NovelToon NovelToon
Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Pelakor / Trauma masa lalu / Poligami / Selingkuh / Janda / Tamat
Popularitas:327.3k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Lisna seorang istri penyabar dan tidak pernah mengeluh pada sang suami yang memilih menganggur sejak tahun ke tiga pernikahan mereka. Lisna dengan tulus menjadi tulang punggung keluarga.

Setelah tujuh tahun pernikahan akhirnya sang suami terhasut omongan ibunya yang menjodohkannya dengan seorang janda kaya raya. Dia pun menikahi janda itu atas persetujuan Lisna. Karena memang Lisna tidak bisa memberikan suaminya keturunan.

Namun istri kedua ternyata berhati jahat. Dia memfitnah Lisna dengan mengedit foto seakan Lisna sedang bermesraan dengan pria lain. Lagi lagi suaminya terhasut dan tanpa sadar memukul Lisna bahkan sampai menceraikan Lisna tanpa memberi kesempatan Lisna untuk menjelaskan.

"Aku pastikan ini adalah air mata terakhirku sebagai istri pertama kamu, mas Fauzi." Ujarnya sambil menghapus sisa air mata dipipinya.

Bagaimana kisah selanjutnya?
Saksikan di serial novel 'Air Mata Terakhir Istri Pertama'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa lalu Lisna part 1

Saat itu Lisna masih duduk di bangku SMA. Dia adalah siswa yang nakal dan terkenal suka menindas teman teman di sekolah yang sama dengannya. Karena dia merasa ditindas oleh keluarganya sendiri. jadi dia limpahkan perasaan sakit itu untuk menyakiti orang lain.

Selain itu, Lisna juga sangat bebas dalam pergaulannya di dunia malam. Meski hanya masuk bar, minum dan sekedar menari saja tampa terlibat dengan lawan jenis. Tetap saja gaya hidup seperti itu terlalu bebas untuk gadis seusianya.

Lisna pun akhirnya di tegur dan dimarahi habis habisan oleh mama dan papanya setelah mereka mendapat laporan kelakuan Lisna dari putri sulung mereka.

"Kamu itu mau jadi apa, Lis?" Teriak mamanya marah saat Lisna pulang larut malam dengan mulut bau alkohol dan masih memakai seragam sekolahnya.

"Dari dulu kerjaan kamu selalu membuat mama sama papa malu. Di sekolah menjadi pembuli, di luar sekolah menjadi wanita malam.. lebih baik kamu bunuh saja mama, nak."

Lita mulai menangis mengingat putri bungsunya itu sungguh membuatnya lelah.

"Lihat kakakmu, dia berprestasi sejak kecil. Tidak seperti kamu yang dikasih hati mintak jantung." Sambung Wira, papanya.

Lisna masih diam. Dia tidak seutuhnya mabuk, tapi dia hanya sedang berusaha mengendalikan diri agar tidak meledak saat mendengar kedua orangtuanya selalu membanding bandingkannya dengan kakaknya.

"Mulai hari ini, kamu tidak akan papa beri uang saku lebih. Kamu juga dilarang keluar rumah selain hanya ke sekolah." Wira menegaskan.

"Kamu harus belajar yang rajin, Lisna. Contohlah kakakmu. Tolong mama Lisna, mama malu sama tetangga yang menggosipkan kita. Mereka bilang mama sama papa yang tidak becus mengurus kamu. Padahal, kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu, Lisna.." Celoteh Lita masih terus menangis.

Dia duduk di sofa bersampingan dengan suaminya. Lisna berdiri menunduk dihadapan mereka, sementara Lia kakaknya berdiri diam di depan pintu kamarnya.

"Apa kamu sudah benar benar menjadi wanita malam? Bagaimana rasanya enak?" Hardik Wira menuduh putrinya.

"Oh atau mereka memberi kamu uang lebih banyak dari yang papa berikan?" Menunjuk wajah Lisna.

Dia sudah kehabisan stok sabarnya saat dituduh melakukan hal menjijikkan yang tidak dia lakukan sama sekali, terlebih yang menuduh adalah papa kandungnya sendiri.

