NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minerva (2)

Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan j*lang, dan mendekap dada perempuan asing? (Amsal 5 : 20)

Langit cerah dan bersih. Kota berkemas. Orang-orang berduyun-duyun menuju kemah-kemah perjanjian, bersekutu dalam satu pengasihan, memuji sang khalik semesta.

Gideon, kepada keluarganya pamit untuk beribadah ke gereja, tetapi pada kenyataanya justru menuju pintu rumah Minerva. Sinting!

"Minerva. Kaukah itu,"

"Ahhhh," bangun dari tidurnya. Panik kala mengetahui lampu kamar hidup dengan sendirinya, saat ia hanya seorang diri di rumah, "Gideon, kau ngapain disini? Keluar nggak atau aku berteriak!" ancam gadis itu.

"Jangan. Jangan berteriak," mendorongkan kedua tanganya kedepan, memohon pada gadis itu untuk tidak melakukannya. Satu kresek putih menjuntai berayun-ayun ditangannya, "Ini, aku bawakan rujak untukmu,"

"Tidak mau. Kau keluar nggak?" Minerva ngotot.

"Kumohon. Aku hanya ingin mendengar suaramu," Gideon pasrah, sorot tajam yang terpancar dari mata gadis itu menegaskan ia tidak ingin diganggu. Gideon, perlahan-lahan menurunkan kresek putih itu diatas ranjang Minerva.

"Tunggu," ia berubah pikiran, "duduklah," Gideon senang, ia akhirnya berkesempatan untuk berbicara lagi dengan Minerva.

Bosan terus menerus mengurung diri, Minerva batal mengusir Gideon. Perempuan itu lantas ke dapur untuk mengambil piring, menuangkan potongan- potongan buah ditambah saus kacang dari plastik pembungkus. Keduanya pun menanyakan kabar masing-masing.

"Aku kangen teman-teman sekolah,"

"Mereka juga merindukanmu," kata Gideon

"Jangan bohong," mereka paling kencang menghinaku.

"Kau yakin? Teman-teman dikelas tidak ada yang melakukan demikian," menatap mata Minerva, "Kami benar-benar merindukanmu,"

"Bagaimana dengan Haga? Kasihan dia,"

"Ngga usah pikirkan dia. Dia masih tetap bersekolah. Ia tak memperdulikannya,"

Hari pertama kedatangan Gideon tak berlangsung lama, keduanya sama-sama canggung. Pertemuan itu hanya berlangsung limabelas menit. Sejak hari itu, Gideon dan Minerva jadi lebih akrab.

Minerva sampai saat ini belum berani untuk keluar dari rumah. Dia malu jika perutnya dilihat tetangga. Pernah gadis itu mencoba keluar sejenak, namun tatapan jijik warga yang melihat kepadanya, membuat gadis itu terpuruk. Itu pertama dan terakhir dilakukannya, itu Gideon tak sengaja melihatnya. Bunting.

Tiap hari Minggu, Gideon rutin mengunjungi gadis itu, ketika rumah sepi dan ia sendirian.

Rumah Minerva dan Gideon cukup dekat, hanya butuh langkah sejengkal untuk tiba kesana.

Hal ini membuat laki-laki itu sangat senang. Tidak di rumah, tidak di sekolah ia suka senyum-senyum sendiri, tanpa ada sebab yang pasti, seperti kerasukan setan.

"Woi borjong, kau kenapa? Gila?" tanya Bertus yang kehilangan konsentrasi mendengar penjelasan guru, karena sering melihat teman semejanya itu suka senyum-senyum sendiri.

"Kau belajar aja! Lihat depan, anak kecil ngga perlu tahu urusan orang dewasa"

Seperti pekerja yang selalu merindu awal bulan karena akan menerima gaji, Gideon juga selalu menantikan Minggu dengan tidak sabarnya sebab ingin melihat pujaan hatinya. Akhirnya hari-hari yang ditunggu datang juga. Gideon menyelinap lagi ke rumah Minerva.

"Nerva. Nerva." Gideon memanggil nama gadis itu sambil mengetuk-ngetuk pintu kayu belakang rumah gadis itu. Tidak lama berselang, gadis itu telah berdiri di depan pintu, mempersilahkannya masuk.

"Hari ini bawa apa?" tanya Minerva. Laki-laki itu tidak pernah datang dengan tangan kosong. Begitu juga dengan hari, sebatang coklat silver queen terselip dikantong celananya.

"Coba ini. Kau pasti suka," Gideon menyodorkan coklat pada Minerva. Minerva cepat-cepat mengambilnya. Menuntun pria itu ke kamarnya.

"Mau sampai kapan kamu mengurung diri disini?"

"Sejujurnya, aku pun ragu dengan keputusan ini," gadis itu menunduk. Hening. Keduanya sampai mendengar suara mungil tikus-tikus kecil sedang kejar-kejaran diatas triplek plafon rumah.

"Ya terserah kamu sih. Asal kau jangan sampai membusuk disini, itu yang terpenting,"

Mendengar Gideon melontarkan kalimat itu, gadis itu mengerutkan kedua alisnya, meraih bantal terdekat dari jangkauannya dan melemparnya. "Kau mau aku membusuk disini?" sambil tersenyum kepada Gideon, "Sini, kembalikan bantalku,"

"Ini," menyodorkan bantal ke Minerva, menjulurkan lidahnya, mengejek gadis itu, dan kemudian tertawa.

Lepas siang, waktu menunjukkan pukul setengah satu. Orang-orang sudah mulai berpulangan dari gereja. Keduanya sudah cerita cukup banyak, dan Minerva senang akan hal itu. Ia punya teman berbagi cerita. Kehadiran Gideon di kehidupannya bagaikan oasis di padang gurun yang terik.

