"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan
Saat Yoonji mabuk sebelum di antar ke kamar.
Laki-laki dengan jas berwarna biru muda itu berjalan dengan sempoyongan menuju lift. Dia sudah tidak sanggup untuk melanjutkan pesta yang masih akan berlangsung sampai tengah malam nanti.
Seorang wanita dengan senyum penuh arti berjalan menghampiri Yoonji. Pria itu berjalan sendiri di tempat yang sepi dalam keadaan mabuk. Momen yang sangat sempurna, temtu saja Yura tidak akan melewatkan hal ini dengan sia-sia.
"Yoon, mau kemana? biar aku membantumu," ucap Yura berjalan lebih cepat mendekat, wanita itu meraih tanga Yoonji yang berpegangan pdaa tembok.
"Kau?" Mata Yoonji memicing agar bisa melihat jelas siapa yang menyentuhnya.
"Pergilah, aku tidak butuh bantuanmu.' Yoonji menarik tangannya dari Yura dan mendorong wanita itu hingga wanita itu terhuyun ke belakang.
"Yoon, kenapa kau seperti ini? " Yura berdiri, menatap Yoonji dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Yoonji mengambil nafas dalam, dia memang sedang mabuk. Tapi dia masih menguasai dirinya, toleransinya terhadap alkohol cukup tinggi. Yoonji adalah peminum yang baik. Pria dingin itu menatap Yura datar.
"Bukankah kita sahabat, apa kau lupa itu Yoon. dulu kau selalu melindungiku, menjagaku dari anak lain yang mengangguku, tapi sekarang kenapa? kenapa kau berubah?" lanjut Yura dengan nada bergetar. Air matanya mulai jatuh membasahi pipinya yang merona.
Yura mengusap cairan bening yang membasahi pipi, melangkah perlahan mendekati Yoonji yang masih diam memperhatikannya. Yura yakin di hati Yoonji hanya dia, pernikahan ini tidak ada berarti apapun untuk Yoonji. Dengan mata sayu Yura menatap Yoonji, perlahan ia mulai menyentuh dada Yoonji, mengusapnya pelan hingga kebahu.
"Yoon, bisakah kita kembali seperti dulu," ucap Yura dengan mendayu dan manja, wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Yoonji, tak ada penolakan dari laki-laki itu.
Diam-diam Yura tersenyum, dia semakin yakin kalau Yoonji masih mencintainya.
"Apa kau sudah selesai." pria yang masih memakai jas pengantin itu mendorong tubuh Yura menjauh.
"Ap-apa maksud mu?" tanya Yura dengan terbata, sorot mata Yoonji sangat tajam dan menakutkan. Membuat nyali Yura menciut, ini adalah pertama kalinya Yoonji menatap Yura seperti itu.
Yoonji tersenyum miring, dia sugguh muak dengan wanita yang sekarang berdiri di depannya.
"Kau bilang aku berubah? apa kau tidak melihat dirimu, kau terlihat seperti pe**cur sekarang, aku bahkan tidak mengenalmu lagi. Persahaban kita sudah usai Yura, dan kau tahu kenapa. Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu terluka," ucap Yoonji dengan penuh penekanan. Air mata Yura kemabli menetes hinaan yang terdengar dari mulut mantan sahabatnya itu.
"Kau ... kenapa kau tega mengatakan itu Yoon?Aku hanya ingin kita bisa bersama lagi seperti dulu, aku menyesal, ak-aku minta maaf. Aku khilaf, kau bisa memarahiku tapi aku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini," ujar Yura dengan mengiba, matanya yang basah terlihat sayu menatap Yoonji dengan memohon.
Ck.
Yoonji berdecih kesal. Pria itu melanjutkan langkahnya melewati Yura begitu saja. Yura merasa geram, karena Yoonji sama sekali tidak perduli meski i sudah memohon. Dengan cepat Yura menyusul langkah Yoonji, dengan cepat wanita itu menghadang langkah Yoonji. Mendorong tubuh pria itu dengan kasar ke tembok.
Yura mendekatkan wajahnya hendak menncium paksa laki-laki yang masih setengah sadar itu. Yoonji yang mulai mersakan pusing di kepalanya tak bisa mengelak. Untung saja di saat yang tepat sebuah tangan kekar menari Yura menjauh, sebelum bibir merela bertemu.
