukkan minat pada Calista, itu berarti Min Ho telah mencium adanya anomali dalam pernikahan "sempurna" yang dipamerkan Denis.

Denis mengetukkan jemarinya di atas meja kayu yang dipelitur halus, menciptakan irama monoton yang memenuhi ruangan yang sunyi. Pikirannya melayang pada cara Calista menangani Min Ho tadi. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang merayap di dada Denis saat mengingat bagaimana tangan Min Ho berlama-lama menyentuh tangan istrinya. Itu adalah tantangan terbuka, sebuah deklarasi perang yang dilakukan di bawah kedok etiket kelas atas. Namun, yang lebih mengganggu Denis adalah kenyataan bahwa Calista mampu mengimbangi pria itu tanpa terlihat gentar sedikit pun.

"Kau terlalu pintar, Calista," gumam Denis pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan angin.

Ada ambivalensi dalam perasaannya. Di satu sisi, kecerdasan Calista adalah aset yang mempermudah langkah-langkah sosialnya. Namun di sisi lain, kecerdasan itu menjadikannya sulit untuk dikendalikan sepenuhnya. Denis mulai bertanya-tanya, apakah keputusannya membawa Calista ke dalam dunianya adalah langkah jenius atau justru sebuah kesalahan fatal yang suatu saat akan berbalik menyerangnya.

Ia meraih sebatang cerutu namun tidak menyalakannya, hanya memutar-mutarnya di antara jemari. Ingatannya kembali ke masa sekolah, saat ia dan Min Ho berebut nilai tertinggi. Denis selalu menang, bukan karena ia lebih cerdas secara akademis, tapi karena ia lebih tega dalam mengambil keputusan. Ia selalu mampu melihat tiga langkah ke depan sementara orang lain masih fokus pada langkah pertama. Dan malam ini, ia menyadari bahwa Min Ho sedang mencoba menggunakan Calista sebagai "papan catur" baru untuk mengalahkannya.

Lampu meja yang temaram menonjolkan garis-garis tegas di wajah Denis, menunjukkan betapa banyak beban yang ia pikul di balik penampilannya yang tanpa cela. Ia memikirkan kontrak yang mengikat Calista padanya. Kontrak itu adalah rantai, tapi setelah melihat reaksi dunia luar terhadap istrinya, Denis merasa rantai itu mungkin tidak cukup kuat untuk menahan wanita seperti Calista jika suatu saat ia memutuskan untuk terbang tinggi.

Ia harus memperketat pengawasan. Bukan hanya karena Susi dan Puput yang terus merongrong dari dalam, tapi karena ancaman dari luar seperti Min Ho jauh lebih berbahaya. Min Ho adalah predator yang sabar, dan ia tidak akan ragu untuk menghancurkan hidup Calista hanya demi melihat Denis menderita.

Denis kemudian membuka laptopnya, layar yang terang menyinari wajahnya yang dingin. Ia mulai mengetik beberapa instruksi rahasia kepada tim keamanannya untuk memantau setiap pergerakan Min Ho selama berada di Indonesia. Ia juga memerintahkan asistennya untuk memperketat keamanan di rumah sakit tempat ibu Calista dirawat. Itu adalah titik lemah Calista, dan Denis tahu betul bahwa siapa pun yang menguasai titik lemah seseorang, dialah yang akan memenangkan permainan.

Pukul dua dini hari, namun Denis masih terjaga. Pikirannya terus berputar, menyusun skenario-skenario yang mungkin terjadi jika Calista mulai menyadari nilai tawar yang ia miliki. Denis harus memastikan bahwa kesetiaan Calista tetap berada padanya, bukan karena rasa takut atau hutang budi, melainkan karena ia tidak memiliki pilihan lain di dunia ini.

Dunia luar mengenalnya sebagai pria yang tak memiliki celah, namun di dalam ruang kerja yang sunyi ini, ia sedang merancang sebuah pertahanan yang lebih kuat. Ia harus memastikan bahwa Min Ho tidak akan pernah bisa menyentuh Calista, bukan hanya karena wanita itu istrinya, tetapi karena Calista adalah bagian dari rencana jangka panjang yang hanya ia sendiri yang memahaminya.

Denis tahu, permainan baru saja dimulai. Dengan Calista di sampingnya, ia memiliki senjata paling mematikan sekaligus tantangan terbesar yang pernah ia hadapi. Di tengah kesunyian malam, sang penguasa Satrya itu terus tenggelam dalam labirin pikirannya yang dalam, menyusun strategi untuk menghadapi badai yang ia tahu pasti akan datang menghantam istananya.

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!