"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
“Woi, Lex. Sini lah kita duduk dulu, cape gue dari tadi berdiri terus.”
“Halo Yuri,” sapanya.
“Ha-halo Kak.”
“kamu sendiri aja di sini?” aku mengangguk pelan, melihat ada Kak Alex membuat jantungku semakin berdetak, bahkan kakiku tidak bisa diam.
“boleh Kakak duduk?”
“Silakan Kak” aku pun menggeser tubuhku agar di bisa duduk di samping Doni, ternyata aku salah. Dia malah duduk di sampingku.
“Saya mau duduk di sini, boleh kan?” tanyanya padaku, aku yang gugup hanya bisa senyum kecil, aku memainkan ujung jilbabku. Aku bingung harus bicara apa sama Kak Alex? Tidak mungkinkan aku hanya diam saja tanpa mengajaknya bicara.
Aku hirup udara sebanyak mungkin dan melepaskannya secara perlahan agar perasaanku sedikit lega, kucoba untuk memulia pembicaraan.
“Kak Alex?”
“Iya, kenapa?”
“Eee, Kakak datang ke sini jam berapa?”
“Baru datang kok.”
“Hoh.” Baru ajak bicara beberapa kata langsung hening lagi, aku sedang berpikir keras, obrolan apa lagi yang haru aku bahas? Apakah aku harus membicarakan masalah politik sama dia biar ada bahan untuk bicara, tapi kayanya terlalu berat deh bahas politik.
“Yuri! Yuri!” Alex menyentuh pundakku, spontan aku kaget.
“I-iya Kak, ada apa?”
“Kamu lagi mikirin apa sih? Kayanya kamu lagi sibuk banget mikirin sesuatu ya? Dari tadi saya panggil kamu loh.”
“Masa sih? Maaf Kak, aku enggak sadar kalau Kakak panggil saya.”
“Kamu mau ikut sama saya?”
“Ke mana Kak?”
“Kita keliling, sambil lihat-lihat acara.” Aku sedikit kaget saat dia mengajak aku berkeliling, bagiku ini kesempatan langka. Kapan lagi coba bisa keliling bareng sama orang yang kita suka.
“Gimana? Kamu mau?” Aku menggarukan kepalaku yang tidak gatal, sebenarnya aku mau. Tapi aku malu.
“Sa-saya mau Kak.”
“Ayo.” Aku pun berdiri dari tempat dudukku, aku berjalan di samping Kak Alex, ada perasaan senang meluap-luap dalam hatiku.
“Lex.” Tiba-tiba saja Doni menahan tangan Alex, ia pun membisikan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang mereka bisikan berdua. Setelah selesai membisikan Kak Alex, kulihat Kak Alex membuka jaketnya.
“Yuri, sebelumnya saya minta maaf. Saya mau pakaikan jaket ini buat tutupi sesuatu.”
“Hah, maksudnya?” Aku tidak mengerti apa yang ia katakan, tanpa menjawab pertanyaan dariku, ia pun langsung melingkarkan jaketnya ke arah pinggangku, dan mengikatkannya di area perutku
“Eh, Kak Alex. Ini apa? Kok jaketnya malah dikasih ke saya?” terlihat raut wajah dia seperti bingung, ia ingin menjelaskan tapi wajahnya sudah merah.
“Kak, ini maksudnya apa ya? Saya enggak ngerti?”
“Jaket itu kamu bawa pulang aja, enggak apa-apa kok.”
“Lah? Kok gitu sih Kak?”
“Untuk masalah ini enggak usah diperpanjang lagi ya, mendingan kamu terima aja jaket dari Alex,” ucap Doni mencoba menjelaskan padaku, tapi tetap saja aku merasa heran. Tapi Kak Alex tetap mengajakku berkeliling, dia bilang jaketnya jangan dibuka sebelum sampai rumah. Aku hanya menuruti saja perkataannya.
Tak terasa waktu begitu cepat, acara pensi ini sebentar lagi akan berakhir. Sebelum aku pulang ke rumah, aku ingin melihat kembang apa di akhir acara ini. Begitu juga dengan temanku Rara, di sini juga ada Doni dan juga Kak Alex. Kami berempat melihat kembang api dengan perasaan senang. Aku begitu kagum melihat kembang api yang begitu besar. Tanpa kusadari Kak Alex menggenggam tanganku, spontan aku menoleh ke arahnya. Sedangkan ia masih fokus melihat kembang api di atas langit.
Jantungku semakin berdebar kencang tak kala tanganku digenggam erat olehnya. Selesai meliat kembang api Kak Alex melihatku sambil tersenyum manis.
“Ikut saya yuk, ada yang mau saya bicarakan sama kamu.” Aku hanya diam saja tanpa menjawab perkataannya, ia membawaku ke tempat lain sambil terus menggenggam tanganku. Ternyata ia membawaku ke sebuah taman sekolah.
"Maaf kalau saya sudah lancang genggam tangan kamu tanpa seizin kamu,” ucapnya aku pun masih terdiam belum berkata apa-apa.
“Sebentar lagi kamu sudah naik ke kelas tiga, dan saya akan lulus dari sekolah ini. Sebelum saya pergi dari sekolah ini, saya mau bilang. Semoga suatu saat kita akan bertemu lagi, tapi tidak sebagai teman atau pun sebatas Ade kelas atau Kakak kelas saja. Melainkan lebih dari ini.”
Selesai acara, seluruh siswa pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan diriku yang sudah dijemput oleh mamahku, saat kak Alex mengatakan seperti itu. Ia pun kembali pulang ke rumah tanpa menjelaskan maksud dari ucapannya.
Aku terus memikirkan kak Alex, ternyata aku tidak bisa memiliki dia sampai kita berdua terpisah oleh waktu. Sesampainya di rumah aku langsung naik ke atas, aku ingat kata Kak Alex aku enggak boleh lepas jaketnya sebelum sampai rumah, tapi karena sudah sampai rumah aku pun langsung melepaskan jaketnya.
Saat aku buka, aku melihat ada bercak darah menempel di jaket milik Kak Alex. Mataku langsung terbelalak. Jadi maksud kak Alex ini? Ya Allah, aku malu banget. Kok bisa sih aku tembus.