Visual berada di Part 103.
Avelia Wrestlin, seorang gadis berusia 22 tahun yang merupakan putri tunggal keluarga kaya raya. Terlahir sebagai putri tunggal tidak membuatnya menjadi gadis manja yang hanya bisa memamerkan kekayaan orang tuanya. Namun Avelia tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri, dan juga cerdas.
Kehidupan Avelia berubah saat dia bertemu dengan seorang pria tampan, David Carlisle. Gadis itu mencintai dalam diam selama kurang lebih dua tahun, sampai pada akhirnya dia meminta kepada orang tuanya untuk dijodohkan dengan pujaan hatinya. Pernikahan pun terjadi.
Akankah pada akhirnya si pria berbalik hati dan mencintai gadis yang sudah sah menjadi istrinya, atau malah si gadis yang akan mundur dan merelakan suami yang dia cintai?
Diwarnai dengan kisah persahabatan empat serangkai yang ingin membantu menyelamatkan pernikahan Avelia.
Yuk cari tahu kisah David dan Ave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 15 - Kedatangan Si Kembar
Cemburu itu adalah tanda cinta. Maka cemburu lah, cintai aku dengan caramu.
🌹 Happy Reading 🌹
Keheningan menyelimuti mobil yang tengah dikendarai David. Avelia yang duduk di sebelahnya juga hanya diam, matanya sibuk memandang pepohonan hijau yang terhampar di sepanjang jalan.
Seluruh rangkaian acara peresmian butik telah selesai pada jam tiga sore. Dan David mengajak Avelia pulang bersama. Alasan membawa mobil tidak diindahkan oleh David dan malah meminta asistennya untuk membawa pulang mobil milik Ave.
Ehem.. David berdehem, sengaja untuk mencari perhatian Avelia. Gadis itu tidak bergeming dan masih asyik dengan dunianya sendiri. Pepohonan hijau di luar seakan lebih menarik untuk dilihat daripada David.
“Apa kau marah?” tanya David kemudian.
David sedikit penasaran karena sejak masuk ke dalam mobil, Avelia sama sekali tidak menghiraukannya. Jangankan untuk bicara, melihatnya saja tidak.
“Tidak.” Avelia menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Mata birunya tetap menatap ke luar.
“Apa karena aku memaksamu untuk pulang bersama?”
David kembali bertanya sambil sesekali melirik Avelia yang masih tetap tenang dengan posisinya.
“Tidak.”
“Lalu?”
Masih penasaran, David memutuskan untuk mengorek lebih lanjut lagi. Belakangan ini dia semakin banyak ingin tahunya terhadap Avelia.
“Aku hanya merasa tidak enak dengan kak Dimas.” Avelia akhirnya menjawab.
Menurutnya, David sedikit kelewatan tadi. Namun bukan itulah penyebab satu-satunya.
“Memangnya kenapa? Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau itu istriku, tidak seharusnya dia memiliki perasaan lebih padamu. Seharusnya kau merasa tidak enak kepadaku karena kau dekat-dekat dengannya.”
David menjawab dengan tenang. Membuat Ave mau tidak mau akhirnya melihat ke arahnya.
“Jika kau memang menganggapku sebagai istri, perlakukan juga lah aku layaknya seorang istri. Kita bahkan harus bersandiwara untuk menjadi suami istri.”
Avelia menarik napasnya dalam. Dia merasa terluka karena harus bersandiwara, namun apa yang bisa diharapkannya dari pria yang berstatus sebagai suaminya?
“Jika yang tadi kau sebut dekat-dekat, lalu selama ini kau dengan kekasihmu bagaimana? Berkacalah.”
Nada bicara Avelia sangat dingin. Dimas tercekat. Dia merasa sedikit bersalah. Karena itu, dia tidak berkata apapun lagi sampai mereka tiba di apartemen.
Setibanya di apartemen, Avelia langsung masuk tanpa menunggu David yang harus memarkirkan mobil terlebih dahulu. Dia berjalan, menaiki lift dan tiba di depan unit apartemen milik mereka. Avelia memasukkan password dan sedikit mengernyit melihat keadaan apartemen dalam keadaan berantakan.
Avelia menjadi was-was dan mencari alat perlindungan yang bisa digunakan. Sebuah sapu yang terletak dekat dengan pintu masuk menjadi pilihannya. Dia berjalan sangat pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun.
“Aunty Ave...” Seorang anak perempuan berusia empat tahun berlari dari arah dapur.
Melihat hal itu, senyum seketika mengembang di wajah Avelia mendapati ternyata keponakannya yang datang dan bukan pencuri seperti yang ada di pikirannya. Avelia langsung meletakkan sapu yang dipegangnya dan berjongkok, lalu anak perempuan itu langsung menghambur ke pelukannya. Avelia memeluknya erat karena dia juga merindukan anak perempuan itu.
“Baby Zee.. Jangan berlarian seperti itu, nanti jatuh.”
Yessica, kakak ipar Avelia berjalan dari dapur dengan diikuti seorang anak lelaki di belakangnya.
“Hey, Kak. Kapan sampai?”
Avelia masih memeluk Zee sambil sesekali mengelus rambutnya yang lembut.
“Baru sekitar tiga puluh menit yang lalu. Maaf ya, kami telat untuk menghadiri peresmian butik, jadi kami memutuskan untuk ke sini. Tapi aku sudah meminta izin kepada David untuk langsung ke apartemen kalian.”
Yessica menjelaskan, merasa tidak enak kepada Avelia.
Avelia tersenyum mendengarkan penjelasan kakak iparnya. Lalu keduanya saling memeluk.
