Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bab 13
Helikopter itu berdiri di tengah lapangan terbuka seperti serangga raksasa dari masa depan yang sedang beristirahat. Badannya ramping, berlapis logam gelap yang memantulkan cahaya hutan dalam kilau redup. Balik-baliknya tidak berbentuk baling-baling biasa, melainkan semacam cincin berputar yang berdengung halus, seperti suara napas mesin yang tidak pernah lelah.
Bumi menatapnya dengan campuran kagum dan cemas.
“Serius kita naik itu?” bisiknya.
Pam sudah lebih dulu menaikkan tabung bahan bakar berbahan singkong ke dalam kabin. Tabung itu panjang, transparan sebagian, memperlihatkan cairan kekuningan yang berkilau samar seperti madu yang diberi listrik.
“Kalau kamu punya pilihan lain, silakan,” jawab Pam ringan.
Bumi menggeleng cepat. “Nggak, ini aja.”
Di belakang mereka, Nuri berdiri tegak, diapit beberapa pasukan bertopeng. Wajahnya tetap tenang, seperti ratu yang tidak pernah ragu. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang bergetar halus di matanya—sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh orang yang mengenalnya.
“Aku akan mengantarkan mereka,” kata Nuri singkat.
Para pasukan saling pandang sebentar, lalu mengangguk serempak.
“Baik, Yang Mulia.”
Tidak ada yang membantah.
Bumi memperhatikan itu. Cara mereka tunduk, cara mereka patuh—itu bukan sekadar hormat. Itu seperti keyakinan.
Nuri melangkah masuk ke dalam helikopter. Bumi dan Pam menyusul. Begitu mereka duduk, pintu otomatis menutup dengan suara halus.
Di depan, tidak ada pilot manusia.
Hanya sebuah sosok robot dengan bentuk ramping, wajahnya berupa layar datar yang menampilkan garis-garis cahaya seperti mata buatan.
“Tujuan?” suara robot itu datar, tapi jelas.
“Pesawat kapsul mereka. Di luar hutan,” jawab Nuri.
“Dikonfirmasi.”
Helikopter bergetar ringan.
Lalu—
Tanah menjauh.
Hutan yang tadi terasa menekan dari segala arah, kini terbuka seperti lautan hijau yang luas. Dari atas, semuanya terlihat berbeda. Pohon-pohon menjulang seperti menara hidup, kanopi mereka saling menyatu membentuk permukaan yang bergelombang.
Bumi menahan napas.
“Gila…” bisiknya pelan.
Angin tipis menyelinap melalui celah ventilasi, membawa aroma daun dan tanah yang lebih segar dari sebelumnya. Cahaya matahari kini jatuh lebih bebas, memantul di atas daun-daun yang berkilau seperti kaca basah.
“Indah banget,” kata Bumi tanpa sadar.
Di sampingnya, Nuri juga menatap ke luar. Matanya sedikit melembut.
“Iya…” gumamnya. “Aku juga nggak pernah bosan lihat ini.”
Pam bersandar di kursinya, tampak jauh lebih santai dibanding mereka berdua.
“Kerajaan Arbuck itu unik,” katanya. “Mereka bukan cuma bertahan… mereka beradaptasi.”
Bumi menoleh. “Maksudnya?”
Pam menunjuk ke luar. “Lihat itu. Hutan ini bukan liar sepenuhnya. Mereka mengendalikannya, tapi nggak menghancurkannya. Teknologi mereka nyatu sama alam.”
“Kayak… suku Amazon?” tanya Bumi ragu.
Pam tersenyum kecil. “Lebih dari itu. Mereka keturunan Amazon. Tapi mereka juga berhasil menyelaraskan teknologi dengan inti bumi.”
“Inti bumi?” ulang Bumi.
“Iya. Sumber energi paling kuat yang tersisa. Dan paling diperebutkan.”
Helikopter meluncur melewati sungai yang berkelok seperti ular perak. Di beberapa titik, terlihat struktur bangunan yang menyatu dengan pohon, seperti sarang yang tumbuh alami.
“Banyak yang mau nguasain kerajaan ini,” lanjut Pam. “Tapi Arbuck… dia bukan raja biasa.”
Bumi mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Dia bisa bertahan. Mengusir semua yang datang. Karena dia punya satu hal yang semua orang inginkan.”
“Energi inti bumi,” gumam Bumi.
Pam mengangguk.
Bumi terdiam sebentar, lalu bertanya, “Emang nggak ada di tempat lain?”
Pam tertawa kecil, tapi tanpa humor.
“Ada. Dulu.”
“Dulu?”
“Sekarang sebagian besar sudah habis dikeruk. Diambil, dipakai, diperebutkan.” Pam menatap jauh ke depan. “Sebagian dibawa ke luar angkasa. Sebagian lagi dipakai di California. Dan… ada rumor…”
“Apa?” tanya Bumi.
Pam meliriknya. “Dipakai di tempat aman di timur selatan itu.”
Bumi terdiam.
Tempat aman.
Kata itu terus muncul, seperti bayangan yang tidak mau hilang. Ia lalu menoleh ke Nuri. “Kak…” katanya pelan, lalu langsung berhenti, sadar akan situasi.
Nuri tidak menoleh, tapi suaranya menjawab. “Nggak apa-apa.”
Bumi menelan ludah. “Gimana… kamu bisa ada di sini?”
Hening sejenak.
Helikopter terus melaju, suara mesinnya seperti detak jantung yang stabil.
“Aku bangun,” kata Nuri akhirnya. “Tiba-tiba. Di penjara.”
Bumi mengernyit. “Penjara?”
“Iya. Mereka nangkap aku. Mereka pikir aku mata-mata.”
“Kenapa?”
