NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Izin

Suasana ruang makan malam itu terasa sangat hangat dan intim. Meski menu yang tersaji di hadapan mereka berbeda, namun justru itulah yang membuat suasana semakin unik.

Di piring Gadis mengepulkan aroma Nasi Goreng kesukaannya, sementara di hadapan Langit tersaji semangkuk Soto hangat yang menggugah selera.

Tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan itu. Justru keduanya saling menyuap dengan sangat manis.

"Aaa... buka mulutnya, ini enak banget lho," seru Gadis sambil menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Langit.

Langit pun membalas, mengambil sendoknya sendiri dan menyuapkan kuah soto hangat ke bibir mungil gadis itu.

Melihat pemandangan itu, para pelayan yang berdiri berjajar di belakang mereka tak kuasa menahan rasa gemas. Mereka mulai berbisik-bisik pelan.

"Ih so sweet banget sih ya Tuan sama Nyonya..." desis salah satu pelayan pelan. "Manis banget hubungan mereka, bikin iri deh."

Mendengar itu, kepala pelayan Nadia langsung berdehem keras.

"Ehem!!"

Ia menatap tajam anak buahnya, mengingatkan agar tetap sopan dan tidak berisik. Tapi meski sudah ditegur, para pelayan itu tetap saja terkikik-kikik pelan, sangat pelan, bahagia melihat bos mereka begitu bahagia.

Gadis yang pendengarannya tajam mendengar bisikan itu pun ikut tertawa kecil, wajahnya memerah menahan malu tapi senang.

Sementara itu, Langit hanya tersenyum tipis dan tetap santai menikmati makanannya. Baginya, selama Gadis bahagia dan makan lahap, omongan siapa pun tidak penting. Ia sama sekali cuek dan tak peduli.

Setelah acara makan malam selesai. Mereka bergandengan tangan erat, jari-jemari saling mengunci seolah tak ingin terlepas sedetik pun.

Mereka pun berlari kecil menaiki tangga, langkah mereka ringan dan melompat-lompat kecil persis seperti adegan romantis di film-film India. Rambut mereka bergerak mengikuti irama langkah, senyum tak pernah lepas dari wajah keduanya.

Malam itu begitu indah, langit bersih bertabur bintang dan diterangi sinar rembulan yang purnama.

Gadis menarik tangan Langit menuju balkon kamar yang luas. Ia mengajak Langit duduk di balkon menikmati malam dengan sinar bulan.

Langit pun duduk bersandar di kursi empuk yang tersedia. Sedangkan Gadis malah duduk di pangkuan Langit, pria itupun menyambutnya dengan melebarkan kedua tangannya.

Gadis pun duduk dengan nyaman di atas pangkuan pria itu, menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang yang menjadi rumahnya.

Mereka saling memeluk erat, sangat erat. Tangan Langit melingkar penuh posesif mengunci pinggang ramping itu, sementara tangan mungil Gadis melingkar di leher pria itu, wajah mereka saling menempel.

Suasana itu begitu mesra dan mendalam, seolah-olah mereka bukan hanya berpisah seharian, tapi seakan baru saja bertemu kembali setelah terpisah jarak yang sangat jauh dan waktu yang sangat lama. Rindu itu terbayar lunas hanya dengan pelukan hangat di bawah sinar bulan.

"Hmm... Langit..." panggil Gadis pelan memecah keheningan malam.

Jari-jarinya yang mungil asyik bermain di atas dada bidang pria itu, mengusap lembut dan menggambar pola tak beraturan. Langit yang merasa geli pun langsung menangkap tangan kecil itu, lalu dengan lembut ia mencium punggung tangan gadis itu penuh sayang.

"Ada apa, Sayang?" tanya Langit lembut, matanya menatap manik mata di hadapannya.

Gadis tampak ragu-ragu, ia memainkan ujung jari Langi, suaranya pelan penuh keraguan.

"Boleh nggak sih... aku kuliah lagi? Terus aku mau bekerja juga," ucapnya pelan.

Hatinya sebenarnya sudah mulai bosan dan jenuh jika harus diam di rumah saja setiap hari. Ia rindu kesibukan, rindu bertemu teman, dan rindu menjalani kehidupannya sendiri seperti dulu kuliah dan bekerja demi menghidupi diri sendiri.

Namun di sisi lain, ia sadar betul. Hidupnya sudah berubah total.

Ia tidak sendirian lagi. Di sisinya kini ada Langit, pria yang menjadi dunianya, yang selalu melindunginya dari segala bahaya, bahkan dari kejahatan orang tua angkatnya sendiri yang tega menjualnya.

Langit menatap lekat wajah polos di hadapannya. Matanya menyapu setiap detail wajah gadis itu, seakan sedang menimbang-nimbang permintaan tersebut dengan serius.

Ia tidak langsung menjawab, membuat Gadis semakin gugup menanti keputusan sang Raja.

Akhirnya, senyum tipis terukir di bibir Langit.

