Pernikahan berlatar belakang perjodohan terpaksa harus Ares dan Queen jalani meskibtidak ada cinta di antara keduanya, bahkan mereka juga sama-sama sudah memiliki kekasih masing-masing, mereka sepakat untuk menerima perjodohan yang di atur oleh orang tua mereka demi tujuan mereka masing-masing, lantas bagimana Ares dan Queen menutupi rumah rangga mereka yang penuh kepalsuan itu, dan bagaimana kisah cinta mereka dengan pasangan mereka masing-masing, jika ternyata sebuah bencana justru menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya, yuk ikuti kisahnya di sini ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terhanyut
"Maaf, jika waktu itu aku membohongi mu." setelah semalaman Aes merasa gelisah dengan perasaan bersalahnya pada Queen, akhirnya dia mengungkapkan penyesalannya saat perjalanan pulang mereka ini.
"Tidak apa, aku sudah melupakannya. Aku juga bisa memahaminya. Kamu pasti sangat kesal pada ku karena aku yang tiba-tiba ingin ikut perjalanan dinas mu." jawab Queen.
"Sebagai permintaan maaf ku, kapan-kapan aku akan benar-benar membawa mu ke Bunaken." janji Ares, yang lantas langsung di angguki Queen dengan antusias.
Jika saat berangkat penerbangan mereka hanya sepi dan tidak saling bicara, saat perjalanan pulang justru mereka tidak dapat berhenti berbicara satu sama lain, mulai dari membicarakan masalah kuliah Queen, dan juga tentang bisnis yang di jalani Ares.
Hanya satu yang tidak mereka singgung dan seolah mereka lupakan dalam obrolan mereka kali ini, yaitu mengenai pasangan mereka atau kekasih mereka masing-masing. Untuk sesaat Elsa dan Reza seperti tidak ada dalam dunia mereka.
"Ah,,, Jakarta! Akhirnya aku bisa mencium bau polusi dan kemacetan lagi," ujar Queen saat mereka sampai bandara ibu kota.
"Ayo kita pulang ke rumah mu dulu, orang tua mu pasti sangat ingin melihat putri kesayangannya, aku sudah pesan taksi." ajak Ares.
Queen mengangguk, kali ini dia tidak di repotkan dengan barang bawaan apapun, hanya sebuah ransel di punggungnya, karena semua barang bawaannya termasuk baju-baju mahalnya dia tinggalkan untuk para pengungsi di desa.
Namun baru saja mereka hendak masuk ke taksi bandara yang sudah menunggu mereka, langkah Ares terhenti karena panggilan seseorang.
"Ares!" panggil seorang wanita dari kejauhan, membuat sebelah kaki Ares yang tadinya sudah naik di pijakan mobil turun kembali.
Dari kejauhan Elsa melambaikan tangannya dengan senyum yang manis seperti biasanya. tapi entah mengapa alih-alih membalas lambaian tangan dan senyuman Elsa, leher Ares justru spontan malah memutar ke arah Queen yang sudah duduk di dalam taksi membuat Ares seolah memalingkan wajahnya dari kekasihnya dan malah menoleh ke arah Queen.
"Aku pulang sendiri saja, nanti aku carikan alasan pada mereka kenapa kamu tidak ikut ke rumah." ujar Queen yang mengira jika Ares sedang meminta persetujuannya untuk pergi bersama kekasihnya.
"Ah--- emh-- aku tidak tau jika Elsa akan menjemput, emhh,,, aku akan segera menyusul mu." gugup Ares, mengatakan hal yang sebenarnya, dia memang mengabari jika hari ini dia akan kembali, namun dia benar-benar tidak tahu jika Elsa ternyata akan menjemputnya ke bandara, bahkan dia tidak memintanya.
"Santai saja!"jawab Queen menutup pintu mobil dan meminta sopir taksi untuk segera berangkat meninggalkan Ares yang kini berdiri menatap kepergiannya dari kejauhan.
"Aku merindukan mu!" Elsa memeluk Ares dari belakang.
"Elsa, jangan seperti ini, seseorang bisa saja melihat kita!" Ares melepaskan pelukan Elsa yang langsung memasang wajah cemberut.
"Aku sangat takut saat mendengar bencana alam itu, apa kamu tidak apa-apa? Apa kamu terluka?" tanya Elsa sembari memindai tubuh Ares dengan pandangannya.
"Aku baik-baik saja, seharusnya kamu tidak usah repot-repot menjemput ku, seseorang bisa saja melihat kita di sini." Ares menengok ke kanan dan ke kiri, entah mengapa kini dia semakin tidak nyaman dan semakin ketakutan jika ada seseorang yang melihat kebersamaan dirinya dengan Elsa.
"Apa yang terjadi, mengapa kamu seperti tidak merasa senang bertemu dengan ku, padahal kita tidak bertemu beberapa hari." rajuk Elsa.
"Ah sudahlah, cepat kita pulang, aku lelah. Aku juga masih harus bertemu kedua orang tua ku, mereka pasti sangat menghawatirkan ku." kilah Ares, tak ingin menanggapi rajukan Elsa.
**
"Bisa kah kamu di sini sampai sore, aku masih ingin bersama mu!" Elsa memegangi lengan Ares agar kekasihnya itu tidak pergi dari dari apartemennya.
