NovelToon NovelToon
Rivalry In Our Story

Rivalry In Our Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ALIFA RAHMA LATIFA

Wajib Follow Sebelum Baca.



" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.

Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.

Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.

Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.

La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.

Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.

Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.

( Bismillah semoga rame 🙏)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : Cinta Yang Bertahan Di Balik Semua

" Cinta bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang menemukan orang yang membuatmu merasa lengkap, bahkan dengan semua kekurangan yang kamu miliki. "

                  ...

Hari itu suasana sekolah berbeda.

Aula utama Nusa Bangsa internasional High School penuh lampu gantung kristal, dekorasi nya putih-emas, dan layar hologram yang menampilkan tulisan besar.

NBHS PROM HIGHT.

Suasana ramai, elegan, dan mewah.

Para siswa-siswi memakai dress dan jas formal. Musik pelan mengalun, dan lantai ballroom berkilau memantulkan cahaya.

Valerie bediri di depan cermin ruang ganti.

Gaun putih sederhana tapi mahal membingkai tubuhnya dengan elegan. Rambutnya di biarkan terurai, sedikit bergelombang.

Nara yang berdiri di sampingnya menatap Valerie kagum.

" Val... sumpah, lo kayak bidadari. "

Valerie menatap dirinya sendiri, sedikit gugup.

" Gue takut keliatan lebay. "

Nara langsung memukul bahu Valerie pelan.

" Lo tuh dari lahir udah mahal, Val. "

Valerie terkekeh kecil.

Tapi jantungnya berdebar.

Karena malam ini...

Matthew akan datang menjemputnya.

Dan ini prom pertama mareka...

Sebagai pasangan.

...

Di luar aula, Valerie melangkah pelan.

Langkah heels-nya terdengar jelas di lorong.

Saat Valerie sampai di pintu aula....

Dia berhenti.

karena di sana...

Matthew sudah menunggu.

Matthew memakai jas hitam rapih, rambutnya tertata, wajahnya tetap dingin.

Tapi matanya berbeda.

Begitu melihat Valerie.

Tatapannya melembut.

Matthew menatap Valerie lama.

Seolah Valerie bukan cuma cantik...

Tapi seperti sesuatu yang ia takuti akan hilang.

Valerie meangkat alis.

" Apa? " tanya Valerie, mencoba santai.

Matthew mendekat perlahan.

Suaranya rendah.

" Gila. "

Valerie Mendelik.

" Apanya? "

Matthew menelan ludah.

" Lo. "

Valerie langsung memalingkan wajah, pipinya panas.

" Lo lebay. "

Matthew tersenyum kecil.

" Gue serius. "

Matthew mengulurkan tangan.

Valerie menatapnya sebentar.

Lalu menerima.

Jari mareka saling mengunci.

" Lo tau nggak.. " ucap Matthew pelan. " Gue nggak pernah ngebayangin bakal punya pacar. "

Valerie menatapnya.

" Terus sekarang? "

Matthew menatapnya dalam.

" Sekarang gue nggak bisa ngebayangin hidup gue tanpa lo. "

Valerie terdiam.

Hatinya terasa penuh.

Valerie mendengus, pura-pura kesal.

" Lo ngomong gitu terus nanti gue nangis. "

Matthew tertawa kecil.

" Ya udah nangis aja. "

Valerie mencubit lengan Matthew.

" Berisik. "

Matthew mengenggam tangan Valerie lebih erat.

" Ayo masuk. "

...

Mareka masuk aula bersama.

Dan seketika...

Semua mata tertuju pada mareka.

Bukan karena mareka pasangan baru.

Tapi karena mareka pasangan yang selama ini dianggap mustahil.

Dua rival.

Dan musuh.

Dua orang yang paling keras disekolah ini.

Sekarang jalan berdua..

Sambil bergandeng tangan.

Nara yang berdiri di dekat meja makanan langsung melongo.

" GILA, VALERIE! "

Lukka bersiul.

" WOI MATTHEW, LO MENANG! "

Matthew melirik Lukka.

" Berisik. "

Semua tertawa.

Valerie menduduk, senyum kecil muncul tanpa bisa di tahan.

Namun di sisi aula..

Reina berdiri.

Memakai dress merah menyala, makeup yang sempurna.

Ia menatap Valerie dan Matthew dengan tatapan dingin.

Napasnya tertahan.

Dia tidak menerima.

Tidak Terima Valerie menang.

Tidak Terima Matthew memilih Valerie.

Reina melangkah mendekat.

