Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Arif turun dari tangga karna Riana tak kunjung naik ke atas ia terkejut ternyata yang datang adalah Ara,ia lebih terkejut lagi saat melihat Riana menangis.
Arif segera berlari mendekat lalu menjauhkan tubuh Riana dari Ara.
"Elo apain Riana sampai nangis gini?" kilat amarah tergambar jelas di mata Arif.
"Gue ga ngapa-ngapain" Ara pun saat ini sedang menangis kecewa setelah melihat ekspresi Riana saat tau Irwan kecelakaan,masih ada cinta di bola mata itu.
"Pergi loe jauh-jauh dari sini" Arif mengusir Ara dengan kasar,gadis itu pun segera berlalu pergi.
"Elo kenapa?" tanya Arif khawatir namun Riana tak mengucapkan apapun ia hanya terus menangis.
Mendengar keributan di bawah Melly dan Ido pun segera menghampiri Riana,Melly memeluk sahabatnya itu untuk menenangkannya.
Hampir setengah jam mereka membiarkan Riana menangis tanpa bertanya penyebabnya.Perlahan suara tangisnya tak terdengar lagi rupanya Riana kelelahan sampai tertidur di sofa ruang tamu.
Setelah Riana benar-benar terlelap Arif membopongnya ke kamar.Melly dan Ido mengikuti dari belakang.
"Kalian balik duluan aja.Biar gue di sini sampai tante Hana datang" ucap Arif dengan suara pelan.
"Sebenarnya gue ga enak ninggali Riana tapi gue ada kelas sore ini" ucap Melly yang diangguki oleh Ido.
"Ga apa-apa,kalian tenang aja ada gue di sini" Arif menepuk bahu Melly dan Ido.
"Oke deh kita balik dulu ya" pamit Ido yang langsung pergi meninggalkan rumah Riana.
Arif duduk di kursi meja belajar Riana sambil menatap wajah cantik Riana,wajah yang mampu membuat ia selalu tersenyum,wajah yang selalu ia rindukan.
Entah sejak kapan namun ia benar-benar telah jatuh hati pada Riana sahabat yang selalu bersamanya selalu ia jaga walau ia hanya bisa mengaguminya secara diam-diam tanpa bisa mengungkapkannya.
"Kenapa ga ada yang bilang Irwan kecelakaan sama gue?" suara Riana membuyarkan lamunan Arif.
Mata Riana masih terpejam Arif berpikir mungkin Riana mengigau,ia mendekat pada Riana dan duduk di atas kasurnya.
"Ri?" Arif mengelus dahi Riana,seketika Riana membuka matanya lalu duduk bersandar pada tempat tidurnya.Ia terlihat lebih tenang walau raut kesedihan masih tergambar jelas di wajahnya.
"Kenapa ga ada yang ngasih tau soal Irwan?" tanya Riana sambil menatap ke langit-langit kamarnya.
"Ara yang cerita?" tanya Arif.
"Apa lagi yang gue ga tau?kenapa kalian selalu sembunyiin sesuatu dari gue?" air mata mulai menetes lagi di pipi Riana.
"Ri---"
"Jangan bilang gue sakit,gue sehat gue udah pulih gue ga mau terus-terusan di perlakukan seperti orang sakit dan ga bisa keluar dari rumah" Riana terus berbicara meluapkan kekesalannya saat ini pada Arif yang dengan sabar mendengarkan amarah Riana tanpa menyelanya.
Riana menarik nafas panjang setelah mengeluarkan hal yang mengganjal di hatinya atas perlakuan semua orang yang di nilai terlalu over protektif padanya.
"Sorry gue jadi marah-marah sama elo" ucap Riana.
"Gue juga minta maaf kalo loe ga nyaman sama sikap kita semua,kita cuma sayang loe,gue harap loe mengerti hal itu" ucap Arif sesaat ia terdiam sebelum kembali berbicara.
"Soal Irwan dia emang kecelakaan,dan kondisinya koma di rumah sakit" Arif menundukkan pandangannya ke bawah.
"Apa loe masih sayang sama dia?" tanya Arif menatap mata Riana ada perasaan sedih ketika ia bertanya soal ini namun ia harus memastikannya agar tak terlalu banyak berharap.