Nuri menarik napas pelan. “Karena orang yang mereka tangkap bareng aku… adalah ‘orang tuaku’ di sini.”
Bumi terdiam.
“Mereka dari California,” lanjut Nuri. “Mata-mata. Mereka mau masuk ke kerajaan ini.”
“Terus kamu bilang…?”
“Aku bilang pada Arbuck, aku bukan anak mereka.” Nuri tersenyum tipis. “Aku bilang aku keturunan ratu Aztec yang di sandera mereka.”
Bumi membelalakkan mata. “Dan… dia percaya?”
Nuri mengangkat bahu. “Aku juga nggak tahu kenapa dia percaya.”
Pam menyelipkan, “Mungkin karena kamu meyakinkan.”
Nuri tertawa kecil. “Atau karena dia butuh alasan untuk percaya.”
Bumi menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke kursi.
“Hebat ya,” gumamnya. “Nggak di tahun 2026, nggak di 6026… kamu tetap jadi kakak yang bisa segalanya.”
Nada suaranya ringan, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
“Pasti ayah sama ibu bangga banget,” tambahnya pelan.
Kalimat itu menggantung.
Nuri tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar, ke hamparan hijau yang seolah tak berujung. “Bumi…” katanya pelan.
“Iya?”
“Ayah sama ibu juga bangga sama kamu.”
Bumi menoleh.
“Anak laki-laki yang mereka tunggu lama banget,” lanjut Nuri, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Bumi terdiam.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, tapi juga menyakitkan.
Helikopter terus melaju.
Dan untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.
Hanya suara mesin… dan pikiran masing-masing yang berjalan ke arah yang sama.
“Aku ingin pulang,” kata Bumi pelan.
Nuri menoleh, “Aku juga.”
Pam menghela napas. “Ini nggak cukup,” katanya. “Untuk bawa kalian kembali ke 2026, kita harus ke California. Dan ini nggak cukup. Kita tetap butuh inti bumi. Sedikit aja.”
Nuri menghela napas panjang. “Ada masalah,” katanya.
Pam menoleh cepat. “Apa?”
Nuri menatap mereka berdua. “Kerajaan Arbuck… sebenarnya sudah hampir tidak punya inti bumi.”
Bumi tertegun. “Hah?”
“Kalau pun ada…” lanjut Nuri, “paling cuma sisa seukuran bola basket.”
Pam membeku. “Kenapa bisa begitu?”
Nuri menatap ke arah hutan, seolah mencari jawaban di antara pepohonan.
“Dia menukarnya,” katanya pelan. “Dengan… sesuatu.”
“Dengan siapa?” tanya Bumi.
Nuri ragu sejenak.
“Alien.”
Kata itu jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang.
Bumi menatap Pam. Pam menatap Nuri.
Tidak ada yang langsung bicara.
“Untuk… mengamankan masyarakatnya,” tambah Nuri.
Pam mengusap wajahnya pelan. “Gila…”
Hening kembali menyelimuti mereka.
Lalu Nuri seperti teringat sesuatu.
“Tapi…” katanya pelan.
“Apa?” tanya Pam cepat.
Nuri menatap mereka, matanya sedikit menyipit, seperti sedang menyusun potongan puzzle.
“Ada satu.”
“Satu apa?”
“Cuil inti bumi.”
Bumi mendekat. “Di mana?”
“Di cincin Arbuck. Tapi apa itu cukup?”
Pam langsung berdiri tegak. “Lebih dari cukup! Secuil aja, bisa menghidupkan satu kota untuk ratusan ribu tahun lamanya!
Bumi menelan ludah. “Jadi… kita harus ambil itu?”
Nuri tidak langsung menjawab. Angin berhembus pelan, membuat daun-daun berdesir seperti bisikan rahasia. “Aku punya rencana,” katanya akhirnya.
Bumi dan Pam langsung menatapnya.
“Aku kembali ke kerajaan. Ambil cincin itu.”
“Sendirian?” tanya Bumi.
“Iya.”
“Itu berbahaya,” kata Pam.
Nuri tersenyum tipis. “Sejak kapan hidup kita nggak berbahaya?”
Tidak ada yang membantah.
“Kalian tunggu di hutan,” lanjut Nuri. “Besok pagi. Di tempat yang sama.”
“Kalau kamu nggak datang?” tanya Bumi pelan.
Nuri menatapnya.
Tatapan itu… seperti kakaknya yang dulu. Hangat, tapi tegas.
“Kalau aku nggak datang…” katanya, “kalian harus pergi.”
Bumi menggeleng cepat. “Nggak bisa—”
“Bumi,” potong Nuri. “Jangan paksa diri kalian.”
Suara itu bukan suara ratu. Itu suara kakak.
“Kalau aku nggak berhasil,” lanjutnya, “itu berarti memang bukan jalan kita.”
Bumi menggigit bibirnya.
Pam menepuk bahunya pelan. “Kita dengarkan dia.”
Bumi tidak menjawab, tapi matanya tidak lepas dari Nuri.
—
Beberapa menit kemudian, helikopter mulai menurun. Di bawah, terlihat pesawat kapsul mereka—kecil, sunyi, seperti benda asing yang tersesat di tengah dunia yang bukan miliknya. Helikopter mendarat perlahan. Pintu terbuka.
Udara luar terasa lebih liar, lebih tidak terkendali dibanding dalam kerajaan tadi. Bumi turun lebih dulu, diikuti Pam dan Nuri. Tabung bahan bakar singkong diturunkan dengan hati-hati. Pam langsung memeriksa kapsul, tangannya bergerak cepat, matanya fokus.
“Kita ketemu besok,” kata Nuri yang masih ada di helicopter.
Perlahan, ia terangkat. Dan semakin lama… semakin kecil. Sampai akhirnya hilang masuk ke hutan.