NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Ponsel di tangan Dewangga bergetar.

Getaran kecil itu terasa begitu jelas di tengah keheningan kamar yang masih dingin dan lengang.

Ia langsung meraihnya dan mengangkat tanpa melihat layar terlebih dahulu.

"Ya?"

Suaranya datar, serak ringan karena baru bangun.

Wajahnya masih setengah sadar, rambut berantakan, dan tubuhnya masih berbaring di tempat tidur dengan selimut yang sedikit kusut di sampingnya.

"Pak… saya tadi melihat Nona Linda pergi waktu pergi mencari sarapan,"

suara Riko terdengar dari seberang.

Dewangga tidak menjawab. Matanya sedikit mengerjap, fokusnya mulai terkumpul, tapi ekspresinya agak bingung mencerna situasi sekarang.

"Dia bersama anak perempuan. Sepertinya mereka akan ke taman yang saya katakan semalam," lanjut Riko.

Dewangga tetap diam, tidak ada respons sama sekali. Tangannya yang memegang ponsel hanya sedikit mengencang, sementara pikirannya mulai bekerja cepat di balik wajah yang tetap datar.

"Pak, apa yang harus saya lakukan sekarang?"

Baru setelah itu Dewangga membuka suara.

"Ikuti dan awasi mereka terus, jangan biarkan

Perintah Dewangga langsung duduk di kasurnya, mengucek matanya, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba itu.

Tanpa menunggu jawaban, panggilan belum sempat benar-benar selesai, Dewangga sudah memutus sambungan.

Detik berikutnya, ia langsung melompat turun dari kasur. Selimut terlepas sebagian, dan kakinya menyentuh lantai dengan cepat. Tangannya refleks menyambar kaos dari dalam lemari tanpa memilih, hanya mengambil yang paling dekat.

Dengan kondisi yang masih setengah sadar dan nyawa yang belum benar-benar terkumpul, Dewangga bergegas keluar kamar. Ia menuruni tangga dengan langkah cepat, hampir berlari kecil, tanpa sempat memperhatikan penampilannya yang masih berantakan dan acak-acakan. Di kepalanya, satu hal sudah mendominasi, memastikan arah langkah yang baru saja dilaporkan Riko.

"Sekarang dia ada di taman desa. Bersama… anak kecil perempuan itu."

Kalimat itu langsung menghentikan napasnya.

Detik itu juga.

Dewangga membeku.

Matanya sedikit melebar.

Tangannya yang memegang ponsel mengeras.

"Dia sedang bermain, Pak… sepertinya Nona Linda sedang menemani. Tapi tadi saya lihat Nona Linda pergi sebentar, mungkin membeli sesuatu. Anak itu sekarang sendirian di taman bermain."

Hening.

Dada Dewangga terasa sesak.

Bukan karena sakit.

Tapi karena… terlalu banyak hal yang datang bersamaan.

Senang.

Takut.

Bimbang.

Dan… sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kirim lokasinya"

Suaranya lebih rendah dari biasanya.

Sedikit berat.

"Baik, Pak."

Panggilan terputus.

Beberapa detik...

Dewangga tidak bergerak.

Masih berdiri di tempatnya.

Seolah tubuhnya belum siap mengikuti apa yang baru saja ia dengar.

Anaknya…

Napasnya mulai tidak teratur.

Tangannya mengepal.

Dia di sini…

Tanpa sadar, langkahnya bergerak cepat.

Seolah jika ia terlambat satu detik saja… semuanya akan hilang lagi.

Perjalanan ke taman terasa kabur.

Ia tidak benar-benar memperhatikan jalan.

Hanya satu hal yang memenuhi pikirannya.

Seperti apa anaknya itu yang bahkan belum sempat ia lihat walau sekali…

Dan

bagaimana dengan respon anaknya saat mengetahui siapa dirinya.

Apa mungkin? tidak…Dewangga menggelengkan kepalanya, mencoba membuang semua fikiran negatifnya.

Langkahnya melambat saat sampai.

Taman itu tidak besar.

Sederhana.

Beberapa permainan anak berdiri di sana, ayunan, jungkat-jungkit, dan satu seluncuran kecil.

Suara tawa anak-anak terdengar pelan.

Hatinya semakin gelisah, bingung, takut.

Tatapannya menyapu seluruh area taman dengan cepat.

Dan mengamati setiap sudut taman, sampai akhirnya tatapannya berhenti pada anak perempuan yang sedang kesusahan naik prosotan kecil, sendirian.

Tubuh Dewangga langsung terasa lemas.

Kakinya seolah kehilangan kekuatan.

Wajah itu

Sama.

Persis seperti foto yang ia lihat semalam.

Napasnya tertahan.

Matanya tidak berkedip.