Belum ada satu jam Ares sampai di apartemen, dia sudah bergegas ingin pergi, dia hanya mampir untuk mandi dan berganti baju saja, bahkan dia mengatakan jika malam ini dia tidak akan menginap di apartemen Elsa seperti biasanya.
"Aku harus bertemu orangtua ku, lagi pula banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan karena tertunda selama aku pergi." ujar Ares memberikan alasannya.
Padahal sejak tadi pikirannya tidak bisa tenang karena memikirkan Queen, entah mengapa wajah kecewa gadis itu saat tahu dirinya tidak jadi ikut pergi ke rumah orang tuanya terus terbayang di matanya, seperti ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak bisa menemani Queen tadi, padahal biasanya dia tidak pernah se-peduli itu pada istri di atas kertasnya itu.
"Tapi ini hari sabtu, biasanya kamu menghabiskan weekend dengan ku, padahal kita sudah tidak bertemu selama hampir satu minggu ini." rengek Elsa.
"Oh ayolah Elsa, biasanya kamu paling mengerti aku. Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya untuk tidak menghambat urusan keluarga dan pekerjaan, lagi pula waktu ku bersama mu akan lebih banyak jika aku sudah mulai ke kantor lagi lusa. Hanya dua hari saja, aku yakin kamu bisa mengerti dan bersabar." bujuk Ares.
Meski agak merasa kecewa, dengan sikap Ares, Elsa akhirnya mengalah, dia juga merasa aneh dengan sikap yang di tunjukkan Ares pada nya kali ini, biasanya Ares tidak pernah kuat berpisah dengannya lama-lama, dan ini setelah berpisah beberapa hari, kekasihnya itu malah terburu-buru ingin pergi, biasanya Ares juga tidak pernah menolak bujukannya, namun kali ini meski Elsa sudah mencoba merayunya dengan berbagai cara Ares tetap tidak bergeming, pria itu keukeuh dengan pendiriannya untuk pergi.
"Sayang, apa kamu tidak merindukan ku?" tangan Elsa mengalung di leher kokoh Ares, wajahnya dia benamkan juga di sana, sesekali dengan sengaja hembusan nafas kasarnya dia biarkan menerpa kulit putih Ares yang kini tampak lebih seksi dengan warna kulit kecoklatannya setelah beberapa hari berada di pantai, dengan tujuan untuk menggoda pria itu.
Kecupan-kecupan kecil juga sengaja Elsa daratkan di sana, sehingga membuat tubuh Ares meremang.
"Elsa,,, apa kamu sengaja ingin menahan ku di sini, hemh?" pertahanan Ares sepertinya tidak sekuat itu, mendapatkan godaan yang membangkitkan hasrat kelelakiannya membuatnya tidak bisa menahan diri sebagai pria dewasa yang normal.
Elsa bersorak dalam hatinya karena usaha terakhirnya yang mengeluarkan jurus pamungkas untuk membuat Ares tetap berada di sisinya akhirnya berhasil juga, Ares membalas pelukannya dan ciumannya, langkah kaki Ares yang tadinya bersikukuh melangkah ke arah pintu keluar untuk pergi meninggalkan Elsa, kini berhasil Elsa giring untuk melangkah menuju kamar yang biasa mereka tempati.
Tidak ada lagi perlawanan dan penolakan dari Ares, pria itu seakan melupakan semuanya dan terhanyut dalam buaian permainan panas yang di suguhkan Elsa padanya.
Saat ini bahkan Ares tidak ingat lagi dengan wajah kecewa Queen yang sejak tadi berputar di kepalanya, niat untuk segera menyusul Queen di rumah orang tuanya juga menguap begitu saja.
katanya reza brandalan dan memanfaatkan quin.. lalu apa bedanya dg ares laki2.brenhsekmdan tdk bertanggungjawab.. selingkuh pula.. bukannyaembaea istei ke jalan yg benar malah menjerumuskan..
kau melaknat pelakor dan membinasakannya kayak bukan manusia
tapi kau begitu spesial kan pebinor thomas
*Thomas bisa merasakan tubuh queen
*queen sangat lembut dan pengertian dengan Thomas
*Thomas berkali merendahkan bahkan melecehkan harga diri suami queen dan queen diam saja
author ini kelakuan menjijikan lelaki yang begitu kau spesial kan di novel ini(Thomas)
*penjahat
*lelaki murahan yang nyesek sana sini
*lelaki menjijikan yang membayangkan tubuh istri orang
*lelaki menjijikan yang menjamah tubuh istri orang dengan ancaman
lelaki kayak begini yang kau spesial kan thor, miris polah pikirmu thor
pola pikir wanita dan istri jablay mereka akan kebaaperan dengan pria lain yang suka padanya, bahkan jika lelaki itu menghalalkan tubuh nya bahkan sampai menjamah tubuh, istri kayak gini tetap akan lembut pada pria itu, dan kalau wanita2 kayak gini berkarya buat novel jadi novel2 kayak gini yang sangat memuja2 pebinor, begitu lembutnya merekan memperlakukan pebinor bahkan mereka biarkan pebinor menjamah tubuh pemeran utama wanita (sudut pandang authornya)
ingat novel kalian adalah cerminan karakter kalian