Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
.
Mobil kembali melaju. Tiga orang yang berada di dalamnya duduk diam dan berkutat dengan pikiran masing-masing.
Dirga memalingkan wajah ke arah jendela. Tatapannya dingin dan kosong. Hanya rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.
Sementara itu di sampingnya, Amanda juga melakukan hal yang sama. Matanya menatap ke luar, pura-pura sibuk memperhatikan jalanan, padahal pikirannya kacau. Detak jantungnya belum sepenuhnya normal sejak kejadian tadi.
Sementara di kursi depan, Asisten Kevin mengemudi dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya. Matanya yang datar sesekali melirik ke arah kaca spion.
“Calon istri…?” Dua kata yang beberapa detik lalu meluncur dari mulut Tuan Dirga hingga kini masih terngiang jelas di kepalanya.
“Apa maksud Tuan Dirga tadi? Kenapa Tuan Dirga menyebut Bu Amanda sebagai calon istri?”
Kevin ingat dengan jelas, selama bertahun-tahun bekerja, ia tidak pernah melihat satu pun wanita bisa sedekat itu dengan Dirga. Jangankan duduk berdampingan, menatap saja sudah gemetar. Tapi wanita yang satu ini, bukan hanya berani duduk di sampingnya, Bahkan berani memaki.
Dan ajaibnya, dia masih hidup.
Kevin menggeleng tidak percaya. Seingatnya, satu-satunya wanita yang berani berdebat dengan Tuan Dirga hanyalah mendiang Nyonya Susi, istri kedua Tuan Dirga, ibunya Putri.
Tiba-tiba mata asisten Kevin terbelalak, matanya perlahan melirik ke arah Amanda yang masih duduk sambil memalingkan wajah. Apakah karena Bu Amanda memiliki sifat yang sama-sama tak mau mengalah seperti Nyonya Susi?
Mobil terus melaju, membelah jalan pagi yang semakin ramai, hingga akhirnya berhenti perlahan.
“Turun!” suara dingin Dirga terdengar memecah keheningan.
Amanda yang sejak tadi menatap keluar sedikit mengernyit. Matanya mengedar, memperhatikan sekitar dan terdiam.
Gerbang besar, bangunan sekolah tempatnya mengajar sudah berada tepat di depan matanya. Apakah tadi dirinya melamun hingga tak menyadari bahwa mereka telah sampai?
Beberapa detik lamanya Amanda masih terdiam. Lalu tanpa berkata apa-apa tangannya bergerak membuka pintu mobil dan turun begitu saja tanpa menoleh atau bicara sedikitpun pada Dirga. Namun, sebelum menutup pintu wanita itu menundukkan badannya dan menatap ke arah kursi kemudi.
“Terima kasih, Pak Kevin,” ucapnya sopan.
Kevin langsung menoleh dan mengangguk cepat. “Sama-sama, Bu.”
Buk!
Pintu tertutup dan Amanda berjalan masuk ke dalam area sekolah tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil yang kembali melaju, suasana kembali hening. Lebih hening dari sebelumnya. Asisten bertangan dingin itu kembali melirik ke arah spion dan terlihat olehnya Dirga masih di posisi yang sama.
Namun, yang tidak disadari oleh asisten Kevin adalah di atas paha dua tangan Dirga terkepal erat. Rahangnya mengeras.Tatapannya kini tidak lagi ke luar jendela, melainkan lurus ke depan, tajam dan dalam.
Glek!
Asisten Kevin menelan ludahnya susah payah. Tatapan tajam itu tertuju padanya. Asisten Kevin merasa tiba-tiba tengkuknya menjadi begitu dingin. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan?
“Manusia tidak tahu diuntung!” Suara geraman Dirga terdengar membuat asisten Kevin mengerutkan keningnya bingung. Hingga suara geraman Dirga kembali terdengar. “Jelas-jelas aku yang punya mobil Kenapa dia berterima kasih padamu?”
Asisten Kevin melongo, apakah yang berada di belakangnya Ini benar-benar masih Tuan Dirga? Kenapa sifatnya jadi kekanakan seperti ini? Atau… Apakah tuanya ini sedang merasa cemburu?
“Saya akan sampaikan itu untuk lain kali Bu Amanda berterima kasih pada Anda, Tuan.”
“Tidak perlu!” Dirga mendelik sengit. “Kamu pikir aku orang yang gila validasi?”