Seolah takut… jika ia berkedip, bayangan itu akan hilang.

Itu…

Tangannya sedikit bergetar di samping tubuhnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Lebih keras.

Tidak terkendali.

Tanpa sadar.

langkahnya maju.

Pelan.

Namun pasti.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Matanya tidak lepas dari anak itu.

Dari cara ia naik tangga kecil.

Dari cara ia meluncur.

Dari tawa kecil yang terdengar begitu… asing, tapi juga dekat.

Setiap langkah terasa berat.

Namun ia tidak berhenti.

Dewangga semakin dekat.

Semakin jelas.

Dan untuk pertama kalinya…

dalam tiga tahun

ia berdiri begitu dekat…

dengan sesuatu yang selama ini hanya ia bayangkan.

Anaknya.

...****************...

Dewangga berdiri beberapa langkah dari papan seluncur di taman itu.

Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Matanya langsung terkunci pada satu titik. seorang anak perempuan kecil di atas papan seluncur, bersiap meluncur dengan wajah penuh kegembiraan.

Tawa kecil itu terdengar ringan, polos, tanpa beban.

Anak itu, Cici. Anaknya yang sudah lama iya cari dengan putus asa.

Tanpa berpikir panjang, kaki Dewangga bergerak maju. Langkahnya cepat, berlari kecil menghampirinya, seolah ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong untuk tidak menunggu lebih lama lagi.

Saat Cici mulai meluncur turun, tubuh kecil itu bergerak lurus ke depan.

Dan tepat di ujung seluncuran, Dewangga sudah berdiri.

Dengan sigap, ia menangkap tubuh kecil itu.

Gerakannya cepat, tapi hati-hati. Tangannya langsung merengkuh, menarik Cici ke dalam pelukannya tanpa memberi ruang sedikit pun.

Cici yang awalnya tertawa langsung terdiam.

Wajahnya berubah bingung.

Tubuhnya kaku sesaat dalam pelukan itu.

Ia mengangkat kepalanya sedikit, alisnya berkerut kecil. Tangannya yang kecil malah bergerak menggaruk kepalanya bingung.

Seolah… menggaruk sesuatu yang bahkan tidak gatal.

Refleks polos seorang anak yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Di sekeliling mereka, beberapa orang yang sedang duduk di bangku taman atau menemani anak-anak mereka mulai memperhatikan.

Tatapan-tatapan bingung bermunculan.

Ada yang mengernyit, ada yang saling bertukar pandang, bahkan ada yang menghentikan langkah hanya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.

Seorang pria dewasa, berpenampilan berantakan, memeluk erat seorang anak kecil di depan papan seluncur sambil menangis.

Sementara itu, Dewangga tidak peduli.

Pelukannya justru semakin erat.

Seolah takut jika ia sedikit saja melepas, sosok kecil di tangannya akan menghilang lagi.

Napasnya bergetar.

Dan tanpa ia sadari, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya tanpa niatan menghapusnya, membuat semua orang semakin bingung.

Wajahnya sedikit menunduk, tersembunyi di bahu kecil Cici. Bahunya bergetar pelan, menahan sesuatu yang selama ini ia tekan terlalu dalam.

Cici semakin bingung. Perlahan iya berusaha melonggarkan pelukan Dewangga berusaha melihat wajah pria yang memeluknya tiba-tiba, namun sayang usahanya itu sia-sia karena pelukan Dewangga yang terlalu erat.

Cici mengangkat tangan kanan mungilnya, menyentuh kepala Dewangga. Dengan perasaan ragu menepuknya pelan.

Seolah mencoba menenangkan… meski ia sendiri tidak tahu kenapa.

Dewangga yang mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya membuat dirinya semakin mempererat pelukannya, dan semakin keras isakannya.

Cici yang merasakan pelukan Dewangga yang semakin erat, serta suara isakan yang semakin keras, membuatnya kaget dan membulatkan mata besarnya, namun tetap menepuk kepala Dewangga, meskipun dengan perasaan bingung.

Sementara Linda yang baru kembali dari warung dengan membawa kantong plastik berisi roti dan es cream pesanan Cici, tanpa mengetahui bahwa kakaknya kini sudah menemukan Cici.

"Ci" suara Linda langsung berhenti saat menoleh dan melihat Dewangga kini sudah memeluk Cici disaksikan oleh banyak ibu-ibu yang juga sedang menemani anak mereka bermain.

Senyumnya perlahan memudar.

Tangannya melemah.

Kresek yang ia pegang terlepas begitu saja.

Roti dan es krim jatuh ke tanah tanpa sempat ia sadari.

Matanya membesar.

Di depannya

Dewangga.

Kakaknya.

Sedang memeluk Cici.

Anak yang selama ini ia sembunyikan.

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!