Satu tindakan Gideon membuat Minerva kaget dan terhenti mengunyah coklat dimulutnya. Lelaki itu mencium keningnya. Berlalu pergi meninggalkan gadis itu bergelut kembali dengan kesendiriannya.

Dengan mengendap-ngendap Gideon keluar dari rumah itu, mengawasi sekeliling memastikan tidak ada seseorang yang lewat dan melihatnya keluar dari pintu belakang. Setelah merasa semua aman, ia melompat ke arah rerumputan, memutar melewati perkebunan warga. Jalur tikus itu langsung tembus ke jalan raya, lalu berpura-pura layaknya orang sehabis dari gereja.

Minggu berikutnya, Gideon mengetuk-ngetuk pintu belakang rumah gadis itu. Menunggu cukup lama tidak ada jawaban. "Minerva. Minerva," membuat ia berpikir jika ciuman itu membuat gadis itu marah. Apa dia marah? Gideon, kamu sangat bodoh.

Cukup lama ia menunggu, hampir sepuluh menit lamanya. Matanya tetap mengawasi sekitar, berharap tidak ada orang yang melihatnya. Siapa pula orang yang berkebun hari minggu? Meskipun demikian ia tidak meremehkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Akhirnya terdengar sahutan dari dalam rumah. Minerva membuka pintu, dengan handuk basah menempel ditubuhnya. "Aku baru selesai mandi," Minerva jalan duluan ke dalam kamar, meminta waktu sejenak kepada Gideon untuk memakai pakaiannya.

"Masuk," ia memanggik Gideon dengan lembut. Namun apa yang didapati laki-laki itu ketika masuk kedalam kamar, membuat pikirannya travelling dengan liar. Minerva mengenakan tank top. Gadis itu sengaja melakukannya, "Heh, duduk. Malah bengong!?"

"Aku sedih hari ini" Minerva memulai pembicaraan, mengambil posisi duduk disebelah Gideon.

"Kenapa? Mungkin aku bisa membantu" jawab Gideon.

Kedua orangtuanya tidak mau membelikan Minerva ponsel baru yang lebih canggih. Selama ini gadis itu hanya menggunakan telepon genggam yang hanya mempunyai fitur panggilan dan berkirim pesan. Jadul. Dia meminta dibelikan ponsel baru yang bisa digunakan untuk berinternet. "Bisa nonton youtube sama game mobile," ujarnya.

"Udah, coba kamu jelasin lagi baik-baik. Pasti disetujui" Gideon bingung dengan keinginan Minerva. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sial, kenapa saya terlahir dari keluarga miskin. Batinnya.

Minerva bangkit berdiri lalu menuju dapur. Dengan sengaja gadis itu meletakan tanganya di paha Gideon, sebagai tumpuan untuk berdiri. Sensasi kulit ketemu kulit membuncah di ubun-ubun Gideon dan ia jadi resah dengan dorongan adrenalin dalam dirinya.

Minerva kembali ke kamar dengan dua es teh dan kue putu bambu tertata di atas nampan.

Gideon tiba-tiba berdiri, lalu memeluk gadis itu dari arah belakang. Minerva tersentak kaget, berbalik, lalu mendorong tubuh Gideon menjauh. "Kau ngapain? " tanya Minerva.

"Nerva, ayolah. Masa kau tidak mau melakukannya denganku?"

"Melakukan apa?" Minerva melihat kedua bola mata Gideon. "Oh aku tahu, kau pasti mau itu?" tersenyum dengan kerlingan mata nakal. "Boleh saja. Asal kau bayar," mengangkat bagian bawah tank top. "Kuberi diskon. Bayar 500 ribu aja, aku juga lagi butuh uang"

"Aku tidak punya uang sebanyak itu"

"Huft, dasar kere. Kalau dua ratus ribu?," ia mendekat ke arah Gideon, menggenggam kedua tanganya. "Terus kau mendekatiku tanpa modal sama sekali?"

"Tapi aku mencintaimu. Aku akan bekerja keras dan jadi orang sukses"

"Kau kere bangsat! Sadar diri dong! Butuh berapa lama kau bisa punya uang banyak?" gadis itu mengusap keningnya.

"Apa kau tidak suka kalau aku bersamamu?"

"Tidak Gideon. Aku senang. Disaat bahagiaku, kau seorang yang menyatakan perasaanmu padaku. Walau sedikit norak dan kampungan. Disaat terpuruk, kau jugalah yang berusaha mencariku. Sampai-sampai kau membobol rumah ini," Minerva berhenti sejenak, mengumpulkan nafas yang terbuang cepat karena kondisi tubuhnya yang sedang hamil. "Tapi kalau kau menginginkan lobang ini, kau harus membelinya sayang!" tangan gadis itu menunjuk area dibawah perut.

"Cukup. Cukup sudah, aku pergi," Gideon melangkah dengan kesal menuju pintu kamar.

"Kuharap Haga atau Bertus yang mendekatiku. Mereka lebih menjanjikan. Najis didekati orang seperti kau,"

Tersulut emosi mendengar pernyataan itu, Gideon berbalik, melangkah dengan gesit kearah Minerva dan mencekik leher wanita itu. Sampai ia mati lemas.

Puncaknya, Gideon menindih tubuh gadis itu. Menyalurkan hasrat yang telah mengebu-gebu, melepas semua pakaian yang melekat ditubuh, hingga tak tersisa satu benangpun. Gideon melakukannya. Tidak lama, hanya dua menit. Dia pun tumbang kelelahan. Sama seperti Haga, ia juga telah membunuh di usia muda.

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!