[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Dengan lihai tangan itu menata bermacam macam hidangan, Nae ri tersenyum puas, walaupun tidak terbiasa melakukan hal itu tetapi ia akan mulai belajar untuk melayani Hwan dengan baik.
Srett....
Pintu terbuka membuat senyum Nae ri semakin lebar, dilihatnya Hwan memasuki ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hwan kebingugan.
Pasalnya selama ini Hwan tidak pernah mengijinkan seseorang masuk ke dalam kediamannya kecuali Pelayan Mo yang memang sudah melayaninya dari kecil, dan sekarang ia melihat Nae ri sedang menata makanan untuknya. Ia merasa sedikit aneh dengan hal itu walaupun sudah lama mengenal Nae ri.
"Hanya menyiapkan makanan untukmu"
Hwan menghela nafas pelan.
"Baiklah aku akan memakanya nanti" ucapnya lalu pergi.
Perlahan senyum Nae ri pudar saat melihat punggung Hwan semakin menjauh, ada perasaan aneh saat melihat Hwan bersikap dingin kepadanya. Entahlah karena apa, tetapi Sikap Hwan kepada Nae ri perlahan berubah tidak ada lagi rasa menenangkan di setiap kata kata Hwan kepadanya. Hanyalah sebuah ucapan dingin yang selalu ia dengar. Memanglah Hwan adalah pribadi yang dingin tetapi setidaknya tidak pernah seperti ini kepadanya selama ini.
Sedangkan Hwan ia melangkahkan kakinya entah kemana sekedar tidak ingin berada di kediamanya. Nae ri yang sikapnya telah berubah membuatnya sedikit jenggah. Nae ri yang sekrang bukanlah Naeri gadisnya yang polos.
Hingga langkahnya sampai di dalam Perpustakaan istana, Netra nya menangkap sesosok yang tengah melipat kedua tanganya di meja baca dan menelungkupkan kepalanya. Terlihat sesengukan dan menangis.
Tanpa sadar Hwan tersenyum tipis begitu tahu siapa yang tengah menangis itu. Ia mendudukan dirinya di samping seseorang itu lalu Diusapnya rambut seseorang itu dengan pelan.
"Ada apa eum?" tanyanya pelan,
Tak elak, suara Hwan membuat orang itu Terperanjat. Bisa Hwan lihat dengan jelas Mata sebab dan wajah yang memerah menghiasi paras indah tersebut. Tanpa perintah tangan Hwan mengusap jejak air mata itu. Mereka saling menatap tatapan Hwan semakin dalam ingin sekali mencari alasan dibalik tangisan Seorang itu tapi nihil ia tidak menemukan apapun disana.
"Jeonha" ucapnya pelan.
"Berceritalah Jungjeon"
Seseorang yang ternyata Haerin itu menggeleng. tidaklah mungkin ia bercerita tentang sakit hatinya yang ia rasakan karena melihat hubungan Hwan dan Nae ri yang tidak ia ketahui sebenarnya.
"Jeonha, bolehkah aku pergi. Aku berjanji tidak akan kembali lagi"
Ucapan itu terucap dengan pelan dan ia tidak berani menatap wajah Hwan saat mengutarakan keinginnya itu. Diliriknya Hwan untuk mengetahui seperti apa reaksi lelaki itu. Tetapi nihil ia tidak bisa melihat apapun dari wajah Hwan.
Sedangkan Hwan sendiri sedari tadi menahan amarah bagaiman bisa Haerin berbicara seperti itu, bukankah sekarang posisisnya adalah menjadi seorang ratu dari sebuah kerajaan besar ia memiliki tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya dan bagaimana bisa ia meninggalkan itu begitu saja.
Haerin tidak bisa lagi jika harus membiarkan hatinya perlahan lahan tergores, karena Nae ri yang memiliki Posisi Bin kini tengah mengadung, sedangkan dirinya bahkan sedikit pun belum pernah disentuh apakah mungkin ia nantinya akan melahirkan pewaris. Karena jika tidak ia akan menjadi wanita yang paling menyedihkan dalam sejarah apalagi saat nanti posisi Nae ri akan menyamai dirinya, kian menyedihkan sudah dirinya.
"Itu bukan urusanku dan aku tidak akan melarangmu jika kau ingin pergi, maka pergilah" ucap Hwan dingin.
Haerin mengangguk lalu tersenyum, ia akan benar benar memikirkan matang matang soal keputusanya untuk meninggalkan istana. Mengenai posisinya sekarang yang tidak mungkin semudah itu untuk ia tinggalkan begitu saja.
"Tetapi kau sekarang memiliki tanggung jawab, apakah kau akan benar benar meninggalkanya begitu saja" lanjut Hwan.
Ia berharap dengan kalimat itu agar Haerin mempertimbangkan untuk meninggalkan istana. Ia Terlalu naif untuk berterus terang jika tidak ingin Haerin meninggalakan istana.