"Semua sudah aku berikan untuk membuat kamu merasa cukup Lisna. Tapi ternyata uangku masih kurang banyak dari uang para om om itu.."

"Stooopp papa." Teriak Lisna sangat lantang membuat Lia, Lita dan Wira terperanjat kaget.

"Kalian benar benar tidak punya perasaan. Setiap aku pulang kalian hanya membandingkan aku dengan kak Lia. Kalian tidak pernah menanyakan apa yang terjadi padaku, apakah aku terluka, apa aku baik baik saja? Pernah kalian menanyakan itu padaku?"

Lisna diluar kendali. Wajahnya tampak sangat merah dan menyeramkan. Tangannya terus menunjuk wajah mama dan papanya tanpa henti.

"Sejak aku masih kecil, apa pernah kalian memelukku saat aku menangis? Tidak. Kalian malah mengatai aku cengeng dan membandingkan aku lagi dengan kak Lia yang tidak pernah menangis.."

"Lisna!" Hardik Wira marah.

"Apa? Papa mau memukulku? Silahkan pa, aku tidak takut sama sekali pada orang tua seperti papa yang tega menuduh putrinya sendiri sebagai wanita malam. Papa menjijikkan." Pekiknya.

Plaaakkk…

Satu tamparan mendarat di mulutnya. Pelakunya adalah mamanya. Mulut Lisna mengeluarkan darah dari bibirnya yang pecah.

Cuiihh…

Lisna meludah kelantai, sementara Lita menatap penuh rasa bersalah karena menampar putri bungsunya itu.

"Apa mama sama papa pernah memberikan waktu untuk sekedar mendengarkan ceritaku setiap aku pulang sekolah? Kalian tidak tahu kan, mengapa aku saat itu memukul wajah guru olahraga di sekolahku.."

Lisna menarik napas, air matanya bahkan menetes. Mengingat kejadian pelecehan saat dia masih kelas lima SD.

"Kalian tidak mendengarkan penjelasanku, kalian hanya langsung menuduhku dan mengataiku anak tidak berguna. Kalian tidak tahu kan kenyataan bahwa bapak itu mencoba melecehkan aku, ma.. pa.." Air mata Lisna akhirnya tumpah.

Penjelasan Lisna membuat kedua orangtuanya terdiam dan merasa bersalah. Karena memang awal dari kenakalan Lisna bermula saat itu.

"Harusnya kalian memelukku, memberiku waktu untuk bicara. Tapi, kalian malah membandingkan aku, menuduhku, menyudutkan aku. Aku benci kalian!" Teriak Lisna sambil terisak.

"Aku tidak pernah berharap dilahirkan oleh orangtua seperti kalian.."

"Lisna, maafkan mama.."

Lita melangkah hendak memeluk Lisna, tapi dengan cepat Lisna melangkah mundur.

"Maafkan mama, nak!" Lita berlutut dihadapan Lisna, sedangkan Wira hanya menunduk mengingat semua perlakuan buruknya terhadap putri bungsu yang harusnya dijaganya dan dilindunginya dengan baik, bukan malah menuduh dan menanamkan rasa benci dalam dirinya.

"Aku berharap, semoga aku tidak punya orangtua seperti kalian…" Ucap Lisna berbisik pada dirinya sendiri sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah itu.

Hujan deras tidak menghalangi langkah Lisna untuk berjalan tanpa tujuan. Dia menangis terisak, merasa dirinya tidak berguna dan terbuang bahkan oleh keluarganya sendiri.

Lisna putus asa, dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa dan mau pergi kemana, hingga saat dirinya menyeberangi jembatan yang berdiri diatas jurang yang curam, pikiran kalap mendatanginya.

"Aku lebih baik mati. Tidak ada yang sayang padaku, bahkan kedua orangtuaku pun menuduhku dengan tuduhan keji. Aku benci mereka, aku benci diriku sendiri. Aku tidak mau hidup lagi."