Ingin rasanya asisten Kevin tertawa terbahak-bahak. Namun, tentu saja dia tak seberani itu.
*
Siang itu, ruang guru terasa cukup tenang. Suara kipas angin berputar pelan, sesekali diselingi suara kertas dibalik. Amanda duduk di mejanya, dikelilingi tumpukan berkas ulangan siswa.
Tangannya bergerak, tapi pikirannya tidak. Satu lembar diperiksa. Dua lembar diberi nilai. Lalu berhenti. Tatapannya kosong. Lalu tiba-tiba matanya melirik ke arah pergelangan tangannya. Bekas kemerahan itu masih samar terlihat. Amanda mengerjap. Tanpa sadar jari-jarinya perlahan menyentuh bagian itu.
Deg!
Amanda merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena sakit. Tapi karena dirinya tiba-tiba mengingat kala Dirga menarik tangannya dengan kasar dan pada saat tubuhnya terhuyung hingga menempel pada dada bidang pria itu.
Jarak mereka yang terlalu dekat, hidung yang tanpa sengaja bersentuhan, mata yang saling menatap. Tiba-tiba saja wajah Amanda memerah. Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba menghilangkan bayangan-bayangan itu dan kembali fokus pada berkas-berkas yang kini berada di tangannya.
“Fokus, Amanda, fokus! Untuk apa terus-menerus mengingat hal seperti itu?” gumamnya pelan. Merasa kesal pada dirinya sendiri yang sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Angka-angka di kertas terasa kabur. Huruf-huruf seakan menari dan mengejeknya. Dan detak jantungnya semakin tidak beraturan.
Seorang guru di sebelahnya menoleh, karena merasa heran melihat Amanda yang tidak seperti biasanya. “Bu Amanda, nggak apa-apa? Apa Bu Amanda sakit?”
Amanda menoleh dan tersenyum canggung. “Eh, nggak apa-apa, kok Bu. Cuma pusing sedikit. Mungkin karena kurang tidur,” jawabnya memberi alasan.
Padahal yang pusing bukan kepalanya.
*
Sementara itu di kantor pusat Wijaya Corp.
Ruangan CEO yang biasanya sunyi dan penuh wibawa, hari itu terasa berbeda.
Dirga duduk di kursi kebesarannya dengan layar laptop menyala di hadapannya. Dokumen penting terbuka.
Namun, sudah hampir lima menit tidak ada satu pun yang ia baca.
Tatapannya kosong. Pikirannya jauh dari pekerjaan. Tanpa sadar tangannya terkepal kala bayangan itu kembali muncul. Wanita keras kepala, berani dan menyebalkan. Sama sekali tidak pernah takut apalagi hormat padanya.
Rahang Dirga mengeras, berulang kali mencoba fokus namun gagal.
Tok tok…
Suara ketukan pintu membuatnya kembali pada kesadarannya. Pria yang berdehem berkali-kali untuk menetralkan wajahnya sebelum kemudian berseru, “Masuk!”
Asisten Kevin masuk dengan map di tangan. “Tuan, ini laporan proyek yang…”
“Kevin.”
Belum selesai Kevin dengan laporannya, suara Dirga membuatnya berhenti.
“Ya, Tuan?”
Dirga tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dua sikunya berada di atas pegangan kursi dan sepuluh jari jemarinya saling bertaut. Tatapannya lurus ke depan, dingin tapi penuh perhitungan.
Beberapa detik berlalu hingga kemudian dia berkata, “Siapkan surat perjanjian.”
Kevin mengernyit. “Surat perjanjian?”
Dirga akhirnya menoleh dan menatapnya tajam. “Perjanjian nikah kontrak.”
Deg!
“Maaf?” Kevin menatap ke arah Dirga dengan alis terangkat . Mungkin dia hanya salah dengar.
Dirga mengambil nafas dalam kemudian mengatakan kalau dia akan menikah kontrak dengan Amanda.
Asisten Kevin sempat terkejut. “Dengan Bu Amanda?” pria paruh baya itu bertanya tidak percaya.
“Jangan berpikir macam-macam!” seru Dirga sambil melemparkan sebuah pulpen yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Kevin. “Aku menikah dengannya bukan karena menyukainya! Mana mungkin aku menyukai wanita bar-bar seperti dia?”
“Saya tidak berpikir seperti itu," jawab Kevin. padahal dalam hatinya berkata, "Hati-hati nanti kualat!"
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.