NovelToon NovelToon
Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Duda
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Escendol94

Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16~ Merasa bersalah

Dewangga semakin mendekat. Napasnya menyapu lembut wajah Riri. Jarak mereka… tinggal hitungan inci.

Riri bisa merasakan hangatnya napas pria itu, bisa melihat jelas sorot mata yang tidak lagi dingin—melainkan penuh keinginan. Degup jantungnya semakin tidak karuan.

Satu detik.

Dua detik.

Dan saat bibir Dewangga hampir menyentuh miliknya- Riri menahan dada pria itu.

“Jangan…” Suaranya pelan.

Tapi cukup untuk menghentikan semuanya. Dewangga membeku. Alisnya sedikit berkerut, menatap Riri yang kini menatapnya dengan mata yang… berbeda.

Bukan marah.

Bukan benci.

Tapi… ragu.

“Kenapa?” suaranya rendah, masih dekat. Bahkan terlalu dekat.

Riri menelan ludah. Tangannya masih menahan dada Dewangga, seolah menjaga jarak yang nyaris hilang.

“Aku belum siap…” bisiknya lirih.

Dewangga menatapnya dalam.

“Kenapa?“

“Aku masih butuh waktu."

Dewangga terdiam. Untuk pertama kalinya, Riri tidak menghindari tatapannya.

Di tahap seperti itu, Riri semakin gugup. “Aku belum benar-benar menerima pernikahan ini. Bagaimana kalau Nura tau, dan membenci ku? Aku masih ingin bercerai."

Kalimat itu seperti menampar. Keras. Dewangga menarik wajahnya sedikit menjauh. Rahangnya mengeras.

“Apa setelah kita bercerai, kamu akan kembali pada Dirga?” tanyanya dingin.

Riri tersentak, dia menggeleng cepat.

“Bukan—”

“Kamu masih memikirkan dia.”

Itu bukan pertanyaan.

Itu tuduhan.

Riri mengepalkan tangannya.

“Aku sudah bilang, aku nggak punya perasaan apapun lagi sama Om Dirga!” ucapnya, sedikit meninggi.

Sunyi.

“Aku butuh waktu, Om…” lanjutnya lebih pelan, tapi tegas. “Untuk menerima semuanya. Untuk menerima Om Dewangga.”

Kalimat terakhir itu jatuh pelan… tapi terasa berat.

Dewangga menatapnya tanpa berkedip. Ada sesuatu yang berubah di wajah pria itu.

Kecewa.

Terluka.

Namun juga… tertahan.

Perlahan, ia melepaskan tangannya dari tubuh Riri. Memberi ruang. Hal yang sejak tadi tidak ia lakukan.

Riri langsung bangkit, duduk menjauh di ujung ranjang. Jantungnya masih berdebar tak karuan.

“Aku nggak mau… semua ini terjadi karena emosi sesaat,” ucapnya lirih.

Dewangga berdiri di samping ranjang, membelakanginya. Tangannya mengepal. Lalu mengendur.

“Baik.”

Satu kata itu keluar dingin. Terlalu dingin.

Riri menunduk. Ada rasa bersalah… tapi juga lega.

“Aku akan menunggu,” lanjut Dewangga akhirnya. Suaranya lebih rendah, tapi penuh tekanan. “Tapi ingat satu hal, Riri.”

Ia menoleh. Tatapannya kembali tajam. “Kita tidak akan bercerai! Kamu akan tetap menjadi istriku!“

Deg.

“Dan aku… tidak akan membiarkan kamu lari ke siapa pun. Termasuk Dirga.”

Jantung Riri berdegup keras. Bukan hanya karena takut. Tapi karena… cara Dewangga mengatakannya.

Possesif.

Dominan.

Dan entah kenapa…

Membuat hatinya semakin kacau. Riri tidak menjawab. Ia hanya diam.

Sementara Dewangga berjalan menjauh, memberi jarak yang seharusnya ada sejak awal.

Namun anehnya…

Justru jarak itu terasa lebih menyiksa.

