Senja, seorang perempuan yang mencari kebenaran atas apa yang terjadi dalam keluarganya.
Ayah dan adiknya meninggal di hari yang sama, sedangkan Ibunya selama 3 tahun tidak dapat mengenalinya karena hilang ingatan.
Selain mencari siapa penyebab kehancuran keluarganya, Senja dihadapkan dengan kisah cinta yang mewajibkan dia harus memilih antara dokter Sandi atau pengusaha Rama Permana.
Apakah Senja akan menemukan orang yang menyebabkan Ayah dan adiknya meninggal?
Dan siapakah cinta sejati Senja??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Venny 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror itu datang lagi
Ternyata hari itu setelah acara amal, aku menghabiskan waktuku bersama Rama. Rama mengajakku berkeliling Jakarta. Dan aku diajak Rama ke komunitas moge yang Rama tergabung di dalamnya. Hampir semua anggotanya pengusaha muda seperti Rama, dan mereka mendirikan komunitas itu karena mereka mempunyai hobi yang sama.
"Hai bro, apakabar nih?" tanya teman Rama yang ku tau bernama Ilyas.
"Baik dong, lo sendiri gimana?" tanya Rama.
"Kita baik disini, lo udah lama absen nih eh tau-tau bawa cewek kemari, lo sibuk pacaran ya?" tanya Ilyas.
"Kenalin ini Senja, dia itu temen gue"
"Hai, Senja" ucapku sambil mengulurkan tangan pada Ilyas.
"Hai Senja, gue Ilyas temen Rama" Ilyas membalas uluran tanganku.
"Udah dong salamannya" celetuk Rama.
"Anak-anak pada kemana, kok sepi gini?"
"Si Marko ulang tahun, mereka lagi pesta di cafe Serayu, emang lo gak diundang?"
"Kalau pun gue diundang, gue gak akan datanglah. Terus kenapa lo disini?"
"Gue juga gak diundang" timpal Ilyas.
"Lo ada masalah sama si Marko?"
"Biasalah cewek gue diembat sama dia" lirih Ilyas.
"Haha lo kalah dari si Marko? sampe-sampe cewek lo ninggalin lo"
"Gila aja cewek gue dikasih tas mahal ampe 2 biji, ya dia kaburlah ke si Marko"
Aku cuma tersenyum mendengar obrolan mereka, ternyata mereka punya nasib yang sama. Sama-sama direbut pacarnya, dan yang ngerebut itu ya dia si Marko itu.
"Kamu bete ya?" tanya Rama padaku.
"Enggak kok, biasa aja"
"Kamu mau pulang?"
"Terserah kamu aja, aku ikut"
"Yaudah kita cari makan aja ya sekarang"
"Iya"
"Bro, gue pamit ya, besok-besok gue kesini lagi deh" ucap Rama pada Ilyas.
"Buru-buru banget lo"
"Udah malem, nganterin Senja dulu pulang"
"Oke bro"
"Mas Ilyas, aku pulang dulu ya" pamitku pada Ilyas.
"Eh iya iya, hati-hati di jalan ya"
Kami pun menyusuri jalanan Jakarta yang dingin untuk mencari makan malam. Mobil yang kami tumpangi berhenti di pinggir jalan di taman kota.
"Kamu mau gak kalau aku ajakin makan bakso di pinggir jalan?" tanya Rama.
"Aku mau aja, emang kenapa?"
"Aku takut kamu gak biasa makan di pinggir jalan"
"Enggak kok, aku juga sering banget makan ketoprak, makan bubur ayam, di pinggir jalan"
"Disana ada tukang bakso yang enak banget, tenang tempatnya juga bersih kok, ayo kesana" ajak Rama.
"Kamu sering makan disini ya?" tanyaku.
"Iya ini bakso terfavorit anak-anak moge"
"Oh gitu ya"
"Bang, udah lama nih gak ketemu, gimana kabar, baik kan?" tanya Rama pada abang tukang bakso.
" Weeii mas Rama yang kemana aja, saya mah masih setia jualan disini" jawab abang itu.
"Aku pesen 2 porsi ya, makan disini"
"Siap mas"
"Rama, hari ini kamu gak ke kantor, emang ga apa-apa?" tanyaku.
"Kantor kan ada yang urus, ya libur 1 hari gak apa-apa kan"
Pesanan kami pun datang, dan kami langsung menikmatinya. Benar saja, rasa baksonya itu enak dan gurih.
"Setelah kami menghabiskan makananya, kami bergegas pulang.
"Senja, kamu mau pulang ke rumah apa ke rumahku?"
"Kalau kamu gak keberatan sih, aku mau pulang ke rumah"
"Kenapa? biasanya juga kamu betah di rumahku"
"Gak apa-apa sih, aku cuma kasian aja sama mbok Sum suka gak ada temen di rumah"
"Baiklah aku antar kamu ke rumah"
Lagi-lagi lagu dari Daniel Bedingfield menemani perjalanan pulangku dan Rama. Kali ini kami saling diam, entahlah aku merasakan hal yang tak biasa ketika mendengarkan lagu ini. Lebih mendalam dan merasuk sukma.