"Kalau mau kuliah... boleh," jawabnya pelan namun jelas. "Boleh banget malah. Aku dukung kamu buat sekolah tinggi-tinggi."

Wajah Gadis langsung berseri-seri bahagia, tapi senyumnya tertahan saat Langit melanjutkan kalimatnya dengan nada tegas.

"Tapi syaratnya satu... kamu nggak boleh pergi sendirian. Harus ada supir khusus dan pengawal yang nemenin kamu dari gerbang sampai masuk kelas, dan jemput lagi sampai pulang aman. Oke?"

Gadis mengangguk cepat.

"Tapi ..." Langit menggelengkan kepalanya tegas, tangannya mengusap lembut pipi gadis itu. "Untuk kerja, NO! Nggak usah."

Ia menatap mata Gadis dalam-dalam, penuh keyakinan.

"Sayang... lihat aku. Aku masih sangat kuat, bahkan sangat lebih dari cukup buat menafkahi kamu. Aku bisa kasih apa saja yang kamu mau, bahkan yang belum kamu minta pun aku siap beliin. Jadi buat apa kamu capek-capek kerja? Tugas kamu cuma satu, bahagia dan tetap disisiku."

"Kenapa sih?!" seru Gadis dengan nada sedikit meninggi, wajahnya cemberut penuh protes.

Ia langsung berdiri dari pangkuan Langit, menatap pria itu dengan mata memohon sekaligus kesal.

"Aku kan juga pengen banget rasain kehidupan normal! Pengen kuliah, pengen punya kegiatan sendiri, pengen kerja dan punya uang sendiri kayak orang-orang lain di luar sana!" ucapnya lantang, tangannya terlipat di dada menunggu penjelasan.

Mendengar rengekan dan protes itu, Langit langsung menghela napas panjang. Tangannya terangkat memijat pelipisnya dengan gerakan lambat.

Kepalanya terasa pening dan pusing tujuh keliling.

Bukan marah, tapi ia bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Gadis bahwa dunia luar itu berbahaya, dan ia tidak mau wanitanya terbebani dengan pikiran untuk hal-hal yang menurutnya tidak perlu.

Langit kembali menarik napas panjang, berusaha menenangkan emosinya yang mulai naik. Ia mengembuskan napas itu perlahan, lalu menatap kembali wajah kekasihnya yang sedang merajuk itu.

"Oke..." ucap Langit akhirnya dengan nada pasrah tapi tetap tenang. "Kalau kamu pengen kerja... Kamu kerja di perusahaan aku."

Mendengar tawaran itu, mata Gadis justru membesar melotot tak terima.

"Hah?! Nggak mauuu!!" serunya keras, kakinya menghentak-hentak lantai balkon pelan karena kesal. "Aku tuh mau cari pengalaman sendiri! Sendirian! Tanpa ada embel-embel nama kamu."

Langit benar-benar merasa kepalanya mau pecah. Telinganya berdenging, pikirannya pusing mendengar permintaan gadis itu yang keras kepala.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mencoba menenangkan diri agar tidak meledak.

Melihat wajah Langit yang terlihat begitu lelah dan pusing, hati Gadis langsung terasa perih. Sedih bercampur rasa bersalah langsung menghujam dadanya.

Meski merasa bersalah, rasa gengsi membuatnya tetap diam berdiri di tempat, tidak berani mendekat lagi.

Beberapa saat hening berlalu. Langit kembali menarik napas panjang, sangat dalam, lalu mengembuskannya perlahan seakan membuang semua rasa pusing itu jauh-jauh.

Ia membuka matanya kembali, tatapannya sudah tenang dan lembut.

"Oke..." ucapnya pelan namun tegas. "Kamu boleh kerja."

Wajah Gadis langsung berubah dari sedih menjadi kaget.

"Tapi bilang sama aku, kamu mau masuk di perusahaan mana?" tanya Langit. "Kamu kasih tahu aku, biar aku bisa cek dan kasih masukan, pastikan tempatnya aman dan nyaman buat kamu."

Ia menatap Gadis serius.

"Jangan ada penolakan lagi untuk keputusan ini ya. Sudah final!"

Sambil berkata begitu, tangan besar Langit menarik jemari mungil gadis itu perlahan. Ia menarik tubuh wanita itu kembali, memaksa Gadis duduk manis di pangkuannya lagi.

Begitu Gadis duduk, Langit langsung memeluknya erat-erat, menempelkan wajah mereka kembali, seakan ingin mengatakan bahwa meski ia mengizinkan, rasa sayangnya tak akan pernah berkurang.

"Makasih...." bisik Gadis lembut di dada pria itu, merasa sangat dimengerti.

Langit mengangguk pelan, lalu senyum lebar akhirnya terukir di wajahnya yang tampan itu.

Hati dan pikirannya langsung terasa plong dan ringan. Masalah yang tadi terlihat sepele, cuma soal mau kerja atau tidak, tapi ternyata cukup bikin otaknya pusing dan kepalanya pening akhirnya bisa selesai juga saat itu juga.

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!