Dengan senyum yang dibuat-buat.

" Valerie. "

Valerie menoleh.

Wajahnya datar.

" Reina. "

Matthew yang berdiri di samping Valerie langsung menengang.

Reina menatap Matthew, lalu menatap Valerie.

" Selamat ya, " ucap Reina manis. " Lo berhasil. "

Valerie meangkat alis.

" Berhasil apa? "

Reina tersenyum sinis.

" Ngerebut Matthew. "

Matthew langsung maju selangkah.

Tapi Valerie menahan lengannya.

Valerie menatap Reina tenang.

" Gue nggak ngrebut siapa-siapa. "

Reina menatap tajam.

" Jadi lo bilang Matthew milih lo tanpa alasan? "

Valerie tersenyum tipis.

" Gue nggak perlu alasan untuk dicintai. "

Reina membeku.

Matthew menatap Valerie, seperti bangga tapi juga kagum.

Valerie melanjutkan, suaranya dingin tapi elegan.

" Dan satu lagi.. Matthew bukan hadiah lomba. "

Reina menelan ludah.

Valerie menatap Reina tanpa gentar.

" Kalau lo suka Matthew, harusnya lo ngomong dari dulu. Bukan baru sekarang pas dia udah bahagia. "

Reina terdiam.

Matanya berkedip cepat.

Sejenak, wajahnya retak.

Seolah semua kesombongan itu...

Cuma topeng.

Reina menghembuskan napas.

Lalu tersenyum pahit.

" Oke. "

Reina menangguk pelan.

" Gue akui.. gue kalah. "

Valerie terdiam.

Reina menatap Matthew.

" Lo benaran suka dia ya? "

Matthew menatap Reina datar.

" Iya. "

Jawaban itu singkat.

Tapi cukup untuk menghancurkan semua harapan Reina.

Reina menangguk palan, lalu menatap Valerie.

" Jaga dia. "

Valerie meangkat dagu.

" Gue bakal jaga. Dan gue bakal jagain diri gue juga. "

Reina tersenyum kecil, kali ini lebih tulus.

" Gue benci itu... tapi gue suka cara lo ngomong. "

Valerie hanya menjawab singkat.

" Good. "

Reina tertawa kecil.

Lalu berbalik pergi.

Langkahnya tenang, seolah hatinya baik-baik saja.

Padahal sebenarnya, sesuatu di dalam dirinya baru saja patah.

Dan untuk pertama kalinya..

Reina memilih melepaskan.

Bukan karena ia sudah berhenti mencintai Matthew.

Tapi karena akhirnya ia mengerti -

Bahwa tidak semua yang kita cintai di takdirkan untuk tinggal.

...

Musik berubah.

Lagu slow dance mulai di mainkan.

Lampu aula meredup, hanya cahaya lembut yang menyelimuti lantai dansa.

Matthew menatap Valerie.

Valerie menatap balik.

Matthew mengulurkan tangan.

" Dence sama gue. "

Valerie meangkat alis.

" Lo bisa dence ? "

Matthew mendekat, suara rendah.

" Gue bisa belajar. "

Valerie tertawa kecil.

" Lo malu-malu sekarang? "

Matthew mendelik.

" Jangan ngetawain gue. "

Valerie tersenyum manis.

" Enggak... gue cuma senang. "

Matthew mengenggam tangan Valerie, lalu menariknya pelan hingga ke lantai dansa.

Mareka berdiri di tengah, dikelilingi pasangan lain.

Matthew meletakkan tangannya di pinggang Valerie dengan hati-hati, seolah takut Valerie menghilang.

Valerie menaruh lengannya di bahu Matthew.

Mareka mulai bergerak pelan mengikuti musik.

Valerie menatap Matthew.

" Lo masih nggak percaya kita pacaran, " gumam Valerie.

Matthew menghela napas.

" Gue takut. "

Valerie terdiam.

" Takut apa? " tanya Valerie pelan.

Matthew menatap mata Valerie.

" Takut lo ninggalin gue. "

Valerie membeku.

Matthew yang biasanya dingin...

Ternyata menyimpan ketakutan sedalam itu.

Valerie meangkat tangan, menyentuh pipi Matthew pelan.

" Matthew... "

Matthew menahan napas.

" Gue mungkin nggak gampang percaya cinta. "

Valerie menelan ludah.

" Tapi kalau sama lo... gue mau coba. "

Matthew menatap Valerie lama.

Lalu memeluk Valerie erat.

Valerie terkejut sebentar.

