Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Beberapa hari berlalu, Rendra semakin sibuk. Medina berinisiatif mengantarkan bekal makanan ke kantor nya dengan di antar supir pribadi.
"Saya hanya ingin bertemu Mr. Rendra!" triak seorang wanita.
Dari kejauhan, Medina melihat seorang wanita cantik berambut blonde, tinggi langsing dengan dress minim.
"Mr.Rendra sudah tidak berkepentingan apapun dengan anda miss Vanessa!"
"Cukup bertemu dengan saya, jika anda ada keperluan!" tegas Bayu lagi.
"Kalau begitu. Beri tahu saya dimana tempat tinggalnya. Kemarin malam saya ke apartemen beliau, tapi beliau sudah tidak tinggal di sana."
"Lebih baik anda pergi miss. Sebelum Mr. Rendra murka kepada anda."
"Saya gak perduli. Saya cuma mau bertemu beliau!"
"Vanessa Queen!"
Medina mendengar sebuah triakan dari dalam, suara yang tak asing baginya.
Rendra keluar dari dalam dan menarik lengan Vanessa ke arah mobil miliknya. Mereka pergi entah kemana."
Medina menyentuh dadanya yang terasa nyeri, seperti ada tangan tak kasat mata meremas jantungnya.
Medina menarik nafas panjang. Ia putuskan untuk kembali ke rumah.
'suasana macam apa barusan? benarkah mas Rendra tidak ada hubungan serius dengan wanita itu. Vanessa Queen? kenapa hatiku masih sangat ragu..' rintihan Medina dalam hati.
Di apartemen
Rendra melemparkan tubuh Vanessa ke atas ranjang. "Akhh.."
"Apa mau mu, Vanessa!"
"Aku sudah bilang, aku ingin bertemu. Tapi kau selalu menolak."
"Aku sudah memutuskan hubungan ini. Dan aku akan fokus pada istriku. Jadi ku mohon, jangan drama lagi di depan kantorku!"
"Gak bisa gitu! Aku masih butuh kamu Ren."
"Kau sudah menerima apa yang kau inginkan dari ku bukan? Penthouse, butik bahkan uang milyaran yang sudah ku berikan. Kau juga sudah menjadi top model dan trend center tahun ini. Masih kurang?"
"Aku cinta padamu Ren. Bukan harta yang ku inginkan. Aku mau kamu!"
"Aku sudah menikah Vanessa. Dan jika sekalipun aku belum menikah. Maka bukan kau pilihan yang menjadi istriku."
"Apa?!"
"Aku akan tetap memilih Medina dan Medina!"
"Kau tega Rendra!!"
"Bahkan aku bukan yang pertama bagimu, kan?"
Vanessa meremas dressnya dengan kuat.
"Pantas saja, kau sudah pandai dalam hal melayani. Berbeda dengan Medina yang masih polos."
"Jadi kau lebih suka wanita polos! Cuiihh. Berkaca Rendra! Kau bahkan membohongi wanita polos itu!"
"Berhenti sampai disini. Atau karir yang kau bangun akan hancur karena skandalmu sendiri!"
"Kalau aku hancur, kau juga hancur Rendra!"
Vanessa masih terus berteriak kala Rendra berjalan keluar meninggalkan nya.
"Br*ngsekkk! aaakhhhh!!"
Brakkk!
Rendra menutup pintu dengan kasar. Nafasnya memburu. Ia harus pulang, hatinya merasa tidak tenang mengingat istrinya.
Medina yang awalnya berniat untuk kembali ke rumah, ia urungkan. Kini ia berada di sebuah kafe untuk menenangkan diri.
"Med? Medina?"
Medina menoleh saat ada suara yang memanggil namanya.
"Husna?"
"Iya. Ya ampun, gak nyangka banget kita ketemu disini.
Ehh.." tatapan nya mengarah ke perut Medina yang membesar.
"Lo hamil? Berapa bulan?"
"Lo kira gue masuk angin, gitu? Udah masuk tujuh bulan. "
"Iish makanya gue nanya. Ah gue bakal punya ponakan baru. Eh sama siapa? Kak Rendra kah?"
"Kok tahu?"
"Iiihh jadi benerannn. Ceritain dong, ya dulu kan elu nge fans berat sama kakak angkat lo itu.
Gue sih udah curiga, pasti lo tuh calon yang di pilih dokter Yasmin buat putranya. Ternyata bener kan."
"Ya lo tau kan. Gue gak mau repotin mereka lagi, jadi gue niatnya pengin kerja gitu ikut Nina ke luar kota.
Eh malah gak di bolehin. Akhirnya malah di suruh nikah sama mas Rendra. Ya udah, gue gak bisa nolak."
"Cieee udah mas aja. Jelas lah gak nolak, orang di suruh nikah sama idola."
"Dihh apaan dah lo. Eh, btw kok lo di sini? Kerja lo?"
"Iya, tau kan gaji di konoha berapa sih. Ya udah, gue ikut kakak gue kerja disini. Alhamdulillah deh, gue bisa beli motor cash di kampung."
"Wahh keren. Pengen ikut kerja deh."
"Lah buat apa, lo bukannya udah unlimited saldonya."
"Dih tau darimana lo."
"Kak Rendra kan pengusaha muda disini tau. Gue lihat dia ada di majalah gitu, sama seorang model yang lagi naik daun. Beberapa bulan lalu lah."
"Masa sih, boleh lihat majalahnya?"
"Eh, gue pikir itu pacarnya soalnya kelihatan mesra."
Besok deh, lo kesini lagi. Majalahnya di rumah kakak gue soalnya."
"Tukeran nomor yuk? Biar kalau ada apa-apa gue bisa hubungi elo."
"Siap Med."
Setelah mereka bertukar nomor. Medina memesan beberapa cemilan yang akan di bawa pulang.
Ceklek!
Medina membuka pintu. Ia terkejut saat melihat Rendra yang sudah ada di dalam kamar.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Rendra langsung memeluk tubuh istrinya.
"Habis jalan-jalan ya?" tanya nya lagi. Medina hanya mengangguk.
"Mas udah kangen aja sama kamu, jadi mas putuskan buat pulang. Dari pada uring uringan di kantor."
Rendra menatap intens wajah istrinya. Pandangan nya berhenti di bibir Medina yang berwarna pink menggoda. Rendra mengecup bibir itu, kecupan demi kecupan yang berubah menjadi hisapan dan lumatan selama beberapa menit.
Medina menarik nafas dalam-dalam. Rendra mengusap bibir istrinya yang basah itu dengan jari jempolnya.
"Mas lagi pengen, apa boleh sayang?"
"Tapi, ini masih siang mas."
"Gak papa, memang harus menunggu malam?"
"Hai baby girl, daddy boleh nengokin kamu kan. Daddy bakal pelan-pelan kok." bisik Rendra di perut Medina.
Pria itu menuntun istrinya ke atas ranjang. Ia menyandarkan tubuh Medina dan menaruh sebuah bantal di punggungnya. Mereka pun melakukan penyatuan. Akhirnya, siang itu menjadi semakin panas hingga keringat membanjiri tubuh mereka walaupun Ace sudah menyala.
...----------------...