gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINDU DI BALIK TERIK
Sebelum berangkat ke pelabuhan ia berpamitan dulu kepada ibunya, walaupun Ratih adalah ibu tirinya namun perhatiannya sudah seperti anak kandungnya sendiri. Di ruang tamu kecil mereka yang terletak di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, suasana pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Ratih Prameswari, wanita yang dikenal galak namun memiliki hati yang tulus dalam mengurus anak tiri yang absurd ini, menatap Bima dengan gurat kecemasan yang mendalam. Ia tahu betul bahwa perjalanan menuju babak baru kehidupan Bima bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, terutama bagi pemuda yang terbiasa hidup santai tanpa beban seperti anaknya ini.
"Itu jauh tahu Bima, nanti gimana Kamu pulang perginya," tanya ibunya merasa khawatir karena mereka tinggal di Jakarta Barat berbatasan langsung dengan Kota Tangerang tepatnya di Kalideres sedangkan lokasi itu adalah di Tanjung Priok yang lokasinya sangat macet. Jalur yang harus ditempuh Bima bukanlah jalanan biasa; itu adalah jalur "tengkorak" yang dipenuhi oleh ribuan truk kontainer raksasa, debu jalanan yang pekat, serta kemacetan yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk satu kali perjalanan. Sebagai seorang ibu yang realistis, Ratih tidak bisa membayangkan anaknya harus bergelut dengan kejamnya aspal Jakarta setiap hari hanya demi sebuah tanggung jawab baru di pelabuhan.
"Nanti aku ngekos aja di sana Bu," jawab Bima dengan nada santai, mencoba mengikis keraguan di mata ibunya. Ia sadar bahwa keputusannya ini adalah langkah besar untuk membuktikan diri bahwa ia bukan sekadar pemuda konyol yang hobi terlambat. Dengan restu yang dilepaskan dengan berat hati, Bima pun memacu kendaraannya meninggalkan perbatasan Tangerang menuju sisi utara Jakarta yang keras. Ia membawa harapan kecil di dalam tasnya, meski di hatinya masih terpatri bayangan sosok wanita yang membuatnya terlempar ke lokasi gersang tersebut.
Hari pertama di pelabuhan memang Bima tidak terlambat karena pada saat itu siang hari dia sampai dari kantor pusat namun lokasi itu terasa seperti neraka dunia bagi fisik Bima Pradana. Kontras yang ia rasakan begitu menyakitkan; jika biasanya ia terlindung di balik dinding kaca lantai 32 yang sejuk dan kedap suara, kini ia harus berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk aktivitas bongkar muat yang memekakkan telinga. Matahari membakar kulitnya tanpa ampun saat ia harus mencatat ribuan peti kemas masuk di bawah pengawasan ketat para buruh kasar dan petugas dermaga yang sangar. Bau laut yang asin dan aroma solar dari alat-alat berat kini menjadi pengganti setia aroma parfum mahal Alina yang biasanya memenuhi rongga hidungnya setiap kali ia berdiri di dekat sang CEO.
Kebiasaan tidak berkurang sama sekali maka lebih lambat sedikit dari seperti biasanya hal itu karena Bima sangat merindukan Alina hingga rasanya ia hampir gila di tengah gudang yang sangat luas dan bising. Meskipun fisiknya berada di Tanjung Priok, jiwanya masih tertinggal di Jakarta Selatan. Sifat melamunnya justru semakin menjadi-jadi karena setiap sudut pelabuhan seolah mengingatkannya pada sang "Ratu Es". Setiap kali melihat kontainer berwarna biru langit yang tertumpuk rapi di dermaga, ia teringat pada blazer kesayangan Alina yang memiliki warna yang sangat serupa. Baginya, pelabuhan ini adalah pengasingan cinta yang paling menyiksa dalam hidupnya sendiri, sebuah hukuman atas rasa kagum yang tak tersampaikan.
"Kenapa semesta hobi banget bercanda sama nasib gue yang absurd ini?" keluh Bima dengan nada putus asa yang tertahan. Ia duduk di atas tumpukan kayu palet yang kasar sambil mengusap keringat yang bercampur debu pelabuhan, hingga membuat wajahnya nampak kusam dan kelelahan. Di tengah cuaca yang menyengat itu, pikirannya terbang kembali ke lantai 32 gedung Wiratama yang sangat dingin. Ia membayangkan suasana kantor yang tenang, aroma kopi yang harum, dan yang paling utama, sosok Alina yang duduk dengan anggun di kursi kebesarannya sambil menatap tajam ke arah dokumen di mejanya.
Paman Tino yang baik sering memberikan motivasi dan air dingin untuk Bima sebagai bentuk dukungan seorang mentor kepada murid kesayangannya. Sebagai Direktur Transportasi dan Logistik yang bijaksana, Tino mencoba memahami pergolakan batin yang sedang dialami oleh Bima. Namun, Tino habis pikir dengan tingkah laku Bima yang tidak berubah karena sudah satu pekan dan berusaha untuk terus memberi motivasi kepada Bima agar lebih disiplin dan tangguh menghadapi dunia lapangan. Tino ingin Bima menjadi sosok pria yang kuat, namun ia melihat Bima justru semakin tenggelam dalam lamunannya sendiri. Rasa rindu Bima pada kepemimpinan Alina tetap tidak bisa terhapuskan begitu saja oleh kata-kata bijak manapun. Bahkan, saking dalamnya perasaan itu, Bima seringkali tampak mengabaikan apa ucapan dari Tino karena fokusnya terbagi antara instruksi kerja dan memori tentang wajah Alina.
Bima mencoba memfokuskan pikirannya pada pekerjaan logistik yang sangat berat dan rumit itu, mencoba memahami alur ribuan peti kemas yang menjadi urat nadi Wiratama Trading. Ia memiliki keinginan besar untuk membuktikan pada Paman Tino bahwa ia layak mendapatkan kepercayaan besar dan bukan sekadar staf junior yang bisa diremehkan oleh faksi Rijal. Bayangan wajah Alina menjadi satu-satunya bahan bakar semangat Bima di tengah terik matahari yang menyengat setiap hari, menjadi pelipur lara di tengah gersangnya Jakarta Utara. Namun, perjuangan itu tidaklah mudah karena kecerobohannya tetap saja tidak hilang. Meskipun ia sudah berusaha keras untuk serius, sifat cerobohnya masih sering muncul dalam hal-hal kecil, namun kecerobohannya tetap saja tidak berubah, menciptakan drama-drama konyol baru di tengah kerasnya kehidupan pelabuhan.