Tapi kemudian membalas pelukan itu.

Dan di dalam pelukan Matthew.

Valerie merasa aman.

...

Seberapa minit kemudian, mareka keluar aula sebentar.

Udara malam itu terasa dingin, hujan kecil turun tipis.

Valerie berdiri dibawah atap balkon.

Matthew berdiri di sampingnya.

Kota jakarta terlihat gemerlap diatas.

Valerie memandang jauh.

Matthew tiba-tiba berbicara pelan.

" Val. "

Valerie menoleh.

" Hm? "

Matthew menatapnya serius.

" Gue dulu ngangguin lo bukan karena benci. "

Valerie meangkat alis.

" Terus kenapa? "

Matthew menghela napas.

" Karena gue suka lo dari awal. "

Valerie membeku.

" Apa? Dari awal?! "

Matthew menangguk.

" Tapi gue nggak ngerti cara ngomongnya. "

Valerie menatap Matthew tak percaya.

" Lo idiot banget. "

Matthew tersenyum.

" Iya. "

Valerie mendengus.

" Tapi... gue juga idiot. "

Matthew menatapnya.

" Kenapa? "

Valerie menatap Matthew, matanya lembut.

" Karena gue jatuh cinta sama musuh gue sendiri. "

Matthew tertawa kecil.

Lalu mengenggam tangan Valerie.

" Lo bukan musuh gue. "

Valerie menatapnya.

" Lo rumah gue. "

Valerie terdiam.

Dadanya sesak, tapi hangat.

Valerie menghela napas.

" Kalau gitu... "

Valerie mendekat sedikit.

"... Jangan pergi. "

Matthew menatap Valerie.

Lalu menangguk pelan.

" Gue janji. "

Valerie tersenyum.

Matthew menduduk dan mencium kening Valerie.

Kali ini lebih lama.

Lebih dalam.

Lebih tulus.

Dan di bawah hujan tipis jakarta...

Valerie akhirnya sadar...

Cinta bukan tentang seseorang yang datang ketika semuanya mudah.

Cinta adalah seseorang

Yang tetap tinggal

bahkan ketika hatimu terlalu takut.

Untuk mempercayai.

Dan orang itu...

Selalu Matthew.

...

Berapa Bulan Kemudian **

Di papan pengumuman NBHS.

Congratulations! Team IPA 1 Winner of National Innovation Contest.

Valerie dan Matthew berdiri didepan kemera, memegang piala.

Matthew melirik Valerie.

Valerie melirik balik.

Mareka tersenyum bersamaan.

Nara di belakang teriak :

" WOI! FOTO DONG! JANGAN FILRT DI DEPAN KAMERA! "

Matthew cuma menjawab singkat.

" Biarin. "

Valerie tertawa.

Dan saat kamera Memotret...

Mareka saling mengenggam tangan.

Bukan lagi rival.

Bukan lagi Saingan.

Tapi dua orang yang akhrinya...

Saling memilih.                           

 " Cerita ini selesai, tapi perjalanan mareka tidak pernah benar-benar berakhir.

Karena hidup tidak berhenti di kata " TAMAT " Hidup justru di mulai setelah semua luka perlahan sembuh, setelah semua pertengkaran berubah jadi tawa, dan setelah semua rivalitas berubah jadi pelukan hangat.

Matthew dan Valerie tidak menemukan cinta lewat kata-kata manis.

Mareka menemukannya lewat proses.

Lewat sabar.

Lewat jatuh bangun.

Lewat saling belajar untuk tidak pergi.

Dan itulah yang membuat cinta mareka terasa nyata.

Jadi kalau kamu membaca ini sambil tersenyum...

Ingat baik-baik :

Bahagia bukan milik mareka saja.

Bahagia juga sedang menunggu mu.

Mungkin bukan hari ini...

Tapi suatu hari nanti.

Dan saat itu datang, kamu akan sadar...

Semua luka yang pernah kamu lewati ternyata cuma jalan pulang menuju orang tepat.

Karena pada akhirnya,

Yang bertahan akan menang.

Dan yang tulus... akan menemukan bahagianya. "

             _TAMAT_

...----------------...

Happy Reading gusy, semoga kalian suka. terimakasih telah menemi ku menulis cerita ini dari awal sampai ending.

1
Arif RACHMAN
🥰🥰 aku suka banget sama semua karya mu thor.sukses selalu
Arif RACHMAN
suka banget.sukses selalu
Fluffylfy
❤❤ suka banget
Fluffylfy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!