Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Miliar di Tangan
Setelah lewat tengah hari Fabian baru tiba di restoran. Sakit dan nyeri di wajahnya makin terasa setelah berpanas-panasan di bawah terik matahari. Usai memarkirkan motornya, Fabian langsung masuk ke restoran lewat pintu belakang. Kedatangannya langsung disambut oleh Keyla, yang kebetulan sedang ada di dapur.
"Bi, wajahmu kenapa?" tanya Keyla dengan penuh kekhawatiran.
"Ada sedikit insiden," jawab Fabian.
"Insiden apa? Jangan bilang motormu itu hasil nyuri dan sekarang kamu dihajar sama pemiliknya. Kamu sebenarnya bukan anak orang kaya, kan?" sahut Hendra sambil tertawa.
"Ndra, jangan sembarangan bicara! Motor itu memang milik Fabian, bukan hasil nyuri seperti yang kamu tuduhkan." Keyla membela Fabian dan melayangkan tatapan tajam ke arah Hendra.
"Entah bagaimana cara dia mencuci otakmu, Key. Dari dulu selalu saja membelanya, padahal jelas-jelas dia itu lelaki nggak guna. Katanya aja anak orang kaya, tapi uang nggak ada. Kemarin buat beli pulsa, dia minta kan sama kamu?" gerutu Hendra.
"Lalu menurutmu lelaki berguna itu yang kayak apa? Yang setiap hari merendahkan dan meremehkan orang, begitu? Ingat ya, aku ke Keyla itu hutang bukan minta, nanti juga aku balikin kok," jawab Fabian.
"Bi, udah! Mending kamu masuk dulu dan obati lukamu." Keyla beralih menatap Hendra. "Kamu juga, Ndra, jangan meremehkan Fabian terus. Dia juga teman kita. Di sini kita kerja bersama, jangan saling menjatuhkan," sambungnya.
Mendengar ucapan Keyla, Hendra hanya melengos pergi. Sementara Fabian, dia meninggalkan ruang dapur dan pergi ke ruangan Wendy. Sepeninggalan Hendra dan Fabian, Keyla hanya menggeleng-geleng. Dia tahu benar apa yang membuat teman-temannya membenci Fabian, yaitu status sosial.
Jika dulu, mereka bisa menerima Fabian karena Adara sangat royal terhadap mereka, walau sebenarnya sebagian uang itu juga dari Fabian. Selama berpacaran, Fabian menghabiskan gajinya untuk memenuhi keinginan Adara, sampai dia tak punya sisa untuk diri sendiri. Sedangkan Adara, ternyata hanya suka mencari muka. Dia sama sekali tidak tulus mencintai Fabian.
Kini, sejak pisah dengan Adara tak ada lagi yang royal. Hendra dan yang lainnya pun tak lagi menganggap Fabian. Karena bagi mereka, tidak ada gunanya berteman dengan Fabian, hanya merugikan saja. Akan tetapi, tidak demikian bagi Keyla. Baginya, pertemanan bukan tentang untung rugi, tetapi tentang nyaman dan tidak nyaman.
Sekitar setengah jam kemudian, Fabian keluar dari ruangan Wendy. Senyumnya terulas lebar karena kejadian barusan tidak merugikan dirinya. Dengan beralasan akan dirampok, Wendy memakluminya. Pria pemilik restoran itu tidak menuntut ganti rugi meski motor lecet dan beberapa paket makanan hancur di tengah jalan. Dia malah memberikan salep untuk mengobati wajah Fabian yang banyak lebam.
"Mumpung di depan lagi sepi, sini aku bantu," ucap Keyla. Dia duduk di samping Fabian sambil meraih salep yang baru saja dibuka.
"Makasih ya."
"Santai aja." Keyla tersenyum. Lalu dengan gerakan pelan dia mengoleskan sedikit demi sedikit salep ke wajah Fabian.
"Kamu adalah satu-satunya teman yang bisa menerima kekuranganku, Key. Beruntung sekali aku bisa kenal denganmu," batin Fabian sambil menilik wajah cantik Keyla.
Usai diobati, Fabian pamit pulang, karena sebelumnya sudah mendapat izin dari Wendy. Fabian tidak pulang ke kontrakan, melainkan langsung ke vila. Di sana, dia langsung istirahat di atas ranjang yang empuk. Belum genap satu jam ia berbaring, orang-orang dari SKAK sudah datang. Mereka memberikan uang sebesar satu miliar, lima juta dalam bentuk uang tunai, sedangkan sisanya sudah tersimpan dalam rekening. Entah bagaimana caranya mereka mengurus itu, yang jelas rekening sudah disahkan oleh pihak bank.
"Semakin membingungkan," gumam Fabian.
Bersambung...