Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Gangguan Yang Disengaja
Makan malam itu seharusnya menjadi ruang bagi Arvin untuk kembali mendapatkan kendali yang mulai lepas dari tangannya, namun semakin lama percakapan berlangsung, justru semakin jelas bahwa posisi mereka telah berubah secara perlahan tanpa bisa ia hentikan, sementara Lisa tetap duduk dengan tenang di hadapannya, memainkan perannya dengan sangat rapi, tidak terlalu dingin namun juga tidak lagi hangat seperti dulu, sebuah keseimbangan yang membuat Arvin terus mencoba mendekat tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil justru membawanya masuk lebih dalam ke dalam permainan yang sudah Lisa siapkan.
“Aku merasa kamu seperti menjauh,” kata Arvin akhirnya dengan suara yang lebih rendah, mencoba menyampaikan sesuatu yang sejak tadi ia tahan.
Lisa menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“maksudnya! Menjauh dari apa?” tanyanya.
Arvin menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabaran.
“Dari aku,” jawabnya jujur.
Lisa memiringkan kepalanya sedikit.
“Atau… dari ekspektasimu tentang aku?” balasnya dengan tenang.
Pertanyaan itu langsung membuat Arvin terdiam.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi…
Sebuah suara wanita terdengar dari samping mereka.
“Maaf mengganggu…”
Lisa dan Arvin menoleh bersamaan.
Dan di sana…
Luna Priscilla berdiri dengan senyum elegan yang terlihat sangat terlatih, matanya berkilat halus seolah ia sudah menilai situasi bahkan sebelum benar-benar mendekat.
“Sepertinya aku tidak salah lihat,” lanjut Luna dengan nada ringan, “ini benar kamu, Arvin?”
Arvin terlihat sedikit terkejut, namun ia segera berdiri dengan refleks.
“Luna?” katanya.
Luna tersenyum lebih lebar.
“Sudah lama tidak bertemu,” ucapnya santai, lalu pandangannya beralih ke Lisa dengan cara yang sangat halus namun penuh penilaian, “dan ini…?”
Lisa tidak terburu-buru menjawab.
Ia justru menatap balik Luna dengan tenang, membaca setiap gerakan kecil yang wanita itu lakukan.
Arvin segera berkata, “Ini Lisa.”
Luna mengangguk pelan.
“Jadi kamu Lisa…” katanya, suaranya terdengar lembut namun mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan, “aku sudah sering dengar tentangmu.”
Lisa tersenyum tipis.
“Semoga yang kamu dengar bukan hal buruk,” jawabnya.
Luna tertawa kecil.
“Belum tentu,” katanya ringan, lalu menambahkan, “tapi sekarang aku bisa menilai sendiri.”
Suasana menjadi sedikit tegang, meskipun dibungkus dengan percakapan yang terlihat santai, dan Arvin yang berdiri di antara mereka jelas merasakan perubahan itu namun tidak sepenuhnya mengerti bagaimana harus mengendalikannya.
“Kamu sendirian?” tanya Arvin, mencoba mengalihkan suasana.
Luna mengangguk.
“Iya, kebetulan ada urusan di sini,” jawabnya, lalu sedikit mendekat ke meja, “aku tidak mengganggu, kan?”
Lisa menjawab lebih dulu.
“Tidak,” katanya dengan nada halus, “silakan kalau mau duduk.”
Kalimat itu membuat Arvin sedikit terkejut.
Namun Luna justru tersenyum.
“Kalau kamu tidak keberatan…” katanya, lalu tanpa menunggu terlalu lama ia menarik kursi dan duduk dengan anggun di samping mereka.
Dan di situlah…
Permainan berubah arah.
Percakapan yang awalnya hanya melibatkan dua orang kini menjadi tiga, dan masing-masing memiliki tujuan yang tidak diucapkan secara langsung, sementara Lisa tetap menjaga ekspresinya tetap tenang, meskipun di dalam pikirannya ia sudah mulai menganalisis langkah Clara melalui Luna, karena ia tahu wanita seperti Luna tidak akan datang tanpa alasan.
“Jadi, kalian sedang makan malam?” tanya Luna santai.
Arvin mengangguk.
“Iya,” jawabnya singkat.
Luna tersenyum tipis.
“Romantis,” katanya, namun cara ia mengucapkannya tidak terdengar seperti pujian.
Lisa meliriknya sebentar.
“Hanya makan malam biasa,” balas Lisa.
Luna menatapnya.
“Biasa?” ulangnya pelan, lalu tertawa kecil, “kalau semua yang biasa seperti ini… aku jadi ingin lebih sering kebetulan lewat.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun jelas memiliki makna lain.
Beberapa saat percakapan berjalan dengan topik ringan, tetapi di balik itu semua, ketegangan terus meningkat karena masing-masing mulai menguji satu sama lain tanpa benar-benar menyerang secara langsung.
Namun di saat yang sama…
Di luar restoran…
Sebuah mobil hitam berhenti dengan tenang.
Seorang pria keluar dari dalamnya dengan langkah yang tidak terburu-buru namun penuh kepastian.
Tatapannya langsung mengarah ke dalam restoran.
Devan.
Ia berdiri sejenak, memperhatikan dari kejauhan, lalu berkata pelan pada dirinya sendiri…
“Jadi ini langkah yang kamu ambil…”
Ia tidak langsung masuk.
Namun sorot matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Lebih tajam.
Lebih serius.
Kembali ke dalam…
Luna menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu berkata dengan nada ringan, “Ngomong-ngomong, Lisa… kamu sudah lama kenal Arvin?”
Lisa menjawab tanpa ragu.
“Cukup lama,” katanya.
Luna mengangguk pelan.
“Menarik,” ucapnya, lalu menambahkan, “aku jarang lihat Arvin setenang ini dengan seseorang.”
Arvin sedikit mengernyit.
“Maksudmu?”
Luna tersenyum.
“Kamu biasanya lebih… mengontrol,” katanya blak-blakan.
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah.
Lisa melirik Arvin.
Sementara Arvin sendiri terlihat sedikit tidak nyaman.
Namun Lisa justru tersenyum tipis.
“Semua orang bisa berubah,” katanya pelan.
Kalimat itu kembali diulang.
Namun kali ini…
Dengan makna yang lebih dalam.
Dan di saat itulah…
Pintu restoran terbuka.
Seseorang masuk.
Langkahnya tenang.
Namun kehadirannya langsung terasa.
Devan.
Matanya langsung menangkap meja itu.
Lisa.
Arvin.
Dan Luna.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Sebuah senyuman yang tidak sederhana.
Dan tanpa ragu…
Ia mulai berjalan mendekat.