*,*

Sepanjang malam Riri tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan ucapannya pada Dewangga. Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, berulang tanpa henti.

Wajah Dewangga tadi malam… perubahan ekspresi pria itu… semuanya terus menghantuinya.Dadanya terasa sesak setiap kali mengingatnya.

Apa Om Dewangga marah?

Bagaimana kalau dia benar-benar marah?

Apa aku sudah keterlaluan?

Riri memejamkan mata, tapi bayangan itu justru semakin jelas.

Kenapa tadi aku menolaknya…?

Harusnya aku tidak menolaknya…

Napasnya terasa berat.

Bagaimanapun… dia suamiku.

Om Dewangga berhak atas diriku…

Pikiran itu justru membuat dadanya semakin sakit. Ada sesuatu yang terasa tidak beres, tapi ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.

Apa aku harus meminta maaf?

Ia membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Malam terasa begitu panjang.Dan pada akhirnya, Riri memutuskan—besok, ia akan meminta maaf.

Pagi harinya, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya. Wajahnya pucat, sayu, seperti seseorang yang kehilangan banyak energi hanya dalam satu malam.

Nura yang melihatnya langsung mengernyit heran.

“Riri, kamu sakit?” tanyanya, mendekat.

Riri tersenyum tipis, menggeleng pelan. “Aku nggak sakit. Cuma nggak bisa tidur saja.”

Nura langsung menangkup wajah Riri dengan kedua tangannya, meneliti dengan serius.

“Kenapa nggak bisa tidur?” matanya menyipit curiga. “Jangan bilang kamu kepikiran Om Dirga?”

Riri langsung meringis.

“Apa kamu mau putus sama cowok kamu terus jadian sama Om Dirga? Kamu bingung cara bilangnya, kan?” lanjut Nura tanpa jeda.

Riri hampir menghela napas panjang.

“Nggak, Nura. Bukan itu,” jawabnya lemah.

Nura mendecak kesal. “Cih! Kenapa sih kamu nggak putus saja sama cowok kamu itu? Aku pengen kamu jadi istri Om Dirga.”

Riri hanya bisa tersenyum kaku. Kalau saja Nura tahu kebenarannya. Jangankan menyuruh, mungkin Nura akan membencinya.

Kalau kamu tahu aku sudah menikah dengan Papa kamu… apa kamu akan tetap memelukku seperti ini, Nura?

Dadanya kembali terasa nyeri.

Atau… kamu akan menjauh?

Riri menunduk, jemarinya meremas ujung kaosnya.

Apa aku sudah jatuh cinta…?

Jatuh cinta pada papa kamu?

Perasaan itu datang begitu saja—diam-diam, tanpa izin. Dan sekarang… semuanya terasa terlalu rumit.

“Ri… Riri…!!”

Suara Nura membuyarkan lamunannya. Tangan gadis itu melambai-lambai di depan wajahnya.

“Riri!!”

Riri tersentak. “Iya, aku denger! Nggak usah teriak,” protesnya sambil mengusap telinga.

Nura mendengkus. “Dari tadi kamu bengong. Lagi mikirin apa sih?!”

Riri terdiam sejenak. Napasnya diatur pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

“Nura…” suaranya pelan. “Kalau seandainya… ini cuma seandainya ya…”

Nura menatapnya heran.

“Papa kamu… nikah lagi sama perempuan lain,” lanjut Riri hati-hati. “Kamu gimana?”

Nura langsung menelengkan kepala. “Kenapa kamu nanya kayak gitu?”

Tatapan itu membuat Riri semakin gugup.

“Aku cuma… pengen tahu aja,” jawabnya cepat, berusaha terdengar biasa.

Beberapa detik hening. Lalu Nura menegakkan tubuhnya tiba-tiba. Tangannya mengepal, matanya menyala penuh emosi.

“Aku bakal bikin istri baru Papa hidupnya kayak di neraka!” ucapnya tegas.

Riri terdiam. Setiap kata itu terasa seperti menusuk langsung ke dadanya.