“Tidak masalah, Kak. Aku malah senang Kakak datang dengan si kembar.”
Dia memang baru bertemu beberapa kali dengan Yessica dan keponakan kembarnya karena mereka tinggal di London.
Dan mendapati ketiganya ada di apartemen membuat Avelia benar-benar senang.
“Baby Zico tidak merindukan aunty?” Avelia melirik Zico yang tengah sibuk meminum susu cokelat. Anak lelaki itu lantas berkacak pinggang dengan tangan kanannya dan bibirnya mengerucut lucu.
“Aunty, sudah berapa kali kukatakan kalau aku ini bukan lagi baby. Mommy juga selalu memanggil begitu, padahal aku selalu bilang aku ini bukan baby. Mengapa sih orang dewasa susah sekali dibilangin?”
Avelia dan Yessica saling bertatapan dan tawa mereka pecah. Tidak habis pikir bagaimana bisa bocah empat tahun bertingkah seperti itu.
“Jadi kalau bukan baby lagi, mengapa masih minum susu cokelat?”
Suara berat milik David menyahut. Ternyata pria itu juga sudah masuk ke apartemen dan mendengar perkataan sok dewasa keponakannya.
“Susu itu bukan hanya untuk baby, Uncle. Orang dewasa bahkan kakek kakek juga minum susu.”
Zico masih protes tidak ingin disebut baby lagi. Dalam pikirannya baby itu adalah anak bayi. Hey, umurnya sudah empat tahun.
Orang dewasa yang berada di ruangan itu tergelak, bocah lelaki ini tergolong cerdas untuk anak seumurannya.
“Baiklah baiklah. Aunty minta maaf ya. Aunty tidak akan memanggil baby Zico lagi. Sekarang peluk dulu sini.”
Zee yang sudah turun dari pelukan bibinya langsung menghampiri pamannya dan memeluk David. Avelia melebarkan tangannya, menunggu Zico masuk ke dalam pelukannya. Zico meletakkan susunya di meja yang berada di dekatnya. Dia berjalan menuju Avelia dan memeluk bibinya. Avelia yang sangat gemas kepada bocah itu mencubit pipinya lembut, membuat Zico meringis.
“Aunty...Please stop. Don’t treat me like a baby.” Avelia terkejut dan kembali tertawa.
“Sorry, boy.” Zico menganggukkan kepalanya dan melepas pelukan Avelia. Mengambil susunya kembali dan meminumnya.
Kini mereka semua sudah duduk di sofa ruang keluarga. Zee tampak memainkan boneka di tangannya dan Zico memainkan rubik. Sementara ketiga orang dewasa lainnya hanya berbincang sambil sesekali menyesap minuman yang telah disediakan Avelia.
“Jadi kakak ipar tidak bisa ikut karena perjalanan bisnis ke Dubai?”
David memastikan karena saat Avelia bertanya, dia tidak berkonsentrasi. Dia sibuk membalas pesan Agatha yang seharian ini memang belum bertemu dengannya.
“Ya, dia ada proyek baru disana. Proyek yang katanya cukup besar makanya tidak bisa ditunda.”
Yessica menjelaskan. “Namun Michael menyampaikan selamat kepada Avelia. Oh iya, dia juga menitip hadiah kecil atas butik barumu, Ve.”
Yessica mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Avelia.
“Wah, dapat hadiah dari kakak ipar juga ternyata. Tolong sampaikan terima kasihku padanya ya kak.”
Avelia menerima hadiahnya dengan senang hati. Yessica hanya mengangguk mengiyakan.
“Mom, aku mengantuk.”
Zico tiba-tiba mendekat dan bersandar di tubuh ibunya. Dia sudah selesai mengotak-atik rubiknya dan membuat semua warna kini tampak tertata rapi. Zee yang melihat kakak kembarnya ikut bersandar di sebelah kiri Yessica.
“Sepertinya aku harus menidurkan si kembar dulu.”
Yessica mengelus lembut kepala Zee dan Zico secara bergantian. Hal itu malah membuat si kembar semakin mengantuk. Mata mereka semakin lama semakin menyipit, bahkan mata Zee hampir tertutup sepenuhnya.
“Tidur di kamar kami saja ya, Kak.” Avelia menawarkan karena hanya memang ada satu kamar di apartemen mereka. Dan dia mana mungkin sampai hati membiarkan keponakan kembarnya untuk tidur di sofa.
"Terima kasih ya,Ve. Si kembar tidak tidur di pesawat, mungkin karena itu mereka mengantuk sekarang ini.”
“Tidak perlu sungkan, Kak."
Avelia berlalu menuju kamar dan membukakan pintu. Yessica ikut masuk dengan Zico dan Zee di sebelahnya.
“Baby Zee dan kak Zico tidur dulu ya, Aunty.” Zee dengan suara manisnya melambaikan tangan sebelum naik ke tempat tidur. Avelia balas melambaikan tangan.
“Tidur yang nyenyak keponakan aunty yang manis.” Setelahnya Avelia menutup pintu kamar dan membiarkan kakak ipar juga keponakannya untuk beristirahat.
Avelia kembali ke ruang keluarga. David masih duduk disana dengan ponsel di tangannya. Dia hanya melirik Avelia sekilas dan kembali sibuk sendiri.
Pria ini kenapa sih? Kadang cuek kadang banyak tanya. Benar-benar tidak bisa ditebak.
--- TBC ---
sayangku itu lebay aja kedengaranny thor🤣🤣🤣🤣🤣😎😎😎❤️❤️❤️