Lisna memanjat jebatan itu, berdiri disana dengan masih bergantung erat pada bessi tiang jembatan.

"Hei, apa yang kamu lakukan nak?" Teriak seorang ibu ibu dari dalam mobilnya yang kebetulan melintas di jembatan itu juga.

Teriakan itu bisa didengar oleh Lisna, hanya saja dia tidak peduli. Karena hati dan pikirannya kini dikuasai amarah, rasa benci dan rasa tidak ingin hidup lagi.

Dengan cepat wanita seumuran mamanya itu keluar dari mobil dan berlari kearah Lisna, lalu tanpa aba aba menarik kuat pinggang Lisna hingga mereka jatuh ke aspal yang dingin.

"Lepaskan aku.. biarkan aku mati.. lepasss.." Lisna berontak.

"Tidak nak, kamu tidak boleh melakukan itu." Wanita itu memeluk erat tubuh Lisna mengelus punggungnya mencoba menenangkan gadis malang itu.

Saat itu seorang remaja berusia kira kira empat belas tahun turun dari mobil wanita yang kini memeluk erat tubuh basah Lisna. Remaja itu turun dengan membawa payung ditangannya dan satu payung lagi terbuka untuk melindunginya dari tetesan air hujan.

"Mama, hujannya deras." Teriak remaja itu sambil mengembangkan satu payung yang tadi dibawanya, lalu di payunginya mamanya yang memeluk Lisna.

"Lepaskan aku, biarkan aku matiii, tidak ada yang menyayangi aku. Aku benci dirikuu…"

Wanita itu terus mencoba menenangkan Lisna hingga akhirnya Lisna jatuh tak sadarkan diri dalam dekapan hangat wanita itu.

"El kakak ini pingsan nak, El bisa bantu buka pintu mobil, sayang?" Ujar wanita itu pada remaja yang ternyata adalah putranya.

"Iya, ma. Tapi payungnya?" Tanya El bingung, karena kedua tangannya memegang ganggang payung.

"Sini mama saja yang pegang payung sementara."

El memberikan satu payung pada mamanya untuk memayungi dirinya dan juga Lisna, sementara El melangkah mendekat ke mobil lalu membuka pintu bagian belakang mobil. Kemudian dia kembali untuk membantu mamanya memegang payung karena mamanya akan mengangkat tubuh tak sadarkan diri Lisna.

1
Ai Diah
apakah dulu Lisna membunuh kedua orang tua dan sodaranya?🙏
Ulya Hermansyah
aaaammmmpuuun daah/Drowsy/
Ulya Hermansyah
g krja sok sok an nikah lagi,realistis dooong.
Evy
kenapa meninggal Thor.. walaupun tak bersama Lisna seharusnya Erwin juga bisa bahagia dan sembuh dari penyakitnya..
Evy
Karena selalu berdoa minta sabar...maka Allah memberikan cobaan yang memang membutuhkan kesabaran yang extra tinggi..
Evy
Ada ya suami yang modelan seperti itu..
uh..ampun dah..
Dessy Christianti
Luar biasa
Soritua Silalahi
jgn pernah menghina seseorang yg blm bisa hamil Krn kamu ga tau kedepannya hidupmu seperti apa
Handayani sutani
ada ya istri kaya lisnaa di dunia nyataa
guntur 1609
bagus tuh lisna. movr on dari keluarga toxic yg gak tahu diri
guntur 1609
gak usah diladeni org sepwrti meteka lisna
biarkan metrka berusaha dengan keangkuhanya dulu
Neulis Saja
try again Lio, don't be afraid to try ✊
Neulis Saja
reader are moved
Neulis Saja
next
Neulis Saja
forever happy 🙏
Neulis Saja
sepertinya harta segalanya buat Fitri sehingga memilih saudagar kaya betusyti empat selamatlah fitri
Neulis Saja
lisna, finnaly you are pregnant
Neulis Saja
ya akhirnya akan mempermalukan diri sendiri disti
Neulis Saja
next 😀
Neulis Saja
niat jahat itu tak kan abadi, satu saat akan ketahuan juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!