"Yak! jangan ikut campur urusanku!" peik Yura kesal, wanita itu menatap tajam Frederick yang tersenyum padanya.
"Hais Nona, apa kau sangat ingin kedinginan? Aku bisa memberikan kehangatan padamu, gratis. Kau tidak perlu memperkosa lai-laki mabuk seperi ini, ck..ck ... kasihan sekali temanku ini," ucap Fredrick sambil meneuk pelan pipi Yooonji yang memerah, tentu saja kulkas lima pintu itu langsung mendelik tajam pada Fredrick.
"Bukan urusanmu!" Geram Yura dengan wajah yang sudah memerah.
Tiba-tiba dia orang pria berjalan mendekat, mereka tersenyum dengan penuh arti pada Fredrick. Pria bermata biru itu pun mengangguk, lalu mengarahkan dagunya pada Yura. Dua pria itu menyeringai, Yura mundur perlahan saat dua pria dengan tubuh kejar itu semakin mendekat.
"Jangan mendekat!"
"Menjauh dariku!" Teriakan Yura tak mempan, dua pria itu langsung mengapit lengan Yura, mengangkat tubuhnya yang ramping.
Tak perduli wanita itu terus meronta dan berteriak. Fredrick tersenyum puas, setidaknya dia sudah berhasil menyelamatkan keperjakaan sahabatnya.
"Hais, berapa botol yang kau minum?" Tanya Fredrick heran, biasanya Yooonji masih bisa bertahan jika hanya satu atau dua botol.
"Tidak banyak, hanya tiga botol wiski," jawab Yoonji sambil tersenyum lebar, Fredrick menggeleng cepat.
Dia yakin Wiski yang Yoonji maksud berkadar lebih dari 50 persen. Fredrick pun membantu Yoonji untuk pergi ke kamar, tidak tega juga rasanya meninggal pria mabuk itu sendirian.
.
.
.
.
Matahari mulai menyapa bumi dengan hangat sinarnya. Beberapa orangbersiap kemali melakukan aktifitas mereka, ada pula yang baru memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh setelah lelah berkerja. Sama seperti halnya di sebuah kamar mandi mewah di sebuah hotel bintang lima.
Wanita dengan gaun pengantin dan semua asesoris yang masih melekat di tubuhnya, terlelap, meringkuk dalam bak mandi kering. Lelah dan penat sangat ia rasakan, semalaman ia menjaga sang suami karena mabuk berat dan tak mau diam.
Ia juga tidak ingat jam berapa dia masuk kamar mandi, yang ia ingat hanya dia masuk untuk bersembunyi dari kulkas lima pintu yang kongslet karena mabuk. Yoonji yang biasanya acuh, dingin dan menyebalkan berubah menjadi manusia hiper aktif dan super menyebalkan.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu kamar mandi menganggu ketenangan tidur Monika, karena masih mengantuk ia memutuskan untuk acuh. Namun, ketukan pelan itu berubah menjadi gebrakan.
"Hais, menyebalkan!" Monika membuka mata dan langsung bangun dengan posisi duduk.
"Apa kau mau merobohkan gedung ini?! Yak! Min Yoonji bodoh, menyebalkan tidak bisakah kau memberi waktu aku sebentar saja untuk tidur!" Monika berteriak frustasi, dia menendang- nendangkan kakinya yang masih berselonjoran di bathup super besar itu.
"Cepat buka pintunya!" Teriak Yoonji yang sedang di ujung tanduk, panggilan alam yang sudah di ujung ubun-ubun. Sungguh tak tertahankan.
"Nggak! Aku nggak mau buka!"
"Buka!"
"Nggak!"
"Aku masih ngantuk, aku mohon biarkan aku tidur sebentar saja Tuan," Suara Monika terdengar memohon di balik pintu, Monika memang sudah berdiri di balik pintu kamar mandi dengan mata yang menahan kantuk.
"Apa kau gila tidur di kamar mandi?! Cepat buka pintu! Atau aku akan memotong gajimu 50 persen!" Ancam yoonji yang langsung membuat Monika terdiam.
"Mochi!" Teriak Yoonji putus asa, dia mulai memikirkan alternatif lain jika Monika tetap tidak mau membuka pintu.
perjanjian kalian harus dibatalkan