Awalnya Hwan memang sangat membenci Haerin, pertama kali adalah saat Jenderal Min mengatakan jika Haerin berkrepribadian buruk hanya karena itulah ia sangat membenci Haerin. Tetapi setelah mengenal lebih jauh seperti apa Haerin ia merasakan adanya perasaaan aneh dalam dirinya yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ia sangat nyaman saat bersama Haerin dan tanpa sadar ia selalu tersenyum tipis karena Haerin. Senyuman yang tadinya telah hilang dan mati. Tapi Hwan adalah orang yang terlalu naif untuk mengungkapkan jika nantinya ia juga akan sangat membutuhkan Haerin.
"Katakan apa yang membuatmu tidak nyaman?"
"Suatu hal yang tidak mungkin anda mengerti"
Hwan berdecak lagi lagi gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya, ia beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Ia ingin sekali meminta Haerin tetap tinggal tetapi ego nya terlalu tinggi hanya untuk sekedar mengungkapkan itu.
⿴⃟۪۪⃕᎒⃟ꕤTHE PRINCE WOMAN⿴⃟᎒⃟ꕤ
"Ui Bin hamil?" Tanya ibu Suri angung kepada pelayanya.
Min Sae roh menganggukan kepalanya ia merupakan pelayan dari Ibu suri Agung tidak sengaja mendengar gosip dari para dayang istana Bunga jika Nae ri kini tengah mengandung. Para dayang memang dengan cepat menyebar kan gosip itu. Tetapi kabar itu memang barulah sampai ke telingga para dayang belumlah ke tetua istana bahkan Raja sendiri.
"Apakah Jungjeon sudah tahu?" tanya ibu suri agung kembali.
"Ye Mama, sepertinya ia sudah mengetahuinya"
Wanita tua itu tersenyum miris, bagaiamana kah perasaan Haerin begitu tahu Naeri tengah mengandung.
"Saya takut akan terjadi perebutan kekuasaan kembali, jika anak yang dilahirkan Ui Bin adalah Laki laki" ujar Sae roh pelan.
"Itu tidak akan terjadi, Ui Bin sebentar lagi pasti akan menjadi Ratu" ucapnya tidak suka.
Sedangkan Sae roh terlihat terkejut dengan ucapan wanita tua itu.
"Katakan pada jungjeon untuk menemuiku" lanjutnya.
Saeroh mengangguk lalu segera beranjak untuk memberitahu kan titah ibu suri agung.
Tak beberapa lama Haerin masuk diikuti oleh beberapa pelayan yang memberikan camilan dan menuangkan teh. Haerin memberi hormat lalu duduk. Ia menunduk karena tidak ingin ibu Suri Agung tahu jika semalam ia habis menangis, ia tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan.
"Jika kau ingin meninggalkan istana Nenek akan membantu"
Ibu Suri Agung tidak akan menghalagi jika Haerin memang ingin pergi, wanita tua itu seakan tahu apa yang diinginkan Haerin. Ia terlalu menyayangi Haerin dan tidak ingin Haerin semakin tersakiti lagi jika harus tetap bertahan.
"Saya sangat ingin pergi tapi keadaan memaksa saya untuk tetap tinggal setidaknya untuk sekarang ini. Jika saya sudah menyelsaikan beberapa urusan Baru saya bisa pergi dengan tenang"
"Nenek tahu kau wanita kuat Jungjeon. Bertahanlah, nenek berjanji akan membujuk Hwan"
Haerin Hanya tersenyum tipis mendengar pinta penuh harapan itu. Tidak akan mungkin ia sanggup bertahan dalam keadaan seperti ini. Ia juga pastinya akan tersingkirkan jika Hwan mengangkat Naeri menjadi Ratunya. Kehidupan istalah sangat lah sulit. Tetapi jika ia memaksakan untuk meninggalkan istana bagaimana dengan nasib ayahnya? Ia takut jika Perdana Menteri Song akan dihukum jika ia tetap meninggalkan istana.
Ibu Suri Agung merasa terlalu berat untuk melepaskan Haerin pergi ia sudah menganggap Haerin seperti cucunya sendiri, menurutnya Haerin adalah wanita yang sempurna dan akan sangat sulit mencari wanita seperti Haerin, seharusnya Hwan harus merasa beruntung mendapatkan Haerin. Ibu suri Agung harus berusaha sangat keras untuk membujuk Hwan. Karena sangat lah sulit untuk menyadarkan Hwan.
𖥨ํ∘̥⃟❍ིི۪۪⃕۫۫͜ TBC⸙۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪۪ࣤ ⃝༘⃕☬️
☬️Maaf klo masih banyak kesalahan,typo, kesalahan EYD,dsb. tolong bantu koreksi, mari kita belajar bersama:)
☬️Dont forget to coment and vote, hargai karya saya ditunggu juga kritik dan saranya.
☬️Dan mengingatkan lagi Cerita ini hanyalah fiktif belaka tidak menceritakan sejarah yang telah terjadi kapanpun dan dimanapun. tetapi murni fiksi dari pemikiran saya.