Tepat jam 21.00 kami tiba di rumah, ternyata mobil dokter Sandi terparkir di halaman rumahku.
"Itukan mobil mas Sandi" batinku.
"Rama, makasih untuk hari ini ya, aku masuk sekarang ya"
"Senja tunggu, apa boleh aku mampir ke rumahmu?"
"Sepertinya ada mas Sandi di rumah, aku gak enak kalau kamu ke rumahku, maaf ya"
"Oh gitu, yaudah aku pulang ya. Malam Senja"
"Hati-hati"
Aku segera masuk ke rumah, dan benar saja di ruang tamu sudah ada mas Sandi yang menungguku.
"Mas Sandi, kok gak bilang dulu kalau mau ke rumah"
"Aku udah nelpon kamu 10 kali, tapi gak kamu angkat"
Aku segera mengecek gawaiku, dan benar 10 panggilan tak terjawab dari mas Sandi.
"Maaf mas, tadi handphonenya ku silent mas"
"Kenapa? kamu gak mau aku ganggu acara kamu sama si Rama itu?" ucap dokter Sandi penuh emosi.
"Bukan gitu mas, tapi" aku tak sanggup meneruskan perkataanku, karena tiba-tiba 1 pesan gambar masuk ke gawaiku.
Aku penasaran, dan ku buka pesan itu. Betapa kagetnya aku, melihat pesan itu. Sebuah gambar 2 orang yang terikat di 1 sudut ruangan, kedua wajahnya tertunduk dan aku menyadari kalau itu foto ayah dan Jingga. Aku tau dari pakaian yang ayah kenakan. Ya Allah, teror itu datang lagi. Pandanganku gelap, dan aku tak bisa mengingat apa-apa lagi setelah melihat foto itu.
Aku terbangun dan aku bisa mengetahui kalau aku ada di kamarku sendiri. Ternyata di sofa sudut kamar ada mas Sandi yang tertidur.
Kulihat jam di meja menunjukan jam 02.00 dini hari. Aku mencari gawaiku, tapi tak ku temukan, mungkin mas Sandi menyimpannya.
Aku menuju dapur karena aku merasa haus. Disaat aku sedang membawa minum aku mendengar sesuatu di halaman belakang. Aku ragu untuk menghampiri, tapi suara itu terus menggangguku. Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan di jendela belakang, dia menghampiri pintu belakang seakan dia akan masuk, aku berteriak kencang dan bayangan itu pergi menjauh.
Tak lama kemudian mbok Sumi dan pak Imam keluar dari kamar dan menanyakan padaku apa yang terjadi, lalu mereka membawaku ke ruang tengah dan mbok Sumi memberikanku air minum agar aku lebih tenang. Tak lama kemudian dokter Sandi menghampiriku, dan menanyakan apa yang telah terjadi.
Aku menceritakan semua apa yang aku lihat tadi, dokter Sandi dan pak Imam segera melihat ke halaman belakang dan ternyata di tembok belakang terdapat tulisan KAMU ATAU IBUMU YANG AKAN MENJADI KORBAN SELANJUTNYA?????
Aku berniat melaporkan ini semua kepada polisi, tapi dokter Sandi melarangnya, dia bilang mungkin ini kerjaan orang iseng. Enggak, ini udah sampai halaman belakang rumah aku, ini bukan orang iseng. Ini menyangkut nyawa aku dan ibu. Dokter Sandi menenangkanku, dan kita sepakat untuk membicarakan ini besok.
♧♧♧
Keesokan paginya, aku tidak mendapati dokter Sandi di rumah. Kata mbok Sumi, dokter Sandi pulang pukul 4 subuh karena dia menerima telepon dari rumah sakit, bahwa ada pasien baru yang harus segera diobati.
Aku memerintahkan pak Imam untuk membersihkan tulisan teror itu di belakang. Dan melakukan pengamanan ketat di rumah. Hari ini rencanaku pergi ke rumah sakit untuk menemui ibu, aku takut ibu kenapa-napa. Sebelum pergi gawaiku berbunyi dan masuk 1 panggilan dengan privat number, aku angkat panggilan itu.
"Hallo" jawabku.
"Ibumu akan mati" jawab disebrang telepon.
"Hallo ini siapa, hallo" bentakku.
Panggilan pun terputus tanpa jawaban darinya. Tak berfikir lama, aku langsung pergi menuju rumah sakit. Aku kalut, hampir saja menabrak trotoar di depan komplek.
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
Dapat salam dari "Blue Eyes" & "Jalan Cerita Cinta" ❤
slm dr wedding agreement
salam dari "wanita seribu luka"
Semangat update nya thor ✨
Salam dari Serendipity dan CEO’s Love Secret 💕
Jejak : CINTA SEORANG BOS MAFIA.
🤭🤭🤭
Semangat author
【Judul】
Perfect Mask
【Genre】
Comedy, Psychological, Romance, School Life, Teen.
【Note】
Aku akan sangat menghargai Kritik dan Sarannya