Riana menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis tersedu sedu.
"Gue ga tau Rif" ucapnya di sela-sela tangisannya.
"Gue rasa jawabannya iya!loe masih sayang sama dia" sesak menyusup di dalam dada Arif ia begitu kecewa dengan kenyataannya.
Satu tetes air mata jatuh di pipi Arif dan segera ia memalingkan wajahnya agar Riana tak melihatnya.
"Ga semudah itu lupain dia Rif" ucap Riana lirih.
Satu kalimat singkat yang mampu merobek hati Arif.Arif pikir setelah Riana mengetahui kebenaran yang di sembunyikan Irwan maka ia akan menyadari bahwa mencintai Irwan adalah sebuah kesalahan dan berubah jadi membencinya.
Rupanya ia salah,sangat salah sedalam apapun Irwan menyakitinya tidak bisa mengikis perasaan sayang Riana untuknya.
"Gue pengen lihat kondisi dia Rif,tolong bantu gue" pinta Riana memelas.
Arif membisu ia tatap wajah Riana yang penuh harap padanya,bisakah ia menolak permintaannya?sekali ini saja bisakah ia tak mengabulkannya?
Arif berperang dengan hatinya sendiri egonya melarang Riana untuk bertemu Irwan tapi rasa sayangnya selalu ingin mengabulkan apapun permintaan Riana.
Cukup lama ia berpikir dan Riana terus memandang Arif dengan harapan besar ia bisa mengabulkannya.
"Oke,gue akan bantu loe" ucap Arif pelan.
Senyum mengembang di wajah Riana ia langsung memeluk Arif erat,Arif pun membalas pelukannya dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.
Sore harinya Arif meminta izin pada Hana untuk membawa Riana jalan-jalan tentunya itu hanyalah sebuah alasan agar Riana bisa keluar rumah.Sebetulnya Arif tak enak hati harus berbohong pada Hana tapi ini semua demi Riana.
Mereka tiba di rumah sakit tempat Irwan di rawat beruntung jam besuk belum berakhir,terlihat pak Samsul sopir keluarga Irwan yang menunggu Irwan di depan ruangan rawatnya.
Pak Samsul kaget saat melihat kedatangan Riana di sana dan segera menghampirinya.
"Non Riana,mau besuk den Irwan?" tanyanya ramah seperti biasa.
"Iya pak boleh saya masuk?" tanya Riana sambil mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.
"Ibu ga ada lagi pulang dulu ke rumah,langsung masuk aja non" ucap pak Samsul seolah mengerti siapa yang sedang di cari Riana.
"Terima kasih pak!" Riana akan masuk ke dalam namun tiba-tiba Arif memegang tangannya dan mereka saling pandang terlihat rasa tidak rela Arif membiarkan Riana masuk ke dalam.
"Please,bentar aja" ucap Riana akhirnya dengan berat hati Arif membiarkan Riana masuk ke dalam sedangkan ia menunggu di depan pintu dengan gelisah bahkan ia tak bisa duduk dengan tenang walau sebentar saja.
Menit demi menit terasa begitu lama Riana tak kunjung keluar dari kamar itu ia hendak membuka pintu ruangan itu saat sebuah suara yang sangat familiar ia dengar memanggilnya.
Arif menoleh tampak Ara hadir di sana dengan langkah tergesa-gesa ia mendekat dan memandang ke arah pintu kamar lalu kembali menatap Arif yang masih diam tanpa sepatah kata pun.
Tanpa menunggu lama ia langsung membuka pintu itu dan mendapati Riana berada di dalam sana sedang menggenggam tangan Irwan sambil berurai air mata.
"Waktu besuknya sudah habis " ucap Ara dingin dengan pandangan mata tertuju pada Irwan yang masih tak sadarkan diri.
Arif segera menghampiri Riana dan memapahnya untuk bangkit dari kursi dan mengajaknya pulang.
"Waktunya pulang Ri" ucap Arif dan diangguki Riana,mereka langsung pergi meninggalkan ruangan itu walau ia sebetulnya belum puas melepas rindunya pada Irwan.
.
.
.
.