Nura lalu menatapnya lagi, kali ini dengan wajah yang jauh lebih serius.

“Aku maunya Mama Sarah yang nikah sama Papa,” lanjutnya. “Aku nggak mau ibu tiri. Aku cuma mau Mama Sarah.”

Hati Riri seperti jatuh ke dasar yang dalam.

“Apa kamu seyakin itu?” tanyanya lirih.

Nura mengangguk tanpa ragu. “Seribu persen yakin!”

Ia langsung merangkul lengan Riri, lalu menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu dengan manja.

“Papa pasti masih cinta sama Mama. Buktinya sampai sekarang Papa nggak nikah.”

Riri memejamkan mata perlahan.

Kalau kamu tahu kenyataannya…

“Ri,” suara Nura melembut. “Keinginanku cuma satu.”

Riri tidak menjawab.

“Aku pengen Mama Sarah nikah sama Papa,” lanjutnya pelan. “Aku benar-benar nggak mau punya ibu tiri.”

Satu kalimat itu cukup untuk menghancurkan sisa ketenangan Riri. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya kering.

Ia seperti berdiri di persimpangan yang tidak punya jalan keluar.

Maju salah.

Mundur pun salah.

Semua pilihan… sama-sama menyakitkan.

“Ri, kamu mau, kan?” tanya Nura lagi.

Riri menoleh pelan. “Mau apa?”

“Bantu aku,” jawab Nura cepat.

Jantung Riri berdetak lebih kencang.

“Bantu supaya Papa sama Mama Sarah bisa nikah.”

Sejenak, Riri tidak bisa bernapas.

“Aku cuma orang luar, Nura…” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku bisa bantu apa?”

Nura tersenyum cerah, seolah masalah itu sangat sederhana.

“Bantu dengan doa.”

Jawaban itu membuat Riri membeku. Beberapa detik… hening. Lalu, Riri tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa pahit. Sangat pahit.

Kamu meminta seorang istri… untuk mendoakan suaminya menikah dengan wanita lain.

Lucu. Sungguh lucu. Dan menyakitkan. Riri menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai memanas. Ia bahkan tidak punya keberanian… untuk mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Bahwa wanita yang sedang dipeluk Nura saat ini--adalah istri sah dari pria yang ingin dijodohkan kembali itu.

**,**

1
Kp kandang wo Suka wo
👍
D_wiwied
part yg ditunggu2, sayangnya krg hott thor 😁🤭
D_wiwied: masa sih kaaak, pdhl kalo bikin part dewa nyosor riri feel nya udah dapet lho, menggebu gebu gitu tp giliran pas mp koq anyep 🤭😁
total 3 replies
Sri S
ahirnya terjadi jg mlm pertamanya thor
MbakDipa: hihii, iya kak
total 1 replies
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut....semoga cepetan hamil...
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga Thor...lama banget nunggu bab baru nya... semangat Thor..
MbakDipa: makasih kwk🙏
total 1 replies
NN
lanjut
Sri S: suka sekali
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya susul sana. biar bebas berduaannya
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga yg d tunggu"
NN
jgn lama² thor
MbakDipa: maaf ya kak. kemarin ada masalah sama mataku jadi rehat sembari pengobatan 🙏😄
total 2 replies
Sri Rahayu
lanjut thor
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
NN
lanjut
💞Putri Chania💞
kepergok Dirga ya...baguslah..
💞Putri Chania💞
curiga euui sama Sarah...ga mungkin sama Dirga kan Thor..??
MbakDipa: hehee enggak kak😁
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut up nya thor
NN
lanjut thor
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
💞Putri Chania💞
wow.. pengakuan yg buat Dirga jantungan..😄
Reni Anjarwani
doubel up
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
Bunga
good
Karo Karo
sepertinya bukan anaknya deh 🤔
💞Putri Chania💞
serru juga ceritanya Thor .uuh apa yg akan terjadi jika fakta dewangga dan Riri terkuak y...
MbakDipa: Terimakasih kak🙏. Semoga selalu suka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!